INIKAH RASANYA? [ END ]

INIKAH RASANYA? [ END ]
DIA, KEKASIHKU.


__ADS_3

Turun dari pesawat, Cilla, kak Saka beserta pelatihnya langsung meluncur ke lokasi kompetisi. Kak Saka lekas bersiap sementara Cilla terus mendampingi.


"Tunggu aku di bangku penonton, aku akan segera keluar!" pinta kak Saka.


Cilla mengangguk menurut lalu berjalan keluar dan duduk di bangku para penonton. Keriuhan kian menggema ketika para peserta keluar, bersiap di tepi kolam dan kemudian, kompetisi pun dimulai. Cilla terlihat beberapa kali menahan napas sembari berdoa di dalam hati.


{"Kamu pasti bisa kak. Semoga kak Saka menjadi juara!"}


"Ayo! ayo! ayo!"


Sorak sorai penonton begitu ramai. Kompetisi berlangsung dengan sangat sengit hingga akhirnya, kak Saka kembali menjadi pemenang.


"Yee!!!!"


Spontan Cilla bersorak kegirangan. Melompat sembari tertawa dengan lebar. Sekali lagi, kak Saka menjadi juara yang mana artinya, akan ada sesi wawancara untuknya. Kesempatan yang memang telah kak Saka nantikan. Dalam wawancaranya, kak Saka mengucapkan syukur dan juga berterima kasih. Hal yang sangat biasa diucapkan para juara. Hanya saja, kali ini ada yang berbeda.


"Yang spesial dari kemenangan saya kali ini adalah karena ada seseorang yang turut menemani dan memberi saya dukungan," ucap kak Saka.


"Siapa dia? kekasihmu?" tanya para awak media.


"Iya, dia adalah kekasihku sekarang," jawab kak Saka seraya berjalan mendekat ke arah Cilla.


Pemandangan itu disiarkan live di televisi. Semua orang dapat melihatnya. Foto dan video keduanya pun, turut disebarluaskan melalui media sosial. Vano kembali membanting ponselnya ketika berita itu sampai kepada dirinya.


{"Kamu benar-benar memilih dia Cilla. Apa aku yang berpikir berlebihan? apa benar, tidak pernah ada aku di dalam hatimu?"}


Di tempat lain, beberapa mahasiswi senior berbondong-bondong menghampiri kak Meta. Mereka semua menunjukkan video wawancara kak Saka yang telah mendeklarasikan hubungannya dengan Cilla. Kak Meta gemetar seketika. Sontak terhuyung lalu terduduk lemas. Dia tak menyangka kalau Saka akan benar-benar memilih juniornya. Sedangkan dirinya yang selama ini, selalu ada. Bahkan, Saka dengan sengaja menyembunyikan jadwal kompetisinya hanya untuk bisa pergi berdua tanpa ada gangguan.


"Met, kamu baik-baik saja kan?"


Kak Meta hanya menggelengkan kepala disusul air mata yang mulai merembes keluar.


...🍁🍁🍁...


Usai kompetisi, jamuan makan digelar. Semua peserta dan para rekanan, makan bersama. Tidak sedikit juga yang mengucapkan selamat kepada Saka dan juga Cilla. Mau tidak mau, Cilla harus mengimbangi. Tidak mungkin ia mengelak perihal hubungan mereka karena jika hal itu ia lakukan, bisa mencoreng wajah Saka. Sepertinya, ini merupakan trik kecil yang memang telah Saka siapkan.


Seperti yang sudah-sudah, Cilla terus menunda untuk memberi kepastian. Langkah ini Saka ambil agar hati Cilla yang mungkin belum yakin menjadi tidak goyah. Terlebih, dia tahu betul kalau Vano menyimpan rasa yang sama besarnya. Jika Saka tidak bertindak lebih cepat, ia khawatir akan melewatkan kesempatan. Dia ingin menjadi pemenang juga atas hati Cilla.


"Terima kasih," bisik Saka di telinga Cilla.


Saka sengaja melakukannya agar dilihat banyak orang. Terlihat begitu mesra layaknya pasangan kekasih yang tengah dimabuk cinta. Sementara Cilla, hanya bisa tersenyum di berbagai kesempatan.


...🍁🍁🍁...


"Cilla, terima kasih sekali untuk hari ini!" ucap Saka ketika keduanya tengah duduk di tepi kolam, usai makan malam.


"Kak, wawancara tadi akan menjadi berita yang sangat besar di kampus kita."

__ADS_1


"Sepertinya begitu, kenapa? apa kamu tidak senang?"


"Aku tersanjung, hanya saja kita..."


"Kita sudah resmi berpacaran sejak deklarasi hubungan, aku umumkan."


"Kak.."


"Panggil aku (dengan sebutan) sayang!" pinta Saka seraya mendekatkan wajahnya.


Sepersekian detik kemudian, Saka kembali mundur sembari mengulas senyum.


"Dadaku terasa begitu hangat. Malam yang syahdu ditemani seorang kekasih sembari merayakan kemenangan atas kompetisi. Kompetisi renang dan juga kompetisi hati," ucap Saka sembari menggenggam erat tangan kekasih yang ia akui secara sepihak.


Cilla hanya diam sebab bingung, harus bagaimana bersikap.


...🍁🍁🍁...


Di asrama, Lina dan Nita sedang berdiskusi. Hendak menelpon Cilla atau mengirimkan sebuah pesan singkat saja. Keduanya sangat penasaran mengenai pernyataan yang Saka katakan dalam sesi wawancara.


"Kalau telepon, apakah tidak akan mengganggu waktu bersama mereka (Cilla dan Saka)?"


"Tapi Lin, kalau cuma chat belum tentu langsung dibalas."


"Benar juga, aku juga sudah sangat penasaran."


"Baiklah, aku tekan nomernya!"


"Iya."


...🍁🍁🍁...


"Lina menelpon," celetuk Cilla sembari menunjukkan layar di ponselnya.


"Angkat saja dan keraskan suaranya!"


"Hah?"


Saka meraih ponsel Cilla lalu menekan tombol terima lalu mengeraskan volume suaranya. Selanjutnya, ponsel di letakkan di kursi, di antara keduanya.


"Bicaralah!" pinta Saka dengan nada yang dangat pelan.


"Hallo!"


"Hallo Cill, begini.. apa yang dikatakan kak Saka di sesi wawancara itu benar? apa kalian benar-benar sudah resmi jadian?"


Mendengar pertanyaan Lina, kak Saka menjadi tersenyum sendiri. Sedangkan Cilla bingung hendak menjawab apa. Pada akhirnya, Saka menekan tombol panggilan video call seraya mendekatkan tubuhnya hingga menempel ke tubuh Cilla. Lina dan Nita sontak terkejut melihat Saka ada juga di sana.

__ADS_1


"Eh kak Saka, selamat ya atas kemenangannya!" ucap Lina.


"Iya Lina terima kasih!"


"Baiklah kalau begitu, sepertinya kalian sedang sibuk. Aku akan mengakhiri panggilan ini!"


"Tunggu!"


"Hemm..."


"Apa kalian tidak ingin mengucapkan satu kali lagi selamat untukku dan juga Cilla?"


"Itu.. owww,, kalian benar-benar sudah...?"


Belum selesai Lina bertanya, Saka tiba-tiba menci** pipi Cilla. Membuat Cilla, Lina dan Nita terperanjat. Sepersekian detik kemudian, Nita menyenggol pundak Lina, memintanya untuk segera memutus sambungan telepon mereka.


"Emm.. emm.. eh, iya iya."


...Tut.. tut.. tut.....


Panggilan video call itu pun berakhir sudah. Saka tertawa sangat puas sementara Cilla, berusaha mengendalikan jantungnya yang kini berdegup dengan sangat kencang.


"Maaf ya! aku tidak meminta izin terlebih dahulu!"


Cilla mengangguk.


"Kamu setuju kan? kita sudah resmi jadian."


Sekali lagi, Cilla menganggukkan kepalanya.


"Manis sekali kekasihku," puji Saka seraya mengusap pelan pipi Cilla.


...🍁🍁🍁...


Saka mengantarkan Cilla hingga ke depan pintu kamarnya. Mengucapkan selamat malam lalu meminta Cilla untuk segera beristirahat.


"Aku sangat bahagia, terima kasih telah menjadi sumber rasa bahagia ini!" ucap Saka yang lagi-lagi membuat Cilla seakan melayang ke atas awan.


"Tidurlah! sudah malam. Besok, kita akan kembali ke asram!"


"Iya kak."


Cilla membuka pintu kamarnya lalu masuk ke dalam. Jantungnya masih berdegup dengan kencang.


"Astaga! apa ini? aku sungguh sudah resmi berpacaran dengan kak Saka? Vano..?"


Cilla menyandarkan punggungnya seraya memejamkan mata. Sebenarnya, hatinya pun juga merasa sangat senang. Ia tidak tahu apakah ini adalah keputusan yang tepat? apakah ia tidak akan menyesalinya? apakah sikap Vano akan menjadi sangat dingin setelah ini? Cilla enggan memikirkannya.

__ADS_1


...🍁 Bersambung... 🍁...


__ADS_2