Insane

Insane
43


__ADS_3

Arman menggosok-gosok ke dua telapak tangannya hingga terasa hangat, kemudian dia menempelkannya pada dua bagian matanya. Itu salah satu cara Arman untuk meringankan rasa lelah yang indra penglihatannya rasakan. Dipaksa melek saat terasa ngantuk, menatap layar komputer berjam-jam ternyata membuat mata Arman rasanya kering dan lelah menyiksa.


Beberapa jam lalu, dia harus mengikuti rapat via skype dengan rekan kerjanya di belahan benua lain. Membantu Hiban untuk menganalisa harga produk baru yang akan mereka jual, belum lagi laporan hasil dari laporan sebelumnya yang telah ia kerjakan kembali menumpuk di atas meja. Rasanya Arman memikul semua beban di bumi ini. Napasnya pendek karena kelelahan oleh pekerjaan non fisik. Sangat bohong jika ada orang yang mengatakan seorang CEO hidup enak dan berleha-leha.


Hari sudah beranjak sore dan kantor Permana Jaya juga tampak mulai sepi. Para karyawan rata-rata meninggalkan kantor sekitar satu jam yang lalu. Melihat tekanan di depannya, Arman merasa tidak tahan, dia butuh penyegaran. Niatnya untuk lembur hari ini tertunda secara mutlak.


Arman membereskan sedikit mejanya yang berantakan. Ia kemudian mengambil tas kerja dan jasnya.


Begitu mendengar suara pintu ruangan yang di buka, Garut seketika menoleh. Wajahnya berbinar melihat Arman bersiap pulang.


"Langsung saja Garut, hari ini kita pulang cepat, aku usahakan datang lebih awal besok pagi, atur jadwalku untuk besok, aku bawa mobil sendiri jangan hubungi supir, salin analisa yang aku buat di komputer ruanganku, periksa kalau ada kesalahan dan segera kirim ke Hiban," kata Arman dengan sederet kalimatnya. Setelah itu Arman meninggalkan Garut begitu saja.


Meski mendapat beberapa perintah, Garut tetap senang karena hari ini dirinya terbebas dari lembur sampai dini hari. Hanya di bawah pimpinan Arman, pria berkaca mata itu merasakan lembur sampai menjelang subuh.


"Siap, Pak."


Arman sudah berada di depan pintu lift. Dia sudah tidak sabar sesegera mungkin sampai di rumah Kenya.


***


"Mba, gimana? Masih sakit?" Cacung khawatir setengah mati. Sangat kentara dari nada suaranya.


Bagaimana dirinya tidak khawatir, jari telunjuk kiri Kenya terluka cukup lebar dan dalam. Meski sudah memberi pertolongan pertama dengan membersihkan luka itu, mengolesinya dengan obat merah, dan membungkusnya dengan perban, nyatanya Cacung tetap khawatir karena darah kembali menembus tebalnya kapas dan perban yang menggulung jari Kenya.


"Mba, kita ke dokter ya!"


"Ga perlu kok, Cung. Siapin aja makan malam buat Yogi, Mba ga apa-apa."


"Tapi Mba pucat banget."


"Mba, ga apa-apa, beneran deh. Lukanya emang masih nyut-nyutan, tapi bentar juga hilang."


Cacung masih tidak enak hati meski Kenya sudah mengatakan dirinya baik-baik saja. Dia melihat sendiri betapa lebar dan dalamnya luka Kenya. Dia bahkan sempat mengira kalau jari Kenya akan terputus.


Kejadian itu berawal saat Kenya membantu Cacung memasak. Karena talenan di dapur mereka hanya ada satu buah, Kenya membiarkan Cacung yang memakai talenan untuk memotong daging. Kenya hanya akan mengiris bawang merah dan beberapa bumbu lain. Ia yakin bisa melakukannya tanpa talenan. Entah karena kurang fokus atau alasan yang hanya Kenya yang tahu, Kenya tiba-tiba memotong jarinya sendiri.


Cacung sampai histeris melihat darah segar yang mengalir dari jari Kenya. Kenya sendiri sempat merasakan pusing dan masih terasa hingga saat ini.


Suara ketukan pintu membuat mereka menoleh pada sumber suara. Kenya sangat yakin akan siapa yang datang.


"Jangan cerita kalau itu Arman," pesan Kenya pada Cacung.


Cacung tidak menyanggupi dengan ucapan atau bahasa tubuh.


"Key!"

__ADS_1


Benar saja, mereka mendengar Arman memanggil. Cacung segera berjalan menuju pintu.


"Hai, Cung!" sapa Arman begitu Cacung membuka pintu lebar.


Tidak biasa. Arman sedikit heran, biasanya ada saja gerutuan yang Cacung beokan melihat kedatangannya.


Arman berpikir mungkin Cacung sudah biasa dengan kedatangannya.


Kenya menyambut Arman dengan senyum kecil yang kaku. Dalam hati dia berdoa semoga Arman tidak menyadari keadaannya. Kenya juga masih tidak mengerti kenapa dirinya tidak ingin Arman mengetahui luka yang ia alami. Padahal tadi pagi mereka telah sepakat untuk memulai hubungan baru.


Dia bisa saja terbuka pada Arman dan menceritakan semuanya. Tapi Kenya memilih sembunyi, karena Kenya belum sepenuhnya bisa menerima pria itu.


"Kamu sudah makan?" tanya Kenya lebih dulu.


"Belum, aku tadi mampir di warung pecel kesukaanmu, kita makan sama-sama ya Key, aku juga beli buat Cacung."


"Aku sudah makan."


"Kalo begitu temani aku makan."


Kenya hanya mengangguk setuju. Arman kemudian bergerak ke dapur mengambil peralatan makan.


Cacung mengamati semuanya dalam diam. Dia bahkan tidak berani mengeluarkan suara deheman.


Arman mengamati tingkah dua orang wanita di rumah itu saat meneguk air putih. Semua terasa janggal. Kenya yang tiba-tiba manis, Cacung yang mendadak kalem.


"Arman, malam ini tidak usah menginap, aku tidak enak sama tetangga, bisa kan? Maaf bukannya aku ga nerima kamu di rumah ini tapi aku...."


Kenya berhenti bicara saat Arman tiba-tiba sudah berlutut di depannya. Mata Arman menatap tajam hingga membuat Kenya kehabisan kata-kata. Dengan mata yang masih mengunci, Arman menyingkap pelan selimut tempat Kenya menyembunyikan tangannya yang terbungkus perban.


"Biar aku lihat," kata Arman dengan suara lembut.


Kenya hanya bisa pasrah saat Arman membuka dengan gerakan pelan dan hati-hati jarinya yang terbungkus perban. Dia terhenyak beberapa saat begitu melihat perban yang sudah sangat penuh dengan darah segarnya. Ternyata darahnya masih keluar. Sedari tadi, Kenya hanya menyembunyikan tangannya di balik selimut.


Itulah salah satu kejanggalan yang Arman tangkap. Begitu melihat sisa noda darah yang belum bersih di dapur, Arman langsung curiga melihat untuk pertama kalinya Kenya memakai selimut untuk menutupi bagian kakinya. Tidak biasanya Kenya begitu meski tubuhnya di atas kursi roda, sejak awal bertemu Arman tidak pernah melihat Kenya menggunakan selimut seperti yang ia lakukan sekarang. Kenya juga terlihat pucat, bibirnya hampir tidak berwarna.


Arman mengerjap beberapa kali dengan mulut setengah terbuka. Sepertinya dia juga kaget melihat betapa banyaknya darah di perban itu.


Tanpa bicara apapun Arman mendorong kursi roda Kenya keluar. Ia membuka pintu mobil, kemudian kembali dengan Kenya di gendongannya. Arman tidak mengatakan apapun kemana dia akan membawa Kenya. Wajah pria itu tegang, tapi lisannya tertutup rapat dan tenang.


Cacung yang hanya melihat dari jarak aman, tidak berani mengeluarkan komentar.


Mobil telah melaju membelah jalan raya. Arman masih diam dan Kenya juga tidak berakting lagi dengan wajah tanpa rasa sakit. Sekarang dia tampak kesakitan. Kenya terus menggigit bibir bawahnya menahan erangan.


"Tahan sebentar, kita akan sampai."

__ADS_1


Lima menit kemudian mereka tiba di sebuah klinik kecil yang Arman lihat setiap melewati jalan ke rumah Kenya. Dia ingin sekali ke rumah sakit besar dengan fasilitas lengkap dan canggih. Tapi melihat Kenya kesakitan seperti itu, Arman tidak tahan lagi mencari tempat pertolongan lain. Untung saja dia masih bisa menguasai diri dan bersikap tenang.


Arman kembali menggendong Kenya ke dalam klinik. Mereka di sambut petugas jaga wanita.


Petugas itu menuntun mereka ke sebuah ruangan. Arman mendudukkan Kenya di sebuah tempat tidur pasien.


"Istrinya kenapa, Pak?"


"Istri saya terluka, cukup dalam dan lebar."


Kenya diam saja mendengar Arman mengklain dirinya, pikirannya masih berpusat pada rasa sakit yang terus datang.


"Saya lihat lukanya, ya Bu, maaf," kata si suster sambil meraih pelan tangan Kenya, "saya panggilkan dokter dulu."


Suster itu segera beranjak entah kemana.


Kenya kini menunduk, hanya melihat sumber sakit yang ia rasakan. Arman di sampingnya, berdiri dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana bahannya. Tidak ada yang melihat tangannya terkepal kuat.


Kenya hampir menoleh saat merasakan sebuah tangan mengelus puncak kepalanya. Itu sentuhan Arman. Seketika dada Kenya merasakan desiran kehangatan yang entah datang darimana. Matanya terpejam menikmati efek dari sentuhan itu.


"Sabar sebentar, lukamu pasti sembuh."


Key mengangguk kecil meski kalimat Arman terdengar ambigu di telinganya. Luka mana yang akan dia sembuhkan, yang bisa Arman lihat atau tidak? Luka hati atau luka di tangannya?


Key tidak mau berpikir terlalu keras. Sembuhkan saja dulu luka yang terlihat ini.


Beberapa menit kemudian seorang dokter datang dengan iringan suster dan rak berjalan berisi peralatan medis.


"Saya lihat lukanya, ya."


Sepertinya si dokter sudah di beri tahu apa yang Kenya alami.


"Lukanya harus di jahit, Pak. Bagaimana?" tanya dokter itu pada Arman, "akan lama sembuhnya kalau tidak di jahit, mungkin sekitar tiga atau empat jahitan."


"Lakukan yang terbaik, dok."


Kenya hanya bisa pasrah, membiarkan Arman mengambil alih keputusan. Dia seperti anak penurut dan takut di marahi ayahnya kalau melawan.


Dokter itu segera bertindak, membersihkan luka Kenya dengan cairan alkohol, membuat Kenya merasakan dingin di sumber sakit. Tak lama kemudian dokter itu menerima alat suntik dari suster yang mendampinginya. Seperti tahu apa yang akan ia rasakan, Kenya refleks meraih tangan Arman menyembunyikan wajahnya di perut pria itu tanpa malu. Arman balas memeluk kepala Kenya dengan tangannya yang bebas, karena satu tangannya yang lain di kuasai Kenya untuk menyalurkan rasa sakit.


Suntikan bius lokal yang dokter itu suntikkan di satu titik dekat luka di jari Kenya membuat Key merasakan perih dan sakit di waktu yang sama.


"Tahan ya, Bu."


Dokter itu sepertinya akan mulai melakukan tindakan yang ia katakan tadi, beberapa menit setelah suntikan di lakukan. Kenya merasakan jarinya yang terluka terasa gamal.

__ADS_1


Pegangan Kenya semakin kuat pada tangan Arman. Wajahnya juga makin tenggelam di tubuh pria itu. Sebuah benda kecil dan tajam terasa menembus kulitnya. Kenya menahan sekuat tenaga tusukan demi tusukan di jarinya yang terluka. Bius itu ternyata tidak banyak membantu.


Melihat Kenya bertingkah demikian, membuat Arman merasa sedikit senang di tengah rasa sakit yang wanitanya alami. Senyumnya terbit bercampur ngeri melihat jari Kenya yang di jahit. Sangat manis, Arman seperti lebih menikmati adegan romatis itu.


__ADS_2