
Arman terkulai lemas di kursi penumpang. Tubuhnya bersandar dengan kepala sedikit terangkat. Wajahnya tertutup oleh lengannya yang berbalut kemeja. Iya, Arman menangis. Dan dia menyembunyikan tangisnya dari Garut. Asisten yang masih ia kesalkan karena menerima uang ganti rugi dari Kenya.
Dari semua kenyataan yang dia dengar, kenyataan terakhirlah yang paling membuatnya terpukul. Arman merasa hancur, sehancur-hancurnya. Ini pertama kalinya dia merasakan sakit yang tak terperi. Semua sisi tubuhnya terasa berdenyut perih. Jantungnya berdenyut kesakitan, sesak, terhimpit.
Sangat sering ia menarik napas dalam guna mengurangi rasa sakit itu, tapi seperti sia-sia. Sakit itu makin hebat saat bayangan Kenya muncul di kepalanya.
"Tuan, apa anda punya tujuan berikutnya, atau kita pulang saja?"
"Bawa aku ke rumah Kenya yang dulu."
"Tapi Tuan, anda kelihatan___"
"Garut!"
"Baik."
Selama perjalanan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Arman. Ia masih meratapi kenyataan yang terjadi. Sebuah penyesalan terdahsyat dalam hidupnya terjadi sekarang, saat ini, dalam satu hari, dalam hitungan jam dunianya berantakan. Arman mengutuki dirinya dan yang paling buruk, dia merindukan wanitanya. Rindu yang datang terlambat. Rindu yang tidak bisa tersampaikan. Rindu yang harus ia tahan entah untuk berapa lama.
Tika begitu meyakinkan bahwa dia tidak mengetahui keberadaan Kenya sekarang. Membuat Arman di ujung keputus asaan. Sang Dewa Bos kehilangan harapan.
"Kita sudah sampai, Tuan."
__ADS_1
Butuh satu menit hingga Arman siap membuka wajahnya dan melihat ke depan. Ke arah rumah mungil yang dulu menjadi rumah favoritnya. Arman menatap kosong pada bangunan itu. Kilatan kenangannya berputar tanpa ia minta. Wajah Kenya saat menyambutnya sepulang kerja terlintas di matanya. Pelukan hangat wanita itu memanggil semua sendi tubuhnya. Bagaimana mungkin, setahun lalu dirinya membiarkan kehangatan itu lepas begitu saja.
"Masuklah, tawar rumah itu dengan harga terbaik!" adalah kalimat pertama yang Arman keluarkan pada Garut semenjak mereka tiba di sana
Garut menoleh, memandang tak percaya pada pada atasannya. Bukannya meragukan kemampuan finansial seorang Arman Permana, tapi tidak menyangka seorang Arman Permana bisa seterpuruk itu karena seorang wanita. Dalam hitungan jam, ia harus menego dua bangunan yang menjadi kenangan cinta sang atasan. Entah Garut harus merasa takjub atau konyol. Sehebat itukah cinta?
"Baik," bahkan Garut merasa ragu apa bisa memenangkan negosiasi dalam keadaan kucel, tanpa tidur seperti itu. Hampir lupa kalau dia juga belum menyikat gigi.
***
"Mba, mau sarapan apa?" tanya Cacung pada Key yang sedang membereskan alat lukis Yogi di pojok kamar.
"Bikin yang ringan aja Cung, buat Yogi sereal coklat sama susu aja, Mba cukup oatmeal sama pisang."
Kenya tersenyum melihat Cacung kembali ceria setelah semalam mereka melakukan adegan tangis menangis akibat rindu membuat kue.
Key melihat pada jejeran lukisan yang di buat anaknya. Ada empat buah kanvas yang telah terlukis indah oleh tangan Yogi. Kenya tidak menyangka hobi anaknya itu akan menjadi penopang kehidupan mereka sekarang. Anaknya yang memiliki penyakit keterbelakangan, nyatanya menyimpan bakat terpendam yang luar biasa. Key tentu merasa bangga, meski kadang merasa sakit juga mengingat berkat siapa sang anak menemukan bakatnya itu.
Dulu, Key meragukan keinginan Tika untuk membantu menjual hasil karya Yogi. Siapa yang mau membeli lukisan warna-warni abstrak yang tak berbentuk? Tapi Tika terus meyakinkan bahwa lukisan Yogi layak di jual dan memiliki peminat. Lukisan abstrak memiliki pecintanya sendiri meski jarang, tidak ada salahnya mencoba. Kejutannya, setelah memasang selama tiga bulan di sebuah platform jual beli online, ada orang yang menawar lukisan Yogi. Awal.masa penjualan, Tika menaruh harga di bawah angka satu juta, dan makin lama Tika makin yakin lukisan Yogi memiliki penggemar dan berani menjual dengan angka yang lebih tinggi. Hsil penjuan juga di bagi sesuai kesepakatan, Tika mengambil dua persen dari hasil penjualan lukisan Yogi. Sisanya untuk memenuhi kebutuhan melukis Yogi dan penyambung hidup Yogi dan keluarganya. Tika lah yang mengatur segalanya. Dia pula yang membelikan kebutuhan melukis untuk Yogi. Memilih bahan lukisan terbaik untuk anak mantan bosnya itu.
As time goes by, Key mencoba berdamai dengan sebagian kecil masa lalunya, sebagian kecil yang lain, dia coba untuk lupakan sedikit demi sedikit. Tidak mudah untuk Key, tapi demi Yogi dia akan berusaha menjadi lebih kuat dengan keadaannya yang sekarang. Arman menjadi kenangan indah yang sesaat, sekaligus kenangan buruk yang menyakitkan. Arman menjadi pelajaran yang tak ternilai bahwa cinta kadang muncul pada pasangan yang salah. Cinta kenyataannya bisa salah alamat.
__ADS_1
***
"Tuan ini gila, mereka ingin satu koma dua milyar untuk rumah sekec___"
"Berikan cek ini, katakan pada mereka, sisanya bisa di ambil setelah mereka mengosongkan rumah itu lebih cepat lebih baik."
Lagi dan lagi, Garut belum menutup pintu dan menyelesaikan laporannya, dan secepat kilat Dewa Bos memotong dengan menyerahkan selembar cek sejumlah setengah dari harga yang di minta pemilik baru rumah itu. Garut sangat yakin, pemilik baru itu berbohong pada harga mereka membeli rumah, ia yakin mereka menaikkan harganya. Dan Garut makin di kerjai karena melihatnya meminta mereka menjual rumah itu dengan wajah memelas. Andai kondisinya lebih prima, Garut pasti bisa menego rumah itu dengan harga yang wajar sesuai harga pasar. Pikirannya, Garut akan melaporkan harga tidak masuk akal yang di ajukan pemilik rumah itu pada Arman, berharap mereka akan pergi dan kemnali besok dengan keadaan hang lebih segar dan pikiran waras.
Tapi yang terjadi adalah keajaiban sang Dewa Bos menyetujui harga konyol itu seperti membeli permen di warung. Fantastic.
Garut kembali membuka pintu, hendak keluar menyampaikan amanat keramat Dewa Bos.
***
Arman masih tidak bersemangat setelah membeli kembali rumah kenangan milik Kenya. Pandangannya kosong menghadap jendela. Sesekali sudut matanya berair mengingat kesalahannya. Tidak akan ada yang menyangka jika melihat Arman dengan penampilan seperti itu, rambut yang acak-acakan, mata cekung menghitam dan berair, wajah lesu, baju? sama sekali tidak mencerminkan Arman.
Ragu-ragu Garut menatap pada Arman melalui kaca spion. Seperti sebelumnya, Arman masih pelit bicara, tidak akan bicara jika di tanya, dan menjawab seperlunya.
"Kita kemana lagi Tuan?" Saat ini mereka berkendara di tengah kota tanpa tujuan yang pasti. Garut mati-matian berdo'a dalam hati Arman akan menyebut kata pulang. Semoga siksaannya hari ini selesai sampai di sini. Garut sudah merindukan kasur busa empuknya yang seharga lima juta.
"Ke kantor, carikan aku rekaman saat terakhir Kenya datang ke sana."
__ADS_1
Malang Garut, siksaannya belum berakhir. Garut menghembus napas samar.
ig:@amin.lia