INIKAH RASANYA? [ END ]

INIKAH RASANYA? [ END ]
PENGISI KEKOSONGAN


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu. Kak Saka diwisuda pertanda ia, akan segera merealisasikan rencana pelatihannya. Segala persiapan pun telah diselesaikan hingga tibalah hari keberangkatan. Cilla dan kak Saka sedang berada di dalam taksi. Saling mengunci mulut, tak tahu apa yang harus dikatakan. Kak Saka meremas pelan tangan kekasihnya seraya menarik kepala Cilla untuk bersandar pada pundaknya.


Sesampainya di bandara, masih ada waktu untuk keduanya berbincang sebentar. Cilla berusaha untuk menahan tapi air matanya tetap saja tumpah. Kak Saka berpesan agar Cilla tetap menjaga hatinya. Terlebih terhadap Vano yang jelas-jelas ingin merusak hubungan mereka.


"Aku menyukaimu dan akan selalu begitu."


Cilla mengangguk.


"Jaga hatimu dan tunggu kepulanganku! setelah aku kembali nanti, akan kukenalkan dirimu kepada kedua orang tuaku."


"Iya kak."


"Jangan menangis! kita masih akan terus berkomunikasi setiap hari."


"Iya."


"Hemm.. sudah waktunya aku berangkat."


"Kak Saka hati-hati ya!"


"Kamu juga," ucap kak Saka seraya memeluk erat kekasihnya.


"Aku pergi dulu, sampai jumpa!"


"Berlatihlah dengan sungguh-sungguh dan cepatlah kembali!"


"Pasti," jawab kak Saka seraya melambaikan tangannya.


Cilla merasa sangat sedih sekaligus bangga kepada kekasihnya. Meski air mata terus berlinang, ia tetap harus merelakan. Ia tahu, perpisahan ini hanyalah sementara. Namun, sakitnya terasa kuat melekat.


...🍁🍁🍁...


"Hai, kenapa wajahmu terlihat begitu lesu?" tanya kak Saka dalam sambungan video call.


"Baru pulang dari mengajar."


"Les privat ya?"


"Iya."


"Sebentar lagi skripsi, apa tidak sebaiknya kamu berhenti?"


"Benar juga, nanti saja aku pertimbangkan lagi! Ohya, bagaimana latihan kak Saka?"


"Menyenangkan, berenang adalah sesuatu yang aku gemari. Bertemu banyak teman baru seprofesi dan saling bertukar pengalaman."


...Khukk..Hhukkk.. Khukk.....


Cilla batuk.


"Kamu sakit?"


"Tidak, hanya sedikit batuk."


"Habis makan apa?"


"Gak tahu, rasanya normal-normal saja makananku."


"Maaf ya! di saat seperti ini, aku malah tidak menemani."


"Ah, jangan dilebih-lebihkan! aku baik-baik saja."


"Pergilah ke klinik agar mendapatkan obat."


"Tidak usah, aku masih punya obat-obatan pribadi."


"Kalau begitu, beristirahatlah! besok, masih banyak jadwal mata kuliah."


"Iya kak."


"Segera makan dan minum obat lalu tidur!"


"Iya kak."

__ADS_1


"Baiklah, aku tutup dulu!"


"Iya."


"Aku merindukanmu!"


"Huuweeekkk.. huekk.. hueeekk.." Lina dan Nita berakting muntah mendengar ucapan rindu dari kak Saka.


"Lina dan Nita meledekmu kak," ucap Cilla, mengadukan kedua teman sekamarnya.


"Biarkan saja! mereka akan terbiasa," jawab kak Saka, cengengesan.


"Huuuweekkkk..." sekali lagi Lina berakting muntah.


"Aku merindukanmu."


"Aku juga," jawab Cilla.


"Selamat beristirahat!"


"Selamat malam!"


"Hah, bisa muntah setiap hari aku kalau melihat mereka video call terus," celetuk Lina.


"Maka, aku akan membawamu ke klinik biar sembuh," sahut Cilla disusul tawa nan lebar.


...🍁🍁🍁...


Ternyata, setelah kepergian kak Saka. Cilla merasa sangat kesepian. Meski setiap hari saling berkirim kabar, tetap saja terasa berbeda. Cilla menyandarkan kepalanya di meja perpustakaan seraya memejamkan matanya. Tak lama kemudian, Vano datang. Menempelkan gelas plastik berisi mocachino dingin ke pipi Cilla. Gadis itu pun membuka matanya.


"Vano.. minuman siapa ini?"


"Minumanmu, minuman itu untukmu."


"Hemm... terima kasih."


"Sedang membuat judul skripsi?"


"Enggak, judulku sudah disetujui."


"Iya, kamu sendiri sedang apa?"


"Mencari referensi."


"Emm... kudengar, judul skripsimu yang paling susah."


"Tidak juga. Dianggap susah karena kita malas. Kalau kita semangat, pasti jadi lebih mudah."


"Owwhh, mana ada rumus seperti itu? susah ya susah, mudah ya mudah."


"Itulah bedanya aku dan kamu."


"Haisss... dasar!"


"Lanjutkan tidurmu, aku akan melanjutkan kegiatanku!"


"Kalau kamu di sini, mana bisa aku tidur?"


"Kenapa tidak? kita tidak saling mengganggu."


"Baiklah."


Cilla kembali menelungkupkan kepalanya di balik kedua tangan seraya mulai memejamkan mata.


...🍁🍁🍁...


Tidak disangka, Cilla benar-benar tidur dengan pulas. Bahkan, hingga nyaris jatuh dari kursinya. Beruntung Vano sigap, menangkap tubuh Cilla lalu mengembalikannya pada posisi semula.


..."Hooaamm!"...


Cilla menguap tanpa sungkan. Namun, lekas tergagap ketika sadar, masih ada Vano di sampingnya.


"Tidurmu sangat lelap," sindir Vano.

__ADS_1


"Apa aku mengeluarkan liur?"


"Tidak."


"Huh, syukurlah. Aku kembali dulu ya! perutku lapar."


"Aku juga lapar, mari makan bersama."


Mendadak Cilla teringat akan pesan teman sekamarnya. Cilla dilarang membuat rumor apa pun yang akan melukai kak Saka. Terutama dengan Vano yang jelas-jelas memiliki perasaan padanya. Alhasil, Cilla menolah ajakan makan bersama dari Vano.


"Sebenarnya, aku mau makan di kamar. Lina dan Nita memberiku banyak makanan," jawab Cilla.


"Kita bisa makan di luar kalau kamu khawatir dengan rumor yang akan berkembang."


"Vano.."


"Aku tahu apa yang ada di benakmu. Kamu bisa jalan lebih dulu dan aku mengikuti beberapa meter di belakangmu."


Untuk sepersekian detik pertama, Cilla menimbang. Sepersekian detik selanjutnya, ia menerima. Pikirnya, hanya sekedar makan bersama. Tidak akan terjadi apa-apa terhadap mereka. Tidak akan ada yang memotret keduanya dan hati Cilla telah mantap memilih kak Saka untuk menjadi satu-satunya.


"Baiklah, ayo jalan!" seru Cilla.


"Oke, kamu duluan!"


"Oke."


...🍁🍁🍁...


"Tempat makan ini cukup lumayan. Sepertinya, tidak ada teman kampus kita yang datang," ucap Cilla sembari memandang ke sekeliling.


""Kamu benar, mau makan apa?"


"Hemm.. aku pilih dulu!"


"Pilihkan juga untukku!"


"Kenapa aku? selera kita tidak sama."


"Coba pilihkan dulu! akan kunilai, sesuai dengan keinginanku atau tidak."


"Baiklah, hemm... apa ya? eemmm.. aku mau pesan ini satu (sambil menunjuk lembar menu)."


"Baik, apa lagi?" tanya pegawai restauran.


"Minumnya ini."


"Baik, apa lagi?"


"Kalau dia, apa ya? pilihlah sendiri Vano!"


"Apa pun pilihanmu, aku setuju. Pilihkan satu untukku!"


"Baiklah kalau begitu, ini saja satu lalu minumnya yang ini."


"Baik kak, segera kami siapkan!"


"Terima kasih!"


"Iya sama-sama."


...🍁🍁🍁...


Makan bersama antara Cilla dan Vano kembali menghangatkan hubungan di antara keduanya. Hubungan yang sebelumnya sempat renggang. Pertikaian cinta segitiga antara Vano, Cilla dan kak Saka cukup menghebohkan. Cilla yang dianggap sangat beruntung malah berulang kali menyakiti.


Cilla dan Vano berbincang di sela-sela agenda makan mereka. Membicarakan banyak hal hingga saling melempar candaan. Seolah, tak ada yang pernah terjadi sebelumnya. Begitu hangat dan nyaman. Sepertinya juga, Vano sengaja mengisi kekosongan ini untuk berusaha mendekati Cilla. Perlahan namun pasti, Vano ingin menariknya kembali. Apa pun masih bisa terjadi. Terlebih, kak Saka berada jauh dari Cilla.


{"Biarlah begini untuk sementara ini. Entah hanya pelarian atau sekedar mengisi kekosongan, aku tidak peduli. Yang aku yakini, perlahan-lahan Cilla akan mengerti, berpaling kepadaku yang selalu ada menemani. Untuk itu, aku bersedia menunggu."} ucap Vano di dalam hati.


"Makan lebih banyak! menulis skripsi membutuhkan banyak energi."


"Kamu benar, ayo habiskan makanan ini!"


Keduanya kembali tertawa seraya hanyut dalam hangatnya kebersamaan.

__ADS_1


...🍁 Bersambung... 🍁...


__ADS_2