INIKAH RASANYA? [ END ]

INIKAH RASANYA? [ END ]
JANJI


__ADS_3

Sesampainya di kampus, senior Saka tidak lekas memberi jalan. Alhasil, Cilla masih tertahan saat teman-temannya yang lain telah turun dari bus.


"Senior, kita sudah sampai di kampus," ucap Cilla.


"Tidak perlu lagi memanggil senior."


"Emm, kak Saka..?"


"Begitu lebih baik."


"Saya permisi kak.."


Kak Saka mendekatkan wajahnya secara tiba-tiba membuat Cilla memundurkan tubuhnya hingga menempel ke jendela.


"Sabtu, makan malam denganku pukul tujuh!"


"Hah?"


"Beristirahatlah dengan baik dan jangan lupa dengan janji kita!"


Cilla mengerutkan dahi, kak Saka memundurkan lagi tubuhnya seraya berdiri, turun dari bus. Cilla menghela napas lalu berjalan, menuruni bus juga. Di luar, kedua teman sekamarnya telah menanti. Keduanya lekas menarik lengan Cilla seraya mencercanya dengan beberapa pertanyaan.


"Apa yang terjadi dengan kalian berdua (Cilla dan kak Saka)?" tanya Nita.


"Benar, apa sesuatu telah terjadi tanpa sepengetahuan kami?" imbuh Lina.


Keduanya saling sahut menyahut mengintrogasi Cilla.


"Apa saja yang telah kak Saka katakan?"


"Apa saja yang terjadi selama perjalanan di bus tadi?"


"Haisss.. kalian ini, tidak ada apa pun yang terjadi di antara kami," jelas Cilla.


"Benarkah?"


"Benar."


"Tidak mungkin! kak Saka menarikmu duduk di depan banyak pasang mata."


Cilla nyengir.


Ternyata, lagi-lagi Vano berada di dekat Cilla ketika ketiga gadis tersebut sedang serius membicarakan senior mereka.


"Aku juga tidak mengerti kenapa dia melakukan itu," jawab Cilla dengan wajah berbinar.


"Aku yakin, pasti dia menyukaimu," ucap Nita dengan yakinnya.


"Begitu kah?"


"Tentu saja."


"Aku juga berpikir demikian," sahut Lina.


"Sebenarnya, kak Saka mengajakku makan malam besok sabtu sebelum turun dari bus."


"Nah.. itu dia, sudah valid sekarang. Kak Saka memiliki maksud lain di hati. Selamat ya Cill, cintamu bersambut!"


Mendengar ucapan Nita, Vano melirik dengan raut tidak senang. Dia menganggap kalau Cilla telah menempatkan perasaannya kepada senior mereka. Dengan sengaja, Vano meletakkan ransel besarnya ke tanah dengan sedikit membantingnya.


..."Bruugkkk"...


Sontak Nita, Cilla dan Lina menghentikan pembicaraan mereka lalu menoleh ke belakang. Vano menatap ketiganya sesaat sebelum kemudian, ia ambil lagi ransel besarnya dan berjalan melewati mereka.


"Ada apa dengannya?" gumam Nita, pelan.


"Sebenarnya, Vano itu tampan. Kurangnya, hanya terlalu dingin saja," sahut Lina.


"Heis, justru itu yang membuatnya berkharisma," jawab Cilla tanpa sadar membuat kedua temannya bengong menatap ke arahnya.


Cilla cekikikan.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


Hari pertama kuliah adalah hari yang telah dinantikan. Di hari itulah Cilla tahu kalau ia dan Vano berada di kelas yang sama juga. Keduanya mengambil jurusan pertanian. Kedua teman sekamar Cilla pun sama. Sepertinya, pembagian kamar asrama disesuaikan dengan jurusan. Dengan demikian, dua teman sekamar Vano pun juga berada dalam satu kelas yakni Fian dan Arka.


"Ternyata, kami sekelas," benak Cilla.


...🍁🍁🍁...


Cilla merebahkan tubuhnya di ranjang sembari mengutak-atik ponselnya. Beberapa kali membuka pesan dari kak Saka saat pertama kali meminta nomernya. Namun, semenjak hari itu, histori chat terlihat kosong hingga sekarang. Cilla berpikir, betapa menyenangkan hari-harinya jika bisa selalu saling berkirim kabar dengan seniornya. Sayangnya, malah pesan dari Vano yang ia terima.


[ Jangan lupa, kita satu kelompok di kelas pak Diaz. ]


Cilla membacanya lalu menuliskan jawaban.


[ Iya, aku ingat. Seingatku juga, kita berada dalam kelompok yang sama pada semua mata kuliah. ]


Vano tersenyum ketika membaca balasan Cilla.


[ Banyak tugas yang harus dikerjakan. Kita perlu ke perpustakaan untuk mengumpulkan materinya! ]


[ Baiklah, kapan? ]


Vano terlihat berpikir sejenak sebelum menulis jawaban.


[ Sabtu malam. ]


"Oh, eh.."


Tiba-tiba, Cilla teringat akan janji makan malamnya dengan senior Saka.


[ Aku ada keperluan di hari sabtu malam. Bisakah kita ganti di hari yang lain? ]


Vano kembali tersenyum sembari bergumam.


{ "Tujuanku memang untuk merusak rencanamu." } benaknya.


Vano pun tertawa jahat.


"Kamu kenapa Van?" tanya Fian.


Vano lekas mengubah kembali ekspresi wajahnya menjadi datar.


Secepat kilat, Vano menarik dan menjauhkan ponselnya.


"Wah.. sepertinya ini tentang teman sekalas kita," goda Arka lagi.


"Siapa?"


"Ah kamu ini Fin, tentu saja Cilla maksudnya."


"Oh.. benar-benar," sahut Fino sembari turut menggoda juga.


"Jangan asal menebak!" ucap Vino seraya berpindah tempat, menjauhi kedua temannya yang masih cekikikan lalu menulis pesan balasan.


[ Tidak bisa. Hanya hari itu kegiatan kita longgar. ].


Membaca pesan balasan Vano membuat Cilal kesal.


"Dasar kepala batu! kenapa dia memaksa seperti itu? aduh! bagaimana sekarang?"


Vano menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sembari menunggu jawaban.


[ Bagaimana dengan sabtu sore? ] - tawar Cilla.


[ Aku rasa, tidak bisa. ]


[ Kenapa? ]


[ Ada jadwal club basket hari itu. ]


[ Club basketmu tidak sampai siang bukan? begini saja, kita sepakati untuk ke perpustakaan sore hari! ]


Vano memanyunkan bibir, tidak bisa beralasan lain.


[ Baiklah. ]

__ADS_1


Alhasil, Vino hanya bisa menyetujui.


"Beres, rencanaku tetap dapat berjalan dengan lancar," benak Cilla.


Cilla meletakkan ponselnya di meja kemudian mulai memejamkan matanya.


...🍁🍁🍁...


Sabtu pun tiba, sedari pagi, Vano telah disibukkan dengan urusan club basketnya. Pun sama dengan Cilla yang mengikuti klub MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam). Pada hari pertama mengikuti organisasi mahasiswa, kegiatannya masih ringan. Mulai dari pengenalan diri dilanjut dengan pengenalan pada bidang terkait. Pengarahan santai lalu selesai.


Di lapangan, tanpa sengaja Vano tahu kalau saingannya, senior Saka adalah mahasiswa di jurusan pendidikan Jasmani. Pantas saja tubuhnya terlihat bagus. Terlebih, dia juga merupakan atlet. Atlet renang lebih tepatnya. Meski demikian, ia tak gentar karena semuanya, baru dimulai. Perihal hasil akhir, masih belum terlihat.


...🍁🍁🍁...


Sekitar pukul empat sore, Vano mengirimkan pesan singkat kepada Cilla. Meminta gadis itu untuk segera menuju ke perpustakaan.


[ Baiklah, aku datang. ] - balas Cilla seraya beranjak dari kamarnya.


"Mau ke mana kamu?" tanya Lina.


Cilla menunjukkan pesan singkat yang Vano kirimkan pada kedua temannya.


"Oh, belajar yang rajin kalau begitu!" pesan Lina disusul cekikikan.


Cilla menganggukkan kepala.


...🍁🍁🍁...


Sepanjang waktu di perpustakaan, telah berulang kali, Cilla memeriksa jam di ponselnya. Satu jam, dua jam hingga sampai pukul enam malam. Selain cemas, ia pun telah merasa bosan. Sembari membaca, terus saja ia jentikkan pulpen ke meja.


"Tidak bisakah kamu tenang? ini perpustakaan," ucap Vano tanpa memalingkan wajah dari buku yang ia baca.


"Haiss,, bagaimana aku bisa tenang? aku bosan dan kamu, sama sekali tidak memberiku ruang untuk berdiskusi."


Mendengar itu, Vano lantas menegakkan tubuhnya seraya berbalik menatap Cilla.


"Baiklah, kamu mau diskusi apa?"


"Hemm.."


Cilla tersenyum seraya membalas tatapan Vano.


"Begini," ucapnya memulai diskusi.


Setidaknya, Vano masih berpikir kalau Cilla benar-benar hendak mengajaknya berdiskusi hingga saat Cilla berkata:


"Vano... bagaimana kalau kita akhiri belajar kita ini karena aku, benar-benar ada urusan?"


Wajah Vino berubah masam seraya lekas membalik tubuhnya, kembali tenggelam dengan buku bacaannya.


"Tidak bisa!" tegasnya.


Cilla berubah lesu sembari menggerutu.


"Kepala batu!" gerutunya di dalam hati.


Tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepalanya. Dia pun mulai mengeliat, memegangi perutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Vano.


"Sepertinya, perutku bermasalah."


"Jangan mencari alasan!"


"Tidak, perutku benar-benar mulas."


Vano menatap Cilla lekat-lekat lalu mengizinkannya untuk ke toilet sebentar.


"Aku tunggu di sini!"


"Iya-iya," jawab Cilla seraya berjalan ke kamar mandi perpustakaan.


Cilla mengintip dari balik rak buku yang berderet panjang. Mencari celah untuk kabur dari sana.

__ADS_1


...🍁 Bersambung... 🍁...


__ADS_2