Insane

Insane
20


__ADS_3

Setelah Wong meninggalkan rumahnya, Kenya buru-buru membereskan meja makan dan urusan dapur. Gerakannya kembali lambat karena gelombang mual yang datang. Padahal tadi saat mengajar Wong, perutnya terasa ringan.


"Kamu kok macho ya, suka kalau Mama ngehajar orang, nanti latihan sama Papa ya, main pukul-pukulan." Sambil mengelus halus perutnya, tersenyum sendiri menertawakan kegilaannya. Seperti remaja yang baru mengenal cinta, seperti itu perasaan Key sekarang. Hatinya penuh dengan bunga dan kehangatan menjalari sekujur badannya. Keberadaan calon bayi di rahimnya seperti oase di padang pasir hati Key, gersang dan tandus. Padang itu kini subur, teraliri air tanpa putus. Pohon cinta tumbuh di sekelilingnya. Sejuk dan mendamaikan.


"Panggil Papamu gih, bilangin, Mama kangen." Key bahagia saat kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya. Untuk pertama kali dia sangat merindukan pria itu. Key segera menyelesaikan pekerjaannya di daput. Ia menuju kamar, mencari ponsel yang sedari tadi ia lalaikan.


"Kita cari tau ya, Papa kirim pesan atau tidak." Key membuka kunci ponselnya dan melihat notif yang masuk. Benar saja, beberapa catatan pesan dari Arman muncul di sana. Key tersenyum senang.


"Tu, benar sayang, Papa juga kangen sama kita, kita telpon aja ya," kata Key pada calon bayinya. Key segera menghubungi kontak Arman. Sayangnya, dering penghubung yang Key lakukan tidak terbalas.


"Papa sepertinya sibuk sayang. Papa itu pekerja keras. Kerja buat kita. Nanti jangan gangguin Papa kalau lagi kerja ya, jadi anak baik."


Kenya belum berniat menghentikan elusannya bersama dengan senyum yang tak pernah pudar. Arman tidak bisa ia hubungi. Tak mengapa. Dia akan menunggu besok.


***


Arman meminta Garut mengantarnya ke kantor malam itu juga. Ia akan mengamankan dokumen penting dan menandatangangi beberapa laporan karena besok akan bertolak ke Amerika.


Langkahnya tegas dan cepat. Seperti tidak ada waktu tersisa. Arman segera menuju ruangannya diikuti Garut di belakang. Arman meminta Garut menyiapkan dokumen penting yang ia minta di atas meja. Arman sendiri mulai membuka berkas yang memang setia menumpuk di atas meja kerjanya. Keheningan tercipta. Yang ada hanya suara kertas yang di bolak-balik oleh sebuah tangan. Ingin rasanya Garut bersuara, menanyakan kepastian rencana atasannya itu. Entah apa alasan Arman membatalkan rencana pernikahannya. Sebesar apa masalah yang terjadi sampai pria itu dengan mudahnya berkata batalkan. Dan apa Kenya juga menyetujui keputusan itu? Bagaimana dengan calon pengantin wanitanya? Atau memang Kenya sendiri yang ingin pernikahan ini di batalkan?


"Tuan!"


"Ada apa?"


"Apa anda yakin?"


"Apa aku pernah mengulang perintah yang sama dua kali?" tanya Arman sinis, padahala Garut tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang terjadi, tapi dia juga kena imbas dari kemarahan Arman.


Arman sedikit geram karena Garut meragukan ucapannya.


Keadaan yang sama terus berlanjut hingga menjelang pagi. Arman membaca dan.menandatangani berkas. Tepat pukul empat dia baru menyelesaikan pekerjaannya dan meminta Garut mengantarnya pulang untuk menyiapkan barang bawaan.


Di tengah perjalanan, saat kepalanya tidak sibuk lagi membaca dan mencerna angka-angka, Arman kembali teringat kalimat itu. Kalimat yang membuatnya mendidih. Diucapkan dua orang yang tidak ia sangka.


Kita akan menikah dan bahagia selamanya.


Tanpa sadar Arman menghantam keras kursi penumpang di depannya. Untungnya dia tidak duduk di belakang Garut yang sedang mengemudi. Malangnya, mobil yang ia tumpangi sekarang adalah mobil asistennya itu.

__ADS_1


"Laporkan padaku kalau mobilmu rusak karena aku pukul dan minta orang bengkel membereskan mobilku, setelahnya jual mobil itu." Garut mengangguk tidak berani membantah. Di ukur dari pukulan yang Arman layangkan, atasannya itu masih dikuasai amarah. Dan jika di perhatikan lebih dekat, sandaran kursi bagian atas mobil Garut sedikit bengkok. Garut menghembuskan napas lelah dan pelan.


Dia terbiasa lembur, tapi tidak pernah sampai pagi seperti ini.


Dia terbiasa melihat Arman marah, tapi tidak pernah sampai menghantam sandaran kursi hingga bengkok. Untuk ukuran pemimpin, Arman tergolong sabar dan ramah. Tidak pernah ada pegawai yang di lempari hasil kerja mereka yang tidak memuaskan Arman. Hanya perkataan peringatan yang keluar dari mulut pimpinan Permana Jaya itu.


***


Key menggeliat behitu menyadari ada suara ketukan pintu di luar rumahnya. Sangat tega orang ituembangunkannya di pagi buta seperti sekarang. Kenya menatap kesal pada jam di atas nakas yang baru menunjuk angka empat. Sangat malas dengan mata berat ia menggeret kaki ke sumber pengganggu.


"Astaga, Om Ojek," ternyata yang mengetuk adalah Pak Dulah alias satoam komplek alias tukang ojek yang biasa mengantar jemput Yogi jika ia tidak bisa, karena Yogi memanggilnya Om Ojek, Kenya jadi ikut-ikutan, "ada apa?"


"Anu, Mba, mobil temannya belum di beresi, masih nganggur di luar sejak kemarin malam."


"Mobil teman saya?" herannya, "perasaan teman saya pulang dengan mulus kemarin."


"Bukan yang duluan Mba," sangkal Om Jek, "yang biasa datang tiap hari, pak Arman."


"Arman? Arman ga datang kemarin Om Jek."


"Lo gimana to, orang jelas-jelas saya nyapa, mobilnya mogok di dekat gapura terus jalan kaki, moso di bilang ga datang."


"Walah, Mba Kenya ngirain saya main-main, ngapain coba saya ganggu Mba Key pagi buta begini, saya soalnya mau masuk, jadi ga bisa lagi jagain mobilnya, mending sekarang hubungi Pak Arman biar minta orang beresin mobil itu, yo wis itu aja Mba Key, saya pulang dulu, masih ngantuk."


Key sampai lupa berterima kasih karena syok mendengar informasi yang di berikan Om Ojek. Ia segera menutup pintu, menuju kamar dan pastinya mengambil ponsel untuk menghubungi Arman.


Key menelan ludah kasar begitu suara operator yang kembali menyambut panggilannya.


***


"Pak, apa anda yakin?"


Untuk kedua kalinya Garut bertanya tentang kesungguhan atasannya. Jujur saja ia sebenarnya takut menyuarakan isi kepala yang mengganggunya itu. Sedikit tidak Garut mengetahui hubungan Arman dan Kenya karena beberapa kali dia diminta untuk membeli barang yang akan di berikan untuk Kenya. Arman juga pernah memesan makanan lewat delivery atas nama dirinya, dan itu untuk Kenya juga. Arman tidak bisa memakai namanya sembarang untuk hal semacam delivery order.


Bahkan kali ini Arman tidak mau repot-repot menjawab pertanyaan Garut.


"Aku berangkat dulu," Arman berdiri begitu jadwal keberangkatannya diumumkan, "jaga perusahaan baik-baik, kirim email setiap hari." Arman menatap kosong pada gerbang keberangkatan sebelum melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan, "bilang pada wanita itu," sepertinya ia tidak sudi menyebut nama Kenya, "aku membatalkan pernikahan, suruh dia untuk tidak mencariku, dan aku tidak mau tau lagi tentang dia."

__ADS_1


***


"Permisi," Kenya menyapa seorang resepsionis, "maaf, apa saya bisa bertemu dengan bapak Arman?"


Resepsionis itu tersenyum ramah pada Key, " Atas nama siapa?"


"Key, Kenya Panaringan."


"Apa sebelumnya sudah ada janji, Bu?"


"Tidak, saya belum membuat janji, tapi saya mengenal Bapak Arman, sebutkan saja nama saya, tolong." Suara Key sedikit memelas. Perasaannya tidak enak sejak mendengar informasi dari Om Jek.


"Maaf, bisa tunggu sebentar ya, saya konfirmasi dulu." Key menurut dan sedikit menjauh dari hadapan resepsionis itu. Ia memandang sekeliling dan melihat banyak orang berlalu lalang. Ajaibnya wanita hamil, Key harus mencari sandaran saat kepalanya tiba-tiba saja pusing hanya karena melihat orang yang lewat di depannya.


"Ibu Kenya Panaringan!"


"Iya."


"Mohon di tunggu sebentar, Pak Garut akan menemui anda, Ibu bisa menunggu di sofa."


"Oh, iya, makasih."


Key sedikit kecewa karena kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasinya. Dia mengira kalau Arman akan memintanya naik menuju ruangannya dan mereka akan bicara dengan nyaman di sana.


Key menunggu dengan tenang. Sesekali tersenyum pada orang yang melihat keberadaannya.


"Mba Kenya!"


"Eh, iya!"


Entah kemana pikiran Kenya tadi, sampai tidak menyadari seorang laki-laki telah berdiri di dekatnya. Kenya memandang belakang pria itu, berharap Arman muncul dari sana.


"Bisa kita bicara di pojok kopi itu?" Garut menunjuk sebuah ruangan yang di kelilingi kaca di dalam gedung itu.


"Arman mana?" Tampak jelas Garut salah tingkah saat Key menanyainya.


"Maaf, perkenalkan saya Garut, asistennya Pak Arman, saya akan menyampaikan pesan dari Pak Arman, jadi bisa kita bicara di sana?"

__ADS_1


Key melihat lagi pada ruangan itu dan Garut bergantian. Mungkin Arman sedang sibuk, itu yang terlintas di pikiran Key. Ia kemudian mengangguk.


__ADS_2