![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
[ Cill, kamu baik-baik saja kan? ] - tanya Lina melalui sebuah pesan singkat.
Cilla tidak menjawabnya membuat kedua teman sekamarnya menjadi khawatir. Sementara itu, Cilla melangkah gontai menaiki tangga asrama dengan wajah sembab.
{"Sebenarnya, apa yang membuatku menangis? kekasihku adalah kak Saka tapi aku, jauh lebih takut saat Vano marah."}
...🍁🍁🍁...
Keesokan harinya, Lina dan Nita menunggu Cilla bangun untuk menanyakan perihal kelanjutan hubungannya dengan kak Saka. Cilla mengeliat seraya menguap beberapa kali.
"Cill... kamu dan kak Saka.. tidak putus kan setelah kejadian semalam?" tanya Nita.
"Enggak."
"Syukurlah, seberapa marahnya kak Saka?"
"Sangat marah."
Lina mengembuskan napas dalam-dalam.
"Memang harus marah, Vano cukup keterlaluan. Di depan banyak orang dan di depan kekasihmu, dia berani berbuat begitu. Bagaimana pun, ada etika yang harus dijaga. Terlepas sebenarnya, dia juga sangat cocok denganmu tapi kan sekarang, kamu masih ada kak Saka. Tidak pantas dia berbuat seperti itu," sahut Lina.
"Bagaimana dengan perasaanmu?"
__ADS_1
"Aku.. bingung, ini aneh. Aku merasa lebih takut kalau Vano marah ketimbang dengan kekasihku sendiri."
Ketiga gadis itu pun terdiam.
...🍁🍁🍁...
Jam tiga sore kurang, Cilla bergegas berangkat menuju rumah murid les privatnya. Ia bergegas karena tidak ingin terlambat di hari pertama ia mengajar. Sesampainya di sana, ada sebuah sepatu yang terlihat familier. Seorang asisten rumah tangga meminta Cilla untuk menunggu sebentar karena Riki (murid les Cilla) masih mengobrol dengan guru les privatnya yang lain.
"Baik," jawab Cilla.
Tak lama kemudian, Riki muncul bersama dengan Vano. Cilla sedikit terkejut tapi tetap bersikap ramah.
"Kak Cilla sudah datang," sapa Riki.
"Iya Riki, sudah siap belajar matematika bersama kakak?"
"Cilla, ini adalah Vano guru les bahasa inggrisnya Riki. Jadwal mengajarnya adalah dua jam sebelum jadwalmu dimulai. Sepertinya, kalian akan lebih sering bertemu."
"Emm.. iya, sebenarnya pun kami adalah teman sekelas."
"Benarkah? bagus sekali kalau begitu, silahkan dimulai les matematikanya! nyonya masih di luar. Beliau akan menyapanya ketika sudah pulang nanti!"
Cilla menganggukkan kepala, Vano pun berpamitan. Cilla melirik ke arah Vano sembari berjalan menuju ruang belajar.
__ADS_1
{"Kenapa bisa kebetulan begini? jangan sampai kak Saka tahu, bisa jadi masalah lagi nanti"}
...🍁🍁🍁...
Cilla menikmati profesi barunya sebagai guru les karena Riki cukup antusias dan sangat kooperatif. Sangat mudah diajak bekerja sama sekaligus sangat ramah juga. Dua jam waktu belajar, terasa begitu cepat. Riki bahkan mengatakan kalau ia merasa senang belajar bersama Cilla. Ia juga senang ketika belajar dengan Vano. Cilla tersenyum seraya mengusap pelan rambut Riki.
"Ingat ya! tetap belajar dengan serius meski pun tidak sedang les privat," pesan Cilla.
"Iya kak pasti itu, aku akan mendapatkan nilai terbaik dalam ujian dan kemudian, menjadi juara kelas."
"Bagus sekali, semangat ini harus terus dipertahankan!"
"Iya."
"Baiklah, belajar kita hari ini sudah berakhir. Kita bereskan semuanya dan kak Cilla akan pulang! lusa, kita akan bertemu lagi!"
"Iya kak."
Usai membereskan semuanya, ibu Riki masuk, mengajak Cilla berbincang sebentar sebelum kemudian, Cilla berpamitan. Hari yang menyenangkan untuknya. Pekerjaan pertama yang berhasil ia lalui dengan sangat baik.
"Syukurlah!"
Cilla melangkahkan kaki menuju jalan raya utama. Sedikit berjalan lagi menuju halte terdekat yang mana ternyata, masih ada Vano di halte itu juga.
__ADS_1
"Vano.."
...🍁 Bersambung... 🍁...