INIKAH RASANYA? [ END ]

INIKAH RASANYA? [ END ]
KEPUTUSAN [ END ]


__ADS_3

Cilla memikirkan semua hal yang telah ia lakukan. Ia menyadari kesalahannya, merasa sangat menyesal. Alhasil, ia menghubungi kak Saka melalui video call dan mengakui kesalahannya. Dia tidak bisa menyembunyikan ini lebih lama lagi. Ia katakan semua hal dengan ancaman kalau kak Saka akan mengakhiri hubungan mereka.


"Aku salah kak tapi niatku hanya menemaninya sebagai teman. Aku tahu aku salah dan aku tahu ini menyakiti kak Saka tapi aku tidak mau kalau kak Saka mengakhiri hubungan kita."


Kak Saka terdiam cukup lama.


"Baiklah biar kupikirkan hal ini pelan-pelan! lanjutkan skripsimu dan aku pun akan melanjutkan latihanku!"


...Klik......


Kak Saka mengakhiri sambungan video call mereka dengan tiba-tiba. Cilla merasa sedih seketika. Tentu saja Cilla bisa memilih untuk menyembunyikan fakta. Namun, ia enggan melakukannya.


{"Maaf kak Saka! aku merasa sangat bersalah, karena itulah tetap kukatakan yang sejujurnya. Kuharap hubungan kita akan tetap baik-baik saja. Namun, jika perpisahan adalah jalan terbaik agar tidak terus menerus menyakiti maka, beri aku waktu untuk menerimanya!"}


Cilla menangis terisak-isak.


...🍁🍁🍁...


Selama tiga hari berikutnya, sikap kak Saka berubah begitu dingin. Pesan singkat yang Cilla kirimkan pun lama sekali dibalasnya. Terkadang malah hanya dua hingga tiga pesan dalam sehari yang kak Saka kirimkan. Cilla pasrah dengan hubungannya. Ia memilih untuk menyibukkan diri mengerjakan skripsinya.


"Sudah sangat lama sejak kak Saka berangkat ke luar negeri. Sebenarnya kapan ia akan kembali?"


"Bersabarlah Cilla!" jawab Lina.


"Benar, fokus saja pada skripsimu!" sahut Nita.


"Kalian tidak mengerti kerinduan yang sedang kutanggung."


"Akan ada saatnya, kak Saka kembali."


"Lina benar," timpal Nita.


Cilla menghela napas dalam-dalam ketika tiba-tiba, kak Saka menghubunginya.


"Hallo.. Kak Saka..."


"Hai, di mana kamu sekarang?"


"Aku.. aku ada di perpustakaan."


"Kalau begitu kemarilah! sambut kekasihmu yang baru datang!"


"Kak Saka pulang? di mana kak Saka sekarang?"


Cilla sangat antusias.


"Di taman barat."


"Baiklah, aku segera ke sana!"


Cilla berlari sekuat yang ia bisa. Kak Saka menunggu kekasihnya sembari duduk di salah satu bangku taman. Tak lama kemudian, Cilla datang.


"Kak Saka!" panggil Cilla sembari melambaikan tangan.


"Kemarilah!"


Kak Saka tersenyum ke arah Cilla. Cilla pun berlari seraya lekas menghambur ke dalam pelukannya. Kak Saka merengkuh Cilla dengan erat.


"Aku sangat merindukanmu kak."


"Aku juga."


"Kapan kak Saka pulang, kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?"


"Bukan kejutan kalau aku memberitahumu."


"Terima kasih sudah kembali! aku merasa senang sekali."


"Dengan kembalinya diriku, jangan harap bisa keluar lagi dengan Vano!"

__ADS_1


...Deg.....


Cilla merenggangkan pelukannya seraya lekas meminta maaf.


"Sudahlah, aku tidak menyalahkanmu! aku percaya kalau hanya ada aku di dalam hatimu dan juga mulai sekarang, kita berdua tidak akan lagi berpisah."


"Kak Saka tidak marah?"


"Tentu saja aku marah, tentu saja aku kesal tapi hatimu tetap milikku. sekuat apa pun Vano berusaha, tidak akan pernah bisa merebutmu dariku."


"Terima kasih kak!"


"Mulai sekarang, kamu dilarang dekat-dekat dengannya. Bahkan, sekedar duduk di bangku bersebelahan saja dilarang!"


"Siap kak, Cilla akan patuh."


"Gadis pintar."


"Kak Saka hanya berlibur ke sini atau kah pulang seterusnya?"


"Hemm.. kalau itu tergantung perlakuanmu padaku."


"Kak Saka..."


"Hemm..."


Kak Saka mengayunkan wajahnya seraya menunjuk pipinya, isyarat meminta Cilla untuk menci**nya. Cilla menggelengkan kepalanya isyarat menolak.


"Tidak ada yang lewat," ucap kak Saka kemudian.


Cilla lantas melirik ke kanan dan ke kiri lalu berjingkat sedikit untuk menci** pipi kak Saka. Namun, kak Saka lekas menarik Cilla seraya mendaratkan cium** di bibi* kekasihnya.


"Itu hukuman untukmu."


Cilla tersenyum seraya membalas cium** dari kak Saka.


Cilla tertawa kecil mendengar ledekan kak Saka.


"Baiklah, ayo jalan-jalan!" ajak kak Saka seraya menggenggam tangan Cilla.


Kak Saka benar-benar telah kembali. Kak Saka dan Cilla kembali berada dalam kota yang sama. Banyak waktu yang mereka habiskan berdua. Di sela-sela jadwal latihan dan pertandingan, sebisa mungkin Kak Saka menemani Cilla, menyelesaikan skripsinya.


...🍁🍁🍁...


[ Sayang, maaf tidak bisa menemanimu sidang skripsi! aku harus bertanding. Kudoakan semuanya lancar, kamu pasti bisa menjawab semua pertanyaan. ]


Cilla membaca pesan singkat yang kak Saka kirimkan lalu menulis balasan.


[ Iya kak, kak Saka harus berusaha maksimal untuk memenangkan pertandingan tapi, mendapat juara berapa pun, aku akan tetap mendukungmu. ]


[ Baiklah, aku akan bersiap-siap. Semangat! ]


"Kak Saka tidak datang?"


"Tidak Nit, dia ada pertandingan hari ini."


"Owh jangan ganggu dia kalau begitu!"


"Iya."


...🍁🍁🍁...


Satu persatu mahasiswa telah mengikuti sidang skripsi. Begitu pun dengan Cilla. Cilla bernapas dengan lega usai menyelesaikan sidang sikripsinya. Sepertinya, seluruh teman sekelasnya, lulus semua. Sungguh hal yang sangat bagus serta layak untuk dirayakan. Ketika sorak sorai tengah riuh menggema, Vano memanggil Cilla untuk mengajaknya berbicara. Lina dan Nita sempat melarang tapi Cilla meyakinkan kalau antara dia dan Vano tidak akan ada apa-apa. Keduanya pun berjalan sedikit menjauh. Melihat hal itu, teman sekamar Cilla dan juga teman sekamar Vano menyelinap, bersembunyi untuk mencuri dengar tentang apa yang sedang mereka bicarakan.


"Selamat sudah lulus jadi mahasiswi!" ucap Vano membuka perbincangan.


"Selamat juga untukmu Vano!"


"Iya, setelah ini, kita akan jarang bertemu atau bahkan sama sekali tidak bertemu."

__ADS_1


"Sepertinya begitu tapi ada yang bilang kalau bumi itu sempit. Peluang untuk kita bertemu tentu saja ada."


"Benar, setidaknya di pesta pernikahanmu kelak."


"Emm.."


"Apa kamu sudah yakin memilih senior kita?"


"Vano.."


"Tidak apa-apa jawab saja!"


"Ya, aku yakin memilih kak Saka."


"Kalau begitu, ada satu lagi pertanyaanku."


"Apa?"


"Apakah di hatimu, pernah ada aku?"


Cilla memandang Vano lekat-lekat.


"Apakah kamu pernah menyukaiku?" imbuhnya.


"Apakah diriku pernah berarti bagimu?"


"Apakah.."


"Pernah Vano, itu pernah. Kamu, pernah ada di dalam hatiku. Aku pernah menyukaimu. Kamu berarti untukku hingga membuatku begitu dilema dalam mengambil keputusan tapi sekarang..."


"Baiklah, aku sudah mendengar jawabanmu. Terima kasih atas kejujuran dan hari-hari bahagia yang pernah kita lalui bersama! Kisah kita berakhir di sini tapi kenangan itu, akab terus tersimpan di dalam hati."


"Vano.."


"Ya?"


"Terima kasih!"


Vano tersenyum seraya menganggukkan kepala. Teman-teman sekamar Cilla dan juga teman sekamar Vano lekas bergegas kembali ke tempat semula.


"Aku tidak tega," desah Nita.


"Sama, Vano kasihan," sahut Lina.


"Beginilah akhirnya," gumam Arka.


...🍁🍁🍁...


Malam harinya, kak Saka mengajak Cilla ke rumahnya. Secara resmi memperkenalkan Cilla kepada kedua orang tuanya. Vano dengan mantap mengatakan kalau ia menolak tentang perjodohan yang orang tuanya rencanakan. Baginya, pasangan hidup harus dipilih sendiri olehnya. Haruslah orang yang benar-bebar dicintainya seperti kedua orang tuanya yang juga saling mencintai. Mendengar ucapan putranya, kedua orang tuanya tidak bisa berbuat apa-apa selain merestui. Kak Saka dan Cilla merasa sangat senang.


...🍁🍁🍁...


Selanjutnya, kak Saka mengajak Cilla untuk makan malam. Sebagai perayaan atas kelulusannya sekaligus waktu spesial yang telah ia siapkan untuk Cilla. Ternyata, kak Saka telah memesan tempat dan telah menyiapkan beberapa kejutan. Beberapa kembang api diluncurkan. Gemerlapnya menyibak pekatnya malam. Semua mata memandang ke sana, tak terkecuali dengan Cilla. Saat itulah kak saka berlutut, mengeluarkan sebuah cincin untuk melamar Cilla. Suasana kafe menjadi riuh seketika.


"Terima! terima! terima!"


"Aku bersedia," jawab Cilla sembari menitikan air mata.


Kak Saka lantas memasangkan cincin di jari manis Cilla kemudian, mereka pun berpelukan. Beberapa orang mengabadikan momen romantis tersebut lalu meng-uploadnya ke media sosial. Segera setelah, menjadi perbincangan hangat di mana-mana. Inilah akhirnya, sebuah kisah cinta dengan lika-liku dalam perjalanannya. Meski tak semua orang mendapat akhir bahagia tapi pada akhirnya, semua baik-baik saja.


...🍁 TAMAT 🍁...


...Terima kasih semua, akhirnya bisa selesai juga....


...Mohon dimaklumi jika terjadi banyak kekurangan....


^^^Salam hangat dari penulis_ Siyuk Sie.^^^


...😊😊😊...

__ADS_1


__ADS_2