INIKAH RASANYA? [ END ]

INIKAH RASANYA? [ END ]
SALTING


__ADS_3

Suasana kampus menjadi riuh ketika jam mata kuliah telah berakhir. Semua mahasiswa dan mahasiswi menuju kantin. Tak terkecuali dengan Vano dan Cilla. Keduanya sibuk dengan makanan masing-masing. Cilla beserta kedua teman sekamarnya membahas kembali tentang mata kuliah barusan. Bukan karena rajin, melainkan karena tugas yang dosen berikan. Mereka juga berencana untuk mengerjakan tugas di perpustakaan setelah makan. Namun, tiba-tiba Lina memiliki usul yang lain.


"Hei, bagaimana kalau kita mengerjakan tugas kita di restoran luar kampus?"


"Kenapa begitu? kenapa harus di situ?"


"Aduh Cilla, tentu saja untuk menyegarkan otak. Meski pun kampus kita sangat luar biasa tapi, otak kita tetap akan merasa bosan jika kegiatan yang kita lakukan hanya berputar di sini saja."


"Hemm.. masuk akal sih," sahut Nita.


Lina tersenyum ganjil seraya kembali berbicara.


"Ada kabar yang kuterima juga barusan."


"Kabar apa?" tanya Cilla dan Nita, bersamaan.


"Dari media sosial kak Randi, senior kita. Dia beserta beberapa senior kira yang lain sedang makan bersama di restoran "YAMI". Kita bisa memandangi para senior tampan di sana."


Cilla dan Nita saling berpandangan lalu cekikikan.


"Oke!" jawab Cilla dengan antusias.


"Tidak boleh!"

__ADS_1


Tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menarik lengan Cilla seraya melarangnya untuk pergi ke sana (restoran YAMI).


"Vano, ada apa denganmu? apa urusanmu dengan agenda kami?" tanya Lina dengan raut wajah tidak senang.


"Kalau kalian mau pergi, pergilah! tapi Cilla tidak bisa."


"Hah?"


Cilla segera mengempaskan genggaman Vano dan menolak larangan sepihak darinya.


"Atas dasar apa kamu melarangku? kamu bukan orang tuaku dan aku, telah berada pada usia yang sudah bisa mengambil keputusan untuk diriku sendiri."


Vano menatap Cilla yang akhirnya membuat gadis itu beringsut diam.


"Tapi..."


Belum selesai Lina bicara, Vano lekas menarik Cilla keluar dari area kantin. Cilla sempat meronta tapi usahanya sia-sia. Terpaksa, ia hanya bisa mengikuti keinginan Vano saja.


...🍁🍁🍁...


Keduanya pergi ke perpustakaan. Langsung mengambil beberapa buku lalu duduk di kursi-kursi yang telah disediakan. Segera setelahnya, Vano tenggelam dalam buku bacaannya. Sementara Cilla, hanya bisa menghela napas dalam-dalam.


"Kenapa aku terjebak dengannya?" keluh Cilla di dalam hati.

__ADS_1


Untuk satu jam pertama, Cilla bisa serius dengan tugasnya. Namun, pada jam-jam berikutnya, kebosanan mulai menyapa. Berulang kali, Cilla memandangi jam dinding besar di perpustakaan. Berulang kali juga, ia mendengus hingga kemudian, secara tiba-tiba Vano mendekatkan wajahnya ke depan wajah Cilla tepat membuat gadis itu memundurkan sedikit wajahnya dengan mata membulat. Tidak langsung berkata-kata, Vano malah terus menatap lurus ke wajah Cilla yang hanya berjarak lima senti saja.


"Va-a-no.." ucap Cilla terbata.


Vano masih diam hingga sepersekian detik kemudian, ia berkata:


"Baca-dengan serius!" pinta Vano dengan nada rendah namun tegas.


Vano tersenyum puas sembari kembali pada posisi duduknya yang semula. Cilla pun segera menormalkan posisi duduknya sembari mengatur napas dan coba, mengendalikan degupan jantung yang tak beraturan.


"Astaga! astaga! jantungku.." benak Cilla.


Setelahnya, Cilla sama sekali tidak bisa fokus. Lembar demi lembar, hanya ia buka tutup. Tak ada satu pun yang bisa masuk hingga akhirnya, ia kemasi semua barang lalu berpamitan kembali ke asrama. Vano sengaja memasang wajah heran, seolah tidak mengerti alasan dari sikap Cilla.


"Ada apa? apa kamu sakit perut lagi?" tanyanya.


"Tidak-tidak, hanya.. emm.. aku harus segera istirahat," jawab Cilla.


"Emm.."


Cilla berjalan cepat, sementara Vano, tersenyum dengan puas.


...🍁 Bersambung ... 🍁...

__ADS_1


__ADS_2