![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
Usai sarapan di hari berikutnya. Cilla beserta seluruh teman sekelasnya mengemasi barang-barang karena mereka akan check out hari itu. Bus pun telah siap, menunggu di luar. Ketua kelas melakukan pengabsenan lalu dilanjutkan dengan berdoa bersama. Setelah itu, semuanya naik ke dalam bus. Kali ini, Vano langsung menarik Cilla agar duduk di sebelahnya. Meski mendapat godaan dari teman-temannya, Vano tetap enggan melepas genggamannya. Bahkan, setelah salah seorang teman memotret keduanya pun, Vano masih tetap menggenggam tangan Cilla.
"Vano cukup!" ucap Cilla, pelan.
"Tetap di sini, duduk bersamaku!" pinta Vano.
"Iya," jawab Cilla seraya menganggukkan kepala.
Barulah kemudian, Vano melepaskan genggamannya. Namun, godaan terhadap mereka, masih terus dilanjutkan. Sepanjang perjalanan, Cilla bersikap biasa hingga kemudian, sampai di kampus tercinta. Satu persatu turun dari bus hingga tiba giliran Cilla dan Vano. Cilla sedikit terkejut sebab, kak Saka telah menunggu kedatangannya. Mengulas senyum seraya langsung meraih ransel Cilla untuk ia bawakan. Tanpa basa-basi juga, kak Saka lekas menggandeng tangan Cilla dan mengajaknya untuk berjalan bersama-sama. Vano cemburu berat, sementara para teman sekelasnya hanya bisa diam memandang Vano, Cilla dan kak Saka secara bergantian.
...🍁🍁🍁...
"Kak Saka, banyak yang melihat kita," ucap Cilla pelan.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?"
"Khawatir akan jadi masalah saja nantinya."
Kak Saka lantas berhenti, merogoh ponselnya lalu menunjukkan postingan media sosial Lina yang menunjukkan Vano dan Cilla yang sedang berpegangan tangan di bus.
"Ini apa?
"Itu, Vano.."
"Kak.."
"Ohya, liburan masih panjang, bisakah besok jalan-jalan bersamaku?"
__ADS_1
Cilla menatap kak Saka sesaat lalu menganggukkan kepala.
"Bagus kalau begitu," jawab kak Saka sembari terus berjalan.
...🍁🍁🍁...
Sesampainya di kamar, Cilla protes kepada Lina karena telah memosting fotonya dengan Vano yang akhirnya membuat kak Saka terluka. Di luar dugaan, Lina malah ganti menyalahkan Cilla yang mana sikapnya akan selalu membuat satu pihak merasa terluka. Harusnya Cilla lekas sadar dan secepatnya mengambil keputusan. Cilla terdiam mendengar jawaban dari teman sekamarnya.
Malam harinya, Cilla merasa sangat tidak tenang. Ia merasa kalau benar, ia harus mengambil keputusan atas Vano dan kak Saka. Alhasil ia putuskan untuk turun dari asrama, sekedar berjalan-jalan, menghirup udara segar. Tak disangka, Cilla malah melihat sesuatu yang cukup mengejutkan. Seorang gadis seangkatannya dengan jurusan yang berbeda tengah memeluk Vano dari belakang. Pelukan yang sangat erat hingga Vano pun sedikit kesulitan untuk melepaskan.
Jantung Cilla seolah dipacu dengan sangat cepat. Dia berdiri diam di sana. Ingin sekali berlari pergi tapi, tubuhnya seolah tertahan, tak bisa pergi ke mana-mana hingga akhirnya, Vano menyadari kalau ada seseorang yang telah memperhatikannya. Barulah setelah itu, Cilla membalikkan tubuhnya lalu berlari. Berlari menjauh, tanpa arah dan hanya ingin melarikan diri. Melihat hal itu, Vano mengempaskan tangan gadis yang memeluknya dengan kasar kemudian berlari, mengejar Cilla. Cilla sendiri telah berhenti, merasa sangat bingung dan sulit memahami. Kenapa dia bersikap berlebihan begini? Vano berusaha mencari jejak Cilla, ke sana dan ke mari.
"Di mana dia?" gumam Vano di dalam hati.
__ADS_1
...🍁 Bersambung... 🍁...