
Sangat, sangat, sangat jauh berbeda dari mimik wajah, semangat, dan gerak-gerik Arman antara yang kemarin dengan hari ini. Kantor pusat Permana Jaya seperti di naungi sayap malaikat ketika Arman tiba di sana.
Senyumnya merekah dengan wajah penuh binar. Setiap langkahnya menyusuri lantai gedung kantor itu terlihat pasti. Semakin di lihat, Arman tampak semakin gagah.
Garut menyambut Arman di pintu lift. Ia juga kebetulan baru tiba di sana. Melihat bayangan Arman dari jauh, Garut memutuskan menunggu atasannya itu. Toh mereka selantai.
"Selamat pagi, Garut."
"Selamat pagi, Pak."
"Kau sudah sarapan?"
Garut tersentak mendengar pertanyaan Arman. Untuk pertamakali seumur hidupnya bekerja sebagai asisten Arman, atasannya itu bertanya perihal sarapan.
"Sudah, Pak."
"Bagus, biasakan sarapan setiap hari. Terutama dengan orang yang kamu cintai, aku jamin kamu akan lebih bersemangat."
Arman berpetuah pada dirinya dan Garut tidak salah dengar. Di dalam lift itu hanya ada mereka berdua dan Garut membersihkan telinganya setiap hari. Ia juga yakin tidak memiliki penyakit tuli. Garut jadi merinding mendapat perhatian seperti itu. Dan... apa tadi yang Dewa Bos katakan? Sarapan dengan orang yang kamu cintai? Oke, bagian itu bukan petuah, tapi sindiran untuk dirinya yang jomblo.
"Saya terbiasa sarapan sendiri dan saya tetap bersemangat untuk bekerja, Pak. Jangan khawatir."
Garut bisa melihat wajah Arman yang tersenyum mendengar jawabannya dari pantulan pintu lift.
"Garut!"
"Ya, Tuan?"
"Apa sebelumnya kau pernah mencintai seseorang? Pernah mengalami jatuh cinta?"
***
Untuk beberapa jam saja, Kenya merasakan sedikit kelegaan setelah Arman enyah dari hadapannya. Tidak dulu atau sekarang pria itu selalu penuh kejutan. Mengagetkannya mungkin kata yang lebih tepat.
Beberapa jam lepas dari Arman, kini dia harus berhadapan dengan Permana lainnya. Tidak sejenis dengan Arman, melainkan wanita yang kemarin ia dengar suaranya dan bergelar 'tantenya' Arman. Seseorang yang Kenya tidak sangka harus ia pandangi secepat ini.
Wanita ini sosok yang anggun, berpakaian modis, sangat terlihat dari keluarga berada seperti Arman. Tebakan Kenya wanita ini banyak bergaul dengan kalangan sosialita ala kota besar. Meski begitu, Kenya tidak mememukan pandangan merendahkan untuk dirinya dari wanita tersebut. Pandangan wanita ini padanya sangat hangat dan ramah.
__ADS_1
"Silakan di minum."
"Oh, tentu."
Wanita itu mengambil gagang cangkir berisi teh dengan apik, tidak serampangan. Kenya senang memperhatikan bahasa tubuh tantenya Arman. Tapi yang gawat, Kenya lupa namanya. Semoga dia tidak terdengar pelupa jika nanti Kenya meminta mereka memperkenalkan diri secara resmi.
"Kalau boleh tau, ada keperluan apa mencari saya?"
"Saya tantenya Arman, yang kemarin bicara lewat telpon asistennya, ingat?"
"Saya ingat, tapi maaf saya lupa nama anda?"
"Elia, Elia Chasi Permana, tapi anak-anak suka memanggil saya tante El."
"Senang bertemu anda, Nyonya Elia."
"Jangan terlalu kaku Key, panggil tante El saja, seperti Arman, Hiban dan Ejet."
Kenya mengangguk pelan sebelum menjawab, "tentu tante El."
"Arman tidak ada sangkut pautnya dengan kedatangan tante ke sini dan tolong jangan di salah artikan, kedatangan tante bukan untuk menekanmu atau memaksa."
Kenya ingat, si tante Arman ini menyebut nama sebuah penyakit yang Arman derita, tapi kenapa sekarang ada istilah menekan atau memaksa ?
"Ini tentang Arman, kita akan bicara tentang kondisi Arman."
"Saya dan Arman, kami tidak punya hubungan apapun." Sanggah Kenya, sebelum tante Arman ini mengira lebih dulu jika mereka memiliki hubunga khusus.
"Saya tau, mungkin rencana pernikahan kalian setahun lalu tidak termasuk hitungan. Arman hanya memberi tau kami dirinya ingin menikah, tapi kami belum sempat melakukan perkenalan secara resmi denganmu Kenya, untuk masalah setahun lalu saya, selaku keluarga dekatnya minta maaf. Arman tidak begitu terbuka mengenainmasalah pribadi."
"Dan sekarang dia memutuskan untuk kembali, tentu kamu tidak akan mau menerimanya dengan cepat."
Wajah tenang itu kini berubah lebih serius dan Kenya tidak bisa menebak apa yang akan Elia utarakan sekarang.
"Setahun lalu kami masih sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tidak begitu peduli saat Arman berkata akan menikah, kamu mungkin sudah tau Arman sebatang kara, dia anak tunggal yang harus mengurusi peninggalan orang tuanya. Kami tidak punya petunjuk dengan apa yang terjadi pada kalian sehingga semua rencananya harus Arman batalkan secara mendadak. Saya pribadi mengira Arman tidak serius dengan keputusannya. Kenya ini akan rumit."
Rumit? Kenya semakin gagal paham dengan kata itu. Kenya tidak membalas, hanya menunggu kalimat-kalimat Elia berikutnya.
__ADS_1
"Setahun lalu saat Arman membatalkan rencananya dan lari ke Amerika kami masih mengira kondisinya biasa-biasa saja. Sampai sepupunya Ejet memberi tahu kami bahwa di sana Arman menjalani pengobatan pada seorang psikiater. Arman mengalami gangguan tidur, kadang merasa ketakutan, tapi dokternya mengatakan bahwa ketakutan Arman sebenarnya sudah terjadi, hanya Arman sendiri yang merasa bahwa ketakutannya pasti akan datang lagi. Dokter mengobservasinya selama berbulan-bulan, selama itu pula Arman tidak bisa tidur tanpa obat."
Elia menarik napas sejenak. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Dalam setiap konsultasinya, Arman hanya menyebutkan dua nama, namamu dan almarhum ibunya. Awalnya saya juga tidak mengerti kenapa kamu adalah sumber ketakutannya karena dia mencintaimu tapi juga meninggalkanmu."
"Kenya, perasaan Arman hanya tertuju padamu karena kamu sangat mirip dengan ibunya, kalian memiliki hobi yang sama, membuat kue dan pecinta kue tradisional. Arman melihat ibunya dalam dirimu. Brain stuck obsetion syndrome Arman adalah dirimu. Setahun lalu dia meninggalkanmu tapi membuatnya ketakutan dan Arman tidak menyadari dirinya terobsesi karena dia menjauh. Dan sekarang dia kembali, obsesi itu berubah menjadi cinta lagi. Sakit yang dialami Arman kemarin adalah bagian dari reaksi pikirannya. Jika kemarin kamu tetap menekannya untuk pergi saya tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada Arman."
***
"Pak, makan siang anda."
Garut meletakkan sebuah kotak berisi nasi lengkap di atas meja kerja Arman. Sesuai janjinya kemarin pada Garut, Arman akan menyelesaikan semua tumpukan laporan di atas mejanya.
Alih-alih senang, melihat Arman yang bekerja seperti orang gila malah membuat Garut khawatir kalau tuannya akan sakit lagi.
"Pak, Anda sudah bekerja keras selama lima jam, mungkin lebih, tolong istirahat sebentar dan nikmati makan siang anda."
"Sedikit lagi Garut."
"Pak, sekarang sudah lewat jam dua."
Arman sama sekali tidak mengacuhkan perkataan Garut. Dia bergeming bersama laporan yang ia baca. Medapat reaksi seperti itu, Garut berpikir keras untuk menghentikan aksi over hardworker Dewa Bos. Garut keluar dari ruangan Arman. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang yang bisa membuat Arman menuruti keinginannya.
"Pak, ada yang mau bicara." Kata Garut begitu ia membika pintu lagi.
Garut menyodorkan ponselnya pada Arman. Arman menatap ponsel itu penuh tanda tanya dengan dahi mengernyit. Ia menegakkan tubuh dari sandaran.
"Hallo!"
"Bisa selesaikan makan siangmu, aku tidak suka mengurus orang sakit."
***
Kenya mengembalikan ponsel milik Cacung setelah memutuskan sambungan. Garut menghubungi Cacung agar Kenya bicara pada Arman karena pria itu belum juga menyentuh makan siangnya. Jadilah kalimat itu yang keluar. Kenya sendiri tidak dalam kondisi sempurna, jadi kalau Arman sakit lagi dia pasti akan di repotkan.
Wajahnya kembali dihadapkan pada Elia.
__ADS_1
"Terima kasih, saya pribadi mengucapkan terima kasih telah memahami kondisi Arman, Kenya." Elia memberi jeda, matanya penuh harap pada Kenya, "jadi apa kamu mau menerima Arman kembali?"