
Kenya bermaksud mengubah posisi agar dirinya merasa nyaman. Melihat kondisi Arman sekarang sepertinya pria itu akan tertidur lama dan dia harus duduk menopang kepala Arman sebagai pengganti bantal dalam waktu yang lama pula. Kenya mungkin tidak akan merasakan pegal, kebas atau kesemutan pada kakinya. Tapi merasakan tangan Arman yang begitu erat memeluk bagian pinggangnya membuat Kenya merasa risih sendiri. Kenya melakukan sedikit gerakan memperbaiki posisi bantalan sandarannya dan saat itu...
"Key, please stay, don't go."
Kenya terhenyak untuk beberapa saat. Mengulang kembali kalimat yang Arman gumamkan. Apa karena demamnya yang tinggi Arman sampai mengigau? Benar, laki-laki mengigau karena sakitnya. Kenya memang belum memastikan apa demam Arman sudah turun atau belum karena tangannya belum menyentuh lagi pelipis Arman.
"Apa ga bisa kamu maafin aku juga nerima aku lagi?" Suara Arman tenggelam di dalam perutnya. Kenya menahan refleksnya untuk tidak menyentuh kepala Arman. Tangannya menggantung di udara.
Kalimat itu. Dada Kenya serasa di cubit mendengar kalimat yang Arman ucapkan entah pria itu dalam keadaan sadar atau tidak. Kenapa baru sekarang? Kenapa harus sekarang setelah luka Kenya perlahan membaik?
"Key ___"
"Tidurlah Arman, istirahat. Kamu harus sehat agar kita bisa bicara."
***
Permana Jaya sedang tidak dalam kondisi baik akibat ulah salah satu pemiliknya. Perusahaan yang bergerak di bidang pusat perbelanjaan, makanan, dan otomotif itu sedang dalam kondisi 'berantakan' istilah tepatnya. Tidak untuk semua tatanan atau divisi, tapi dalam hal ini pekerjaan Armanlah yang terbengkalai hingga mengakibatkan banyak hal tertunda. Laporan terhambat, penanganan terlambat, sehingga banyak pekerjaan pegawai lain tertunda. Dokumen yang harusnya telah di periksa, di revisi oleh pemimpinnya menumpuk dengan indah di atas meja kerja Arman.
Hanya sedikit pekerjaan yang bisa Arman selesaikan selama seminggu ini, sedangkan waktu terus berjalan yang artinya target pencapaian yang ia janjikan harus segera terlaksana. Tapi semua terasa mustahil saat Garut melihat tumpukan dokumen tidak tersentuh di atas meja itu dan pemiliknya tidak ada di tempat.
Bersamaan dengan desahan putus asanya, pintu ruangan tiba-tiba di buka. Dan mata Garut seperti akan keluar saat melihat siapa yang datang.
"Bu Elia?"
***
Kenya terbangun saat merasakan kepala Arman bergerak di bagian perutnya. Pria itu masih terpejam, tapi tangannya yang melingkar di pinggang Kenya tidak juga melonggar. Kenya melihat jam di dinding, dan Arman sudah tertidur empat jam. Ragu-ragu Kenya meraba pelipis Arman dan merasa lega mendapati demam Arman sudah turun.
"Key ___"
"Demammu sudah turun, ayo bangun." Kenya tahu Arman sudah mendapati kesadarannya. Bukannya mengeluarkan kepala dan membuka pelukannya, Arman malah semakin mengeratkan tangan dan wajah yang makin ia sembunyikan.
__ADS_1
"Aku masih sakit." Seru Arman dengan suara yang tenggelam.
"Kenapa?" tanya Key dengan nada tertahan. Jujur saja, dia muak dengan situasi yang Arman buatkan untuk mereka. "Apa karena kasihan terus kamu merasa menyesal? Merasa ini tanggung jawabmu? Keadaanku yang sekarang membuatmu merasa iba, begitu Arman Permana?"
Entah apa yang direncanakan pria itu. Arman seperti orang bebal. Dia tidak merespon dengan memperlihatkan wajahnya dan Kenya makin tidak suka. Arman makin meringkuk, kakinya semakin naik ke bagian atas perutnya sendiri.
"Aku cacat bukan karena salahmu. Aku seperti ini karena kesalahanku sendiri, jadi jangan buang-buang waktu dengan merasa bersalah." Kenya bisa merasakan gelengan Arman di perutnya. Ini harus di akhiri.
"Aku tidak suka kau kasihani Arman Permana dan aku tidak mencintaimu lagi. Pergilah, jalani kehidupanmu seperti setahun belakangan."
Arman makin mengukuhkan posisinya. Tidak sesenti pun bergerak dari posisinya semula, membuat Kenya makin frustasi. Apa sebenarnya yang di inginkan pria ini?
"Arman Permana, bangun! Kamu laki-laki tidak seharusnya seperti ini. Keluar, larilah, jalani hidupmu, kamu pria bebas, cari wanita yang sepadan, sempurna." Ini adalah kalimat terakhir yang mengisi kepala Kenya untuk menghentikan aksi bebal Arman. Dia harus menatik napas dalam sebanyak mungkin untuk meredam kemarahannya. Akibatnya rasa marah itu kini berhamburan keluar bersama air matanya.
"Berhenti, sampai di sini saja Arman!"
Kenya merasa seperti di ambang kegilaan. Hingga suara Cacung memanggilnya dari luar dan sepertinya Cacung sedang menuju kamarnya. Suara Cacung terdengar tidak biasa. Dia seperti sedang dalam keadaan... panik?
"Asistennya Pak Arman mau ngomong, Mba." Cacung menyerahkan ponselnya pada Kenya. Akhirnya dia bisa bernapas lega. Kenya yakin asisten Arman ini bisa membantunya mengeluarkan Arman dari rumahnya.
"Halo, iya saya sendiri, iya Arman di sini, tolong bawa di.... apa maksudnya? Arman memang sakit, saya sudah memberinya obat dan sekarang panasnya sudah turun, tolong ke sini bawa.... apa maksudnya pertanyaan anda? Iya saya sedang berusaha mengusirnya, tapi dia tidak mau....penyakit serius? Apa maksudnya Arman menderita....?"
Detik itu juga Kenya tidak mampu lagi membalas perkataan Garut. Dia hanya diam, mendengarkan dengan baik segala yang Garut jelaskan. Sesekali matanya melihat pada Arman, kembali melihat pada Cacung secara bergantian. Sekarang tidak hanya Cacung, wajahnya pun tidak kalah menyiraykan kekhawatiran.
Tanpa sadar Kenya hanya mengangguk, tidak menyadari lawan bicaranya tidak bisa melihatnya.
"Saya mengerti," jawabnya sesaat sebelum sambungan terputus.
Cacung berinisiatif mengambil alih ponsel saat tangan Kenya tampak lemas.
"Mba!"
__ADS_1
"Bisa tolong tinggalkan kami." Kata Kenya dengan nada yang sudah kembali tenang.
***
"Cepat Garut, pikirkan kira-kira Arman dimana sekarang, bersama siapa, kalau tidak keadaannya akan berbahaya, kamu tidak mau bukan di akhir tahun nanti tidak mendapatkan bonus?"
Elia harus begerak cepat agar bisa menolong keponakannya. Satu-satunya harapannya adalah asisten Arman sendiri. Garut pasti tahu di mana dia bisa menemukan Tuannya.
Kata-kata Elia seperti sebuah pecut untuk Garut. Tangannya dengan cepat menekan sebuah nomor.
"Ya, ini Garut," ucapnya saat panggilannya di terima, "tolong kirimkan saya nomor ponsel Nyonya Permana," untuk sekian detik Elia terkesiap, "apa? Tidak punya ponsel? Kalau begitu nomor siapa saja asal saya bisa bicara dengan Nyonya Key, ini penting, tolong, secepatnya, saya tunggu."
"Siapa yang kamu maksud dengan Nyonya Permana dan Nyonya Key?" tanya Elia segera.
"Ini adalah penyakit Pak Arman yang anda ceritakan, mungkin sekaligus obatnya," jelas Garut dan Elia mengangguk mengerti.
"Sekarang saya akan menghubungi Nyonya Kenya, ini bukan nomor ponselnya, ini nomor orang yang tinggal bersamanya," jelas Garut lagi.
"Iya, cepat sambungkan."
Elia duduk dengan gelisah di atas sofa. Dia tidak akan bisa tenang sebelum mengetahui keadaan Arman saat ini. Hiban, yang juga keponakannya mengeluh padanya tentang sikap Arman di kantor. Hiban mendapat laporan dari pegawai yang bekerja di bawah perintahnya dan pria itu langsung saja mennghubungi Elia untuk mengatasi Arman karena Hiban tidak bisa berbuat banyak saat dia juga harus menggantikan Arman di Amerika saat ini.
"...iya, tolong berikan ponselnya pada Nyonya Key.... " Kalimat Garut membuat Elia tergugah kembali dengan harapan.
"Apa tersambung? Arman ada di sana? Apa dia bersama dengan rekanku sesama Nyonya Kenya?" tanya Elia konyol pada Garut, Garut memberi kode anggukan dan meminta Elia melakukan aksi tutup mulut karena ia sedang bicara.
"Halo, Nyonya Kenya...apa anda sedang bersama Tuan Arman?" Garut terdiam mendengar jawaban Key, "apa Tuan Arman baik-baik saja? Maksud saya apa dia memperlihatkan gejala suatu penyakit?"
"Arman memang sakit, saya sudah memberinya obat dan sekarang panasnya sudah turun, tolong ke sini bawa...."
"Apa anda masih marah pada Tuan Arman? Apa anda sedang mengusirnya sekarang?" tanya Garut konyol dan dalam sekejap Elia merampas ponsel Garut, merasa tidak tahan pada Garut yang bertele-tele.
__ADS_1
"Kenya, ini Elia, tantenya Arman, dengarkan baik-baik, saya minta tolong jangan terlalu keras pada Arman untuk saat ini, jika dia sakit seperti itu artinya penyakit sedang kambuh, dia sedang berperang melawan penyakitnya, dengar...Arman pernah menderita brain stuck obsetion syndrom, saya akan menjelaskannya saat kita bertemu nanti, tapi saya mohon jangan tekan Arman dengan sesuatu yang tidak ingin dia lakukan saat ini, jika dia tidak mau meninggalkan anda tolong terima saja, biarkan dia tenang dulu, saya mohon pengertiannya."