
Arman benar-benar tidak tahan jika harus membiarkan Ejet dan omelannya terus berkicau di unitnya. Memikirnya Kenya saja kepalanya sudah mau meledak. Kalau dia membiarkan Ejet tetap di sana, Arman akan murka, bisa jadi dia akan mengamuk. Jadi lebih baik, ia usir saja sepupunya itu.
Tapi keputusannya menghubungi Garut setelah Ejet pergi ternyata masih belum bisa memberinya ketenangan. Malah kini membuat Arman menghancurkan sendiri isi ruangannya. Apartemennya kini tidak berbentuk. Semua barang sudah tidak pada tempatnya. Hilang sudah prinsip rapi dan teratur yang dianut Arman. Unitnya sudah melebihi kapal pecah.
Sungguh, mendengar cerita Garut membuatnya kehilangan kendali. Arman secara mambabi buta melempar semua barang yang tersentuh tangannya. Bagaimana mungkin kecelakaan itu terjadi pada Kenya pada hari dimana dia menolak mendengarkan wanita itu hanya karena pikiran pendeknya yang membuatnya salah paham. Betapa ia berpikir pendek di kuasai emosi sampai memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Arman bahkan tidak memikirkan perasaan Kenya karena mengira Key akan bahagia dengan pilihannya. Arman juga tidak mempertimbangkan bekas luka yang di torehkan Parhan yang mungkin masih basah, dan dia dengan seenaknya masuk ke dalam hidup wanita itu, menidurinya dan tiba-tiba membuangnya setelah ia menjanjikan sebuah pernikahan. Perbuatannya ternyata lebih brengsek dari pria paling brengsek di muka bumi.
Sebuah notifikasi pemesanan tiket online terdengar dari ponselnya. Arman bangkit dari pojok kamar setelah merenung beberapa saat. Setelah puas melampiaskan kemarahannya di ruangan itu, menyalurkan segala emosi brutalnya. Biar saja. Dia tidak akan sudi merapikan lagi tempat itu. Biarkan seperti itu. Ruangan itu sekarang adalah gambaran dirinya. Arman hancur oleh perbuatannya sendiri. Buruknya, ia belum tahu seberapa hancur wanita yang ia tinggalkan dengan sebuah janji manis.
Dengan gerakan cepat, Arman mengambil koper dan mengisinya asal-asalan dengan pakaian dan kebutuhannya. Hanya beberapa helai pakaian. Tidak mungkin semua isi lemarinya bisa masuk. Dia tidak akan buang-buang waktu lagi dan segera bergegas setelah merasa cukup mengemasi kopernya. Arman segera ke bandara meski pesawatnya akan berangkat dua jam lagi.
***
Gambar di tangannya masih berbentuk gumpalan berwarna merah, berupa janin kecil, belum terbentuk jelas atau sempurna. Janin yang terbentuk atas dasar rasa suka sama suka. Janin yang terbentuk oleh sebuah kegilaan sesaat. Calon bayi yang harusnya tumbuh di rahimnya, yang tak berdosa dan harusnya ia jaga. Kenya menitikkan air mata setiap melihat gambar itu. Genap hari ini, setahun lalu, selain harus kehilangan kemampuan berjalannya, Key harus kehilangan calon bayinya.
Sakit. Rasanya masih sakit. Bahkan sakit itu tidak berkurang sedikitpun meski telah satu tahun berlalu. Sakit itu bertalu-talu memukul dirinya tanpa bisa Key hentikan. Apa kesalahannya sampai semua kejadian buruk itu menimpanya? Dosa apa yang ia lakukan hingga Arman meninggalkannya tanpa alasan, membuangnya seperti sampah tidak berguna?
Pria itu menjanjikan masa depan yang indah, membuat Key terlena akan kata-katanya. Arman merayunya dengan perhatian, ungkapan sayang, janji, kesetiaan, dan berjuta hal manis yang terucap dari lisannya. Kenya merasa bodoh pernah menerima segala janji itu. Ia sudah tertipu akan halusinasi yang Arman ciptakan. Bodoh dengan mudahnya menerima Arman dalam kehidupannya. Tidakkah Key belajar dari perbuatan Parhan padanya? Tidak ada laki-laki yang setia. Dan segala yang ia rasakan sekarang adalah rasa sakit yang terus menamparnya setiap waktu.
"Mba!" Key tersentak, buru-buru menghapus jejak air mata dan menyembunyikan gambar yang ia lihat dengan menutup buku resep di pangkuannya. Entah sejak kapan Cacung masuk ke kamarnya. Key tidak menyadari pergerakan gadis mungil itu. Beruntung Key berada di samping jendela. Semoga Cacung tidak melihatnya menangis.
"Kenapa Cung?"
"Ayo makan."
"Oh, ya, sudah waktu makannya Yogi ya?"
"Iya, dia pengen di temani, minta makan bertiga."
"Kok tumben?"
"Ga tau." Cacung tahu Yogi mengingat hari ini, hari dimana dia hampir kehilangan Ibunya. Mungkin anak itu ingin menguatkan Kenya, mengingatkan bahwa Ibunya tidak sendiri dalam melewati kejadian buruk yang mereka alami. Meski memiliki penyakit keterbelakangan, Yogi masih bisa mengingat beberapa hal yang menurutnya penting, seperti hari ini. Dan pura-pura tidak tahu akan terasa lebih baik untuk menjaga perasaan mantan bosnya.
"Mama, ayo makan sama Yogi, tante Cacung juga."
Sejenak Kenya menepis segala kenangan buruk uang tiba-tiba datang, menggantinya dengan senyum dan tawa menyambut permintaan Yogi.
"Tentu sayang, ayo makan bersama."
Key mengatur kursi roda, menyesuaikannya dengan posisi piring yang sudah di tata.
"Ada sea food?" tanya Key pada Cacung dengan mata menyipit. Cacung mesam-mesem saja di lihat seperti itu.
__ADS_1
"Lukisan Yogi laku tiga Mba, tiga lho ini, uang dapur yang di kasih Mba Tika tadi bisa buat tiga bulan ke depan, jadi boleh dong hari ini gizi kita lengkap."
Kenya tertawa geli mendengarnya, padahal dia sama sekali tidak bermaksud melarang Cacung membeli makanan apapun.
"Kamu chefnya, silakan, beli apa saja, masak sesukamu."
"Ini bukan buat kita Mba, buat Yogi, biar tetap semangat ngelukisnya, benar kan Mas Yogi?"
"Yogi selalu semangat ngelukis biarpun ga makan sea food," Yogi membantah, dan Cacung menekuk wajahnya.
Key menunduk menyembunyikan tawa. Percakapan ini sedikit menghiburnya.
"Pokoknya buat Yogi, biar kuat, kasih Mama sama tante Cacung uang yang banyak, titik."
***
Arman menangkap sosok Garut yang telah menunggunya di pintu kedatangan bandara. Senyum Garut di balas wajah geram Arman meski jarak mereka beberapa meter. Tidak ada sedikit pun niat Arman membalas senyum itu.
Begitu jarak mereka menipis, Garut langsung mengambil alih koper Arman dan Arman terus saja melangkah ke luar, menuju mobil yang telah menunggunya. Dalam hitungan menit, dia telah berada di dalam kendaraannya dengan Garut yang bertindak sebagai supir.
"Kita kem___?"
"Wajik Merah, antar aku kesana."
Mobil terus melaju membelah jalanan kota. Jika Garut berhenti, Arman akan mengumpat karena macet yang menjebak mereka. Arman masih tidak ingin bicara pada Garut selain mengumpati asistennya itu. Dia masih tidak rela Key memberi perusahaannya uang ganti rugi karena pembatalan sewa counter Wajik Merah dulu. Bahkan jika Kenya memintanya, Arman akan memberikannya dengan cuma-cuma jika salah paham sialan itu tidak terjadi.
"Kita sudah sam___."
"Aku tahu, aku tidak buta," potong Arman sinis.
Arman masih duduk di dalam mobil meski mereka telah tiba di depan toko Wajik Merah yang kini tidak seperti Wajik Merah lagi. Keadaan toko itu jauh berubah. Jauh lebih buruk sejak terakhir Arman melihatnya. Bagian depan toko itu di pasangi lampu warna-warni. Dari kaca jendela yang bisa menembus ruangan, Arman bisa melihat pita bekas ulang tahun bergelantungan. Dinding yang di lapisi wall paper bolong di beberapa bagian karena kertas yang di tarik oleh tangan usil. Melihatnya Arman ingin menerobos ke dalam dan menghancurkannya saja.
"Masuk, dan tanya yang harus kau ketahui!" ucap Arman penuh ketegasan.
Garut serta merta keluar melangkah memasuki mantan toko kue itu. Sudah sangat terlatih dengan apa yang harus ia tanyakan nanti di sana.
Arman yang menunggu di dalam mobil berusaha tenang agar tidak ikut masuk dan menghancurkan tempat itu. Tega sekali pemilik baru tempat itu merusak karyanya.
Lima belas menit kemudian.
"Laporkan!"
__ADS_1
Garut bahkan belum menutup pintu saat Arman memintanya untuk melaporkan hasil pekerjaannya.
"Nyonya Key___"
"Nyonya Permana, panggil...." sesaat Arman merasakan sesak saat menyebut panggilan itu, "panggil Kenya dengan sebutan itu."
"Nyonya Permana menjual tempat itu dengan harga 350 juta, pemiliknya mengatakan Nyonya Permana membuka harga 500 juta, tapi dia menawarnya dengan harga tersebut dan Nyonya Permana langsung menyetujuinya karena..." Garut memberi jeda sejenak, dia tiba-tiba takut jika Arman murka mendengar kelanjutan laporannya.
"Aku ingatkan, jangan pernah memotong, menambah, atau mengurangi masalah yang kau ketahui tentang Kenya selama aku tidak ada, jadi teruskan!" ucap Arman tegas.
Garut menelan salivanya kasar.
"Karena Nyonya Permana sedang membutuhkan uang untuk pengobatannya, mereka tidak bertatap muka secara langsung, Nyonya Permana meminta Tika sebagai perwakilannya."
"Pemilik itu tidak tau keberadaan Kenya?"
"Tidak Tuan, saya juga menanyakan rekening tujuannya mentransfer pembayaran, pemiliknya berkata mereka menstransfer ke rekening atas nama Tika Ambarsari."
Arman mengeratkan genggamannya hingga buku jarinya memutih. Ia masih belum puas dengan laporan Garut karena belum mendapat petunjuk keberadaan Kenya.
"Masuk kembali, tawar tempat itu dua kali lipat dari harga mereka membelinya, jika mereka tidak mau, tawar lagi dengan harga lebih tinggi sampai mereka mau melepasnya, hingga kamu mendapatkan toko itu, jangan kembali ke sini!"
"B-baik Tuan."
Garut kembali membuka pintu mobil setelah sebelumnya terperangah beberapa detik akibat perintah yang ia dengar. Saat ini waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, dan dia harus menego sebuah toko kue kecil yang kini berubah menjadi warung makan tidak jelas.
Kali ini Arman harus mengumpulkan kesabaran lebih. Garut membutuhkan lebih banyak waktu dari kepergiannya yang pertama. Arman telah menunggu hampir tiga puluh menit. Selama itu ia terus memikirkan cara menemukan keberadaan Kenya.
Menit berikutnya Garut keluar dari toko itu.
"Mereka menyerah di angka 950 juta," lapor Garut sebelum Arman bertanya.
Di belakangnya Arman sedang menulis sesuatu.
"Kembali lagi ke dalam, berikan cek ini dan ambil surat-suratnya. Kamu masih menyimpan data Kenya, besok pagi urus ke notaris untuk balik nama. Minta mereka mengosongkan tempat itu malam ini juga." Arman menyerahkan sebuah lembaran cek pada Garut dan lagi Garut terperanjat betapa cepatnya sang atasan memutuskan sesuatu.
Untuk ke tiga kalinya Garut membuka pintu dan kembali ke dalam warung alias toko itu setelah sebelumnya memberi jawaban 'baik' pada sang atasan.
Tepat sepuluh menit Garut kembali ke mobil membawa permintaan Arman. Arman menerima surat tanda kepemilikan itu dan membacanya sekilas. Ia hampir meremas surat itu karena nama Kenya berganti dengan nama pemilik yang baru.
"Kita kema___?"
__ADS_1
"Cari alamat Tika!"
ig: amin.lia