
Kenya menatap heran pintu toko yang tertutup dengan tulisan close di depannya. Saat itu masih siang, belum waktunya toko di tutup. Kenya merogoh ponselnya di dalam tas, menghidupkan layar dan melihat notifikasi panggilan dari manajer toko.
"Ada apa ini?" iapun segera menghubungi manajernya itu, panggilannya di terima.
"Kenapa toko di tutup, ada apa?" sambarnya langsung.
"Mba lagi di mana? Kita lagi di dapur, saya jelaskan nanti."
"Saya sudah di depan, buka pintu samping saja," perintah Kenya.
Dalam hitungan menit Kenya sudah ada dalam satu ruangan dengan para karyawannya. Terlihat Cacung dan Gocen memasukkan kotak-kotak berisi kue yang sudah siap di antar. Sementara Erwan, manajer dan Kenya berbicara di sudut yang lain.
"Apa yang kamu lakukan sudah tepat Manajer, terima kasih sudah mengatasi masalah genting ini dengan baik, sekarang tinggal customer itu mau menerima isi tambahan kue yang sudah kita siapkan atau tidak. Mungkin akan sedikit sulit, karena pesanan awal isinya berbeda dengan yang tambahan. Untuk masalah ini saya akan turun tangan. Bu Manajer atasi toko saja, saya dan Erwan yang akan mengantar pesanan. Kita bagi tugas."
Mereka bersepakat dan segera melakukan tugas masing-masing.
"Ayo, masukkan kuenya ke dalam mobil!" para karyawan bergerak cepat memindahkan plastik berukuran jumbo berisi kotak-kotak kue ke dalam mobil toko. Setelahnya Erwan menyusul masuk dan segera berangkat.
Untuk sesaat Kenya melupakan peristiwa pertemuannya dengan Bani. Perhatiannya kini berpusat pada komentar istri pejabat yang akan dia dengar.
Mereka akhirnya tiba di lokasi tiga puluh menit sebelum acara itu di mulai. Beberapa asisten rumah tangga membantu memindahkan kotak-kotak kue itu ke dalam rumah. Kenya berhadapan langsung dengan sang nyonya rumah.
"Kenapa bisa begitu? Kenapa isi tambahannya berbeda?" tanya istri pejabat.
"Kami sudah membuat jumlah lebih untuk setiap jenis kue yang Ibu pesan, tapi di luar dugaan, jumlah tambahan yang Ibu minta melebihi jumlah kue yang tersisa. Untuk masalah itu atas nama Wajik Merah, saya minta maaf, tapi saya berani menjamin rasa dari kue-kue di kotak tambahan tidak kalah dengan kue pesanan awal. Kami selalu menjaga kualitas dan rasa kue-kue yang kami produksi."
"Begitu ya," istri pejabat itu menganggukkan kepala. "Bagaimana dengan harga?"
Kenya sudah menduga sebelumnya, ujung dari pembicaraan itu adalah masalah harga. Lama bergelut di dunia kuliner itu, ia fasih cara mengatasi masalah ini meski bukan negosiator profesional.
"Masalah itu, terus terang bu, harga kue untuk kotak tambahan berbeda dengan harga kue pesanan awal, semuanya sudah di tuliskan di nota pembayaran." jelas Kenya.
"Kenapa yang tambahan lebih mahal?"
Sesuai perkiraan Kenya, menghadapi istri pejabat ini akan sulit.
"Untuk kotak tambahan kami memilihkan kue yang sepadan dengan kue pesanan awal karena kue yang masih tersedia di toko hanya beberapa jenis. Kami bisa saja mengemaskan kue yang lebih murah namun tentu kualitas rasa tetap baik, tapi mengingat andalah yang menjadi tuan rumah acara ini, tentu konsumsi yang anda sajikan kepada tamu penting anda bukan jajanan yang biasa-biasa saja, saya memikirkan bagaimana nanti anda akan menjadi bahan omongan jika kami memberikan kue yang biasa-biasa saja."
Istri pejabat itu tersentak, tidak menyangka Kenya akan mengingatkannya untuk hal sepenting itu.
"Apa ibu tidak malu nantinya? Gengsi lah bu, anda harus menjaga nama baik dan citra anda bukan, saya sangat memahami itu." ucap Kenya penuh kemenangan. Ia yakin sekarang istri pejabat itu akan membayar penuh kue-kuenya tanpa meminta potongan harga.
__ADS_1
***
"Gimana mba?"
"Di komplain ga kita?"
"Mba Key di marahin ya?"
Kenya di cecar pertanyaan begitu menampakkan diri di toko yang saat itu sudah sepi.
"Memang siapa yang berani marahin mba?" tanya Kenya berjalan angkuh yang di sengaja. Erwan muncul di belakang Kenya dan semua menatapnya.
"Wan?" tanya Gocen tak sabar.
Lambat-lambat Erwan mengangkat tangan dengan telapak terkepal, beberapa detik kemudian dua jari jempolnya muncul, "Su....k..see....s." teriaknya girang.
Semua yang ada di sana ikut berteriak kegirangan. Gocen dan Cacung melompat-lompat, Manajer Tika melipat ke dua tangan di depan dada penuh syukur, Kenya hanya tertawa melihat tingkah para karyawannya.
"Tenang, kita di bayar penuh, tanpa potongan harga sepeser pun."
"Wow, mba Key keren."
"Siapa bilang saya hebat, yang hebat itu Manajer kita, terima kasihnya sama beliau."
"Wah ga juga mba, mungkin saya bakal kalah kalau saya yang nego," sela sang Manajer.
"Oke, sekarang beres-beres deh, kalian boleh pulang cepat, hari ini kalian sudah bekerja keras, dan silahkan ambil beberapa jenis kue untuk di bawa pulang, oke!'
Suasana semakin riuh, canda tawa bersahut-sahutan di toko itu. Kenya tersenyum puas. Untuk sesaat dia ikut hanyut dalam euforia kebahagiaan.
***
"Masak apa Key?" tanya Kinan saat melihat Kenya telah berkutat di dapur saat hari belum petang.
"Gurame asam manis, cah kangkung, sama tempe bacem."
"Baunya enak."
"Tinggal di siapin Ma, udah matang semua."
Kinan membantu Kenya menata meja untuk makan malam. Masakan sederhana ala rumahan adalah menu sehari-hari mereka.
__ADS_1
"Tadi Yogi gimana di terapi?" tanya Kenya saat memindahkan masakannya dari dapur ke meja makan.
"Dia banyak kemajuan, Mama bangga dan optimis Yogi bisa seperti anak-anak yang lain." Kinan menatap Kenya sembari duduk, "Kamu bagaimana?"
"Aku? Aku baik ma, tadi agak sibuk, orderan hari ini lumayan."
"Maksud mama hati kamu, baik-baik saja atau kamu masih marah dengan Yuni dan Parhan?"
Kenya menghentikan aktivitasnya menata meja, "Aku..."
"Kamu sudah tahu yang sebenarnya, semua tidak seperti yang kamu pikirkan kan? Berdamailah, tidak ada gunanya terus-terusan marah."
"Key ga marah Ma, cuma, Key kecewa sama mas Parhan."
"Sama saja, imbasnya kamu ga juga ramah sama Yuni."
"Dia pantas di sikapi begitu."
"Key, dia hanya menolong Parhan saat kamu lalai, dia membantu Parhan mengatasi Yogi saat kamu mengingkari keadaan Yogi."
"Ma, mas Parhan yang tidak mau lebih keras meyakinkan aku, terus dia kembali lagi ke cintanya yang dulu, ke Yuni, padahal kalau dia bicara lebih dalam lagi aku pasti ngerti."
"Bertahun-tahun lho Key dia berusaha ngomong sama kamu."
"Ma, bisa kita ga bahas masalah ini sekarang?"
"Baik, kalau begitu kita bahas mantan manajer kamu itu saja."
Kenya melontarkan pandangan menyelidik, apa yang sedang dipikirkan Mamanya saat ini?
"Arman cuma teman kalau mama penasaran." jawab Kenya sebelum sang ibu bertanya lebih jauh.
"Mama kok ga yakin, sepertinya pendapat kita berbeda."
."Maksud mama?"
"Mama yakin dia punya maksud lain sama kamu."
Kenya membisu, orang tuanya ini sangat bisa membaca gerak-geriknya, tingkah laku orang lain apalagi.
"Mama ga keberatan kalau kamu mau dekat dengan seseorang."
__ADS_1