Insane

Insane
38


__ADS_3

Sementara di luar, dari celah pintu yang terbuka sedikit, Garut dan Cacung menghembuskan napas lega melihat Arman dan Kenya yang sedang mencoba memperbaiki hubungan mereka. Tadinya Cacung sempat akan merangsek masuk saat Kenya mendadak histeris memukul-mukul Arman dan tentu saja Garut mencegahnya meski saat itu Garut baru saja datang. Mereka sempat melakukan adu mulut tentang tindakan yang harus di ambil, tentu saja karena Cacung di pihak Kenya yang di mata Cacung adalah korban. Tapi dengan bijaksana dan pemikiran terbukanya Garut mencegah Cacung karena bagaimanapaun itu adalah masalah pribadi dan mereka adalah orang luar yang tidak berhak ikut campur.


Cacung sudah bersikeras, tapi Garut menarikny sekuat tenaga. Garut terus saja meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja hingga Cacung akhirnya mengalah.


Setidaknya Cacung harus lega akan kedatangan Garut, artinya Arman akan di bawa pergi oleh asistennya ini.


"Saya mau lihat Yogi dulu, silakan awasi Bos anda, kalau dia macam-macam sama Mba Key, saya sendiri yang akan menjambak rambutnya dan menggeret Pak Arman keluar," kata Cacung sangar penuh peringatan, lengkap dengan pelototan tajam. Bagaimana dirinya tidak panas, satu fakta baru baru dia ketahui saat itu, Kenya keguguran saat kecelakaan.


Garut menggangguk cepat-cepat melihat wajah Cacung yang penuh angkara murka. Dia akan melaksanakan apa yang di perintahkan asisten calon tunggal Nyonya Permana itu.


Sementara di dalam sana, baik Kenya atau Arman sudah sama-sama tenang. Arman masih dalam posisi duduk, memegang tangan Kenya.


"Bisa kita lanjutkan lain kali, aku lapar dan kita sudah melewati jam makan malam," aku Kenya jujur. Energinya habis untuk memukul Arman tadi dan sekarang perutnya sudah meronta minta diisi.


Arman mengabulkannya tanpa bantahan. Dia segera turun untuk menolong Kenya menuju kursi roda.


"Key!" panggil Arman saat mengangkat tubuh Kenya.


"Kenapa?"


"Boleh aku ke sini setiap jam makan siang?"


"Tidak." Jawab Kenya langsung, tegas dan diplomatis.


"Kenapa?" Arman telah siap mendorong kursi roda Kenya.


"Kamu akan buang-buang waktu di jalan, tempat tinggalku yang sekarang terlalu jauh dari kantormu, belum kalau macet. Jangan ribet kesini cuma buat makan."


Arman mengangguk mengerti, tapi satu senyum jahil muncul di bibirnya.


"Siapa yang menolongmu jika akan berpindah ke kursi roda seperti tadi?" tanya Arman lagi.


"Menolongku, memasak, bersi-bersih, mengurus Yogi semua di kerjakan Cacung. Aku hanya membantu sedikit," jawab Kenya datar dan Arman tidak membalas lagi, hanya tersenyum saja mendengar jawaban Kenya. Senyum yang tidak nisa di lihat Kenya, tapi menjadi senjata yang akan Arman pakai nanti.


Begitu Arman dan Kenya keluar dari kamar, mereka seketika di hadapkan dengan Garut yang berdiri menjulang di sana. Garut mengangguk pada Kenya sebagai sapaan, kemudian berucap,


"selamat malam Nyonya, bagaimana kabar anda?"


Kenya menatap Garut dengan kerutan di dahi.


"Anda di sini?" Kenya balik bertanya dengan nada heran yang kental, mengetahui asisten Arman tahu alamatnya. Kenya membuang napas pasrah memikirkan persembunyiannya yang sia-sia.


Arman malah tampak santai melihat pada Garut dengan memasukkan tangannya ke dalam saku. Tentu saja, jika Arman tahu alamatnya, asistennya juga pasti tahu dan entah siapa lagi yang sudah mengetahuinya.


"Ada apa Garut?" tanya Arman tanpa rasa bersalah, membuat Garut hampir menggeram keras. Ah, Dewa Bos tidak pernah salah, boleh seenaknya.


"Saya hanya memastikan keadaan anda Tuan, karena tadi anda tampak pucat saat meninggalkan kantor," Garut sengaja menekan dua kata terakhirnya. Berharap tersisa sedikit kepekaan pada Arman.


"Tadi aku memang sakit, tapi sekarang sudah jauh lebih baik, jangan takut Garut aku akan menyelesaikan semua pekerjaan dalam waktu singkat, bonusmu aman." Arman berucap dengan nada ringan untuk menenangkan asistennya itu. Ia paham dengan raut wajah yang Garut tampakkan.


Tangan Arman kemudian meraih pegangan kursi roda Kenya yang bergerak meninggalkan mereka.


"Tidak perlu, mungkin asistenmu masih perlu bicara." Kenya menolak halus. Jarak antara kamarnya dan ruang makan tidak seberapa. Dia bisa menuju ruang makan hanya dengan mendorong tiga kali kursi rodanya.


"Tidak, sudah selsai," kilah Arman.


"Kalau begitu ajak dia makan."


"Garut, ayo makan bersama!" suara Arman bersemangat.


Garut tampak tidak enak, tapi dia tidak ingin menjadi makhluk munafik saat ini. Khawatir sedari siang pada Arman membuatnya melewati jam makan, di tambah dengan mendengar ceramah Nyonya Elia sekarang sudah pasti dia kelaparan.


"Jangan sungkan Tuan Garut!"


"Panggil Garut saja Nyonya."


"Kalau begitu panggil saya Kenya saja," usul Kenya tanpa dosa.


Garut menoleh kaget, melihat pada Kenya dan Arman bergantian. Kenya tampak sibuk menyiapkan nasi untuk Arman dan dirinya. Seperti kebiasaannya dulu.


"Maaf, tidak bisa Nyonya Permana," ucapnya takut. Setelah berkata seperti itu, dia mendapat senyum manis dari Arman.


"Kami tidak punya hubungan apa-apa, asal anda tau," balas Kenya tanpa menyadari wajah sangar Arman, "Cung, Yogi sudah makan?" tanya Kenya yang belum juga menoleh pada Arman yang sudah merah padam.


"Sudah, Mbak." Jawab Cacung santai tanpa peduli suasana mencekam pada orang di seberangnya.

__ADS_1


"Garut, pertahankan!" peringat Arman pada asistennya dengan wajah tak bersahabat, Garut mengangguk mengerti.


"Ayo makan," seru Kenya, sok tidak peduli pada reaksi Arman. Dia tahu Arman tidak suka ucapannya.


Mereka mulai makan dengan khidmat. Arman menyingkirkan sejenak emosinya karena Kenya masih menolak sebutan Nyonya Permana. Dia berjanji pada kesempatan kali ini Kenya akan menyandang nama belakangnya.


***


Cacung baru terjaga saat jarum jam menunjuk angka 6. Ia bergegas bangun, melakukan segala kewajibannya. Beribadah pagi, senam yoga, membersihkan rumah, merebus air, memasak nasi, menyiapkan sarapan dan yang terkahir nanti adalah menyapu dan meyiram halaman kecil mereka.


Saat ini Cacung tengah menanak nasi sambil menyiapkan sarapan sereal untuk Yogi. Kalau sudah beres, dia akan segera keluar menuju halaman. Cacung bekerja sambil bersenandung riang. Sesekali ia bergoyang mengikuti nyanyiannya.


"Mba, udah bangunkah?" Cacung mengetuk pintu kamar Kenya, "mau sarapan apa?"


Cacung tidak menunggu Kenya merespon pertanyaannya. Dia melanjutkan lagi kegiatan rutinnya. Sudah waktunya keluar untuk menyiram. Cacung bergerak menuju pintu.


"Allahuakabar," teriak Cacung kaget karena orang yang berdiri di depannya, Cacung mengelus dada.


"Pak, ya Allah, bener-bener ya, Bapak ga pulang semalam? Ngapain di sini pagi-pagi?" serang Cacung pada Arman.


Ya. Arman sudah berada di depan pintu tepat sebelum ia membukanya.


"Kaget banget kamu," reaksi Arman santai, "Key mana?"


"Di kamar," ketus Cacung, "saya ga biasa Pak dapat tamu pagi-pagi, kita di sini mah ga di datengin tamu selain Mba Tika sama Trio Bebek." Omel Cacung.


Arman tidak peduli pada gerutuan Cacung, ia menyerahkan dua kantong plastik penuh berisi bahan makanan dan segala keperluan rumah pada Cacung. Cacung yang tidak menyangka dengan berat dua kantong plastik itu hampir terjerembab ke lantai saat menerimanya.


"Mulai sekarang biasain ya Cung, saya bakal datang di saat kamu ga duga," kata Arman tanpa dosa, ia bergerak masuk setelahnya, membuat Cacung mendengkus sebal.


Arman menuju pintu kamar Kenya dan segera berlari begitu melihat Kenya yang mencoba bergerak sendiri menuju kursi rodanya.


"Eh!" pekik Kenya saat Arman mengangkat tubuhnya. "Astaga, kamu ngapain di sini?"


Ia ingat betul Arman pulang cukup larut dari rumahnya bersama Garut. Mereka sempat berbicara tentang pekerjaan saat Kenya memilih meninggalkan Garut dan Arman di ruang tamu. Dan sekarang pagi-pagi sekali Arman sudah di rumahnya. Jam berapa pria itu bangun dan bersiap? Kalau di hitung jarak rumahnya dan rumah Arman itu akan memakan waktu dua jam perjalanan.


"Mau kemana?" tanya Arman tanpa menjawab tanya Kenya.


"Kamar mandi." Arman yang sudah rapi dengan setelan jasnya menggendong Kenya menuju kamar mandi.


"Ga usah, gini lebih praktis," tolak Arman, "kenapa ga panggil Cacung?"


"Udah, tapi dia ga dengar, kalau pagi dia banyak kerjaan."


Mereka tiba di depan pintu kamar mandi. Kenya membuka knop pintu, Arman menggendongnya hingga ke dalam. Di sana ternyata sudah tersedia kursi yang khusus di siapkan untuk Kenya saat berkegiatan di kamar mandi. Kursi itu di letakkan dekat dengan bak mandi. Segala peralatan mandi sengaja di letakkan di dekat kursi dalam sebuah wadah. Ada dua pegangan terbuat dari besi yang menempel di dinding kamar mandi yang Arman pastikan sebagai pegangan Kenya untuk berdiri. Melihat pemandangan itu jantung Arman berdenyut nyeri. Semua di rancang untuk memudahkan Kenya karena keadaannya. Semalaman dia di rumah Kenya tapi belum melihat bagian kamar mandi.


Suasana mendadak hening.


"Masih mau di sini?" suara Kenya memecah sepi, "tunggu di luar, atau ambilkan ___"


"Aku tungguin di dekat pintu," sambar Arman cepat, "ketuk aja kalau udah selesai."


***


Kenya membuka keran air untuk menyamarkan tangisnya. Sungguh dia merasa malu dengan kejadian yang baru saja ia alami. Arman melihat segalanya, ketidakberdayaannya. Apa yang pria itu harapkan darinya yang sekarang cacat. Kenya yakin Arman hanya merasa bersalah padanya.


Kenya secepatnya melakukan ritual mandi, mengingat Arman yang harus berangkat kerja tapi malah menungguinya saat ini. Dia yakin Arman tidak akan mengambilkannya kursi roda.


***


Arman menyandarkan seluruh beban tubuhnya pada dinding. Di sampingnya, ada pintu yang memisahkannya dengan Kenya.


Arman menengadahkan kepala, menatap sejenak langit-langit, kemudian terpejam. Penuh, kepalanya penuh dengan rencana untuk Kenya. Berjejal, berdesakan berteriak meminta satu per satu dari rencana itu segera di laksanakan. Tapi Arman tidak bisa serta merta melakukannya. Kenya belum menerima sepenuhnya kehadirannya kembali. Arman sangat sadar akan hal itu.


Kali ini dia tidak akan gegabah, berpikir pendek seperti setahun lalu. Setahun lalu? Ah, andai saja ada alat yang bisa membuatnya kembali ke masa itu, Kenya dan dirinya tidak akan berakhir di sana. Mereka mungkin sedang menikmati sarapan di belahan bumi lain, bersama ke dua anak mereka. Memikirkannya membuat Arman senyum sendiri.


Tok...tok


Dua kali ketukan itu menarik kembali pikiran Arman ke dunia nyata. Ia menoleh dan melihat knop pintu di putar.


"Sudah?" tanya Arman singkat dan di angguki Kenya.


Arman kembali masuk, mengambil posisi untuk mengangkat Kenya. Kenya sigap melingkarkan tangan di leher Arman untuk memudahkan pria itu.


"Kamu belum jawab, kenapa sudah di sini sepagi ini?" tanya Key memecah gugup.

__ADS_1


"Sarapan, aku mau sama kamu."


Kenya setengah melotot tak percaya dengan jawaban Arman. Arman sama sekali tidak terganggu dengan tatapan itu. Ia terus berjalan menahan senyum.


"Arman! Aku sudah ___"


"Kamu cuma ngelarang aku datang untuk makan siang Key, tidak termasuk sarapan dan dinner," sanggah Arman sebelum mendengar protes Kenya. Kenya memejamkan mata sejenak untuk menyetok kesabarannya menghadapi pria gila ini.


Dengan gerakan pelan Arman menurunkan Kenya di atas kursi roda, "sekarang mau ngapain?" lanjut Arman enteng.


Kenya menarik napas memupuk kesabarannya lagi dan lagi. Tidakkah Arman paham dimana dia sekarang? Dan sialnya Kenya tidak punya persiapan untuk berdebat dengan Arman sepagi itu.


"Kamu keluar dulu."


"Ga mau aku dorong sekalian?"


"Enggak."


"Mau ngapain lagi sih? Aku bisa lho___"


"Urusan perempuan," Kenya menahan geram.


Arman mulai peka, dia melihat rambut Kenya yang belum rapi, "mau aku sisiri?"


Oke, habis sudah kesabaran Kenya.


"Arman, yang ga bisa aku pakai cuma kaki, bagian tubuhku yang lain masih berfungsi baik, jadi___"


"Oke, oke aku tunggu di luar," kata Arman sebelum Kenya lebih kesal. Tangannya mengacak halus ujung kepala Kenya sebelum meninggalkannya.


***


Key meraba puncak kepalanya dengan jantung yang berdegub kencang. Tidak. Dia tidak boleh terbawa perasaan. Dulu memang, Kenya senang jika Arman melakukannya apalagi setelah mereka berdebat dan berakhir dengan Arman yang selalu mengalah. Arman akan mengacak puncak kepalanya dan berkata, 'oke, kamu menang Sayang'.


Kenya harus tetap sadar. Sadar kalau situasi mereka tidak seperti dulu.


"Berhenti jantung sialan!" umpatnya. Kenya buru-buru mengambil sisir dan merapikan rambutnya.


***


Arman memasukkan suapan terakhir ke mulutnya. Meski memprotes rasa masakan nasi goreng Cacung kerena kurang garam, ia tetap menghabiskan nasi di piringnya.


Jangan di tanya bagaimana reaksi Cacung saat Arman memprotesnya. Ia dengan senang hati langsung melayangkan kalimat pengusiran, tapi tentu tidak dihiraukan Arman.


Mereka bertiga, Arman, Yogi dan Cacung, telah selesai dengan piring masing-masing. Kecuali Kenya, dia terlihat lambat dan tidak berselera makan.


"Bener-bener kurang garam ya Mba, tawar?" tanya Cacung tiba-tiba. Membuat Kenya menatap kasihan pada piringnya.


"Enggak, jangan percaya Arman, Mba cuma masih kenyang, ga tau kenapa."


Arman tidak menaruh perhatian pada percakapan itu. Ia memilih mengikuti Yogi yang berjalan ke kamarnya.


"Gimana ni mba?" tanya Cacung dengan suara berbisik.


"Mba juga belum tau harus bagaimana. Setelah Mba tau pasti keadaan Arman baru Mba akan ambil keputusan."


"Tapi kayaknya dia sungguh-sungguh."


Kenya menatap nanar, "dia memang ga pernah main-main," sungguh-sungguh datang memasuki hidup Mba, membuatnya indah dan berwarna, tapi juga sungguh-sungguh menghancurkannya dalam sekejap mata, suara hati Kenya.


"Aku jalan dulu, boleh minta antar ke depan?" tanpa di minta Arman menarik kursi roda Kenya dan mendorongnya menuju pintu. Kenya hanya bisa pasrah menuruti mau pria gila satu ini.


Mereka sampai di teras dan tiba-tiba saja Arman berlutut di depannya.


"Ayo!" Kenya menatap tidak mengerti, masih kaget juga dengan tindakan Arman. Arman menarik kedua tangan Kenya dan meletakkan di ujung atas dasinya.


"Perbaiki penampilanku," kata Arman dan Kenya mulai paham.


"Ga aku perbaiki juga kamu udah rapi," balas Kenya, tapi tetap melakukan yang Arman minta, "sudah."


"Aku jalan dulu," Arman mencondongkan diri, mengecup sekilas kening dan bibir Kenya. Kenya megap-megap tak percaya, mulutnya sudah terbuka akan mengeluarkan omelan. Sayangnya Arman sudah lebih dulu berjalan menjauh tanpa Kenya sadari. Pria itu melambaikan tangan sebelum membuka pintu mobil.


Dasar gila.


ig:@amin.lia

__ADS_1


__ADS_2