Insane

Insane
25


__ADS_3

Garut tidak pernah menduga hari ini akan datang. Satu tahun terakhir di tidak pernah bekerja lembur kecuali saat akhir bulan, itupun paling lambat ia akan selesai jam sembilan malam. Dan hari ini resmi sudah satu tahun ketenangannya berakhir. Dewa Bos telah kembali dan dia harus siap bekerja ekstra bahkan untuk urusan pribadi Dewa Bos. Segelas kopi telas tandas di atas dasbor. Garut harus berusaha tetap terjaga jam dua pagi itu. Arman tidak main-main untuk menyiksanya. Mobil yang mereka kendarai sudah terparkir di depan sebuah alamat.


"Benar ini rumahnya?"


"Iya Tuan."


"Ayo turun!" Arman bergerak membuka pintu dan berhenti saat mendengar ucapan Garut.


"Tapi...Tu-Tuan ini jam dua pagi, bukan saatnya___"


"Aku akan memenggalmu kalau sampai besok saat matahari terbit kau tidak punya petunjuk sedikit pun dimana Kenya berada." Dalam arti bahwa hilangnya Kenya adalah kesalahan Garut. Itukah makna lain dari ucapan Arman padanya? Garut merasa bulu kuduknya meremang. Mereka berdua keluar dari mobil bersamaan.


Detik itu juga Garut menghapus kalimat larangan yang akan dia lontarkan saat Arman meminta mereka keluar dari mobil. Kali ini matanya seratus persen terjaga. Bahkan tanpa minum kopi. Garut berjalan memimpin. Langkah mereka melewati taman kecil menuju pintu utama rumah itu. Garut sempat ragu untuk mengetuk pintu, tapi otaknya sigap mengingat Dewa Bos tidak suka mengulang perintahnya dua kali. Perintah Dewa Bos bersifat mutlak.


Berkali-kali ketukan, belum ada tanda-tanda pintu akan di buka. Garut tidak menghitung berapa kali ia mengetuk, tapi saat mendapat titik jengah, akhirnya ketukan pintu itu ia keraskan dari sebelumnya. Rasa tidak enak pada pemilik rumah sudah bercokol dalam pikirannya sejak berjam-jam lalu. Bagaimana kalau suami dari Tika yang membuka pintu dan mengusir mereka, tidakkah Dewa Bos memikirkan hal itu?


Tadinya Garut mengira bahwa Arman hanya akan memastikan alamat Tika saja, tanpa mengedor rumah itu pada jam dua dini hari. Rupanya Arman tidak suka jika harus menunda untuk menuntaskan rasa ingin tahunya.


Rasa tidak enak yang Garut rasakan itu dikalahkan oleh perintah Dewa Bos sekarang. Mereka orang yang berbeda, perasaan mereka juga berbeda. Tentu saja Dewa Bos tidak akan merasakan rasa tidak enak seperti yang ia rasakan. Dan Dewa Bos juga sedang mengawasinya di belakang.


Dewa keberuntungan ternyata menyertai keinginan Dewa Bos.


Garut merasakan keajaiban terjadi saat tanda-tanda itu muncul. Knop pintu tampak di putar setelah sebelumnya terdengar suara gesekan kunci yang digerakkan.


***


"Mau sampai berapa halaman Mba nulisnya, sini deh saya prin out terus kita kirim ke penerbit."


"Ngarang kamu."


"Lho lho lho, bukannya Mba sendiri itu yang ngarang, yang nulis resepnya, malah di kira aku. Menurut aku resep yang Mba tulis itu pantas kok di bukukan. Bahan yang Mba tulis lengkap, selengkap-lengkapnya, langkah pembuatannya juga jelas, detil, mudah di mengerti. Pasti orang yang baru belajar bikin kue mudah prakteknya. Yakin deh Mba."


"Enggak, Cung. Ini cuma buat hobi. Buat ngobatin rasa kangen Mba bikin kue." Ada nada berat dan sedih karena menahan perasaan dalam kalimat terakhir yang diucapkan Kenya. Dan Cacung, yang sudah bertahun-tahun bergaul dengan Kenya, sangat mengenal nada itu.


Cacung bersimpuh di pangkuan mantan bosnya, meletakkan kepalanya dengan lembut di atas pangkuan Kenya. Kenya terkejut, tapi tidak menghalangi Cacung meneruskan kegiatannya.


"Ayo Mba, ayo kita bikin kue lagi kayak dulu," Cacung juga memiliki rasa rindu yang sama pada kegiatan itu, "aku kangen wajik merah buatan Mba, dulu aku suka nungguin Mba motong karena aku pengen makan pinggirannya, potongan yang ga lolos seleksi Mba buat di pajang di display."


Rasa haru menyeruak memenuhi dada Kenya mendengar bahwa Cacung juga punya keinginan terpendam yang sama dengan dirinya. Mereka rindu bergelut di dapur dengan tepung, gula, margarin, pengembang, beras ketan, gula merah, telur dan bahan kue lainnya.


Mereka rindu wangi kue yang baru matang, yang baru di angkat dari pemanggang, dan aroma itu menyerang indra penciuman mereka dengan brutal. Mereka rindu suara berisik karyawan saat tiba-tiba kehabisan stok bahan. Atau teriakan Erwan yang terlambat mengantar pesanan ke rumah pelanggan.


"Kita bikin di sini, ga harus di dapur yang besar seperti di WM dulu, aku bisa jualan keliling menjajakan kue yang Mba bikin."


***

__ADS_1


"Saya ambil min___"


"Tidak usah repot-repot, duduk, kita langsung saja!" Nada tegas Arman saat memerintah Tika tidak bisa membuat mantan pegawainya itu menolak. Entah aura apa yang di bawa oleh Arman ke rumahnya, suasana mencekam sangat mendominasi ruangan itu.


Tika tidak punya pilihan untuk tidak menerima Arman bertamu di jam yang tidak wajar seperti sekarang. Jelas sekali Arman tidak akan mengundurkan niatnya meski melihat Tika membuka pintu dengan mata setengah terpejam. Dan di sinilah mereka sekarang, di ruang tamu rumah Tika.


"Apa yang terjadi?"


"Ya?" Mata Tika melebar.


Dan Arman juga tidak mau repot-repot berbasa-basi untuk menanyakan Tika tinggal dengan siapa, atau menanyakan hal remeh lainnya. Di beri pertanyaan ambigu seperti itu dalam kondisi baru terbangun membuat Tika terlihat sepeti orang bodoh, meski jauh dalam pikirannya dia tahu tujuan mantan bosnya itu datang mencarinya.


"Setahun yang lalu, apa yang terjadi dengan Kenya, dengan Wajik Merah, katakan, ceritakan padaku segala yang kau ketahui, jangan di kurangi atau di lebihkan."


Tepat.


Tika sudah menduga Arman akan mencarinya untuk mencari Kenya. Tapi janjinya pada Kenya masih ia ingat dengan sangat jelas.


"Ny-Nyonya Key meng___"


"Nyonya Permana, panggil dia dengan panggilan itu!"


"B-baik, Nyonya Permana mengalami kecelakaan se-sepulangnya dari kantor Permana Jaya, taksi yang membawanya di tabrak oleh sebuah bus yang sedang melaju.Kuat dugaan bahwa supir taksi itu mengantuk dan menabrak lampu lalu lintas, tapi Nyonya Key membantah, supir itu baik-baik saja dan tifak sedang mengantuk." Dalam hati Tika berdo'a agar Arman melewati bagian cerita kondisi Kenya saat di dalam taksi waktu itu. Dia memilih melompati sedikit bagian kondisi sebenarnya Nyonya Permana.


"Kenapa dia menjual Wajik Merah?"


"Ya?" Kali ini Tika tidak pura-pura, dia benar-benar terkejut Arman sudah tahu bahwa WM telah berpindah tangan, "i-i-itu karena Nyonya Permana kekurangan biaya untuk pengobatannya, dan alasan lainnya..."


"Alasan lain?"


"Dari hasil penjualan WM, Nyonya Permana memberi santunan untuk keluarga supir taksi itu, dan pesangon untuk para karyawannya, sisanya untuk pengobatan."


"Semuanya belum cukup sampai dia harus menjual rumah juga?"


"Ya?" Kali ini wajah Tika benar-benar pucat pasi, cepat sekali Dewa Bos mendapat informasi itu, "be-benar, hasil penjualan belum cukup menutup semua biaya pengobatan Tuan."


Haruskah dia mengatakan semuanya? Kalau memang Dewa Bos sudah tahu kenapa harus mencarinya di saat pagi buta begini.


"Apa yang terjadi? Luka apa yang dia alami sampai dia koma?"


"T-tuan tau Nyonya mengalami koma?"


Tatapan tajam Arman tidak pernah lepas dari Tika barang sedetikpun. Mata Dewa Bosnya itu mungkin anti kering sampai lupa berkedip.


"Satu saja, satu saja informasi yang tidak kau sampaikan maka___"

__ADS_1


"Nyonya Key harus mendapat penanganan operasi untuk menyelamatkan kakinya."


"Apa?" tanya Arman dengan suara rendah namun penuh penekanan.


"Akibat kecelakaan itu kaki Nyonya Permana terluka sangat parah, agar tidak di amputasi maka Nyonya harus di operasi pada malam ke tiga."


"Amputasi?:


"Tidak, kaki Nyonya bisa di selamatkan tapi__"


"Tapi apa?"


"Nyonya kehilangan kemampuan berjalannya."


***


Tika berharap, sangat berharap apa yang sudah ia sampaikan bisa memuaskan rasa ingin tahu Arman tentang Kenya. Tika berharap dengan mengetahui Kenya mengalami kelumpuhan laki-laki itu akan berhenti, kehilangan minatnya pada Kenya, dan segera pergi dari rumahnya.


Jujur saja, Tika menyukai hari-harinya di satu tahun terakhir ini. Menjadi penjaja lukisan di sebuah situs online, dan sebagai pekerja lepas Kenya tidaklah buruk. Tika kadang menerima orderan pembelian barang antik jika kebetulan terhubung dengan kolektor kaya raya. Dia akan dengan senang hati mencari barang-barang antik yang pantas di jadikan koleksi di sebuah pasar khusus barang antik. Pekerjaannya sangat menyenangkan di banding dirinya terikat jam kerja kantor seperti dulu. Dia lebih suka keadaannya yang sekarang.


Dan dugaannya jauh meleset. Jangankan merasa puas, Arman makin gencar menanyainya dan tidak berencana pulang dalam waktu dekat.


"Apa kau yakin sudah menyampaikan semuanya?" tegas Arman lagi.


"Iya, hanya itu yang saya ketahui."


"Dengar Tika, kalau aku tau dari orang lain apa yang harusnya aku ketahui darimu maka ___"


"Tuan, saya benar-benar tidak tahu kemana Nyonya Permana pergi, saya memang membantunya menjual segala aset-aset itu, tapi hanya sampai di sana. Nyonya di cari oleh keluarganya dan saya tidak tau beliau di bawa kemana."


"Tika Ambarsari dengarkan aku..."


"Baik baik baik," tampaknya memang tidak ada jalan lain, Tika akan mengeluarkan kartu ASnya agar mantan Bosnya ini segera pergi dari rumahnya. Biar saja. Biar Arman merasakan bagaimana beratnya rasa bersalah. Agar mantan Bosnya ini juga merasakan penderitaan yang sama dengan apa yang di rasakan Kenya.


Mendengar Tika memotong kembali ucapannya Atman sedikit optimis dan bersemangat. Ia yakin Tika akan menyerah dan memberitahunya dimana keberadaan Key saat ini. Bahkan tanpa harus mengeluarkan ancaman. Padahal Arman tidak benar-benar akan mengancam mantan pegawainya itu, Arman bahkan ingin menyuapnya dengan sejumlah uang, tadinya.


"Ini informasi yang terakhir yang saya ketahui, karena saat itu sayalah yang menandatangani surat administrasi penanganan Nyonya Permana, jadi kalau saya tidak memberi tau Tuan, Tuan pasti akan dengan mudah mencarinya di rumah sakit tempat Nyonya di rawat. Bersiaplah! Siapkan hati anda karena apa yang akan saya sampaikan mungkin akan mengguncang anda." Tika sungguh-sungguh dengan ucapannya. Demi agar Arman segera pergi dari rumahnya, dia akan mengatakan segala riwayat catatan kesehatan Kenya.


"Sebelumnya berjanjilah tidak akan mengganggu atau mencari Nyonya Permana, apa Anda sanggup?"


"Jangan bertele-tele, katakan secepatnya atau aku akan membakar rumahmu."


"Huh, baiklah, percuma, anda Dewa Bos dan tidak bisa di ancam," Tika menjeda, meminta janji pada Dewa Bos adalah sebuah kemustahilan, "pada saat kecelakaan itu terjadi Nyonya Permana dalam kondisi hamil, dia sedang mengandung anak anda. Jadi selain kehilangan kemampuan berjalannya, Nyonya Permana juga kehilangan calon bayinya, apa anda puas sekarang?"


ig: @amin.lia

__ADS_1


__ADS_2