
"Kamu terlambat," kata Arman begitu Kenya membuka pintu dan memunculkan kepala di ruang tamu. "Aku dan Yogi sudah makan malam, dan kamu melewatinya."
"Begitu ya. Jadi Yogi sudah makan, " Kenya masuk ke dalam kamar, meletakkan tasnya di atas meja kemudian keluar lagi menemui Arman.
"Tentu saja sudah, kamu sendiri yang memberitahuku bahwa segala jadwal Yogi sampai dunia ini berakhir tidak akan berubah." jawab Arman senang, ia merasa puas bisa mengalahkan Kenya dalam hal mengurus Yogi.
"Tapi kamu? Sejak kapan kamu di sini? Bukankah harusnya kamu lebih sibuk karena baru bergabung dengan perusahaan keluargamu?" Kenya bertanya dengan nada santai sambil melangkah menuju Yogi yang sedang menonton tv.
"Aku di sini sudah sejak dua jam yang lalu."
"Dan kamu masuk begitu saja?" Kenya sedikit ketus.
"Tentu saja tidak. Aku punya tangan untuk mengetuk pintu, dan Yogi dengan sukarela membukakan. Sekarang jaman memang sudah kacau, tapi aku masih punya akhlak, Key," Arman menyusul Kenya bergabung dengan Yogi di sofa depan tv. "Masih marah saja kamu ini."
Kenya berdecak sebal. Semenjak Arman memutuskan untuk berhenti bekerja di toko kuenya, Kenya seperti kehilangan partner, dan teman berdebat. Bukankah itu bagus? Tapi tidak bagi Kenya. Arman memang lawan debatnya, tapi argumen pria itu selalu saja benar dan memberi masukan dan solusi untuk setiap masalah yang terjadi di toko kue Kenya. Wawasannya luas dengan segala pengalamannya yang pernah tinggal sekaligus bekerja di luar negri, Arman juga seorang pengambil keputusan yang sangat baik. Setiap keputusan yang dia ambil selalu penuh perhitungan dan telah di pikirkan secara matang. Dan Kenya sangat benci harus melepaskan Arman.
"Tadi aku sudah memanggang ikan salmon, kamu pasti belum makan."
__ADS_1
Kenya melirik ke arah dapur.
"Makan dulu, sebelum dingin!" Arman memerintah diikuti gerakan dagunya pada Kenya.
"Hei, sejak kapan kamu seenaknya sendiri menggunakan dapur rumahku?"
Meski terkesan marah, Kenya tetap mengarahkan diri menuju dapur untuk menikmati ikan salmon yang di panggang Arman, di sana ia juga menemukan kentang goreng dan beberapa jenis sayuran rebus. Kenya mulai menikmatinya. Dan Arman hanya tersenyum kecil melihat tingkah mantan bosnya itu.
Enak, tentu saja. Arman tidak pernah mengecewakan lidah orang yang memakan masakannya. Tanpa Kenya sadari Arman sudah duduk di depannya.
"Jadi bagaimana pekerjaan barumu?" Kenya bertanya sambil tetap menikmati makanannya. Hanya untuk berbasa-basi mencairkan suasana karena status mereka sekarang tidak lagi bos dan manajer.
Kenya tertawa.
"Kamu bicara seperti itu, memang sangat mirip ketika awal masuk ke toko. Aku masih ingat ketika para karyawanku gemetaran ketika kamu mencanangkan peraturan baru."
"Benarkah? Aku tidak menyadari mereka gemetar waktu itu."
__ADS_1
"Cacung sampai berkeringat dingin waktu kamu memintanya menipiskan riasan dan mengganti parfum menyengatnya."
Arman dan Kenya tertawa bersamaan. Beberapa detik kemudian, tanpa Kenya sadari, Arman menatapnya lekat. Dia hampir tidak percaya bisa membuat Kenya tertawa selepas itu.
"Ada apa?" tanya Kenya, begitu ia menyadari Arman memandangnya lama.
"Tidak. Jadi bagaimana Wajik Merah?"
"Kamu yang paling tahu. Dia sedang berusaha bangkit waktu kamu meninggalkannya, jadi apa yang harus ku ceritakan sekarang." ujar Kenya sambil membawa piring kotornya ke wastafel dan meninggalkannya di sana, kemudian duduk lagi di tempat semula.
Arman malah bangkit dari kursinya menuju tempat Kenya meninggalkan piring kotor dan mencucinya setelah menaikkan lengan kemejanya hingga siku.
"Aku berjanji akan mencarikan penggantiku secepatnya, hanya akan sedikit lama karena aku mencari manajer wanita. Aku ingin kinerjanya sepertiku tapi kamu juga tidak segan berteman dengannya."
Kedengaran janggal bagi Kenya. Kenapa harus manajer perempuan? Bukankah Arman juga seorang laki-laki dan Kenya menerimanya menjadi manajer di toko kuenya waktu itu.
"Secepatnya!" ucap Kenya, tanpa menyinggung kenapa Arman hanya mencari calon manajer perempuan untuk penggantinya di Wajik Merah.
__ADS_1
Arman hanya mengangguk sambil meletakkan piring yang sudah bersih di tempatnya.
Arman terlihat sangat tidak keberatan melakukan pekerjaan rumah di tempat Kenya. Awalnya Kenya mengira bahwa dirinya akan jarang bertemu dengan Arman karena kesibukan barunya sebagai pewaris perusahaan ayahnya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Arman hampir setiap hari menyambanginya ke rumah, entah untuk mampir saja, membelikan Yogi buku atau mainan baru, numpang makan atau yang lainnya. Kenya kadang tidak ingat bahwa Arman sudah tidak lagi bekerja untuknya.