INIKAH RASANYA? [ END ]

INIKAH RASANYA? [ END ]
KUTUKAN CINTA


__ADS_3

Usai berkeliling, Vano dan Cilla berhenti di restauran yang berada di tengah tempat wisata. Ternyata, teman-temannya yang lain telah menunggu mereka di sana. Melihat Vano telah datang, semua teman menumpahkan kekesalan mereka kepada Vano. Hal ini dikarena mitos cinta yang Vano katakan, tidak benar. Vino mengatakan demikian secara sengaja karena ingin jalan berdua (dengan Cilla) tanpa ada gangguan. Yang lebih menyebalkan lagi, Vano bersikeras tidak mau mengakui.


"Namanya juga mitos, boleh percaya boleh juga tidak," jawab Vano dengan entengnya.


"Mitos yang mana? saat kami semua ke danau itu, ternyata yang naik cuma para jomblo merana karena mitos yang benar adalah, tempat itu digunakan sebagai lokasi melepaskan semua perasaan yang harus segera dilupakan. Kamu sengaja kan melakukannya? kamu tidak ingin kami mengganggu kencanmu dengan Cilla kan?"


Memang benar Vano tidak menjawab. Namun, ia berusaha keras menahan senyum membuat teman-temannya semakin kesal seraya lekas meluapkan amarahnya dengan candaan. Sementara itu, Cilla hanya nyengar-nyengir saja. Agenda hari itu berakhir sekitar pukul tiga sore. Semuanya kembali ke villa untuk membersihkan diri lalu beristirahat.


...🍁🍁🍁...


Ponsel Cilla berdering, kak Saka menghubunginya. Lina memanggil Cilla yang masih berada di kamar mandi. Memberitahunya kalau kak Saka menghubunginya.


"Oh iya, biarkan saja dulu! nanti aku hubungi dia lagi!" teriak Cilla dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Sementara kedua temannya, Lina dan Nita saling berpandangan lalu berdiskusi. Mereka menilai kalau Cilla tidak boleh terus begini. Akan selalu ada karma di dalam setiap perbuatan. Dia begitu mesra dengan kak Saka. Namun, melakukan hal serupa juga bersama Vano. Mereka tidak setuju kalau Cilla memberikan harapan semu kepada kedua lelaki tersebut.


Diskusi keduanya lambat laun menjadi perdebatan sebab Lina dan Nita memiliki pilihan masing-masing. Lina mendukung Vano karena menganggap kalau Vano juga tampan dan mereka sekelas. Akan sangat romantis dan nyaman jika bisa bersama setiap saat. Sedangkan Nita, ia mendukung kak Saka. Nita menilai kalau kak Saka memiliki pesona yang lengkap. Tampan, populer sekaligus seorang atlet. Menjadi pacarnya akan membuat banyak gadis merasa iri. Pasti Cilla akan tersanjung sekali. Keduanya masih berdebat hingga Cilla keluar dari kamar mandi.


"Hei, ada apa dengan kalian?" tanya Cilla yang tidak tahu apa-apa.


"Apa pilihanmu Cill? Vano atau kak Saka?" tanya Lina dengan tegasnya.


Cilla terdiam sesaat lalu nyengir.


Melihat Cilla yang berusaha menghindar, Nita ganti menegaskan.


"Jawab Cill! siapa yang ada di hatimu sekarang? pilih salah satu!"

__ADS_1


"Sebenarnya, apa yang terjadi? aku baru saja mandi dan sekarang, kalian jadi begini."


"Cilla! kamu tidak bisa menggantung perasaan orang seenak hatimu saja! kami sebagai teman sekamarmu, akan selalu mendukung siapa pun yang kan jadi pilihanmu!"


"Hemm.. benar," sahut Lina sembari menganggukkan kepala.


Cilla duduk perlahan di tepian ranjang sembari memikirkan ucapan kedua temannya lalu balik bertanya tentang siapa yang sebaiknya ia terima? pertanyaan Cilla membuat kedua temannya berdebat lagi. Cilla menutup telinganya seraya berusaha melerai keduanya.


"Berhentilah! untuk masalah ini, aku masih butuh waktu untuk mempertimbangkan. Jangan terburu-buru ya?"


Kedua temannya saling berpandangan lalu turut duduk juga di tepian ranjang.


"Jangan terlalu lama!" pesan Lina kepada Cilla.

__ADS_1


Cilla menganggukkan kepalanya.


...🍁 Bersambung... 🍁...


__ADS_2