
Sudah empat puluh lima menit Arman duduk dia di sofa ruangannya. Pandangannya menatap kosong ke depan, wajahnya di topang satu tangan. Memorinya kembali memutar apa yang ia lihat tadi. Kenya di atas kursi roda. Keadaannya sedikit berbeda dengan Kenya yang dulu, dalam hal penampilan menurut Arman. Rambut Kenya di biarkan memanjang, setahu Arman Kenya tidak akan membiarkan rambutnya memanjang melewati bahu karena di dapur dia sering kepanasan dan tidak mau ribet. Wajahnya lebih tirus, kulitnya makin pucat, dan tubuh, Kenya lebih kurus, jauh lebih kurus dari saat mereka masih bersama dan Arman benci itu.
Di sisi lain,
Entah apa yang dipikirkannya sekarang, Garut bukan cenayang yang bisa menembus pikiran Arman, tapi Garut melihatnya kasihan. Jujur saja, Garut lebih suka Arman menyiksanya dengan perintah ini itu daripada harus melihat bosnya itu menjadi patung bernapas.
"Jadi," Garut memecah keheningan, "yang mana yang mau anda kerjakan lebih dulu?" tanya Garut. Ia berbicara sangat hati-hati karena takut semakin merusak perasaan Dewa Bos.
"Pesan lukisan Yogi pada Tika sebanyak enam kanvas, jangan menawar harga, dan minta persetujuan untuk makan malam dengan Yogi dan keluarganya. Bilang saja ada pengagumnya yang ingin bertemu."
Mulut Garut melebar karena terkejut mendengar jawaban Arman. Dia tidak menduga jawaban yang akan ia terima jauh melenceng dari perkiraannya. Maksud dari pertanyaan Garut adalah dokumen yang mana yang mau di baca Arman lebih dulu, tapi kepala sang Dewa Bos ternyata di penuhi dengan strategi kembali pada wanita pujaannya.
Garut cukup bingung dengan perintah yang satu ini. Dia sudah mengetahui informasi Yogi yang menjadi pelukis, tapi membeli enam kanvas sekaligus?
"Kapan saya harus memesan?" tanya Garut berusaha menepis wajah terkejut.
"Telpon saja sekarang!"
"Tapi, Tuan, Ini sudah jam sebelas malam, lebih." Balas Garut putus asa, untuk berurusan dengan Tika entah kenapa timing mereka selalu tidak saat jam normal.
"Sistem online melakukan penjualan dua puluh empat jam," kata Arman tegas.
"Tapi tetap saja ini jamnya orang beristi___"
"Garut!" ucap Arman penuh peringatan.
"Baik." Bos tidak suka mengulang perintah dua kali.
"Pesan atas nama Pici, Pici Bilbina."
"Nona Pici?" tanya Garut menegaskan.
"Pici penggemar lukisan Yogi, pesankan enam lukisan itu untuknya, reservasi restoran untuk kami, dua ruang privat. Kami akan makan malam, makan malam bersama di ruangan berbeda."
Enam lukisan untuk calon iparnya, Garut takjub dalam hati.
Garut masih belum tersambung dengan skenario yang di rencanakan Arman, tapi dia melakukan saja perintah atasannya itu. Jarinya kini sibuk membuka akun penjualan Tika, dalam sekejap ia melihat beberapa deret lukisan di dinding akun itu.
"Ada delapan lukisan, apa anda mau memilih?" tawar Garut, mungkin saja Arman memiliki selera tersendiri dalam hal ini. Namun, jika di lihat dari rupa lukisan, Garut tertarik dengan semua lukisan itu. Dia memang pekerja kantoran, tapi untuk urusan seni, terutama seni lukis, dia sedikit paham dan memiliki selera.
"Berikan ponselmu!" Garut menyerahkan handphonenya pada Arman. Tangan Arman mulai men-scroll layar dan mengamati satu per satu lukisan.
Mata Arman memandang jeli beberapa menit pada layar. Jauh, sangat jauh berbeda. Tehnik dasar yang dulu dia ajari pada Yogi jauh berkembang. Benar kata Hiban, kalau tidak memilkki passion dalam bidang itu, niscaya orang akan melihat lukisan Yogi hanya coretan tidak bermakna. Tapi di mata Arman, lukisan Yogi sangat unik, berbeda. Tangannya mulai memberi tanda, Arman bahkan mengabaikan harga yang tertera di bawah setiap lukisan.
"Aku memberimu kehormatan untuk pilihan terakhir," kata Arman sambil mengembalikan ponsel pada Garut. Garut menerimanya dengan senyuman.
"Setelah memesan lukisan itu, ajukan permintaan makan malam pada Tika, beri tahu aku jawabannya, terutama kalau dia menolak."
"Baik."
"Kalau kau sudah selesai, ayo mulai bekerja."
Mendengar kalimat Arman yang terakhir, Garut langsung saja kehilangan rasa senangnya. Senyumnya memudar. Siksaan di mulai.
***
"Mba mau sarapan apa?" tanya Cacung dengan suara lemah dan tidak bersemangat. Matanya terbingkai tanda hitam dan terlihat masih mengantuk.
"Kamu ga tidur atau gimana, muka sampai kucel gitu."
Iya Mba, kemari ketemu orang yang bikin Mba jadi kayak gini, jerit Cacung dalam hati. "Masih sakit perut Mba, ga sakit-sakit banget sih, cuma ga enak aja bikin susah tidur," kilah Cacung.
Cacung sebenarnya katakutan, harus menyimpan sendiri kejadian kemarin. Dia butuh seseorang. Dia harus bercerita. Ini masalah serius untuk Cacung. Arman sama dengan luka bagi Kenya meski dia tidak tahu detil hubungan mereka. Dan kedatangan Arman kembali pada Kehidupan Kenya tidak bisa ia prediksikan akan menjadi kebahagiaan atau kesakitan jilid dua dalam hidup wanita yang ia anggap kakak itu.
"Kalo gitu istirahat deh, Cung. Biar Mba yang bikin sarapannya." Cacung tidak menjawab. Ia melihat Kenya dan mendekati wanita itu. Tiba-tiba saja ia ingin memeluknya.
__ADS_1
"Mba," Cacung bersimpuh mensejajarkan diri, tak lama menghambur Kenya begitu saja membuat Kenya terkejut.
"Eh, kenapa ini?" tanya Kenya tidak mengerti dengan sikap Cacung, namun tetap membalas pelukan gadis itu.
"Mba, bahagia ga sekarang?"
"Kok nanya gitu?"
"Mba jawab aja."
"Kamu sakit beneran Cung?"
"Mba bahagia, kan?"
Kenya tergugu, menelaah sejenak pertanyaan Cacung. Menanyakan dirinya sendiri, mendalami perasaannya. Adakah rasa itu sekarang ia rasa? Atau rasa itu masih dalam genggaman seseorang?
Diamnya Kenya tentu membuat Cacung bisa menyimpulkan sendiri jawabannya.
"Mba, bahagia kok," dan kesimpulan Cacung berlawanan dengan jawaban Kenya. Meski begitu Cacung tetap tersenyum saat melepas pelukannya.
"Mba akan bahagia, sekarang atau nanti, Mba pasti bahagia," ujar Cacung masih dalam posisi bersimpuh dengan kedua tangannya mengenggam lembut tangan Kenya.
"Ga perlu pakai akan sekarang juga Mba udah bahagia kok, Cung. Kenapa bilang akan?"
Karena orang yang akan bikin Mba merasakan kebahagiaan itu sudah datang, tapi saya juga ga tahu perasaan saya benar atau tidak.
"Kenapa juga kamu pagi-pagi udah nanya Mba bahagia atau enggak, aneh kamu."
Cacung tidak menjawab, hanya memberi senyuman terbaiknya.
"Aku bikinin sarapan ya, mau bikin nasi goreng boleh?" katanya sambil kembali berdiri.
"Apa aja, terserah kamu, apa yang kamu masak pasti Mba makan."
***
Tadi malam Tika sudah memberi jawaban bahwa si pelukis tidak akan bisa memenuhi permintaan pembeli tentang makan malam sebagai bentuk ungkapan kekaguman penggemar untuk idolanya. Dan Tika dengan sangat tegas dan jelas mengatakan tidak bisa. Garut belum menyerah dan masih menerornya pagi itu.
***
"Apa jawabannya?"
"Sama seperti tadi malam, Tuan."
"Tak apa, biar aku yang urus, kembalilah ke mejamu."
Arman kembali memijit pelipis, kali ini di kedua sisinya. Kepalanya terasa penuh. Dokumen di depannya sedang berteriak minta di sentuh, Kenya masih berputar-putar di kepalanya dan tuntutan target pencapaian keuntungan yang ia janjikan pada para pimpinan perusahaan masih jauh dari jangkauan. Kepala Arman sepertinya sebentar kagi akan meledak. Ia harus melakukan sesuatu agar pikirannya lebih ringan.
Arman beranjak dari kursi kebesarannya. Langkahnya mantap menuju pintu. Garut yang duduk serius menatap komputer di mejanya segera menoleh mendengar suara pintu di buka.
"Kalau ada yang mencariku, bilang saja cari hari lain dan buatkan jadwal," pesan Arman pada Garut. Garut belum menjawab dan Arman meninggalkannya.
Dua puluh lima menit kemudian mobil Arman telah terparkir tepat di depan rumah Tika. Ia segera turun bertepatan dengan Tika yang membuka pintu rumah dalam keadaan rapi, bersiap pergi.
"Pak," sapanya gugup. Doanya agar Arman tidak datang lagi sepertinya belum lulus review.
"Saya," Arman diam mengoreksi, "kita harus bicara." Dan kata harus yang keluar dari mulut Arman berarti mustahil untuk di tolak. Tika tahu itu karena pernah bekerja padanya. Meski sudah tidak lagi menjadi atasannya, tetap saja aura mengintimidasi yang terpancar sekarang dari Arman mampu membuat kakinya lemas. Tika pasrah dan kembali membuka pintu untuk Arman.
"Kenapa Yogi tidak bisa memenuhi permintaan makan malam," kata Arman langsung ke inti kedatangannya. Bahkan sebelum bokongnya mendarat di atas sofa.
"Jadi Bapak yang... wah, saya sudah menduga sih sebenarnya."
"Jadi kenapa?" tegas Arman lagi.
"Mba Kenya...."
__ADS_1
"Tika!" suara Arman naik satu oktaf, Tika memutar mata.
"Nyonya Permana yang ga mau Pak, Mba Key ga bakal mau terlihat di depan umum."
"Kenapa?"
"Pak, yang benar saja pakai tanya kenapa, as you see, keadaan Mba Key, sori, Nyonya Permana gimana, dan Yogi yang sulit beradaptasi dengan tempat baru."
"Memang kamu sudah bilang tentang masalah ini?"
"Ya belum, tapi sejak awal memang ga pernah mau bersosialisasi, sama tetangga aja ga pernah saling lihat, cuma Cacung aja mungkin yang di kenal sama penduduk sana."
"Tika, saya minta tolong,"
"Hah?" sepertinya Tika harus membuat acara syukuran, untuk pertama kali seorang Arman meminta tolong padanya, "ya?"
"Saya harus bertemu Kenya, dengan cara yang pantas, kami harus bicara."
Memang setahun lalu cara bapak itu pantas, tinggalin Mba Key begitu saja. Ingin sekali Tika meneriakkan kalimat itu pada pria di hadapannya ini.
"Ini satu-satunya jalan yang terpikirkan oleh kepala saya, kamu akan mudah membuat alasan karena Pici memang penggemar Yogi, dia ingin bertemu," jelas Arman untuk menyakinkan Tika.
Tika menggeleng kepala, menandakan kemustahilan. Beberapa kali ia harus mengeluarkan desahan, merasa tertekan.
"Pak, hidup Mba Key sekarang udah tenang banget, Bapak tega mau bikin kacau lagi?"
"Saya yang akan menanggung semua kekacauan itu."
"Ga segampang itu Pak," sambar Tika setengah nyolot, "ga segampang itu saya bisa meyakinkan Mba Key."
"Tugas kamu hanya membawa Kenya dan Yogi ke tempat yang sudah saya tentukan, sisanya saya yang urus. Saya akan mengirim dua mobil untuk menjemput kalian."
"Dua mobil?"
"Satu untuk Cacung dan Yogi, sisanya untukmu dan Kenya. Kita akan makan di tempat yang sama, tapi di ruangan yang berbeda."
"Pak, Bapak sudah memikirkan efek dari pertemuan ini? Akibatnya terhadap Nyonya Permana, buat hubungan saya dengan beliau, perasaan Mba Key nantinya?" cecar Tika sedikit geram. Dia mati-matian menahan diri agar tidak berteriak marah.
"Saya pastikan Kenya tidak akan menyalahkan kamu, dan hubungan kalian tidak akan rusak. Untuk perasaan, saya ingin memperbaiki kisah kami jika Kenya mengizinkan."
***
"ENAM? ENAM MBA TIKA? MBA TIKA GA SALAH?" Cacung berteriak heboh.
"Engak salah Cung, enam lukisan tanpa potongan harga, keren ga?"
"Wow, wow, wow."
Kenya tertawa geli melihat ekspresi Cacung. Mereka sedang berkumpul di ruang tamu mungil di rumah Kenya. Tidak ada kursi atau sofa. Mereka duduk di lantai beralaskan karpet tipis. Di tengah mereka, sudah tersaji pisang goreng andalan Cacung.
"Hasil penjualannya cukup ga Mba Tik buat depe rumah?" tanya Cacung dengan polosnya.
"Hush, ngawur kamu. Jangan Tik. Mungkin buat depe cukup, tapi gimana setoran-setoran berikutnya, ga setiap hari lukisan Yogi laku enam juga kan?"
"Aku sih oke, Cung, Bos kita nih yang ga oke," jawab Tika sambil mencomot satu pisang goreng.
Jujur saja, kegiatan makannya itu untuk mengurangi rasa gugupnya sebelum memberi tahu inti kedatangannya.
"Sayang ya Mba, kita ga sesekte sama si Bos," sindir Cacung jahil.
"Kumpulin dulu aja deh, Mba mau beli kes, biar ga ngutang."
"Aduh Mba, itu sepuluh tahun lagi masih belum mungkin lho," balas Cacung lagi, jadi kompor.
"Ya, kapan cukupnya, Mba ga mau pusing sama tagihan, Mba ga bisa kerja kayak dulu, lagian ga adil hasil jerih payah Yogi di habisin semua buat beli rumah baru, barangkali Yogi punya keinginan lain." Kali ini Kenya memilih bersikap bijak.
__ADS_1
"Mmm, Mbak!" setelah lama berpikir, Tika rasa ini saatnya, "gini Mba, masalah enam lukisan yang laku, pembelinya ingin meminta waktu untuk bertemu dengan Yogi dan keluarganya dalam bentuk makan malam, gimana Mba, bisa?"
ig:@amin.lia