Insane

Insane
13


__ADS_3

Kenya merasakan sensasi dingin karena hembusan udara di bahunya, tapi tidak di bagian tubuhnya yang lain. Kenapa?


Kesadaran yang masih melayang, rasa kantuk yang masih kental di tambah tubuhmya yang terasa "lelah" membuat Kenya belum mampu mengumpulkan keping kesadaran. Otaknya masih malas untuk mulai bekerja.


Suara gemercik air di kamar mandinya yang kecil mulai terdengar. Padahal sebelumnya tidak ada suara itu. Otak Kenya mulai bekerja, di paksa karena mendengar aktivitas di dalam kamar mandi. Pelan ia meraba tubuhnya di balik selimut, tidak berlapis benang sehelai pun.


Kesadarannya mulai berkumpul. Penggalan-penggalan kejadian semalam mulai berputat di kepalanya. Di awali aktivitas mereka di sofa, kemudian Arman menggendongnya ke kamar, membuka satu per satu baju tidur yang ia kenakan, kemudia gelora gairah mengambil alih yang membuat mereka tidak bisa berhenti untuk saling memuaskan. Wajah Kenya memanas mengulang kejadian itu. Astaga, apa yang terjadi dengannya?


Dia melakukannya dengan Arman. Dengan sadar. Sesadar-sadarnya. Tanpa ada paksaan. Tanpa keraguan. Arman sempat menawarkan untuk berhenti, tapi Kenya yang sudah di kuasai gelenyar tak tahu diri menolak, mensilakan Arman melanjutkan apa yang tidak seharusnya di lakukan. Kewarasannya hilang, di kuasai gairah. Gairah yang lama tidak ia rasakan. Brengsek.


Kenya terbangun dengan perasaan malu setengah mati. Dia merasa seperti wanita murahan simpanan pria hidung belang. Puluhan kali ia mengumpat tanpa suara. Mengutuk dirinya dengan kata-kata buruk. Mencaci-maki perbuatannya yang malah terpancing dengan perbuatan Arman semalam.


Ia mengingat kembali bagaimana perlakuan pria itu. Bagaimana Arman memperlakukannya dengan penuh kasih dan memuja. Pada bagian itu, Kenya mengingatnya dengan tersenyum. Gila. Dia dan Arman sama gilanya semalam.


Pitu kamar mandi yang berjarak satu meter dengan posisi Kenya sekarang membuatnya harus bertatapan langsung dengan siapa saja yang membuka pintu itu.


Pandangan mereka bertemu. Arman melihat wajah Kenya ketika bangun tidur. Pria itu memberi senyum terbaiknya. Wajah Kenya memanas karena malu. Buru-buru tangannya menutup wajah dengan selimut. Arman mendekat.


"Kenapa di tutupi? Aku suka melihat wajah wanitaku di pagi hari, ayo buka!"


Kenya menggeleng di balik selimut. Dirinya bergerak membelakangi Arman yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur. Kenya mengeratkan jarinya menahan selimut itu agar tetap melindungi wajahnya yang merah. Dia benar-benar malu berhadapan dengan Arman sekarang.


Meski tertutup Arman terus saja melakukan apa yang dia inginkan pada Key. Dia menuju kening wanitanya, menciuminya lama meski terhalang lapisan kain.


"Jangan merasa rendah dengan apa yang kita lakukan semalam. Aku juga merasa ingin. Menginginkanmu lebih dari apapun. Sejak kapan? Aku juga tidak tahu."


Arman mendesah pelan.


"Kenya Panaringan, aku pria posesif. Dan sekarang kau wanitaku. Aku akan melindungimu dengan caraku. Dan secepatnya kita akan menikah. Mengerti?"


Key tidak berani mengeluarkan satu katapun dari bibirnya. Tidak mengiyakan, tidak juga menolak.


Meski tidak ada jawaban, Arman tahu persis Kenya mendengarnya.


Jantung Kenya bertalu-talu mendengar kata-kata Arman. Dia tersanjung oleh pria itu. Tidak ada nada keraguan sedikitpun saat Arman mengucapkan kata-katanya. Membuat Kenya besar kepala.

__ADS_1


"Aku akan keluar, bersiaplah, akan kubuatkan sarapan yang enak." Satu kecupan lagi mendarat di puncak kepala Kenya.Hatinya berbunga-bunga mendapat perlakuan seperti itu.


Terdengar langkah Arman menjauh, suara pintu di buka, "jangan lupa bernapas di dalam!" kemudian pintu di tutup kembali.


Sempat-sempatnya Arman meledek sebelum meninggalkannya.


***


Arman membuka lemari es, melihat bahan makanan yang tersedia di sana. Ada sewadah kecil sambal yang sudah di goreng, beberapa kotak sereal, susu, telur, sayuran di boks bawah, buah yang sudah di kupas dan di simpan dalam wadah plastik transparan, dan bumbu-bumbu mentah yang perlu di simpan di tempat yang dingin.


Arman berpikir membuat sesuatu yang sederhana, yang lazim di buat untuk menu sarapan. Tangannya mengarah tempat lain, mencari bahan yang ia butuhkan. Pilihannya jatuh untuk memnuat penekuk buah.


Untuk membuat menu ini, Arman cukup percaya diri. Dia sangat menguasainya dan Arman menemukan terigu yang ia cari.


Dengan gerakan gesit dan teratur, Arman menyiapkan bahan-bahan yang ia perlukan. Meletakkan semuanya di meja dapur untuk memudahkannya saat mengolah. Alat-alat yang ia perlukan juga tersedia di sana. Semua akan berjalan lancar.


Matanya mengarah pada jam yang menempel di dinding. Lima belas menit lagi sebelum Yogi bangun. Arman bergegas. Tangannya beraksi mengolah bahan yang ada.


Dia sudah hapal beberapa jadwal keseharian Yogi, termasuk jam berapa anak itu akan bangun dan meminta sarapan.


***


Sekarang wajahnya tertutup telapak. Bagaimana nanti jika dirinya bertemu Arman di luar. Pria itu pasti masih di dapur membuat sarapan untuk mereka. Rasanya Kenya ingin menghilang saja, menembus waktu di kamar itu agar tidak perlu berhadapan dengan Arman. Tapi suara perutnya menginterupsi keinginan mustahil Kenya. Dia....lapar.


Suara ketukan terdengar dari luar, "Key, ayo sarapan!"


Ragu Kenya membuka suara, "i-iya, sebentar."


Kenya makin frustasi, menjambak rambutnya sendiri.


"Bodoh bodoh bodoh." Umpatan untuk dirinya.


Kalau dirinya berlama-lama lagi, Arman pasti akan menjemputnya ke kamar, tapi kalau dia keluar rasanya juga tidak sanggup menahan malu pada pria itu.


"Tenang Key, santai saja, anggap ga terjadi apa-apa, dia cuma Arman." Kalimat itu di ulangnya sebanyak tiga kali. Setelahnya Kenya benar-benar keluar menampakkan batang hidungnya pada Arman.

__ADS_1


***


Ada pan cake, buah, susu, sereal, dan madu. Semua tertata dengan baik di atas meja. Hidup sendiri di negeri orang bertahun-tahunmembuat Arman mempelajari sendiri bagaimana tata cara melakukan pekerjaan rumah yang lazimnya di kerjakan wanita.


Pria itu seperti tanpa cela, dan multi talenta. Kaya raya, baik, ganteng, mandiri, dan bisa melakukan pekerjaan rumah. Terlebih lagi Arman seorang gentleman, pria itu lebih dulu mengungkapkan perasaannya pada Key. Apalagi yang di cari Kenya? Tidak ada alasan untuk menolak Arman.


Yogi sudah duduk manis di kursinya. Anak itu memilih sereal rasa coklat untuk sarapan. Arman duduk di kursi paling ujung, layaknya kursi yang ditempati seorang yang berkedudukan sebagai kepala keluarga.


Mata Kenya langsung terkunci oleh tatapan Arman. Pria itu menganga, melihat pemandanga tak biasa pagi itu. Jika berada di rumah, maka yang di lihatnya pertama kali adalah Jali, asisten rumah yang mengurusi semua keperluannya.


Dan sekarang, untuk pertama kali dalam dua puluh sembilan tahun usianya, dia melihat wanita yang ia cintai, keluar dari kamar dengan rambut basah yang tergerai, dan wajah yang segar sehabis mandi.


Kenya masih mematung. Ia tahu Arman melihat rambutnya yang masih basah.


"Hair drayerku rusak, aku lupa..."


"Yogi, sarapan sendiri dulu ya, Om mau ngomong sebentar sama Mama." Potong Arman cepat. Kenya bahkan belum selesai bicara. Ia terkejut dengan permintaan Arman pada Yogi.


Kenapa?


"Ayo!" Arman menarik tangan Kenya kembali ke kamar, dirinya tak sempat menolak karena Arman yang terlampau gesit.


Tanpa bicara Arman menyatukan bibir mereka detik itu. Kenya terperangah. Arman menciumnya secara tiba. Merasa takut Kenya mengeratkan bibir. Arman menjauh.


"Balas...balas ciumanku!" Nada bicara Arman terdengar bossy dan tidak ingin di bantah.


Arman menyatukan kembali bibir mereka. ******* lembut bibir Kenya. Dan terhipnotis pesona lelaki itu, Kenya membuka mulutnya, memberi Arman ruang menjelajahi bagian dalam miliknya.


Terhanyut, kaki Kenya melemas. Tangannya melingkari Arman tanpa melepaskan pagutan. Tidak ada yang ingin berhenti. Ciuman itu sudah terjadi tiga menit dan masih berlangsung.


Hingga di satu masa, mereka kehabisan napas dan refleks melepaskan diri.


Arman menyungging senyum. Napas mereka berlomba mengambil udara sekitar.


"Aku...ingin melakukan ini...denganmu...setiap hari."

__ADS_1


__ADS_2