Insane

Insane
15


__ADS_3

Key membuka mata saat matahari sudah beranjak naik di atas kepala.. Kepalanya sedikit berat tapi tak menghalangi usahanya untuk mengingat kejadian yang ia alami sebelum tertidur. Ia mendesah saat mengingat Arman ada di rumahnya. Ah, semoga pria itu sudah pulang sebelum ia membuka mata tadi.


"Sudah bangun?"


"Astaga."


Suara Arman menski di ucapkan dengan suara pelan mampu membuat Krnya terkejut di tempat tidur. Dia hampir ingin berakting pura-pura tidur jika Arman tidak melihatnya. Dan tatapan Arman sekarang membuatnya mati gaya.


Key menutup seluruh tubuh hingga sebagian wajahnya, dan hanya menyisakan mata melihat Arman yang mulai mendekat.


"Maaf, aku ketiduran."


Suara Kenya terdengar seperti gumaman bicara di balik selimut, "ke-kenapa belum pulang?"


Kali ini Arman sudah duduk di pinggiran tempat tidur dan itu membuat Kenya tidak bisa bernapas.


"Kamu mau tidur lagi? Sepertinya aku juga mengantuk."


"Arman, sudah!" Saat ini Kenya bisa merasakan pipinya memanas hingga akan melelehkan cairan yang membeku di belakang bola mata. Key ingin keluar dari situasi ini, tapi sayangnya Arman sudah memaku tangannya di samping kaki Kenya.


"Mari bicara!" Kenya tersentak.


"Bicara? Apa?" Kenya mulai panik. Apa yang akan pria ini katakan..


"Kita."


"Kita? Kenapa? Ada apa dengan kita? Kita tidak..."


"Key!" Arman harus meninggikan suara karena merasakan Kenya akan menyangkal apa yang terjadi antara mereka, "kita ada apa-apa, jangan selipkan kata tidak."


Kenya bungkam, Arman melihatnya dengan raut yang tidak pernah Kenya lihat sebelumnya dan Kenya tidak tahu arti dari ekspresi itu.


"Jangan menyangkal yang sudah terjadi, kita melakukannya dengan sangat sadar, aku tahu kamu menginginkannya, begitupun aku, jadi jangan harap aku akan bertindak seperti pengecut yang akan memintamu melupakan hal yang sudah kita lakukan kemarin dan jangan harap aku mau melupakannya juga kalau kamu meminta itu."


Tegas, Arman bicara sangat tegas kali ini. Kalimat-kalimat itu berhasil merobohkan tembok rapuh yang Kenya bangun. Sedari awal Key bisa merasakan setiap perlakuan Arman yang berbeda padanya, tapi Key menyangkal. Mungkin dirinya pernah membayangkan akan memiliki hubungan lebih suatu saat dengan pria di hadapannya ini, tapi Key tidak pernah mengira hubungan itu akan terjadi sekarang. Begitu saja. Dan sangat cepat.


"Lihat aku!" Arman mengangkat dagu Kenya, tangannya kemudian bergerak menyingkap rambut Kenya yang jatuh menutupi wajah, "apa yang kamu takutkan?"


Seperti memiliki telepati, Arman bisa membaca rasa takut yang Kenya hadapi.


Semuanya. Ingin sekali Kenya mengungkapkan segala pemikirannya tapi entah apa yang menahan dirinya hingga semua ungkapan itu hanya membeku di kepala.


"A-aku,"

__ADS_1


"Omongan orang? Takut mereka akan membicarakan kita? Status kita?"


Seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah, Key mengangguk pasrah dan apa yang dikatakan Arman memang yang ia takutkan sekarang.


"Kenapa khawatirkan masalah yang belum tentu terjadi? Tidak ada yang salah di antara kita, kamu sendiri, begitupun aku, tidak ada yang keberatan kalau kita menjalin hubungan dan omongan orang tidak penting, apapun yang kamu dengar nanti anggap saja asap yang akan menghilang dengan sendirinya terbawa angin."


Kenyataannya usian Arman lebih muda beberapa tahun dari Kenya, tapi dalam situasi ini Armanlah yang memegang kendali dan Key harus menjadi pengikut.


"Bagaimana kalau kamu yang tidak serius?"


Astaga.


Kenya sendiri kaget mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya, terlebih Arman. Pandangan pria itu seketika beralih pada Key saat suara tanya itu terdengar. Arman tersenyum, tepatnya tertawa.


"Apa ada syarat khusus untuk membuktikan keseriusan selain perbuatan semalam?" goda Arman.


"Ah aku tahu," Arman seperti menemukan sesuatu yang sangat ia cari-cari, "bulan depan..."


Kenya sontak menggeleng telah mengetahui yang Arman maksudkan, "tidak!" ucapnya cepat dengan gelengan kepala yang kuat.


"Kalau begitu minggu ini."


"Tidak, Arman!"


"Baiklah, minggu depan."


"And I'm not joking, what about if you pregnant?"


Kenya speechless.


***


Hari-hari berlalu, Key dan Arman kembali menekuni bidang mereka masing-masing. Key makin disibukkan denga toko kuenya yang kini semakin diminati banyak kalangan.


Tepat seperti roda yang berputar. Jajanan klasik yang Kenya tawarkan semakin banyak di minati baik dari kalangan tua maupun muda. Segala hal yang berbau jaman dulu, old fashion, dan vintage kini kembali naik ke permukaan. Berimbas pula dengan kuliner yang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Terutama wajik merah, yang menjadi keahlian Key, jajanan itu harus ia produksi dalam jumlah yang lebih banyak setiap hari.


"Mba, Pak Arman sudah nunggu di depan."


Key menoleh pada Cacung, yang menjadi sumber suara dan harus membuatnya berhenti memotong wajik di dalam wadah.


"Bilang, tunggu sebentar lagi."


Cacung mengangguk kemudian pergi.

__ADS_1


Dan setelah kejadian itu, Arman mengharuskan mereka bertemu setiap hari saat jam makan siang. Hanya itu satu-satunya waktu yang Kenya mau jadikan sebagai waktu pertemuan. Kenya tidak lagi mau menerima kedatangan Arman di malam hari. Dia tidak ingin kejadian waktu itu terulang meski Kenya telah setuju mereka menikah bulan depan.


Bulan depan?


Ya, Key terpaksa harus mengalah. Dan memang ia kalah berdebat dengan Arman. Semua Argumen yang di ajukan pria itu masuk akal. Mengingat kekalahannya Key mendadak sakit perut.


Key segera menyelesaikan pekerjaannya, kemudian membuka apron dan keluar dari dapur khususnya.


"Cen, wajik sudah siap di dalam, bawa ke ruang display ya!" Kenya memandat pada Gocen kemudian meninggalkan dapur, membuat tiga pegawai di dapur itu melempar wajah tanya.


Beberapa hari ini mereka sibuk dengan bertanya dalam hati, ada hubungan apa antara mantan pegawai dan bos itu. Tidak ada yang berani bersuara untuk bertanya lebih dulu. Key juga seperti membuat benteng dengan anak buahnya untuk urusan pribadi. Tapi serapi-rapinya bangkai di tutupi, baunya akan tetap tercium. Tanpa Kenya memberitahu pun mereka bisa menebak ada hubungan yang terjalin, hanya saja mereka berharap bisa mendengar kepastiannya dari salah satu pelaku, entah Arman atau Kenya.


"Ramai ya?" Arman langsung berinisiatif bertanya melihat Kenya bersandar dengan wajah lelah di kursi penumpang dan benar saja wanita pujaannya itu mengangguk.


"Memang berapa loyang?"


Arman tahu tugas Kenya hanya membuat wajik merah, karena menu yang lain di buat oleh pegawinya.


"Hampir sepuluh loyang, ukuran besar." Jawab Key lemas.


Arman terperangah, tentu saja ia tahu berapa kilo ketan yang harus Kenya olah untuk ukuran sepuluh loyang besar.


"Siapa yang bantu?" tanya Arman lagi.


"Tidak ada, hanya Cacung sekali waktu nyamperin kalau di depan sepi." Arman mengangguk.


"Dua hari lagi kalau masih seramai ini, tambah pegawai!"


Key hanya menanggapi dengan anggukan. Dia benar-benar lelah. Tangannya terasa kebas hebat, dan ke dua bahunya seperti di rantai kuat dan ketat. Semua otot tubuhnya seperti di tari-tarik.


"Kemarikan!"


Arman menarik tangannya saat mereka menghadapi lampu merah. Meski bukan tukang pijat pofesional, Arman sepertinya tahu di titik mana dia harus memijat Kenya, dan ketika Arman menekan sela antara jari telunjuk dan jempolnya, Key bisa merasakan rantai di bahunya melonggar.


***


"Nanti malam aku ke rumah," Arman tahu Key akan menunjukkan wajah itu saat mengutarakan keinginannya, "ini tentang counter, jangan jutek gitu!"


Kenya berdecih, "kenapa ga sekalian di omongin tadi?"


"Tadi itu waktu pacaran, tidak baik bahas masalah pekerjaan, ga berkualitas," kilah Arman.


"Alasan kamu." Kenya membuka pintu mobil, tapi sepertinya Arman belum berkenan.

__ADS_1


"Jam delapan, jangan telat, aku tunggu di rumah sama Yogi, jangan bersihkan dapur, minta Cacung atau yang lain."


Key mengiyakan hingga Arman membuka kunci dan membiarkannya turun.


__ADS_2