Insane

Insane
27


__ADS_3

Tubuhnya mungkin sangat lelah, matanya pasti berat, dadanya kian terasa sempit, tapi pikirannya membuat Arman setia terjaga dua puluh empat jam lamanya. Fokus Aman yang terbagi pada lelah tubuh dan misteri keberadaan Kenya kini terbagi lagi dengan gambar yang berputar di depannya. Di hadapan tivi dengan layar super besar, gambar rekaman Kenya, sesaat sebelum kecelakaan, yang saat itu Kenya berada di kantor Arman demi mencarinya membuat Arman semakin merasa kesakitan. Dia tertawa perih melihat Key duduk, sesekali mengusap perutnya, menguap, mencium aroma minyak kayu putih dari botolny, mungkin ketika wanita itu merasakan mual, sesekali Key celingak celinguk melihat ke sekeliling kantor itu.


Dia pasti bosan karena menunggu sangat lama, sialan Garut, kenapa tidak memprioritaskannya, paling tidak menawari Key minuman. Dan semua masih salah Garut. Orang yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa tentang masalah mereka.


Begitu gambar berganti ketika Key menunggu ponsel yang hendak Garut berikan, saat itu juga jutaan rasa sakit dan kecewa menyerang Arman. Kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri. Kecewa pada perbuatannya. Dan pastinya kekecewaan Kenya lebih besar. Kesakitan wanita itu berkali-kali lipat dari yang ia rasakan sekarang.


Apa yang harus ia katakan nanti jika mereka berhadapan. Mampukah Arman melihat wajah itu. Bisakah Arman mengambil hati wanita itu lagi. Adakah maaf yang tersisa untuknya? Maukah Kenya melihat wajahnya? Maukah Key memberinya kesempatan kedua?


Memikirkan jawaban dari pertanyaannya sendiri semakin membuat kepala Arman berdenyut.


Arman makin mengutuk diri saat dirinya menikmati gambar buram Kenya dan gelombang kantuk tiba-tiba menyapanya. Pandangannya makin sayu dan layu. Arman berbaring miring di atas tempat tidur. Berharap bantal yang menopangnya adalah pangkuan hangat Kenya. Matanya memberat hingga ketidaksadaran sedikit lagi menguasainya. Maaf, lirih terakhir Arman begitu ketidaksadaran mengambil alih.


Arman terlelap, meninggalkan sejenak frustasi, harapan, yang berbaur luka. Menenangkan gundah yang setia bergejolak. Semoga setelah ini ada asa yang rela menyapanya.


***


"Mba apa kabar?"


"Sehat kan Mba?"


"Mba kita kangen."


Erwan, Gocen, dan Cogy datang bersama mengunjungi Kenya. Mereka membuat sebuah tradisi setiap bulan, pada tanggal Wajik Merah resmi di tutup para mantan karyawan Kenya ituakan datang mengunjungi mantan bos mereka.


"Hallah, sok-sokan bilang kangen, bilang aja pada mau numpang makan, kamu Cogy ngaku kalo kesini pasti buat hindari bantuin istri kamu jualan nasi, Erwan juga pasti lari dari tanggung jawab nyetrika di laundry, ngaku ga kalian!" cecar Cacung sengit.


Tidak ada yang membantah, memang itu kenyataannya, tapi mereka juga tidak membalas mengatai Cacung dengan kalimat cacian apapun. Justru mereka ingin berterima kasih pada Cacung karena sudah rela mengabdi pada Kenya hingga mereka merasa tenang di tinggalkan mantan bos mereka itu.


Pesangin dari Kenya bisa membuat tiga mantan karyawannya itu membuka usaha sendiri. Agak berbeda dengan pekerjaan mereka membuat kue bersama Kenya, Cogy, Erwan, dan Gocen membuka usaha dengan menyesuaikan bakat dan minat pasangan mereka. Niatnya untuk memberdayakan istri agar tidak diam saja di rumah, juga memudahkan mereka jika memiliki urusan di luar seperti sekarang, mereka bisa sejenak meninggalkan usaha tersebut demi bertemu mantan bos mereka, dan para istri yang menangani sementara mereka pergi.


Semua tertawa, tidak ada rasa tersinggung. Meski mengomel, Cacung datang dengan sepiring ubi rebus dan pisang goreng yang masih mengepul.


"Kamu sehat juga kan, Cung?" tanya Erwan sambil melirik pada pisang goreng di hadapannya.


"Mulut nanya aku, mata minta makan, picik ya kamu." Erwan nyengir kuda meski dikatai temannya.


"Wangi Cung...pisang gorengnya, bukan kamu," timpal Cogy.


"Pisang goreng kok wangi, Molto aroma bunga lily baru wangi parfum, pe'a."


"Bisa aja Cung, ngomong soal wangi, jadi ingat wangi parfum kamu di tegur sama Pak Arman waktu beliau awal-awal mas___" cerocosan Cogy berhenti di tempat begitu menyadari semua pasang mata di ruangan itu menatapnya tajam, jangan di tanya betapa geramnya wajah mereka.

__ADS_1


Kenya sedikit menunduk dengan senyum kecut mendengar nama itu lagi. Sepi menghampiri begitu saja, suasana canggung tak terelakkan.


"Sudah, ga apa-apa, ayo di makan," pecah Kenya akhirnya.


"Mba!" Suara Cacung memelas.


"Mba ga apa-apa, beneran deh, Mba udah lupa masalah itu, sekarang mending kalian cerita ke Mba gimana usaha kalian, gimana keluarga kalian di rumah, kenapa malah datang sendiri-sendiri?"


"Tadinya kita mau ngajak anak istri Mba," Erwan berinisiatif menjawab, "tapi ga enak nanti anak-anak malah bikin rusuh di sini."


"Terus kenapa kalau bikin rusuh? Mba malah seneng, jadi rame. Sebulan sekali rumah berantakan ya ga masalah. Sepanjang hari Mba kesepian, cuma sama Cacung, lain kali ajak ya keluarga kalian ke sini."


"Beres Mba." Jawab tiga karyawan itu serempak.


"Kalau udah ada lampu ijo dari Mba Key, kita bakal acc."


"Mba siap-siap aja, bulan depan kita kayak lebaranan di sini."


Obrolan kembali mengalir. Semakin lama semakin seru dengan cerita masing-masing. Ada pula sesi curhat dimana ke tiga karyawan itu menceritakan masalah hidup yang mereka alami. Mereka merasa Key salah satu orang bijak yang bisa memberi mereka solusi.


Meski dalam hati Key meringis dengan kemampuannya memberi solusi hidup pada orang lain, sedang dia sendiri belum mampu menata dengan benar kehidupan dan perasaannya.


***


Terlambat


Tubuh Arman tersentuh hawa dingin. Kehangatan itu hilang. Lembut itu memudar. Tak berbekas. Tak tercegah.


"Key! Key, maaf. Key! Kembali, Key!"


"KENYA!"


Arman tersadar sangat cepat. Netranya terjaga sekejap. Napasnya tersengal. Tubuhnya menggigil berpeluh. "Key!" gumamnya dengan dada naik turun


Arman menutup wajahnya. Mimpi itu terasa nyata. Dan memang nyata bahwa Kenya tidak ada.


Hatinya kembali gundah. Sakit itu kembali terasa. Lebih parah, ia kini putus asa.


"Tuan!"


"Garut?" Arman mencari sumber suara, "sejak kapan kamu di sini?"

__ADS_1


"Sejak sejam yang lalu."


"Jam berapa sekarang?"


"Jam dua siang."


"Aku tidur selama itu?"


"Anda hanya tertidur empat jam."


"Itu lama Garut, aku menyia-nyiakan empat jam untuk tidur tanpa mengetahui dimana Kenya." Garut memutar bola matanya malas, "kenapa tidak membangunkanku?"


"Sudah," Garut mencari jawaban aman, "tapi sepertinya anda kelelahan dan sangat pulas."


"Begitu ya?" balas Arman sinis, "mau apa kau kemari?"


"Saya ingin melaporkan beberapa hal."


"Cepat, sampaikan!"


"Para pemegang saham di Amerika memprotes keputusan anda kembali secara mendadak, kedua, pimpinan di kantor pusat menunggu kedatangan anda menyapa mereka, ketiga, sepupu anda Tuan Ejet, menelpon beberapa kali ke kantor karena anda tidak bisa di hubungi, beliau khawatir karena anda meninggalkan apartemen dalam keadaan berantakan padahal anda sudah berjanji akan membersihkannya."


"Ejet, sialan. Ada lagi?"


"Tidak ada Tuan."


"Hubungi kantor di Amerika, aku akan mengirim orang terbaik untuk menggantikanku, aku sudah bekerja seperti anjing gila selama setahun dan membuat dompet mereka tebal setiap bulan, sekarang memprotes aku pergi, jangan harap aku akan kembali," Arman mendesah untuk memberi jeda, kepalanya masih berdenyut meski tak sehebat tadi, "atur jadwalku besok untuk rapat dengan pimpinan di kantor pusat, urusan Ejet, nanti aku akan menghubunginya sendiri."


"Baik Tuan."


"Garut!"


"Iya Tuan."


"Kau sudah ke notaris?"


"Sudah, pembalikkan nama akan segera di proses sesuai permintaan anda."


"Garut!"


"Iya Tuan."

__ADS_1


"Aku pasti akan menemukannya, kau harus membantuku!"


"Baik Tuan, saya pasti akan membantu anda menemukan Nyonya Permana," dan aku sudah siap untuk anda siksa, hanya dalam hati Garut berani mengatakannya.


__ADS_2