![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
Cilla mendiskusikan perihal ajakan kak Saka dengan kedua teman sekamarnya. Perdebatan kecil kembali terjadi. Tentu saja karena satu teman Cilla mendukung kak Saka dan satu yang lainnya mendukung Vano. Cilla memanyunkan bibir seraya mengembuskan napas panjang.
{"Benar-benar tidak memberikan solusi."}
"Sudah-sudah, berhentilah berdebat! akan aku pikirkan sendiri mengenai hal ini," ucap Cilla seraya merebahkan diri di ranjang.
Kedua temannya pun kembali sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Cilla memainkan ponselnya, membuka beberapa aplikasi media sosial lalu seketika berbinar. Sebuah lowongan kerja untuk menjadi guru privat muncul di berandanya. Sebenarnya, Cilla tidak sedang kekurangan uang. Hanya saja, ia menginginkan sebuah pengalaman. Lagi pula, ia masih libur kuliah dan sedang tidak ingin pulang ke rumah. Banyak mahasiswa lain yang juga memutuskan untuk tetap berada di asrama meski sekarang masih libur panjang.
{"Tepat sekali, aku akan coba menghubungi nomer ini!"}
Cilla menyimpan nomer yang tertera di lowongan pekerjaan lalu mengirimkan sebuah pesan singkat yang sopan. Setelah itu, ia letakkan lagi ponselnya di ranjang lalu beranjak untuk tidur.
...🍁🍁🍁...
Keesokan harinya, sebuah pesan balasan, Cilla terima. Si pembuka LOKER (Lowongan Pekerjaan) meminta Cilla untuk datang ke rumahnya. Mengobrol langsung dengan putrinya dan segala keputusan, akan langsung diputuskan oleh putrinya juga. Apakah Cilla akan diterima ataukah tidak? Cilla tersenyum sembari menuliskan balasan. Setelah itu, ia segera bangkit lalu berjalan ke kamar mandi. Membersihkan diri kemudian bersiap untuk melakukan interview sebagai guru les privat.
"Serapi ini mau ke mana?" tanya Nita.
"Aku akan melakukan interview untuk menjadi guru les privat," jawab Cilla sembari menunjukkan riwayat chat miliknya dengan si pembuka lowongan pekerjaan.
"Ooowww ide bagus itu. Sepertinya, aku juga ingin mencari pekerjaan," jawab Nita.
"Kalau kalian semua bekerja, aku akan sendirian di kamar," sahut Lina.
"Kalau begitu, kamu ikut cari kerja juga saja!" saran Nita.
"Enggak ah, lebih baik kumanfaatkan waktu liburku untuk bermain game sepuasnya," tolak Lina dengan cepat.
Cilla tersenyum.
"Kalau pun aku diterima nanti, jadwalku juga hanya beberapa jam saja. Bisa setiap hari, bisa juga hanya berapa hari dalam seminggu. Sebagian besar waktuku tetap akan ada di sini, jangan khawatir!" jelas Cilla.
"Hemm benar," sahut Nita seraya mengacungkan jari telunjuknya.
"Baiklah, cepatlah berangkat, jangan sampai terlambat!" pinta Lina.
Cilla mengangguk lalu bergegas keluar kamar.
"Doakan ya!" teriak Cilla.
"Iya," jawab kedua teman sekamarnya.
...🍁🍁🍁...
Wawancara singkat Cilla berjalan dengan lancar. Seorang anak laki-laki yang masih duduk di Sekolah Dasar yang akan menjadi muridnya. Dengan catatan kalau Cilla diterima. Ibu dari anak itu mengatakan bahwa ia akan mengirimi Cilla pesan tentang keputusan akhir dari anak mereka. Cilla mengangguk mengerti sebelum kemudian berpamitan. Tepat ketika ia keluar dari kediaman, kak Saka menghubunginya.
"Hallo kak!"
"Kamu sedang ada di mana? tadi aku bertemu dengan Lina dan Nita tapi kamu, tidak ada di dekat mereka."
"Iya, ada sedikit keperluan yang harus kukerjakan."
"Apa sekarang masih sibuk?"
"Tidak, sudah selesai kok. Aku mau balik ke asrama lagi sekarang."
"Emm baiklah, aku akan menunggumu!"
"Iya."
Cilla menaiki berjalan sedikit ke jalan raya untuk mencegat kendaraan umum yang akan membawanya kembali ke asrama kampus.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
"Hai!" sapa kak Saka ketika Cilla datang.
"Sudah lama menungguku?"
"Tidak, baru sebentar."
"Oh.."
Cilla lantas duduk di samping kak Saka.
"Apa yang baru saja kamu kerjakan?"
"Itu, aku melamar sebagai guru les privat."
"Oh, bagus. Dimulai kapan?"
"Belum tahu. Nanti, orang tuanya akan mengirimkan pesan tentang nasibku itu. Entah diterima ataukah ditolak."
"Pasti diterima, jangan khawatir!"
"Iya."
"Lalu, apa kamu sudah membuat keputusan tentang pertandinganku? apa kamu bersedia ikut denganku?"
"Soal itu... kurasa, aku bisa."
"Benarkah?"
Cilla menganggukkan kepala membuat wajah kak Saka seketika berbinar.
"Baiklah, besok kita akan berangkat jam tujuh. Mobil akan stand by di depan kampus."
"Iya."
"Penampilan kak Saka selalu yang terbaik."
Kedua pemuda dan pemudi itu pun saling mengulas senyum.
...🍁🍁🍁...
Di tempat lain, Lina dan Nita sedang membahas tentang apa keputusan yang akhirnya diambil oleh Cilla yang tanpa sengaja didengar Vano. Vano mencuri dengar dengan seksama lalu terkejut setelah tahu kalau Cilla dan kak Saka akan pergi bersama untuk menemani kak Saka melakukan pertandingan di luar kota. Segera ia bangkit dari kursinya untuk mencari Cilla.
"Di mana kamu?" tanya Vano di ujung panggilan.
"Taman dekat asrama, mau balik ke kamar. Ada apa?"
"Tunggu di sana."
...Tut.. tut.. tut.....
Vano langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Ada apa dengannya?" tanya Cilla yang tidak mengerti apa-apa.
Ia pun kembali duduk di bangku taman sembari menunggu Vano datang.
...🍁🍁🍁...
"Apa benar kamu akan pergi menemani kak Saka dalam pertandingannya?" tanya Vano langsung pada intinya.
"Siapa yang memberitahumu? ini juga bukan urusanmu."
"Apa benar, kalian akan menginap dan pulang di hari berikutnya."
__ADS_1
"Jangan bertanya lebih jauh! aku enggan menjawabnya. Kamu tidak memiliki hak untuk mengontrol kegiatanku."
"Sekamar berdua?"
"Hah? Vano cukup, jangan berpikir macam-macam!"
"Jangan berangkat!"
"Aku sudah berjanji padanya."
"Tidak boleh!"
"Vano, berhentilah mengurusi kehidupanku!" pinta Cilla seraya melangkah masuk ke dalam asrama.
Saat itu, Vano hanya berdiri diam.
...🍁🍁🍁...
Pagi-pagi sekali, Cilla telah bersiap ketika kedua temannya baru membuka mata.
"Jadi nemenin kak Saka?" tanya Nita.
"Iya jadi."
"Apa ini artinya, kamu sudah memutuskan untuk memilih kak Saka?" tanya Lina.
"Belum tahu, aku tidak mau memikirkan hal itu dulu. Aku berangkat ya, hati-hati kalian!"
"Iya."
Cilla sedikit berlari karena kak Saka telah mengirimkan pesan kalau mobil sudah datang.
[ Iya kak, aku jalan sekarang! ]
Di saat terburu-buru seperti itu, Vano menghadang langkahnya, membuat gadis itu berhenti dengan terpaksa.
"Ada apa? aku sedang terburu-buru," ucap Cilla.
"Kamu tidak boleh pergi!"
"Hah? berhenti bermain-main!" pinta Cilla seraya mencoba melewati sisi yang lain.
"Jangan!" larang Vano seraya menarik lengan Cilla.
"Vano.."
"Apa kamu benar-benar tergila-gila dengannya hingga mau diajak keluar kota bersama dan menginap dalam kamar yang sama juga?"
"Hah? kami memang akan pergi bersama tapi menginap di kamar yang berbeda."
"Tetap tidak boleh!"
Tepat setelahnya, ponsel Cilla berdering. Tahu kalau kak Saka yang menelpon, Vano lantas merebutnya lalu segera mematikan ponsel Cilla seraya memasukkannya ke dalam sakunya celananya.
"Vano!"
"Kembali ke asrama sekarang!" pinta Vano sembari menarik Cilla untuk kembali.
"Vano hentikan!"
Cilla terus saja berusaha berontak.
...🍁 Bersambung... 🍁...
__ADS_1