Insane

Insane
17


__ADS_3

Waktu rasanya seperti berlari untuk Key. Tiba-tiba saja terhitung hari ini, seminggu lagi rencana pernikahannya akan di laksanakan. Rasanya baru kemarin dia dan Arman berdebat masalah rencana itu. Tepatnya mengenai tempat dan konsep. Sebenarnya konsep mereka tidak jauh berbeda, ingin acara di laksanakan dengan sederhana. Arman ingin menggelar acara di rumah dengan tamu hanya keluarga dan teman dekat. Tapi Key memiliki rencana yang lebih sederana lagi. Key ingin menikah di Kantor Urusan Agama dengan hanya di hadiri empat orang terdekat, masing-masing dua orang dari mereka. Setelah menyampaikan keinginannya itu pada Arman, Arman langsung saja sakit kepala. Mereka tetap pada keinginan masing-masing. Butuh waktu tiga hari hingga mereka akhirnya mendapat titik temu. Akad akan di laksanakan di KUA, dan acara syukuran sederhana di rumah Arman. Untuk masalah itu Key memberi batasan jumlah tamu hanya lima puluh orang dan mendengarnya asam lambung Arman langsung kumat.


Bahkan itu belum sebagian dari jumlah anggota keluarga besar Permana.


"Cung, minta tolong ambilkan kursi!" Cacung yang saat itu kebetulan menengokkan kepalanya ke dalam dapur khusus Kenya segera di beri perintah. Kepala Key rasanya sedikit bergoyang saat mengaduk adonan wajik di atas loyang.


"Sebentar Mba."


Cacung melesat pergi mengambil kursi di belakang. Bukan tanpa sebab dia bergerak cepat. Mungkin Cacung tidak tahu Key merasakan pening di kepala, tapi Cacung melihat wajah Key yang pucat dan berkeringat.


"Ini Mba, mba Key kenapa? Sakit ya? Sampai pucat gitu, biar saya yang lanjutin Mba." Key menyerah dan membiarkan Cacung mengambil alih pekerjaannya. Dia tidak mau memaksakan diri.


"Di depan gimana?" Key memegang kedua pelipisnya hingga tertunduk menahan pening.


"Aman Mba, ada manajer Tika, lagian masih lengang juga." Sambil bicara Cacung terus mengaduk adonan yang sudah mulai lengket dan berat, "Mba mending pulang deh, sumpah, Mba lebih nyeremin kalau sakit gitu daripada pas lagi marah."


"Ngawur, memuji atau menghina kamu, jangan berisik deh."


"Muji Mba."


"Makasih lho."


"Hehe..."


Dengan sangat rapi tertutupi, satu pun pegawai wajik merah tidak ada yang mengetahui rencana pernikahan Key dan Arman. Untuk yang satu ini mereka sepakat mengumumkan setelah acara berlangsung.


"Beneran deh Mba, bibir Mba sampai ga berwarna gitu." Key memang jarang memakai kosmetik.


"Ck, namanya juga orang sakit, sejak bangun emang rada lemes, nanti kalau adonan sudah matang, Mba minta tolong belikan obat masuk angin herbal ya Cung."


Sekilas Key melihat Cacung mengeratkan gigi guna menghimpun kekuatan mengaduk wajik.


"Beres Mba," menjawab seperti mengenjan pup, Key tertawa geli sendiri.


***


Counter baru Wajik Merah telah rampung di kerjakan. Dengan sangat ajaib oleh tangan Wong Cosmic. Counter itu selesai dikerjakan kurang dari tiga bulan seperti yang Arman targetkan.


Hari itu hari terakhir para tukang bekerja. Wong datang ke sana untuk memeriksa hasil akhir para pegawainya. Tidak ada yang lepas dari pantauan Wong. Semua di amati dari pintu kamar mandi yang menimbulkan bunyi atau tidak, hingga tata letak properti yang telah Wong siapkan. Sekarang Wong mengawasi salah satu pegawainya yang sedang mengepel tempat itu.


"Kerja yang bagus Tuan Wong Cosmic."


Wong menoleh pada Arman yang berdiri di belakangnya. Senyum tipis designer itu mengembang seiring Arman yang semakin dekat.


"Selamat siang Pak Arman, terima kasih atas pujiannya, terus terang saya besar kepala."


"Anda memang pantas di puji, jika ini proyek saya, saya akan memberikan bonus lebih untuk anda, sayangnya pemilik tempat ini sangat perhitungan."


"Maksud anda Ibu Key?" Ada binar di mata Wong saat menyebut nama itu tanpa Arman sadari.


"Hm, siapa lagi? Wanita keras itu." Bukan umpatan, itu pujian Arman untuk Kenya, wanita keras itu yang melemparku dengan pesonanya.


"Hasil kerja anda memuaskan menurut saya, tapi tidak tau di mata Ibu Key, seleranya lebih rendah dari saya. Entahlah, saya tidak bisa menebak apa yang akan dia katakan nanti saat berkomentar melihat perubahan tempat ini."


Mereka sama-sama tertawa dengan kadar masing-masing.


"Kalau Ibu Key memiliki keluhan, kabari saya, saya akan turun langsung memperbaikinya."


Arman cukup terkesan dengan tawaran Wong. Jarang ada designer yang mau turun langsung ke lapangan saat ada komplain setelah pekerjaan selesai. Biasanya mereka akan mengutus pekerjanya.


"Pasti, tapi kemungkinan dia tidak akan komplain karena sedang mengurusi sesuatu." Arman tersenyum geli, mengingat hari pernikahannya yang sebentar lagi, "dia sangat sibuk sekarang."


"Tentu, kapan saja ada keluhan Ibu Key, saya akan menerimanya."


***

__ADS_1


"Ini mba obat masuk anginnya, Mba."


"Makasi Cung."


"Mba yakin ga mau pulang?"


"Mungkin sebentar lagi, tunggu obatnya bekerja, biar enakan."


Setelahnya Cacung kembali ke depan. Melaksanakan tugasnya. Meninggalkan Key yang tidak juga membaik semakin berjalannya hari. Ia benci ketika masuk angin seperti sekarang. Setitik saja air yang masuk menjadi pendorong perutnya bergejolak mengeluarkan isi di dalamnya. Itu menjadi alasan Key tidak meminum teh yang di buatkan Cacung dan membiarkannya dingin. Ia harus minum obat lebih dulu, barulah yang lain bisa lolos ke lambungnya.


"Perlu di pijit ga Mba, atau saya kerok?" Cacung yang terlampau sayang pada Key, bosnya. Dia kembali memeriksa Key setelah melayani beberapa pelanggan.


Key menggeleng lemah. "Obatnya udah kerja Cung, kamu juga kerja aja!"


"Siap Mba."


Key memijit sendiri pelipisnya dan tubuh bagian belakang telinga. Dia pernah memonton di sebuah channel video, isinya cara yang cukup ampun menghilangkan pening yakni dengan pijitan ringan di dua titik tersebut secara bersamaan. Key pernah mempraktekkannya beberapa kali dan terbukti ampuh. Sialnya, sudah beberapa kali Key melakukan langkah pijatan itu, hasilnya tidak juga terasa sampai sekarang. Malah kepalanya makin terasa berat.


Key benar-benar tidak tahan. Ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Key berusaha keras menemukan ponsel, mencari nomor Tika, manajer tokonya.


"Tik, antar Ibu pulang, lewat pintu belakang, segera!"


***


Arman sengaja mengurangi intensitas komunikasi dengan Key. Kalau sebelumnya dia rajin menelpon dan menyambangi Key di rumah, seminggu sebelum hari pernikahan dia berjanji pada dirinya untuk menghentikan kegiatan itu. Demi memupuk rindu untuk mereka akan semakin terikat, hanya sesekali Arman mengirim pesan singkat untuk calon istrinya.


Jujur saja ia tersiksa. Rumah Key adalah rumah pertamanya beberapa bulan terakhir. Meski puluhan kali lebih kecil dari rumahnya, rumah Key adalah favorit Arman untuk berpulang setelah bergelung penat di kantor. Arman cukup bangga pada dirinya setelah berhasil melewati tiga hari menahan kunjungannya. Jadi tujuh hari ke depan akan terasa lebib mudah.


Arman: Masih di toko?


Hanya satu pesan singkat. Tidak jadi masalah bukan?


***


"Yakin lah Tik, udah sering ke sini kok."


"Mba yakin ga saya tungguin?"


"Yakin, Mba bisa pesan taksi, atau teman Mba yang antar pulang nanti."


"Ya sudah, aku balik ke toko kalau gitu."


"Hm, hati-hati."


Key melepas kepergian Tika di depan sebuah gerbang berwarna hitam bercampur emas. Milik sahabatnya, Dian, seorang dokter senior yang memiliki tempat dinas di sejumlah rumah sakit milik pemerintah. Namun di jam sepergi sekarang, wanita itu melayani jika ada pasien yang datang berobat ke rumahnya.


Beruntungnya Key, begitu membuka gerbang, sosok Dian muncul di depan pintu.


"Batin kita kayaknya ngontak." Dian yang lebih dulu menyapa bersuara.


"Hm, kamu dokter merangkap cenayang."


Dua sahabat itu saling memeluk samnil tertawa kecil.


"Sombong ya sekarang, mentang-mentang tokonya sudah tenar."


"Main dong sekali-sekali, jangan lihat usus doang."


"Ck, kenapa nih?" Tak perlu menanyakan kabar, Dian tahu sahabatnya itu jika datang mendadak ke rumahnya pasti bermasalah pada tubuh, jadi sesi menanyakan kabar dilewatkan saja.


"Pening aku ga hilang, makin ke sini makin berat."


"Sejak kapan?"


"Tadi pagi sih, setelah bangun."

__ADS_1


"Berat banget?"


"Hemm, makanya ke sini, aku ga tahan."


"Ayo, baringan!"


Key membaringkan tubuh di atas tempat tidur khusus pasien. Sebentar menunggu Dian, mengambil peralatan medisnya.


Berawal dari mata, Dian kemudian meminta Key membuka mulut, mengukur tensi, memeriksa bagian dada sampai perut dengan stetoskop. Terakhir, Dian memeriksa denyut nadi Key sekali lagi, seperti memastikan.


"Udah berapa bulan nih?" Terang saja Key melotot mendengar pertanyaan itu, wanita berkeluarga pasti tahu maksudnya, "iya, kamu hamil, jangan pelototin aku kayak gitu kali, bisa keseleo matamu." Dian tergolong tenang mengatakan pengetahuannya di banding Key yang sudah panik. Semua dokter bigitukah? Tenang dan sedikit bicara.


"Jangan becanda Di!"


"Rugi aku sekolah mahal-mahal kalau becandain kesehatan pasien."


"Serius?" Key masih menentukan perasaan yang harus ia ungkap, bahagiakah atau marah pada perbuatan Arman.


"Aku kasih obat anti mual sama sakit kepala, tapi besok ke dokter kandungan biar dapat obat penguat kandungan dan vitamin."


"Di!"


"Arman, kan? Yang kamu ceritain?"


Key mengangguk lemah bersamaan dengan ponselnya yang bergetar di atas meja. Key beranjak meraih ponsel, membaca pesan yang masuk dan tersenyum.


"Hm, tau deh yang lagi kasmaran, untung sudah dekat hari H, beri tahu dia!"


"Nanti deh, pas hari H kayaknya seru." Balas Key dengan tangan yang bekerja membalas pesan Arman.


"Cih, bucin."


"Tapi kamu datang, kan Di?"


"Pasti lah."


Key merebah lagi, kali ini di sofa ruangan Dian. Terasa lebih nyaman di banding tempat tidur pasien tadi.


"Jaga rahasiaku."


"Ga janji."


"DI!"


"Iya, tapi jawab jujur, kamu bahagia sama dia?"


Key memberi anggukan saja.


"Jawab pakai kata sama suara, kayak gagu aja.!"


"Iya, aku bahagia, puas?"


"Kamu udah pastiin dia ga punya masa lalu yang berpotensi balik lagi kayak kasus almarhum?"


"Sialan kamu," Key melempar Dian dengan satu bantal tepat di wajahnya, "dia lama di luar, mantannya mungkin orang luar juga, jauh lah kalau ke sini, semoga aman." Sambil menerawang menatap langit-langit, "kalau dia kayak gitu, aku pinjam alat medismu, biar aku sunat lagi dia."


"Ngomongmu kayak berani lihat darah."


"Makanya aku jadi tukang bikin kue, biar ga liat darah."


Dian hanya geleng kepala dengan tersenyum mendengar jawaban Kenya.


"Makan di sini gih, terus minum obat, baru aku antar pulang."


Key memberi cengiran manisnya, "thank you, dok."

__ADS_1


__ADS_2