![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
Sebuah undangan ulang tahun di sebarkan melalui grup WhatsApp kelas. Rara, salah satu teman sekelas Cilla mengadakan perayaan ulang tahunnya di sebuah cafe di dekat kampus mereka. Undangan itu, disambut hangat oleh seluruh teman-temannya. Lina segera mengajak Cilla dan Nita untuk mencari kado yang akan ia berikan kepada Rara.
"Ke mana kita akan membelinya?" tanya Nita.
"Mall, sekali-sekali kita hangout ke Mall, asik juga," jawab Lina penuh antusias.
"Boleh-boleh."
Ketiganya saling melempar senyum lalu bergegas mengganti pakaian dan kemudian berangkat.
...🍁🍁🍁...
Saka bergumam ketika melihat pesan singkat yang Cilla kirimkan. Ternyata, ia berniat untuk menyusul kekasihnya tanpa pemberitahuan. Sementara Cilla beserta kedua teman sekamarnya, telah sampai di mall yang dituju. Seperti para gadis pada umumnya. Cilla, Lina dan Nita mengelilingi Mall mulai dari lantai dasar hingga yang paling atas. Memilah begitu banyak barang. Namun, tak kunjung memilih satu untuk dibelinya. Cukup lama hingga membuat kaki pegal.
"Lebih baik kita makan dulu saja di food court!" saran Lina.
"Betul sekali, setelah makan, baru kita lanjutkan lagi untuk mencari hadiah untuk Rara," Sahut Nita.
"Setuju!" seru Cilla.
...🍁🍁🍁...
[ Kamu di mana? ] - tanya Saka melalui pesan singkat.
[ Di food Court sedang makan dengan Lina dan Nita. ] - Balas Cilla.
Saka tersenyum seraya mempercepat langkahnya. Beberapa saat kemudian, ia telah sampai di food court seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan Cilla. Setelah terlihat, Saka iseng menelpon Cilla yang sedang, sibuk makan.
"Hallo kak!"
"Sedang makan apa sih kok serius amat?"
"Hah?"
Cilla lekas menoleh, netranya berpendar ke segala arah mencari keberadaan kekasihnya.
"Hai!" sapa Saka sembari melambaikan tangan.
Cilla tertegun seraya lekas menelan makanan yang tadi ia kunyah.
"Kak Saka.. kamu mengajaknya ke sini Cill?"
__ADS_1
"Enggak Lin, dia datang sendiri."
"Boleh gabung kan?" tanya kak Saka sembari menarik satu bangku lalu duduk di sebelah Cilla.
Lina dan Nita nyengir seraya mengangkat makanannya lalu berpindah meja.
"Hei kalian.."
"Kamu di sana saja Cill, kamu tidak akan mengganggu kalian!" sahut Nita.
"Hei, kita kesini bersama-sama."
"Benar kata Cilla, kemarilah! kalau kalian tidak mau, aku akan pulang!"
Lina dan Nita pun segera mengangkat makanan mereka lalu duduk kembali ke tempat semula. Cilla dan Saka terlihat menahan tawa. Bukan tanpa alasan, Lina dan Nita merasa sedikit canggung usai kejadian di video call terakhir kali. Mereka juga merasa akan menjadi pengganggu di antara Cilla dan Saka. Namun ternyata, Saka begitu asik dan ramah. Dalam waktu singkat menjadi akrab dengan kedua teman sekamar Cilla. Canda tawa terdengar di sela-sela agenda makan mereka.
Usai makan, mereka keempat melanjutkan tujuan awal untuk mencari hadiah. Meski pada akhirnya, terpecah menjadi dua kelompok. Lina dan Nita melipir sendiri. Begitu pun dengan Cilla dan Saka.
"Eh, kemana perginya mereka (Lina dan Nita)?"
"Biarkan saja! jangan merusak niat baik mereka! mereka ingin memberi kita waktu untuk berdua."
"Emm..."
{"Nonton.. hemm.. ada banyak cerita yang pernah kudengar tentang nonton bersama pacar. Apakah kak Saka juga akan.."}
Cilla menggelengkan kepalanya coba menyingkirkan pikiran-pikiran yang muncul dalam otaknya.
"Ada apa?"
"Oh, tidak apa-apa."
"Apa ada kotoran di rambutmu?"
"Tidak ada."
"Em.. kita beli minum dan pop corn dulu ya!"
"Iya."
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
Pintu teater telah dibuka. Keduanya pun masuk ke sana. Mencari nomer kursi milik mereka lalu duduk bersebelahan. Film action comedy yang mereka tonton. Cukup seru dan juga sangat lucu. Tawa penonton berulang kali terdengar. Termasuk juga Cilla dan juga Saka. Sangat menghibur hingga di akhir cerita. Usai menonton film, Cilla baru membuka ponselnya. Ada banyak pesan singkat yang Lina dan Nita kirimkan. Mereka mengingatkan agar Cilla tidak terlambat untuk datang ke pesta ulang tahun Rara.
"Oh iya, jam berapa sekarang?"
"Ada apa?"
"Ulang tahun Rara, aku harus segera ke sana!"
"Aku kira ada apa. Ya sudah, ayo kita ke sana bersama-sama!"
"Kak Saka juga ikut?"
"Apa aku dilarang datang?"
"Bukan begitu tapi sepertinya, tidak ada yang mengajak pasangannya."
"Itu karena, teman-temanmu belum memiliki pasangan. Sedangkan kamu, sudah ada aku. Wajah saja jika kita datang berdua atau jangan-jangan, kamu tidak ingin Vano melihatku?"
"Hah? tidak-tidak, bukan begitu."
"Kalau begitu ayo!"
"Emm..."
Terpaksa Cilla menurut meski sebenarnya, memang benar kalau ia tidak ingin Vano bertemu dengan Saka. Cilla tidak ingin memperburuk hubungannya yang sudah kusut dengan Vano. Sepanjang perjalanan, Cilla terus berpikir. Mencari cara agar Vano segera pergi. Namun, otaknya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Alhasil, ia berniat untuk datang sebentar, sekedar mengucapkan selamat dan menyerahkan kado lalu berpamitan. Meski Vano dan Saka akan tetap bertemu. Setidaknya tidak terlalu lama.
{"Entah kenapa, aku jadi takut sekali. Rasanya, amarah Vano terasa begitu menakutkan bagiku."}
"Sudah sampai," celetuk Saka seraya mengulurkan uang pembayaran taksi yang mereka tumpangi.
{"Aduh, bagaimana ini?"}
"Ayo masuk! teman-teman pasti sudah menunggu."
Cilla mengangguk lalu melangkah.
"Em.."
Saka menggenggam tangan Cilla dengan lembut lalu berjalan beriringan. Seolah tengah memperjelas hubungan keduanya di hadapan seluruh teman sekelas Cilla. Sebelah tangan Cilla menutupi wajahnya, terlalu takut melihat Vano yang sedang duduk di sofa panjang. Melihat Cilla dan senior mereka datang sambil bergandengan tangan, suasana pun menjadi riuh seketika.
"Astaga!"
__ADS_1
Cilla panik, kak Saka tersenyum bahagia. Sementara Vano, merasa sangat kesal.
...🍁 Bersambung... 🍁...