
Kenya belum bicara sejak mereka keluar dari klinik. Arman juga msih memendam kesal karena Kenya menyembunyikan lukanya. Mereka sama-sama diam selama perjalanan pulang. Karena kondisi sangat hening di dalam mobil, hembusan kasar napas Kenya bisa Arman dengar.
Hingga beberapa lama, hening itu ternyata cukup menyiksa untuk salah mereka berdua.
"Maaf," suara Kenya untuk pertama kali.
"Kenapa bisa luka?" tanya Arman tanpa menanggapi permintaan maaf Kenya.
Arman tahu Kenya meminta maaf untuk sikapnya yang berniat menyembunyikan luka itu.
"Aku kurang konsentrasi waktu masak sama Cacung."
"Kamu mikirin apa sih, Key?"
Ingin sekali Kenya berteriak pada pria di sampingnya ini tentang isi kepalanya, tapi Kenya hanya menghembus napas lelah dengan setumpuk keraguan.
Untungnya rumah Kenya sudah terlihat sebelum Arman bertanya lagi.
Arman memarkirkan kendaraannya di halaman rumah Kenya yang kecil. Ia segera keluar begitu mematikan mesin kendaraan, berjalan ke sisi berlawanan untuk menjemput Kenya. Tenyata Cacung sudah menunggu dan membawakan kursi roda Kenya. Arman mendudukannya di sana.
Arman mengambil alih kursi roda itu, mendorong Kenya ke dalam rumah.
"Di jahit ya, Mba?" tebak Cacung.
"Iya," Arman memberhentikan Kenya di meja makan, "gimana Yogi?"
"Sudah tidur, Mba. Tadi saya temani makan, dia melukis sebentar, tanyain Mba, terus tidur."
Cacung akan menjawab bahwa Kenya pergi menjalani terapi jika Yogi menanyakan keberadaan ibunya saat tidak di rumah.
"Kamu juga mending istirahat, Cung, biar besok bisa bangun pagi," Arman menimpali.
Cacung memicingkan mata pada Arman, menangkap maksud terselubung pria itu.
"Saya sama Key mau makan dulu."
"Tau deh, mentang-mentang udah di trima," goda Cacung, "asal jangan lari lagi aja, saya siap nonjok Pak Arman kalau bikin ulah lagi."
Arman hanya memutar bola mata, tidak membalas kata-kata Cacung dan memilih ke dapur, menyiapkan makan malam untuknya dan Kenya. Arman kembali dengan dua bungkus pecel kesukaan Kenya yang ia beli saat perjalanan pulang.
"Kamu makan dulu, terus minum obat." Kenya hanya mengangguk. Bertempur dengan rasa sakit beberapa jam ini cukup menguras tenaganya. Sakit itu masih terasa berdenyut bersamaan dengan Kenya merasakan lapar.
Arman membukakan satu bungkus pecel untuk Kenya, baru setelah itu ia membuka bungkusan untuk dirinya. Cacung memilih pergi, beristirahat seperti kata Arman.
"Mau aku suapi?"
"Masih bisa kok."
Yang terluka adalah jari kirinya dan Key tidak kidal sampai harus kesulitan makan dengan tangan kanan.
Arman baru memasukkan satu suapan saat ia sadar kalau di atas meja belum ada minuman. Ia kembali beranjak ke dapur, mengambil dua gelas air putih untuk mereka berdua.
Melihat apa yang Arman lakukan, sedikit membuat Kenya merasakan malu dan sakit. Bukankah itu seharusnya tugas wanita? Jika dirinya menerima Arman, maukah pria itu melayaninya seperti sekarang? Setiap hari hingga sisa umur mereka?
__ADS_1
Rasa pecel yang sangat Kenya suka berubah getir seketika.
"Aku suapi ya, Key."
"Ga, Arman. Aku masih bisa sendiri."
"Terus kenapa makannya sedikit-sedikit gitu? Dulu kamu paling suka makan pecel ini biarpun sudah kenyang dengan makan yang lain, seminggu kita bisa makan tiga kali di warung pecelnya."
Kenya tidak menanggapi ocehan Arman. Matanya terus menatap makanan itu tanpa minat dan tangannya mengaduk pecel tanpa berniat memakannya.
Arman mengambil inisiatif, ia mendekat pada Kenya, mengambil pecel milik Kenya kemudian mencampurkannya menjadi satu dengan miliknya.
Kenya hanya menatap datar apa yang Arman lakukan.
Arman menyuap satu sendok, mengambil satu sendok lagi untuk Kenya.
"Aku ga keberatan, Key, kita kayak gini terus. Kamu duduk manis di meja makan dan aku siapin semuanya. Aku ga keberatan layanin kamu, kalau itu yang kamu pikirkan."
***
Kenya masih memikirkan kata-kata Arman, tingkah polah pria itu dan apa yang ia alami hari ini. Dia yang menerima Arman kembali, kedatangan Arman di saat yang tepat ia membutuhkan pertolongan, dan terakhir kesanggupan pria itu untuk menjadi pelayannya. Arman berkata tanpa beban, seolah hal itu sangat mudah dan Kenya masih ragu Arman akan sanggup melakukannya dalam jangka waktu yang lama.
Pria itu masih berada di luar.
Arman meminta waktu sebentar keluar teras. Arman sudah menolak untuk tidak menginap. Selain karena hari sudah malam, Arman juga takut tidurnya tidak nyenyak sedangkan besok dia punya segudang pekerjaan. Kenya membolehkannya asal Arman tidur di luar.
Kenya menggerakkan kursi rodanya ke sisi jendela kaca ruang tamu. Ingin melihat apa yang Arman lakukan dan saat itu juga rasa kaget menyerangnya. Untuk pertama kali Kenya melihat Arman di kelilingi asap rokok.
***
Arman takut Kenya akan menolak. Arman juga takut akan merusak hubungan yang baru saja ia bangun. Dan yang paling Arman takutkan, Kenya kembali membencinya karena memaksa dirinya menikah dalam waktu dekat.
Semua pemikiran itu membuat Arman tertekan. Dia mengisap batang rokok untuk mengurai tekanan itu.
Sebelumnya Arman tidak merokok. Saat di Amerika dulu, dia terbiasa melihat Ejet merokok dan mencobanya kala dia memikirkan hubungannya yang rusak dengan Kenya.
Arman merogoh saku kemeja saat merasakan getaran ponsel. Nama Cacung muncul di notifikasi pesan. Arman tersenyum membacanya. Buru-buru dia mematikan sisa rokok dan kembali ke dalam.
"Udah mau tidur?"
"Hm, obatnya sudah bekerja."
Arman mendorong kursi roda Kenya ke kamar. Wanita itu memakai ponsel Cacung untuk mengirim pesan pada Arman agar membantunya berpindah ke tempat tidur. Padahal bisa saja Kenya menghampiri Arman di teras, tapi Kenya tidak suka melihat Arman merokok.
"Besok pakai ponsel sendiri ya, Key. Rasanya aneh, di sms atau di telpon sama kamu tapi nama Cacung yang muncul di layar."
"Besok." Hanya itu jawaban singkat Kenya.
Kenya melingkarkan tangan di leher Arman untuk memudahkan Arman mengangkatnya. Dengan gerakan hati-hati, Arman mendaratkan tubuh Kenya di atas tempat tidur. Dia sudah akan mengangkat kepalanya tapi Kenya menahan Arman dengan tidak melepaskan lingkaran tangannya dari leher pria itu. Posisi mereka kini sangat dekat, bisa saling mendengarkan deru napas masing-masing.
Arman sedikit tidak nyaman karena sadar dirinya pasti bau asap rokok yang ia hisap tadi. Tapi Kenya menahannya sehingga Arman penasaran apa yang akan di lakukan wanitanya. Arman menumpu beban tubuhnya pada tempat tidur. Balas mengunci mata Kenya yang menatapnya.
Mata Arman terbuka lebar saat Kenya menyatukan bibir mereka tanpa peringatan. Arman bergerak menarik diri, tapi Kenya menahannya memantapkan penyatuan pangutan mereka. Seakan lupa alasannya menarik diri, bahwa Kenya pasti merasakan rasa sisa rokok yang Arman hisap, Arman terpancing dan membalas Kenya. Entah apa maksud ciuman itu.
__ADS_1
Kenya seperti agresif, mengisap semua sisa rasa batangan penyakit yang Arman isap. Tidak tahu apa yang mendorongnya, Kenya tidak ingin Arman melakukan kebiasaan itu. Kenya yakin Arman akan menurutinya untuk berhenti.
Ciuman itu terlepas setelah dua menit, tepatnya setelah Kenya yang kehabisan napas.
"Ini yang terakhir."
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Kenya, jantung Arman rasanya turun ke perut. Apa maksudnya ini ciuman terakhir mereka? Arman akan bersuara keras kalau Kenya tidak melingkari tangannya di sana dan menyatukan kening mereka.
"Aku ga suka cium kamu dengan rasa rokok seperti tadi."
Tubuh Arman jatuh ke lantai saat itu juga. Kakinya menyentuh dingin lantai dengan kepala di pangkuan Kenya. Sekilas ia tersenyum dengan napas naik turun.
"Ya Tuhan, Key. Aku udah takut duluan, aku kira kamu minta kita pisah."
Kenya tertawa kecil mendengar pengakuan Arman.
"Sejak kapan kamu ngerokok?"
"Setahun lalu waktu kita pisah, cuma sesekali aja kalau aku banyak pikiran."
"Kamu banyak pikiran hari ini? Mikirin apa?" Kenya menyentuh rambut Arman, membiarkan jemarinya membelah surai itu. Seperti yang Kenya lakukan dulu dan Arman menikmatinya.
"Banyak, masalah kantor, kita...."
"Kita? Kita kenapa?" potong Key cepat.
"Kalau aku bilang kamu ga akan suka?"
"Memang kita kenapa?"
Arman menegakkan badan, melihat wajah Kenya sebentar dan kembali ke posisinya semula.
"Kamu ga akan suka dengan apa yang aku pikirkan...tentang kita."
"Sejak kapan kamu jadi peramal, sudah lebih dulu tau reaksiku."
"Kita baru mulai Key, dan aku ga mau rencanaku merusak apa yang baru kita mulai."
"Oke, selain karena rokok, aku juga akan berenti cium kamu karena bikin aku penasaran."
"Fine, kamu menang," Arman menarik napas lebih dulu, "aku mendaftarkan pernikahan kita dan mendapat jadwal bulan depan."
Saat itu juga gerakan Kenya berhenti. Arman meyakinkan diri dugaannya benar bahwa Kenya tidak suka.
"Aku cuma ngikutin kata hati Key, kalau kamu ga mau aku bisa minta Garut untuk mengurus penundaannya."
Tubuh Arman semakin tegang saat Kenya juga tidak menjawabnya ataupun melanjutkan belaiannya. Arman tidak berani sekedar bergerak, apalagi mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Kenya.
"Besok, aku akan minta...."
"Aku mau."
"Ya?"
__ADS_1
"Ayo menikah, Arman Permana."