Insane

Insane
30


__ADS_3

Arman terus saja melihat pada ponsel yang membisu di tangannya. Tidur yang sebenarnya tidak nyenyak sepertinya tidak menjadi pengaruh bagi Arman untuk bangun saat matahari masih menyinari bagian dunia yang lain. Arman terjaga jam tiga pagi padahal tidurnya tidak pulas sama sekali.


Ponselnya menunjukkan foto sebuah lukisan yang di buat Yogi. Dia meminta Hiban mengirimnya semalam. Banyak rasa yang muncul saat perhatian Arman tertuju pada foto itu. Senang, bangga, terharu, sedih, kecewa, sesal.


Yogi, yang ia kenalkan pada seni menggerakkan kuas itu dalam waktu sehari ternyata bisa menghasilkan karya bernilai tinggi. Kenyataan itu membuat Arman senang, bangga dan terharu. Ia menemukan hal sedikit hal positif dari dirinya untuk Key. Namun kenyataan lain juga menghantam pikirannya. Tika sampai harus menjadi perantara untuk menjual lukisan Yogi, artinya kehidupan Kenya bergantung pada hasil penjualan lukisan itu. Apa mungkin kalau lukisan Yogi tidak laku, Kenya akan kesusahan memenuhi kebutuhan pokoknya? Bagaimana wanita itu menyambungkan hidupnya setiap hari dalam keadaannya yang tidak mampu berjalan? Memikirkan semua itu membuat dada Arman sesak tak berkesudahan. Akibatnya, rasa sedih, kecewa dan sesal muncul untuk dirinya sendiri.


Mengutuk dirinya seumur hidup mungkin tidak cukup untuk meringankan dosa Arman terhadap Kenya. Apalagi jika ia mengingat Kenya hamil anaknya dan keguguran juga karena ulahnya, membuat dada Arman berdenyut sakit. Seperti telapak tangan raksasa menggenggam jantungnya dan meremas perlahan. Arman terpuruk.


Harusnya, dirinyalah tempat Kenya bergantung. Andai dia tidak gegabah membatalkan pernikahan, Arman akan menjadi penafkah Kenya dan menjamin wanita itu tidak kekurangan apapun.


Semoga, semoga hari ini jalannya bertemu Kenya di buka oleh Tuhan. Semoga hari ini usahanya membuahkan keajaiban meski baru ia mulai kemarin. Garut sudah mengirim seseorang untuk mengawasi Tika kemanapun ia pergi. Ah, andai saja pertemuan itu tidak terlanjur di jadwalkan hari ini, Arman sendiri yang akan mengawasi Tika, menguntitnya kemanapun wanita itu beranjak, kecuali kamar mandi.


Urusan kantor juga tidak mungkin Arman sepelekan. Di tangannya bergantung ribuan nyawa. Hari ini telah dijadwalkan dirinya bertemu dengan para pimpinan perusahaan dan Garut sudah mengingatkannya beberapa kali. Sudah pasti yang akan di bahas keputusan mendadaknya kembali ke tanah air. Hiban sudah di genggamnya. Kini tinggal meyakinkan para suhu perusahaan itu bahwa semua akan baik-baik saja, aman terkendali.


"Kita akan bergemu, sebentar lagi."


Gumaman itu menjadi akhir Arman memandangi foto lukisan Yogi. Tekadnya makin besar untuk menebus semua kesalahannya dulu. Dia akan mengejar lagi cinta yang pernah ia lepas, meski kemungkinan gagal lebih besar dari keberhasilannya. Dia tidak akan pergi sebelum Kenya memaafkannya, ah, tidak, salah, dia tidak akan pergi sebelum Kenya menjadi miliknya lagi.


***


"Mba, dingin-dingin gini aku masak yang berkuah ya?"


Kenya yang sedang mengoles selai pada selembar roti menoleh pada Cacung yang sedang memeriksa isi kulkas mereka.


"Boleh tu, Mba juga kangen yang pedes-pedes dan berkuah." Key membalas bersemangat. Cacung baru meminta dan dia sudah membayangkan sensasi makanan berkuah itu.


"Soto mau ga Mba, pakai bakso?"


"Ga ribet tu?"


"Baksonya beli yang udah mateng sih Mba, banyak kok di pasar."


"Iya deh, barangkali Yogi juga mau, tapi beli daging juga buat kaldunya, pilih daging segar, jangan mau di kasih yang beku."

__ADS_1


"Sip, Mba. O iya, tadi Mba Tika kirim pesan katanya mau datang, dia nanyain Mba ada yang mau di pesan atau enggak. Lukisan Yogi yang katanya diintai dua kemarin jadi laku."


"Oya? Mba jadi bingung siapa sih sebenarnya yang hebat di sini, Yogi yang ngelukis atau Tika yang pintar jualannya."


"Iiih, Mba mah gitu, jelas Yogi lah, wong aku selalu perhatiin gizinya dia, jadi bikin Yogi tu semakin mahir."


Kenya tertawa-tertawa saja mendengarnya. Tapi memang benar, Cacung menjaga mereka dengan baik. Gadis itu sampai lupa merawat dirinya demi menjaga Kenya dan Yogi.


"Bilang sama Tika Mba ga pesan apa-apa, Mba udah banyak ngerepotin kalian, Mba takut nanti tidak bisa membalasnya." Key akan berubah sendu jika mengingat orang-orang yang berkorban untuknya.


Key sangat merasa keterbatasannya kini membuat repot orang-orang di sekitarnya. Sangat merasa dia menjadi beban karena kelumpuhannya menarik perhatian Cacung, Tika dan semua karyawannya. Andai dirinya tidak mengalami hal itu, tentu mereka akan hidup terpisah-pisah sekarang. Mungkin sesekali akan berkomunikasi, tidak sampai Cacung tinggal bersamanya. Atau Wajik Merah akan tetap berdiri dan menjadi penopang kehidupannya.


"Nah kan, nah kan, mulai lagi," tegur Cacung pada Key, "kata orang hidup itu pilihan Mba, jadi ini pilihan kami, tetap dekat sama Mba, jangan jadi baper, nanti Mba cepat tua." Oceh Cacung menyelipkan canda, bermaksud agar Kenya tidak mengungkit kesedihannya lagi.


"Emang udah tua, Cung."


"Siapa bilang tiga puluh tu udah tua? Kalau Mba mau dandan dikit, beuh," Cacung berbicara dramatis, "banyak deh yang jatuh berceceran."


"Beneran deh Mba. Serius aku tu."


"Sudah, jangan di bahas, Mba udah punya Yogi! Kamu aja belum nikah."


"Yah, Mba. Kita bahas Mba Key, bukan aku. Aku mah kaum seventeen forever."


"Mba juga kaum older sooner, mending masak yang bener deh, daripada bahas beginian."


Cacung tertawa geli mengingat obrolan mereka yang tidak bermutu.


"Nanti aku ke pasar agak lama, soalnya banyak stok yang habis, Mba. Mba Tika katanya mau datang jam sepuluh."


"Iya, nanti biar Mba yang tungguin."


***

__ADS_1


Arman menjadi orang yang paling pertama keluar dari ruang rapat tempat pertemuannya dengan para petinggi perusahaan. Dia berjalan cepat diikuti Garus di belakangnya.


Para petinggi itu tidak cerewet lagi begitu Arman mengumumkan rencana dan kenaikan target profit perusahaan. Jika dijanjikan dompet yang semakin tebal, kumpulan pria perlente berotak matre itu akan bahagia hingga mereka akan malas bicara dan menentang Arman.


"Apa jadwalku setelah ini?" Garut sigap membuka catatannya mendengar pertanyaan Dewa Bos.


"Tidak ada, Tuan. Hanya dokumen menumpuk yang menunggu anda di ruangan."


"Aku akan ke rumah sakit." Garut di buat melotot mendengar pernyataan Arman. Dewa Bos sakit dan dia tidak tahu? Asisten macam apa dirinya.


"Apa anda sakit? Kenapa anda tidak memberi tau saya? Saya akan mencarikan dokter atau membuat janji temu dengan dokter sesuai keluhan anda Tuan, saya akan mendatangkan sendiri dokternya ke sini, tidak perlu anda yang ke rumah sakit," oceh Garut dalam satu tarikan napas, vokalnya sudah terlatih sepertinya.


Garut, pria itu bukannya merasa senang dia akan bebas sementara dari siksaan perintah Arman, dia malah tidak merasa berguna saat ini.


"Aku tidak sakit Garut."


"Jadi, untuk apa ____?"


"Aku akan mencari tau catatan medis Kenya."


Kepala Garut terkoneksi, baik, ini masih tentang cinta Dewa Bos yang hilang.


"Anda bisa meminta saya untuk mencari tahu."


"Aku tau Garut, kau bisa diandalkan, kau menutupi kekuranganku, kau asisten kelas kakap terbaik sejagat raya, tapi untuk masalah ini, aku harus mencari tau sendiri," karena kalau ada orang lain lagi yang tau Kenya pernah mengandung anaknya, wanita itu akan di kejar pemburu berita.


Lagipula Arman ingin berbicara sendiri dengan dokter yang pernah merawat Kenya. Mencari tahu sedetil-detilnya apa saja yang wanitanya alami.


Mereka berhenti tepat di depan pintu mobil Arman.


"Aku tidak akan lama, aku akan kembali segelah jam makan siang."


Ig: @amin.lia

__ADS_1


__ADS_2