![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
Vano sedikit bergeser ketika ia melihat, Cilla datang. Cilla sendiri merasa bingung, kenapa Vano masih ada di sana? Meski demikian, Cilla tidak berani untuk bertanya. Tak lama kemudian, bus datang. Semuanya naik ke dalamnya. Cilla memilih kursi yang berbeda. Dia benar-benar belum siap jika harus kembali berdebat dengannya. Beberapa menit kemudian, keduanya sampai dan turun dari bus. Cilla berjalan di depan sementara Vano berada beberapa langkah di belakangnya. Cilla berusaha bersikap tenang meski hatinya merasa gusar.
Di luar dugaan, hujan turun dengan tiba-tiba membuat semua orang kelimpungan, mencari tempat untuk berteduh. Tak sedikit yang memilih berteduh di teras toko-toko yang tertutup. Cukup aman pada awalnya hingga kemudian, angin kencang membuat air hujan menyiprat ke mana-mana. Vano dan Cilla basah kuyup. Tidak hanya itu, Cilla terlihat menggigit bibirnya seiring tubuhnya yang mulai gemetar. Melihat hal itu, Vano menarik Villa untuk masuk ke dalam jaketnya. Vano memeluk Cilla dengan erat. Cilla berusaha menolah tapi Vano mempererat pelukannya.
"Jangan banyak bergerak! dingin sekali di sini, bisa sakit nanti."
Cilla yang memang telah menggigil, akhirnya diam. Sekitar sepuluh menit kemudian, angin mulai tenang dan hujan mereda dengan perlahan. Cilla beringsut keluar dari jaket seraya melepas pelan pelukan Vano. Vano pun memperbaiki posisi berdirinya lalu mulai berjalan. Di belakangnya, Cilla bersin beberapa kali. Vano yang tadinya berjalan mendahului lantas berhenti dan kemudian menarik Cilla menuju klinik yang ada di dalam universitas mereka. Setelah diperiksa dan diberikan obat, Cilla diperkenankan untuk kembali.
"Terima kasih!" ucap Cilla, lirih.
"Hemm, cepat kembali ke asrama, mandi air hangat, minum obat lalu istirahat!"
"Iya."
"Aku akan mengantarmu sampai ke depan asrama!"
"Iya."
__ADS_1
Rasanya sangat canggung, berjalan bersama dengan Vano. Hujan sudah tidak lagi turun. Mereka dan berjalan dengan tenang melewati satu taman ke taman lainnya, danau hingga kemudian sampai di depan asrama. Cilla berdiri menghadap Vano, mengucapkan terima kasih lalu berjalan masuk ke dalam asrama. Vano memandang Cilla hingga hilang dari penglihatannya. Barulah setelahnya, ia berbalik arah menuju asramanya.
...🍁🍁🍁...
"Cilla, kamu tidak apa-apa? ada hujan badai tadi," tanya Nita.
"Badanku terserang flu, aku mau mandi air hangat sebentar lalu minum obat!"
"Oh iya-iya, aku ada makanan untuk kamu makan sebelum minum obat."
"Terima kasih!"
...🍁🍁🍁...
"Gimana pekerjaanmu hari ini Van?" tanya Fian.
"Sangat lancar dan menyenangkan," jawab Vano sembari menyunggingkan senyum membuat kedua temannya keheranan.
__ADS_1
"Apa muridmu itu gadis cantik hingga membuatmu begitu senang?" tanya Arka.
Vano lekas merubah ekspresi senangnya menjadi datar lalu menjawab:
"Muridku laki-laki dan masih duduk di sekolah SD."
"Pedofil?"
"Heiisss.. kalian ini ..."
"Haha.."
Suasana kamar menjadi riuh sebab candaan yang Arka lontarkan.
...🍁🍁🍁...
Baik Cilla maupun Vano, kembali memikirkan kembali perihal kebersamaan mereka hari ini. Vano tersenyum ketika mengingat keputusan tepat yang ia buat untuk menunggu Cilla di halte bus selama dua jam. Yang mana akhirnya membuat keduanya terjebak dalam hujan badai. Suasana yang telah berhasil mencairkan bongkahan es dalam dadanya. Menjadikan hangat meski cuaca sebenarnya, sangatlah dingin. Vano pun yakin, perhatian yang ia berikan hari ini mampu menggoyahkan hati Cilla.
__ADS_1
{"Aku yakin, ada aku juga di sana. Pelan-pelan, ini akan berhasil.} ucap Vano di dalam hati.
... 🍁 Bersambung... 🍁...