Insane

Insane
37: Daun Pandan


__ADS_3

Kenya memikirkan lagi kata-kata yang ia dengar dari wanita yang mengaku sebagai 'tante'-nya Arman. Ia masih sangat tidak mengerti. Suara Elia membuatnya sedikit terserang panik di tambah Arman yang masih membeku di pangkuannya dan bisa saja mendengar apa yang mereka bicarakan hingga Kenya mengiyakan saja saat tante Arman itu bicara agar pembicaraan mereka cepat selesai.


Sekarang ia harus mengolah kembali apa yang ia dengar. Sedikit kesimpulan yang Kenya petik, Arman sakit. Sakit pria itu tidak sekedar demam yang sudah ia obati. Entah apa, Kenya lupa mengingatnya saat Elia mengucapkan nama penyakit itu dengan cepat.


Dan sekarang apa yang harus ia lakukan? Tante Arman itu meminta ia setidaknya harus menenangkan Arman.


Menenangkan? Yang benar saja. Justru di sini dirinya yang merasa tertekan dengan situasi yang Arman ciptakan. Bagaimana ia bisa menenangkan seseorang jika dia sendiri tidak tenang. Dan lelaki di pangkuannyalah yang membuatnya merasa tertekan.


Tapi kata-kata Elia bagaikan teror di telinganya. Terus mengulang sendiri hingga memaksa Kenya melakukan sesuatu yang bisa menenangkan Arman. Dalam otaknya yang penuh seperti sekarang, cara untuk menenangkan yang terlintas adalah...


"Arman," Kenya mengeluarkan suaranya yang paling halus, berharap pria itu bereaksi, paling tidak mengangkat wajahnya.


Kenya harus menarik napas agar suaranya lebih stabil, "Arman," Kenya mencoba lagi dengan suara yang lebih keras tapi Arman masih di posisi awalnya.


Dirinya benar-benar buntu dengan keadaan Arman sekarang. Siapa sebenarnya yang sakit di sini?


Tangan Kenya akhirnya terulur. Ia ingat, dulu Arman akan senang jika Kenya membelai surai pria itu.


Dengan gerakan lembut Kenya membiarkan jari jemarinya masuk membelah rambut Arman. Merasakan tiap titik sarafnya bergesekan dengan tiap helai rambut hitam dan lembut Arman. Kenya sekarang harus menahan tangisnya karena mengingat kenangan mereka dulu.


Iya, malam itu sebelum aksi gila mereka.


"Apa masih sakit?" tanya Kenya sebagai upaya mengalihkan ingatannya sendiri.


"Demammu sudah turun, apa ada bagian tubuhmu yang masih sakit?"


Kenya tidak tahu di bagian tubuh mana yang di serang syndrom yang Arman derita. Apakah syndrom itu menimbulkan efek sakit atau tidak.


"Kita bisa bicara sekarang aku akan mendengarkanmu katakan saja bagian mana yang sakit jangan diam seperti ini aku tidak tahan," kata Kenya tanpa jeda. Memang benar, dia tidak tahan dengan sikap yang Arman tunjukkan.

__ADS_1


Kenya merasakan Arman melakukan gerakan kecil. Sepertinya wajahnya sudah di jauhkan sedikit dari perut Kenya. Kenya menunduk sedikit agar bisa melihat apa dugaannya benar.


"Kamu masih marah Key, mengocehlah, akan aku dengarkan asal tidak mengusirku."


Arman akan kembali menenggelamkan wajahnya, tapi Kenya lebih dulu menyentuh wajah Arman dan itu membuat Arman bertahan di posisinya, memilih melepaskan pinggang Kenya dan mendaratkan tangannya di atas tangan Kenya.


"Aku mau bicara, artinya kamu harus menimpaliku, jangan hanya mendengarkan dan diam, aku tidak mau di kira gila karena bicara sendiri."


Arman mengeratkan genggamannya pada Kenya. Menyalurkan kegundahannya pada wanita itu. Ketakutan yang pekat, yang tersisa saat awal pertemuan mereka.


"Kamu jangan takut, aku sudah lebih dulu gila, seminggu ini badanku gemetar, aku tidak bisa berpikir, tidak bisa bekerja, tulisan yang aku baca di kertas seperti di acak, aku sudah berusaha bertahan tapi ga bisa Key, ga bisa."


Untuk sesaat Kenya mengenyampingkan amarahnya, menurunkan ego dan meladeni Arman, mendengarkan ungkapan pria itu. Arman sana sekali tidak terlihat seperti orang sakit sekarang. Rasanya sulit untuk percaya pada ucapan tantenya. Arman tampak sehat, tapi siapa yang tahu di dalam tubuh itu.


"Kamu bisa menyetir sejauh ini dalam keadaan sakit?"


"Huh, beberapa kali akan menabrak."


"Aku sudah bilang tadi aku udah gila duluan, tapi obatku bukan di rumah sakit, ngapain aku ke sana kalau obatnya kamu."


***


Kenya mengenyahkan perasaan besar kepala akibat jawaban implusif Arman. Wajahnya sudah menghadap ke atas, ia tutup dengan satu lengan sedang tangan Kenya masih menyatu dengan surai Arman karena Arman meminta agar Kenya tidak berhenti. Alasannya karena Arman masih pusing.


"Gimana kerjaan kamu? Kamu ninggalin kantor apa tidak masalah?" Ini salah satu usaha Kenya agar Arman segera pergi.


"Aku tau Key, kamu masih marah," hening, karena Arman menggantung kalimatnya, "pembicaraan kita ga akan sesederhana ini kalau kita membahas perbuatanku setahun lalu, kamu berhak marah."


Jujur saja Kenya tidak ingin memulai pertengkaran lagi saat masa tenang mereka seperti sekarang. Tidak masalah jika jawaban Arman tidak sinkron dengan pertanyaannya. Kondisi Arman juga masih abu-abu di mata Kenya. Dia belum tahu apa yang akan terjadi jika mereka membahas masalah setahun lalu secara terbuka. Apalagi jika membahas calon bayi mereka. Tunggu! Apa Arman sudah...

__ADS_1


"Arman,"


"Kamu boleh marah Key, boleh benci aku selama yang kamu mau," Arman memutar tubuhnya menyamping dan menatap wajah Kenya, "asal jangan minta aku berhenti, yang aku yakin maksudnya adalah berhenti mengejarmu, itu kalimat kamu yang paling mengerikan. Kasih aku kesempatan hadapi rasa benci dan marah kamu, kita bicarakan semuanya, termasuk..." Arman menjulurkan sedikit tangannya, "termasuk dia," tangan Arman tepat berada di atas perut Key.


"Kamu___?" Dada Kenya kembali sesak, bukan pembicaraan ini yang dia inginkan sekarang. Susah payah dia menahan genangan di matanya agar tidak tumpah dan gagal, "kamu tau?"


Arman tiba-tiba sudah merubah posisinya menjadi duduk, berusaha berhadapan dengan Kenya. Kenya terkesiap saat membuka mata.


"Aku tau, dia pernah ada di sini," saat itu juga bahu Kenya berguncang hebat dan Arman membekapnya dalam pelukan. Kenya meronta sekuat yang ia bisa, tidak ingin Arman menyentuhnya, memukul dada, bahu Arman berkali-kali tapi pria itu seperti sudah menyiapkan diri akan aksi brutal Kenya. Kenya bahkan lupa diri, menggigit keras dada Arman hingga berdarah saat pria itu tidak juga mau membebaskannya. Sakit itu kembali datang dan Kenya tidak akan ragu menumpahkannya pada Arman. Persetan jika pria itu sakit atau kesakitan. Tidak akan sebanding dengan apa yang Kenya rasakan.


Sampai ia merasa kelelahan, kini pukulan itu hanya tersisa sesenggukan. Kenya kembali tenang, tapi Arman masih saja memeluknya. Brain stuck obsetion yang Arman derita adalah Kenya. Kenya adalah penyakit sekaligus penawarnya. Saat ini adalah salah satu usaha Arman mendapatkan penawar itu.


"Masih mau memukul? Aku masih kuat menahan pukulanmu," Kenya menarik napas mendengar tawaran Arman, dengan senang hati, tapi sekarang tangannya sudah pegal jadi dia memutuskan akan menggigit saja pria ini.


Kenya hendak memutar kepalanya, menyasar dada Arman untuk ia mangsa, tapi....


"Kamu berdarah," kata Kenya di sela sesenggukannya, menjauhkan sedikit kepalanya untuk memastikan apa yang ia lihat.


Tangannya lalu menekan noda darah yang menyatu dengan kemeja Arman, membuat Arman mengetatkan gigi menahan ringisan.


"Ini, aku yang bikin kamu berdarah begini?" Arman hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kenya, "aku obati."


"Ga usah, Key, nanti saja."


"Tapi,"


"Ini ga sakit Key, yang sakit itu waktu kamu meminta pelayan di restoran untuk mengoreksi sebutanmu sebagai Nyonya Permana," Kenya tidak membalas, hanya tersenyum kecil, merasa tidak enak sendiri, "aku ngerti kamu butuh waktu terima aku lagi, salahku terlalu fatal untuk kamu maafkan dengan mudah. Aku harap kamu ga keberatan karena aku akan menunggu sampai saat itu tiba, tapi untuk ga ketemu sama sekali, maaf, aku ga bisa Key."


Arman menarik napasnya sedalam mungkin, ada perasaan takut jika nanti Kenya akan menolak permintaannya.

__ADS_1


"Aku ingat kamu istilahkan kehadiranku seperti daun pandan dalam kue yang kamu buat. Seminggu ini istilah itu terus saja berputar di kepalaku. Daun pandan mungkin bukan bahan utama kamu untuk membuat kue, tapi satu yang tidak bisa di sangkal, kontribusi daun pandan pada makanan tidak bisa di gantikan dengan bahan lain meski sejenis, dengan daun suji misalnya, atau parasa pandan buatan yang banyak di jual di toko. Baik daun suji atau perasa pandan buatan tidak bisa menyamai aroma alami yang keluar dari daun pandan itu sendiri. Tidak bisa mengalahkan rasa yang sesungguhnya. Jadi, aku sudah memutuskan akan menjadi daun pandan di hidupmu, tidak tergantikan atau terkalahkan dengan apapun, siapapun. Tetaplah benci atau marah, tapi aku akan tetap datang. Dan kalau kamu sudah lelah dengan kemarahan itu jangan ragu untuk menerimaku."


__ADS_2