Insane

Insane
29


__ADS_3

Key kembali melihat pada gambar calon bayinya. Entah kenapa sejak kejadian Cogy menyebut nama Arman tanpa sengaja, ia kembali di bayangi pria itu. Apa yang terjadi setahun lalu masih menjadi misteri bagi Kenya pribadi. Arman yang tiba-tiba saja memutuskan hubungan dan Key tidak tahu alasannya. Di mana letak kesalahannya? Apa sangat fatal hingga Arman tidak mau mendengar suaranya?


Hanya gambar itu yang bisa menghubungkannya dengan Arman. Ah, Arman. Bagaimana kehidupan pria itu sekarang? Pasti jauh lebih lebih baik dari dirinya.


Kenya mengenal pria itu sebagai pria yang teratur dan rapi. Tidak mungkin hidup Arman akan berantakan hanya karena mereka berpisah. Mungkin di sini hanya dirinya yang kesakitan dan patah hati.


Jika memang dia bahagia, Kenya rela memaafkannya, menelan kenyataan pahit ini, karena untuk sesaat dia memang pernah benar-benar jatuh cinta pada Arman. Jika bahagia Arman adalah tanpa dirinya, tak mengapa, Kenya akan pergi selamanya dari kehidupan pria itu. Kenya yakin dirinya akan baik-baik saja, asal Arman juga tidak kembali dalam kehidupannya. Itu saja.


***


"Garut, kau di mana sekarang? Apa? Hentikan acara makanmu dan cepat temui aku di rumah, lima belas menit, aku tunggu."


Arman menutup panggilan dengan tangan gemetar. Ia masih tidak menyangka akan menemukan petunjuk keberadaan Kenya secepat ini, sedekat ini. Petunjuk yang ia dapat dari sepupunya yang menyebalkan. Ia sampai lupa berterima kasih pada Pici saking senangnya. Lain kali dia akan memberi ucapan terima kasih dengan membeli enam buah lukisan Yogi untuk Pici. Wanita itu membeli tiga lukisan Yogi sekaligus, maka Arman akan memberikan dua kali lipatnya.


Arman menengok pada jam yang ia kenakan. Baru lima menit waktu yang terlewat sejak dia menutup panggilannya pada Garut. Kenapa waktu terasa berjalan sangat lama? Dia memberi waktu lima belas menit pada Garut untuk tiba di rumahnya. Harusnya sebagai seorang profesional kelas kakap Garut melakukan extra miles dengan tiba di menit ke lima.


Kaki Arman bergerak cepat naik turun menahan gugup. Tangannya di letakkan di atas lutut, kedua telapak menakup menopang dagu. Banyak tanya yang muncul. Banyak dugaan yang datang. Rasa kesal juga menyapanya karena Tika tidak mengatakan yang sebenarnya, tidak mengatakan semua yang ia tahu. Nyatanya, Tika mengetahui dengan pasti di mana Kenya dan Yogi sekarang, artinya dia berbohong saat Arman bertanya waktu itu.


"Sial, kenapa lama sekali?" Arman mengumpati asistennya di menit ke delapan ia menunggu. Kenapa Garut tiba-tiba bertingkah seperti siput?


***


Di rumahnya, Garut baru saja selesai merebus mi instan untuk makan malamnya. Pekerjaannya hari ini benar-benar menyita wakatu dan tenaga. Baru dua hari Dewa Bos turun ke bumi dia sudah di buat kewalahan. Setahun belakangan waktu makannya sangat teratur, dia juga mengkonsumsi makanan sehat setiap kali bersantap. Tapi dua hari ini kebiasaan itu seperti kemustahilan. Arman terus saja menerornya.


Demi mengefisienkan waktu, malam itu ia memutuskan merebus mi instan saja. Untuk memasak tidak mungkin, opsi delivery dia merasa malas. Tubuh yang lelah dan mata yang mengantuk tidak akan tahan jika harus menunggu makanan delivery lagi. Maka opsi mi instan adalah pilihan bijak. Garut baru menyendok dua kali mi instan yang masih mengepul saat ponselnya berbunyi dan id Dewa Bos terlihat di layar. Dia sudah menduga, siksaan akan datang. Benar saja, Arman memintanya datang ke rumah.


Garut menyendok sekali lagi mi yang baru matang itu dan melesat pergi meninggalkan apartemennya.


***

__ADS_1


"Empat belas menit Garut, apa saja yang kau lakukan? Apa kau mengendarai kura-kura? Apa kau lupa cara menyetir?" semprot Arman pada Garut begitu asisten muncul di ambang pintu.


"Maaf, Tuan. Saya tadi terjeb___"


"Sudah-sudah, aku sedang tidak ingin mendengar alasanmu."


Anda memang tidak pernah mendengar alasan saya Tuan, anda selalu memotong ucapan saya.


"Tika, manusia itu tau dimana Kenya," kata Arman penuh emosi, sampai lupa kalau Tika adalah manusia berjemis kelamin manusia.


"Tapi bukannya___"


"Dia berbohong."


"Bohong?" tanya Garut dengan nada terkejut tak percaya.


"Dia menjadi perantara Yogi untuk menjual lukisannya, mereka pasti masih berhubungan."


"Mungkin kau tidak memperhatikannya, lukisan di ruang tamu Tika di lukis oleh orang yang sama. Di pojok kanan bawah lukisan itu ada inisial nama pelukisnya. Bukan nama, tapi huruf, inisial berbentuk huruf Y. Pacar dari sepupuku juga membeli lukisan dengan inisial yang sama. Huruf Y, Yogi."


"Maaf, Tuan. Tapi bisa saja inisial Y itu berarti nama lain, Yudha, Yudy, Yaris, ada banyak kemunkinan."


"Aku tau Garut, kau meragukanku, aku sering gegabah, berpikiran pendek, terlalu cepat mengambil kesimpulan. Iya, memang begitulah diriku. Entah bagaimana ceritanya aku bisa memimpin sebuah kantor dengan kemampuan seperti itu. Tapi kali ini tidak, aku yakin, sangat yakin bahwa Y adalah Yogi." Arman membuang napas berat sebelum melanjutkan kalimatnya, "satu hal yang perlu kau tau kenapa aku sangat yakin akan hal ini," Arman menjeda kembali, mengumpulkan keyakinannya, "karena aku lah yang membuat anak itu menjadi dirinya yang sekarang."


***


"Mba, boleh masuk?" Cacung mengetuk kamar Kenya, berharap wanita yang ia anggap kakak itu belum tidur.


Key buru-buru menghapus sisa kesesihannya begitu suara pintu di ketuk.

__ADS_1


"Masuk, Cung!"


"Mba belum tidur?"


"Belum, belum ngantuk, ada apa?"


Cacung memperlihatkan amplop di tangannya pada Kenya, Kenya kemudian menggeleng dengan senyum tipis.


"Dari anak-anak lagi?"


"Aku udah nolak, Mba, tapi mereka maksa terus."


Kenya tidak mengerti akan ulah tiga mantan karyawannya. Erwan, Cogy dan Gocen, selalu membawakannya uang setiap mereka datng berkunjung. Meski sudah Kenya larang, mereka tetap saja keras kepala. Ketiganya berdalih bahwa setiap bulan usaha mereka mendapat keuntungan yang cukup besar dan terus meningkat. Ketiganya mengumpulkan uang keuntungan mereka menjadi satu dan menyerahkannya pada Cacung untuk di berikan pada Kenya.


Key sebenarnya tidak suka. Dia tidak pernah menggunakan uang pemberian itu dan hanya menyimpannya utuh. Dia sudah meminta Erwan cs. agar menyimpan saja uang itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Bahkan Key pernah mengancam tidak akan menerima kedatangan mereka lagi kalau masih saja membawakannya amplop itu. Nyatanya, mereka memasang mode bebal akan perintah Key.


"Itu amplop yang ke sepuluh, kan Cung?"


"Iya, Mba."


"Taruh aja di tempat biasa, nanti kalau sudah waktunya kita bagi ke mereka.


***


"Jadi, apa langkah akan anda ambil?"


"Awasi Tika, minta seseorang mengikutinya selama dua puluh empat jam."


Dari pertemuan pertama Arman cukup mempelajari bahwa Tika cukuolp tangguh untuk tidak memnuka mulut. Tika tidak akan bicara jika Arman terang-terangan mencecarnya, maka dari itu dia akan memakai cara halus.

__ADS_1


"Baik Tuan, ada lagi?"


"Aku akan bertanya pada Pici tentang situs jual beli tempatnya membeli lukisan Yogi, aku akan mencoba mendekati ya sebagai pembeli. Aku yakin akan menemukan mereka dalam waktu dekat."


__ADS_2