Insane

Insane
45


__ADS_3

Kenya sendiri terkejut diam-diam dengan kalimatnya. Dia merasa berada di jalan buntu dan kebuntuan itu di buat oleh Arman yang tiba-tiba datang lagi dengan segala ceritanya. Mau dirinya menghindar seperti apapun, karena kondisi dan keadaannya yang terbatas, sepertinya tidak akan mudah lepas begitu saja dari pria ini. Jadi, daripada dirinya lelah sendiri dengan menghindar dan Arman yang terus datang, lebih baik dia iyakan saja kemauan pria itu. Dia pernah merasakan sakit yang luar biasa akibat perbuatan Arman, jadi kalau Arman menyakitinya lagi nanti di kemudian hari, Key yakin bisa bertahan.


Bahkan Kenya sudah mengibaratkan Arman dengan bahan ter-remeh dalam pembuatan kue wajik, tapi Arman bisa membaliknya dan dengan gigih memintanya kembali. Mau lari dengan cara apa lagi dirinya, yang bahkan butuh orang lain untuk bergerak.


"Ayo menikah, Arman Permana!"


Arman dalam sekejap mengangkat kepalanya melihat pada Kenya. Arman merasa dirinya salah mendengar kalimat yang keluar dari bibir Kenya.


"Key!"


"Kenapa? Tidak mau? Kamu berubah pikiran?"


Arman menggeleng keras, "bukan, tapi kamu serius, kan?"


Kenya kemudian mengangguk pelan, "aku mau menghindar kayak apa juga kamu akan terus datang seperti gini."


Kenya mengira setelah mengiyakan ajakan Arman untuk menikah, Arman akan memeluknya atau mengucap terima kasih ratusan kali. Tapi yang terjadi di luar dugaan, Arman kembali membaringkan kepala di atas pangkuannya seperti tadi. Wajah pria itupun terlihat aneh.


"Key!"


"Apa lagi Arman? Aku sudah bilang setuju mau nikah, kenapa kamu seperti orang takut begitu? Kalau kamu mau batalin ya..."


"Enggak Key, bukan itu."


Kenya mulai berpikir ada yang tidak beres, ada yang di sembunyikan Arman darinya. Lagat dan suara Arman seperti orang ketakutan.


Memang benar, Arman sangat takut saat ini. Dia senang Kenya menerima ajakannya, tapi di sisi lain dia juga takut akan reaksi Kenya jika mendengar pengakuannya.


"Kamu mau janji, ga akan marah kalau aku bicara jujur?"


"Arman!"


"Janji dulu, Key."


"Janji."


"Oke, kalo gitu kamu ga boleh berubah pikiran setelah aku ngomong jujur."


"Jangan berbelit-belit, kenapa lagi sih?"


"Garut tadi memang mengurus surat-surat pernikahan kita," Arman memilih mengatakan yang sebenarnya, "aku ga punya gambaran kapan waktu yang tepat kita laksanakan pernikahan itu, jadi aku biarkan Garut menutuskan sendiri."


"Jadi, apa masalahnya?"


"Masalahnya, bukan bulan depan, kita dapat jadwal buat nikah itu lusa," Arman semakin mempererat pelukannya pada pinggang Kenya, bersiap diri mendapat amukan wanita itu.


Kenya sendiri masih menganga kaget dengan pandangan lurus. Masih mencerna kata-kata Arman. Kepalanya menggeleng tidak percaya dengan hembusan napas putus asa.


Lusa?


Belum habis masa terkejutnya karena Arman mengatakan di awal kalau pernikahan mereka akan terjadi bulan depan, sekarang Arman secara ajaib mengatakan pernikahan mereka akan terjadi lusa. Astaga, ingin sekali Kenya menarik mundur kesediaannya atau dia cekik saja Arman sekarang dan pernikahan itu tidak perlu terjadi.


Ingin sekali Kenya berteriak karena kesal. Pria dan obsesinya ini sangat merepotkan Kenya. Tapi di satu sisi, Kenya merasa tubuhnya tidak berdaya. Obat yang dia minum tadi sepertinya benar-benar sudah bekerja hingga saat ingin marah seperti sekarang pun Kenya malah merasakan kantuk tidak tertahan.


"Terserah kamu saja," putus Key pada akhirnya, mau bagaimana lagi. "Kalau memang lusa ya lusa, sekarang aku mau tidur, kita bicara lagi besok."


Ya, lebih baik begitu. Lebih baik sekarang Kenya tidur dan kembali ke dunia nyata besok pagi, berharap saat ini dia mimpi saja.

__ADS_1


***


Cacung memasang wajah kesal melihat pemandangan di depannya. Arman yang tidur di lantai beralaskan tikar plastik memang tampak memprihatinkan, tapi Arman menghalangi aksesnya mengitari rumah untuk di bersihkan. Melihatnya Cacung antara tega dan tidak, kesal juga kasihan.


"Pak, bangun, sudah pagi," Arman hanya berdehem, "Pak, gerak gih, saya mau bersih-bersih."


Arman akhirnya memberi reaksi, menggeliat sebentar, kemudian bangun dari posisi tidurnya. Ia celingukan, Cacung yang melihatnya hampir tertawa. Arman kemudian bangun dan melangkah ke kamar Kenya. Dari luar Cacung bisa mendengar Arman berkata "Key, aku tidur lagi di sini," tak lama giliran Kenya yang keluar sendiri dengan kursi rodanya.


"Mba, mau mandi?"


"Iya, Cung," Cacung lalu mengambil alih kursi roda, mendorongnya ke kamar mandi, "bantuin di dalam ya, Cung."


Cacung paham, tangan Kenya masih sakit, dia pasti kesulitan untuk hanya sekedar mandi. Cacung membantu Kenya, bahkan memandikannya seperti awal-awal dulu Kenya harus memakai kursi roda. Dulu, Cacung, Kinan, dan Tika secara bergiliran merawat Kenya, membantu Key dari A sampai Z.


Butuh beberapa waktu hingga Kenya terbiasa dengan keadaannya.


"Nanti Mba Tika katanya mau ke sini," Mba ada yang mau di pesan?" kata Cacung sambil mengeringkan tubuh Kenya.


Key berpikir sejenak, "minta Tika belikan bedak dan lipstik."


Tentu saja Cacung heran mendengar permintaan Kenya. Setahunya Key tidak menggunakan atribut apapun di wajahnya pasca kecelakaan.


"Mba nikah sama Arman lusa, Cung. Tapi kalau di hitung hari ini, jatuhnya besok."


Cacung refleks menarik napas kaget dan menutup mulutnya.


"Mba yakin?"


"Mba ga tau, tapi Mba akan hadapi saja kegilaan Arman." Kenya memasukkan tangan ke lengan baju yang terakhir, "Mba mau lihat sampai di mana keseriusan Arman untuk memperbaiki hubungan kami."


"Mba sudah kabari Mama Kinan?"


"Tapi Mba, Mba butuh restu Mama Kinan."


"Mba tau."


"Mba ga lihat gimana marahnya Mama waktu itu sama Pak Arman, Mba masih koma, Mama Kinan..."


"Mba tau, Cung. Sampai Mba bangun pun, Mba tau Mama benci sama Arman, sedikit pun Mama ga nanyain atau menyebut nama Arman."


***


Cacung dan Kenya kini berkutat di dapur. Yogi baru keluar dari kamar mandi, Arman kemudian masuk setelahnya.


Waktu menunjukkan pukul 6, Kenya sedikit heran, biasanya Arman bisa tidur sampai jam 8.


"Nasi gorengnya mateng, Mba."


"Angkat gih, sekarang bikin telurnya."


"Saya bikin yang ala Korea ya Mba, yang di gulung-gulung gitu."


"Terserah Cung, yang penting bisa di makan."


Tak lama Arman keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, pria itu menuju kamar Kenya lagi karena memang bajunya semua ia simpan di sana.


Bersamaan dengan Cacung yang selesai membuat telur gulung, Arman keluar dari kamar dengan pakaian lengkap kantornya. Tidak menuju Kenya, Arman lebih dulu ke kamar Yogi. Beberapa menit kemudian mereka keluar bersama.

__ADS_1


Seperti biasa, Yogi akan duduk manis menunggu sarapannya di siapkan Cacung. Arman menuju Kenya, berlutut di depan wanitanya meminta untuk di rapikan tampilannya.


"Sudah rapi kok ini."


"Rapiin lagi dong, Key."


Kenya hanya perlu menggeser sedikit letak dasi Arman.


"Sudah." Arman tidak juga bangun meski Kenya telah menyelesaikan tugasnya.


"Hari ini aku janji sama Garut mau datang lebih awal, aku boleh bawa bekal, Key?"


Kenya tersenyum mendengar permintaan Arman yang seperti anak kecil, "iya, nanti aku siapkan, kemarin kita makan malamnya pecel, jadi banyak stok nasi, tapi sudah di bikin nasi goreng sama Cacung, sekarang sarapan dulu aja."


***


Arman selalu menepati janjinya pada orang lain, tapi setahun lalu dengan bodohnya mengingkari janjinya pada Kenya. Seperti saat ini, sebelum karyawanya datang, Arman sudah lebih dulu menapakkan kaki di gedung kantor. Pegawai keamanan yang berjaga sigap menghampiri begitu melihat Arman turun dari kendaraan.


Arman menyapa sambil lalu sekuriti itu. Dia dengan langkah lebar segera menuju lift ke ruangannya.


Menit berikutnya Arman telah berada di pintu ruangannya. Bahkan Garut belum datang saat melihat meja Garut yang kosong. Sesuai janjinya kemarin, ia datang lebih awal.


Tanpa menunggu komando siapapun, Arman memulai pekerjaannya. Membuka berkas yang sudah menumpuk di atas meja. Tak butuh waktu lama sampai Arman larut dengan pekerjaannya sebagai seorang pemimpin.


Hari ini, semua pekerjaan itu harus selesai. Arman menargetkan semua berkas akan selesai saat jam makan siang. Karena setelah itu, dia akan pergi menemui seseorang yang harus ia temui demi mewujudkan Kenya menjadi pendampingnya. Arman telah berjanji akan memulai hubungannya dengan Kenya dengan cara yang benar.


***


Untuk pertama kalinya Garut merasakan malu pada Arman karena hari ini sang atasan datang lebih awal darinya. Garut ikut bekerja ekstra cepat mengimbangi Arman yang juga berkutat dengan pekerjaan di ruangannya. Saat melihat jarum jam yang tiga puluh menit lagi menuju jam makan siang, Garut berinisiatif menawarkan Arman memesan makan siang sesuai keinginan Dewa Bos.


"Ini balasan dari Tuan Hiban," Garut meletakkan sebuah map berwarna merah di atas meja Arman.


"Apa Bapak mau saya pesankan makan siang?" tanya Garut pada Arman yang masih menatap layar komputer.


"Tidak perlu, aku membawa bekal yang disiapkan Kenya, bawakan air putih saja, setelah makan siang aku akan keluar Garut, selesaikan sisa pekerjaanku, mungkin aku tidak kembali."


"Iya, Pak. Ada lagi?"


Arman menoleh pada Garut, asisten yang selama ini menemaninya selama memimpin Permana Jaya.


"Aku secara pribadi mengundangmu besok, apa aku bisa meminta tolong?"


Ada rasa haru yang menghinggapi perasaan Garut, mengingat dirinya juga menjadi saksi perjuangan Arman mendapatkan Kenya lagi. Tentu saja Garut paham undangan yang di maksud Arman.


"Tentu, Pak. Ada bisa meminta bantuan apa saja pada saya."


"Tolong minta beberapa orang menyiapkan pesta kebun sederhana di rumahku, hias dengan sesuatu yang simple juga, gunakan meja kecil agar kami bisa makan dengan duduk lesehan agar Kenya merasa nyaman, panggil chef dari hotel milik Hiban untuk membuat hidangan besok, aku hanya mengundang beberapa orang teman dan keluarga."


"Baik Pak, ada lagi?" Garut rasanya ingin menangis bahwa Kenya menerima permintaan Arman untuk menikah. Tadinya ia ragu Kenya akan setuju melihat tanggal yang di tentukan KUA untuk jadwal pernikahan mereka.


"Sepertinya tidak ada."


"Apa saya perlu memanggil seseorang untuk menghias kamar pengantin, atau menyiapkan baju, make up artis untuk Nyonya?" tanya Garut dengan suara bergetar. Entahlah, dia tiba-tiba merasa melankolis dengan pernikahan Arman.


"Tidak Garut, kami akan menikah pagi harinya di KUA, hanya di hadiri empat orang saksi, seperti permintaan Kenya dulu."


"Cincin pernikahan? Mas kawin anda?"

__ADS_1


Arman hampir tertawa melihat mata Garut yang berkaca-kaca.


"Kamu mungkin tidak percaya, aku sudah menyiapkan itu setahun lalu, Garut."


__ADS_2