
"Kalau kamu mau menjalin hubungan lagi ke depannya entah dengan siapa, pastikan hatimu sudah memaafkan cintamu yang dulu. Karena mencintai pastinya akan ada rasa sakit, kalau sakit kamu yang dulu belum sembuh, sakitnya akan berlipat jika di torehkan cinta yang baru."
Pesan ibunya masih terngiang di telinga Kenya saat dirinya hampir terlelap. Saat dirinya menceritakan Arman dan tujuannya, ibunya tersenyum dan membolehkan.
Sudah dua jam setelah ibunya memutuskan pulang kampung malam itu juga, sekarang pastinya ibunya sudah tiba di rumah.
Badannya lelah, menagih istirahat setelah seharian di tempa. Tapi rentetan kejadian hari itu tidak bisa lenyap begitu saja. Dan pertemuannya kembali dengan Wong, membuka sisi kelam Kenya yang sudah ia simpan rapi di salah satu titik terdalam hatinya.
Kenya memutuskan mencari kantuk yang hilang, mungkin dengan segelas susu dan televisi tubuhnya akan mudah menerima gelombang kantuk yang datang.
Lebih dulu ia memeriksa ke kamar Yogi. Anaknya sudah tidur sejak pukul sembilan. Parhan yang merancangnya dulu. Setiap jadwal yang di lakukan Yogi dalam kesehariannya adalah hasil kerja Parhan dan Yuni. Miris. Kini dirinya yang melanjutkan hasil kerja dua orang yang pernah, hampir, mengkhianatinya.
Kenya tidak perlu repot-repot merapikan segala perlengkapan Yogi. Anak itu, meski mengidap penyakit keterbelakangan, tapi sangat baik dalam hal mengurus dirinya. Buku-bukunya tersusun rapi. Kamarnya selalu bersih. Yogi suka mewarnai, dan memiliki bertumpuk-tumpuk buku mewarnai di kamar itu.
Dengan lembut ia mencium kening sang anak, "Terima kasih sudah menjadi anak yang baik."
Key kemudian keluar menuju dapur. Mengeluarkan sekotak susu cair dari kulkas dan menuangnya ke dalam gelas. Televisi menjadi tujuan berikutnya.
Ia meneguk susu setelah tivi di depannya menyala sempurna.
"Key, kamu sudah tidur?" terdengar panggilan dan ketukan dari luar.
Kenya kemudian bangkit, suara Arman.
Begitu Kenya membuka pintu, Arman melemparkan kepalanya di bahu Kenya, membuat wanita itu hampir kehilangan keseimbangan dan Arman meraih pinggangnya. Ada jarak di antara mereka, dan Arman mengikisnya sedikit demi sedikit.
Tangan Kenya yang masih setia berada di samping tubuhnya merasa ragu untuk memberi elusan pada pria itu. Posisi mereka kini berpelukan, tepatnya Arman yang memeluk Kenya.
"Sebentar saja," suara Arman terdengar serak. Membuat tubuh Kenya meremang. Seperti menanggung sebuah beban besar, itu yang Kenya tangkap dari tingkah Arman saat ini. Pria itu mungkin sedang...lelah. Pelan-pelan tangan Kenya terangkat dan akhirnya berakhir di pundak Arman.
Entah dorongan dari mana, nalurinya menerima apa yang Arman lakukan sekarang. Tidak terbersit penolakan sedikitpun dalam diri Kenya.
"Mau berdiri terus atau mau mampir?" Kenya akhirnya bersuara.
"Mama?"
"Barusan balik, ada yang harus di kerjakan katanya."
"Aku mampir kalau gitu." Arman menegakkan badan, tangannya mengambil barang yang ia letakkan di kursi teras.
__ADS_1
"Ini apa?"
"Alat lukis buat Yogi."
Kenya melihat beberapa kanvas berukuran sedang dan sebuah kantong berwarna putih di tangan Arman. Pria itu kemudian masuk setelah Kenya membuka pintu lebih lebar.
"Kenapa minum susu?" tanya Arman saat mendapati gelas berisikan susu yang tinggal setengahnya.
"Ga bisa tidur. Mau? Biar aku ambilkan, awas jangan minum yang itu!" kata Kenya buru-buru saat tangan Arman menyentuh gelas. Nekatnya Arman malah menandaskan susu itu tak bersisa saat Kenya masih di dapur. Biar saja.
"Arman!" Key dengan suara yang di tinggikan berkacak pinggang dengan sebelah tangan karena gelas ia pegang dengan tangannya yang lain.
"Aku haus." Arman meraih gelas di tangan Kenya sebelum wanita itu duduk.
"Ayo duduk!" lagi-lagi Arman bertingkah, menarik tangan Kenya agar duduk di sampingnya. Dengan enteng. Kemana beban yang tadi Kenya lihat di pundak lelaki itu?
"Bagaimana WM, kenapa tadi tiba-tiba ingin pergi?"
"Baik, tadi memang ada yang genting, tapi masih bisa di atasi." Sebisa mungkin Kenya menyembunyikan perihal masalahnya dengan Wong. "Dan kamu, ada apa malam-malam begini?"
"Membawa hadiah buat Yogi, mungkin dia bosan hanya mewarnai, besok aku akan mengenalkannya pada melukis, dan malam ini aku ingin bertemu ibunya."
"Arman!"
"Bukan begitu, tapi...."
Arman, tanpa terbaca oleh Kenya telah mendaratkan kepalanya di atas pangkuannya. Wajah lelah pria itu tenggelam dalam perut rata Key.
Arman lelah, Kenya tidak salah membaca dirinya. Ada beban yang ia tanggung sekarang. Masalah di perusahaannya, tapi tak bisa ia ceritakan pada wanita itu.
Sekujur tubuh Kenya menegang. Arman membuatnya kaget. Kenya mengempiskan perut karena menahan napas. Rasa geli menyerangnya begitu rambut pria itu bergesekan dengan tubuhnya.
"Arman!"
"Sebentar saja Key."
Kenya mati-matian menenangkan diri, mengusir gusar akibat perbuatan Arman. Ada sensasi panas yang menjalari leher hingga wajahnya.
'K-kenapa tidak pulang ke rumah?"
__ADS_1
"Berikan tanganmu, taruh di sini," Arman menarik tangan Kenya mengarahkan tangan itu ke kepalanya, "rumah terlalu sepi, terlalu besar untukku sendiri, rasanya tidak enak, tidak hangat seperti di sini."
"Di sini sempit, tidak ada pendingin ruangan, makanya terasa panas." Dengan gerakan kaku dan lembut Kenya akhirnya memberanikan mengusap ujung surai Arman. Entah kenapa dia seperti melihat anak kecil di pangkuannya.
"Bukan panas seperti itu Key, aku yakin kamu paham tapi sengaja berucap begitu." Arman begitu menikmati sentuhan Kenya, wanita itu membuatnya merasakan kenyamanan.
"Ya ya aku mengerti."
"Kalau begitu," Arman tiba-tiba bangkit dari baringannya, "jadi wanitaku, jadi Nyonya Permana secepatnya, kita pangkas waktu tiga bulan perjanjian kemarin." Kata-kata Arman meluncur tanpa hambatan, terdengar sangat sungguh-sungguh dan serius.
Kenya terperangah.
"Yang membuat rumah ini hangat adalah kehadiranmu, dan tangan ini," menggenggam tangan Kenya, "membuatku damai."
"Arman!"
Arman mendekat, mengikis jarak dirinya dan Kenya.
"Aku mencintaimu, Key." Di luar dugaannya sendiri Arman mengucapkan kalimat keramat itu, kalimat yang rencananya akan dia ungkapkan tiga bulan lagi. Entah karena terbawa suasana atau memang dirinya yang sudah di ambang batas keinginan menyudahi masa lajang.
Dia membutuhkan Kenya, tubuhnya menginginkan wanita itu. Kenya seperti magnet yang terus menariknya. Bahkan tadi ketika mereka berpisah di restoran, Arman ingin segera menyusul ke WM.
Satu katapun tak mampu Kenya ucapkan. Bibirnya kelu, jantungnya memompa terlampau kencang hingga membuat tubuhnya bergetar halus. Tatapan Arman semakin memakunya tanpa mengerjap.
Lamat-lamat Arman memiringkan kepala, semakin mendekatkan diri ingin mempertemukan wajahnya dengan wajah Kenya. Pelan dan pasti. Mungkin Kenya terlalu kaget, tidak menyadari kini Arman menciumnya. Menyatukan bibir mereka. Lembut.
Arman menguasai Kenya dengan memperdalam ciuman mereka. Kenya merasa bodoh saat tangannya malah melingkari leher Arman, padahal otaknya melarang hal itu.
"Arman!"
Mereka berhenti, terengah-engah, saling memburu menyatukan kening satu sama lain.
"Kenapa Nyonya Permana?"
"Jangan buru-buru, aku butuh waktu."
"Tentu saja, asal kamu bersedia."
Kembali, Arman meraih Kenya ******* mesra bibir wanitanya. Kali ini lebih agresif, Arman bertindak lebih liar. Tubuhnya menindih Kenya hingga terlentang di sofa, tubuhnya lelah menahan diri tidak menyentuh Kenya, kini bangkit mendamba. Tangan Arman menelisik ke balik baju tipis yang di kenakan wanitanya, menyentuh bagian yang akan menjadi kesukaannya.
__ADS_1
Kenya sadar ini akan berlanjut. Arman sepertinya akan sulit untuk berhenti. Puluhan kali ia mengumpati diri tidak mampu menolak jamahan lelaki itu. Sisi liarnya menuntut, menikmati apa yang mereka lakukan. Kecupan Arman di sekeliling lehernya membuat Kenya melayang.
"Arman!" Suara Kenya berbisik di tengah lenguhan. Lenguhan itu dianggap Arman bahwa Kenya menerimanya. "Jangan di sini!"