![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
Pukul setengah tujuh tepat, alarm makan malam dibunyikan. Semua MABA berjalan menuju aula utama. Aula utama ini sebenarnya berada di tengah area dengan posisi yang sedikit lebih tinggi dari bangunan-bangunan yang lain. Jalan setapaknya pun otomatis sedikit menanjak. Cilla dan kedua temannya berjalan dengan perlahan sembari merangkul dirinya sendiri yang merasa kedinginan. Perbedaan suhu di tempat itu dan di kota cukup kentara. Tubuh Cilla membutuhkan waktu untuk menyesuaikannya.
"Makin malam makin dingin ya?" celetuk Lina.
"He'em," jawab Cilla sembari menganggukkan kepala.
Dengan jalan yang sudah pelan, Cilla masih bisa tersandung kakinya sendiri. Alhasil, tubuhnya limbung seraya terhuyung jatuh ke belakang.
"Aaaa!!" teriak Cilla.
Jatuhnya Cilla membuat efek domino sebab, banyak MABA lain yang berjalan di belakangnya. Mereka semua tentu turut jatuh juga karena tidak siap menangkap tubuh teman di depannya. Reflek Cilla menoleh ke belakang. Sempat terjingkat sesaat melihat efek dari perbuatannya lalu nyengir.
"Kamu lagi.." ucap Vano yang ternyata, berada di belakang Cilla tepat.
"Ah, aku minta maaf ya!" ucap Cilla sembari menegakkan tubuhnya dan berdiri.
Cilla membungkukkan sedikit tubuhnya sembari meminta maaf kepada semua MABA yang jatuh olehnya.
"Maaf! maaf! saya tidak sengaja!"
"Ada apa di sana?" teriak seorang Senior dari pelataran aula.
__ADS_1
"Cepat masuk!" perintahnya kemudian.
Cilla tersenyum getir lalu membalik badan kemudian berlari kecil menuju aula.
"Astaga! malu sekali," desahnya pelan.
Kedua temannya hanya cekikikan.
...🍁🍁🍁...
Usai mengambil makan bergantian, para MABA duduk kembali dan menunggu untuk membaca doa bersama-sama. Tanpa di duga, Cilla dan Vano duduk bersebelahan. Secara tidak sengaja saling bertatapan dan beradu pandangan membuat Cilla merasa tidak nyaman. Cilla mengulas senyum yang terlihat terpaksa lalu memalingkan wajahnya. Sementara Vano berusaha menahan senyum. Merasa puas telah membuat Cilla salah tingkah.
...🍁🍁🍁...
Ada yang menari, ada yang membaca puisi dan ada juga yang bersolo komedi atau yang lebih sering disebut stand up comedi. Semua tertawa lepas seolah tiada batasan antara senior dan Junior. Melebur jadi satu dalam tawa bahagia hingga kemudian, Devano ditunjuk oleh teman-teman satu regunya untuk menyanyikan sebuah lagu. Perwakilan dari regu mereka. Cilla melirik Vano ketika laki-laki tersebut bangkit dari tempatnya duduk lalu berjalan maju ke depan.
"Emm.. ganteng sekali."
Puji beberapa MABA perempuan yang saling bersahut-sahutan.
"Mau pakai gitar sendiri atau diiringi senior yang lain?" tanya senior berkumis rapi.
__ADS_1
"Saya pakai gitar sendiri saja kak," jawab Vano.
"Oke."
Senior itu pun mengulurkan sebuah gitar kepada Vano. Vano mengatur senar gitarnya sebentar sebelum kemudian, mulai bernyanyi. Sebuah lagu dari grup band Dewa yang Vano bawakan. Lagu legendaris Dewa yang terbukti mampu menghanyutkan suasana. Membawa para pendengarnya turut hanyut ke dalamnya.
🎶 Tatap matamu bagai busur panah
🎶 Yang kau lepaskan ke jantung hatiku
🎶 Meski kau simpan cintamu masih
🎶 Tetap nafasmu wangi hiasi suasana
🎶 Saat kukecup manis bibirmu
Semua orang bernyanyi bersama. Mengikuti nada dan irama. Hanyut kedalam syahdu nyanyian. Ditemani malam bertabur bintang. Dengan rembulan yang menebar senyuman. Sungguh lagu yang benar-benar tepat sasaran. Menyapa hati-hati yang sedang kasmaran. Mengalun lembut dalam indra pendengaran.
Beberapa kali juga Vano mengarahkan pandangan ke arah Cilla hingga membuat gadis itu gelagapan. Vano akan tersenyum puas setelah berbuat demikian.
...🍁 Bersambung... 🍁...
__ADS_1