![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
Hari-hari pun berlalu, Cilla memutuskan untuk mengabaikan image buruk tentang dirinya. Para mahasiswa lain pun mulai mengabaikannya juga dan kembali fokus dengan kuliah mereka masing-masing. Terlebih, semua mahasiswa tengah disibukkan dengan ujian semester pertama mereka. Semua belajar agar mendapatkan nilai yang memuaskan.
Sekitar dua minggu berikutnya, ujian pun selesai dilakukan. Para mahasiswa di kelas Cilla mengusulkan untuk mengadakan liburan bersama-sama. Yang mana usulan ini lekas disetujui oleh yang lainnya. Diskusi pun dilanjutkan dengan pembahasan perihal ke mana tujuannya dan apa saja agenda yang akan dilakukan di sana? Sekitar satu jam lamanya, diskusi tersebut telah mencapai kesepakatan bulat. Mereka sepakat untuk menyewa sebuah villa yang tidak terlalu besar. Mengadakan acara barbeque dan pergi ke wisata terdekat.
Browsing villa dilakukan saat itu juga. Pemilihan serta nego harga. Anggaran seluruh biaya dibuat hingga diketahui lah, berapa biaya yang harus dikeluarkan setiap orang? setelah selesai semua, para mahasiswa membubarkan diri masing-masing.
"Ke kantin?" tanya Nitha.
Cilla dan Lina menganggukkan kepalanya.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
Bis telah terparkir di depan kampus. Cilla dan seluruh teman sekelasnya melakukan briefing sebentar sebelum kemudian, naik semuanya ke dalam bus. Doa bersama dilakukan dan kemudian, perjalanan dimulai. Cilla mengirimkan pesan singkat kepada kak Saka kalau sekarang, dia sedang memulai perjalanan untuk berlibur di villa.
[ Iya, hati-hati ya! ] - Balas kak Saka.
Lina mengintip balasan tersebut dan bertanya perihal hubungan keduanya. Cilla menjawab kalau di antara mereka berdua masih belum ada ikatan apa-apa. Mendengar hal itu, Vano tersenyum. Tentu saja karena peluang masih terbuka lebar untuknya.
Di tengah perjalanan, Cilla tertidur. Vano melihatnya dan meminta Lina untuk berpindah tempat duduk. Pada awalnya, Lina bertanya-tanya. Namun, sepersekian detik kemudian, Lina mengerti dan mempersilahkan Vano untuk menempati kursinya. Alhasil sekarang, Vano dan Cilla duduk bersebelahan. Seisi kelas menggoda keduanya. Tampaknya, Vano telah mendeklarasikan perasaannya meski secara tersirat dan sepertinya, teman-teman sekelasnya mendukung dirinya. Berulang kali, Vano tersenyum sendiri.
"Kalian..." gumam Cilla pelan.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
Sepanjang perjalanan yang tersisa, Cilla hanya memandang ke jendela bus sembari berusaha menormalkan deru jantungnya. Tiba-tiba, Vano mengulurkan sebungkus snack kepadanya seraya mengayunkan sedikit dagunya. Isyarat meminta Cilla untuk memakannya, Cilla pun menurut lalu, Vano sedikit membusungkan dadanya untuk mengatakan sesuatu.
"Ketika pulang nanti, tetap duduk seperti ini! duduk di sebelahku!" pinta Vano.
"Hah? kenapa?"
Vano memundurkan posisinya seperti semula.
"Memang harus begitu," jawabnya kemudian.
Cilla memilih diam lalu memakan Snack dari pada mendebat keinginan Vano. Meski batinnya telah membuat sebuah definisi atas apa yang Vano lakukan. Namun, ia masih enggan memutuskan. Sepertinya, Vano dan kak Saka memiliki tempatnya masing-masing dalam hati Cilla.
__ADS_1
...🍁 Bersambung... 🍁...