INIKAH RASANYA? [ END ]

INIKAH RASANYA? [ END ]
DEWA KEMATIAN


__ADS_3

Di kelas, Vano berulang kali mengembalikan power point Cilla untuk persiapan tugas keduanya. Kurang inilah, kurang itulah. Salah inilah, salah itulah. Bahkan, setelah Cilla memperbaikinya sesuai dengan yang diminta Vano pun masih saja salah. Cilla yang awalnya bersabar, akhirnya menjadi sangat kesal dan melemparkan makian. Namun, respon yang Vano berikan, tetap datar seperti biasanya.


"Buat ulang!" ucapnya tanpa merasa bersalah.


"Vano!!!"


Vano melenggang begitu saja tanpa memperdulikan teriakan Cilla.


"Dia seperti dewa kematian," gerutu Cilla.


Kedua temannya menganggukkan kepala, sependapat.


...🍁🍁🍁...


Sore hingga malam, Vano menahan Cilla untuk tetap berada di perpustakaan dengan dalih memperbaiki tugas mereka yang berantakan. Meski telah berulang kali mendebat, Cilla tetap kalah. Bahkan, saat Cilla ke kamar mandi pun, Vano menungguinya di depan.


"Dasar, dewa kematian!" gerutu Cilla pelan.


"Apa? kamu bicara apa?"


"Aku lapar Vano, perutku sudah berbunyi berulang kali."


Vano meletakkan bukunya lalu menarik Cilla ke kantin.


"Mau makan apa?" tanya Vano dengan ekspresi datarnya.


"Itu, aku mau ke sana, kamu pesanlah makananmu sendiri!" jawab Cilla sembari melenggang ke stand makanan yang ingin ia beli.


"Hei, kenapa kamu mengikutiku?"


"Aku tidak mengikutimu, aku memang mau beli ini," kilah Vano.


"Hoh baiklah, silahkan! aku mau pindah ke sana!"


Lagi-lagi, Vano mengikuti membuat Cilla harus berpindah-pindah tempat untuk beberapa kali.

__ADS_1


"Vano berhenti! apa maksudmu? kamu itu seperti benalu!"


"Benarkah? coba lihat sekelilingmu! banyak gadis yang menatap ke arahku. Coba tebak, apa artinya itu?"


"Aku tidak peduli," jawab Cilla sembari berbalik arah.


Dengan cepat, Vano menggenggam tangan Cilla lalu memesan makanan untuk berdua. Sekuat apa pun Cilla meronta, tetap tidak bisa melepaskan dirinya.


"Ayo makan!"


"Hah, bagaimana aku bisa makan kalau tanganku, masih kamu genggam?"


"Oh.."


Vano lantas melepas genggamannya lalu ganti menggenggam tangan kiri Cilla. Cilla menatap tak percaya. Dewa kematian di depannya benar-benar enggan melepaskan dirinya. Rasanya, ajalnya sudah dekat.


"Cepat makan!"


"Bisa tidak, kamu bersikap normal?"


"Siapa yang kabur?"


"Alasan sakit perut?"


"Hemm.."


{ Sialan! dia benar-benar tahu sandiwaraku.}


"Makan!"


"Iya-iya."


Banyak sekali pasang mata yang melihat keduanya. Bahkan, ada secara diam-diam memotret mereka. Hanya dalam hitungan menit, sosial media mahasiswa heboh karena foto tersebut. Bagaimana pun, Cilla cukup terkenal kemarin, karena masuk dalam pemberitaan. Menjadi sosok istimewa bagi kak Saka. Namun, hari ini malah bergandengan tangan dengan laki-laki lain. Beragam tanggapan membanjiri kolom komentar. Lina dan Nita cukup terkejut melihatnya. Pun sama dengan kak Saka yang langsung menghubungi Cilla.


"Hallo kak!" sapa Cilla.

__ADS_1


"Apa kamu sudah melihat postingan terbaru di sosial media kumpulan mahasiswa kampus kita?" tanya kak Saka di ujung panggilan.


"Belum, memangnya ada apa?"


"Coba kamu lihat! bagaimana bisa kamu mencampakkanku dengan waktu sesingkat ini?"


"Hah? apa maksudnya? tunggu, akan aku lihat dulu!"


Kak Saka menutup panggilannya dan Cilla pun membuka sosial media miliknya. Matanya lekas membulat, ia terkejut sekaligus tak terima.


"Lihatlah! hasil dari perbuatanmu!" ucap Cilla sembari menunjukkan postingan foto keduanya.


Sekuat tenaga Cilla coba melepaskan genggamannya.


"Lepaskan!"


Tak ada pilihan lain, Vano pun melepaskannya.


"Makanlah sendiri, aku masih ada urusan!" ucap Cilla seraya berdiri lalu beranjak pergi.


"Kak Saka angkat teleponnya!"


"Hallo!" jawab kak Saka.


"Aku sudah melihatnya dan apa yang terjadi, bukan seperti yang terlihat. Itu.."


"Aku berada di taman barat, datanglah kemari!"


"Oh, baik. Aku akan ke sana!"


"Iya."


Cilla berlari menghampiri kak Saka. Sementara Vano, hanya bisa menatap kepergian Cilla. Satu sisi, Vano merasa senang sebab, dengan begini, semua orang akan menganggap kalau ia dan Cilla memiliki suatu hubungan. Namun, di sisi lain, ia juga merasa tidak tega sebab, dengan begini, akan muncul anggapan baru kalau Cilla gemar mempermainkan perasaan. Image seperti ini tentu saja tidak baik.


"Sudah sampai begini, apa kamu masih tidak mengerti?" gumam Vano, pelan.

__ADS_1


...🍁 Bersambung... 🍁...


__ADS_2