![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
Pagi-pagi sekali, Saka bergegas menemui Cilla. Ia menghubungi Cilla ketika sampai di depan asrama.
"Aku membelikanmu sarapan tapi kamu, tidak bisa turun ya? begini saja, aku akan menitipkan makanan ini pada mahasiswi yang lewat!"
"Ah, tidak perlu, aku bisa turun kok, tunggu!"
"Yakin?"
"Iya, aku hanya flu, masih bisa berjalan dengan baik kak."
"Baiklah, aku tunggu!"
"Iya."
Beberapa saat kemudian, Cilla muncul. Melihat kekasihnya yang terlihat pucat, Saka lantas melepas jaketnya lalu mengenakannya pada Cilla.
"Terima kasih!"
"Ayo duduk dulu di bawah pohon itu! aku ingin melihatmu menghabiskan makanan ini."
Cilla mengangguk, Cilla memakan sesuap demi sesuap bubur yang Saka berikan. Terasa lembut dan gurih di lidah. Saka mengamati kekasihnya sembari sesekali menanyakan bagaimana rasanya dan apakah, Cilla menyukainya?
"Enak, aku suka."
"Baguslah karena itu, aku sendiri yang membuatnya."
"Hah? benarkah?"
Saka mengangguk.
"Di mana? apa di asrama laki-laki ada peralatan memasak?"
"Tidak ada."
"Lalu di mana?"
"Di kantin, aku meminta izin untuk membuat bubur karena kekasihku sedang sakit."
__ADS_1
Cilla lantas tersenyum.
"Aku tidak menyangka kalau koordinator kantin akan memberimu izin dengan mudah."
"Tentu saja, ini karena wajahku yang tampan dan juga karena ketulusan hati yang kutunjukkan."
"Benarkah? apakah tidak ada paksaan di dalam prosesnya?"
"Em... bukan memaksa, lebih tepatnya memohon haha."
Keduanya pun tertawa.
"Pacarku telah berusaha begitu keras, aku sangat menghargainya."
"Makan yang lahap!"
"Iya."
...🍁🍁🍁...
"Aku sudah lebih sehat, obat juga kubawa, aku bisa meminumnya di sana!" jelas Cilla.
"Baiklah, hati-hati ya!"
"Iya."
Sama seperti kemarin, Cilla dan Vano bertemu di rumah Riki. Ketika Vano berpamitan, ia berjalan keluar ruangan sembari mengulurkan sebotol minuman.
"Apa ini?" tanya Cilla.
"Air jahe dan madu, baik untuk flu dan menghangatkan tubuh, minumlah!"
"Oh, terima kasih!"
Vano mengangguk lalu melenggang keluar ruangan.
"Ayo kak, kita belajar! Riki punya PR (Pekerjaan Rumah) yang banyak."
__ADS_1
"Iya Riki, ayo!"
Vano tersenyum sembari terus melangkah. Sungguh berhasil membuat Cilla dilanda dilema.
...🍁🍁🍁...
Usai mengajar, Cilla celingukan, menoleh ke sana dan ke mari mencoba mencari, andai Vano menunggunya lagi. Sayangnya, hari itu Vano tidak ada. Cilla berdiri bersama beberapa orang lain untuk menunggu bus yang sama. Di atas sana, langit keabuan, kian lama kian menghitam. Sedikit khawatir kalau badai akan datang lagi.
Lima menit kemudian, bus pun tiba. Sepanjang perjalanan, beberapa kali petir terdengar. Menyambar dengan kilatan yang langsung membelah awan keabuan. Cilla mendengus, tidak ingin kehujanan. Dalam hati berharap agar hujan tertunda hingga ia, sampai di asrama. Ternyata, doanya tidak dikabulkan. Rintik pertama telah turun dan segera setelahnya, disusul derai hujan yang lebih deras. Cilla pasrah sembari menyiapkan tenaga untuk berlari menuju asrama.
"Oke, satu dua tiga...."
Cilla mulai berlari ketika sebuah tangan menariknya seraya memayunginya menggunakan payung berwarna biru.
"Vano.."
"Kebetulan aku lewat, kuantar sampai ke asramamu!"
Cilla mengangguk.
{"Kenapa bisa pas begini? apa mungkin ini kebetulan lagi?"}
"Apa air jahenya sudah kamu minum?"
"Em, sudah, tinggal sedikit sekarang."
"Baguslah."
"Terima kasih!"
"Sudah sampai, segera masuk!"
"Iya, terima kasih!"
"Iya," jawab Vano seraya berbalik arah sembari mengulas simpul senyum.
...🍁 Bersambung... 🍁...
__ADS_1