
Tidak ada satu ujung pun kertas yang tersentuh di atas meja kerja itu. Meski setiap jam tumpukannya bertambah, Arman seperti tidak peduli dan membiarkan saja Garut menaruh laporan baru di atas meja kerjanya. Padahal pertemuannya dengan Kenya sudah melewati waktu dua hari, tapi bekasnya tidak juga hilang. Sesuai ucapan Hiban, Arman mendapat kemungkinan terburuk. Kenya sama sekali tidak membuka pintu itu untuk Arman. Tidak ada kesempatan kedua.
Kenya menyatukan kening mereka dengan derai air mata. Arman tidak ingin momen itu berakhir. Ia masih menaruh harapan Kenya akan berubah pikiran setelah ciuman panjang mereka.
"Satu tahun lalu kamu melakukannya dengan mudah, tidak ada alasan kamu tidak bisa melakukannya lagi sekarang, aku memaafkanmu dengan syarat jangan kembali." Kalimat itu diucapkan Kenya tanpa emosi, pelan dan halus. Tapi terasa seperti tusukan tajam yang menyerang semua anggota tubuh Arman. Sakit.
Arman telah merangkai banyak kalimat untuk pembelaan namun tidak ada satupun yang bisa lolos dari bibirnya. Gumpalan kesalahan menyumbat dengan kuat jalan tenggorokannya dan membuat Arman menjadi orang bisu detik itu.
Tidak bisa menjadi orang waras di kantor, Arman memutuskan pergi ke tempat yang bisa mengembalikan akal sehatnya. Langkahnya pasti menuju pintu. Tanpa memberi pesan apapun pada Garut, Arman meninggalkan kantor Permana Jaya.
Disinilah dia sekarang, menatap sendu pada rumah Kenya yang pintunya tertutup rapat. Serapat hati pemiliknya. Arman mengenang setiap ucapan Kenya seperti kaset rusak. Terutama saat wanita itu memberinya peran 'daun pandan' pada kue wajik.
Bicara soal kue, Arman merindukan kue dan masakan buatan Kenya. Meski dirinya lebih ahli dalam hal memasak, terutama masakan barat, racikan bumbu masakan timur ala Kenya adalah yang terbaik di lidahnya.
Sedang apa dia sekarang? Memasak? Membuat kue? Menemani Yogi melukis?
Ah, Arman ingin mengintip sedikit kegiatan Kenya saat ini. Saat wanita itu tidak bisa lagi bergerak lincah seperti dulu. Bergerak kesana-kemari di dapur. Kegiatan baru apa yang ia lakukan untuk mengisi waktu. Arman menahan diri sekuat tenaga untuk tidak nekat menerjang masuk rumah Kenya.
Mengingat Kenya yang tidak lagi bisa berjalan membuat jantung Arman mendadak nyeri. Kini ia sadar, dirinya memang tidak pantas mendapat kesempatan kedua.
***
"Mba, ayo makan, dari tadi pagi Mba belum masuk apa-apa." Cacung datang dengan sepiring nasi dalam porsi kecil, lengkap dengan lauk pauk dan segelas air putih. Tapi jangankan memakannya, melihat pun tidak Kenya lakukan meski Cacung duduk tepat di depannya. Tatapan Kenya masih kosong seperti dua hari yang lalu. Sepulangnya bertemu dengan Arman.
Kenya teringat, bagaimana Arman bersikeras menggendongnya keluar dari ruang makan dan meminta pelayan mendorong kursi roda yang selama ini menopang tubuhnya. Sesekali mata basahnya menatap wajah Arman. Rahang pria itu mengetat tanpa jeda.
Kenya bisa menyimpulkan bahwa selama ini Arman memang hidup dengan baik setelah pergi tanpa pamit dari hidupnya. Penampilan pria itu tetap klimis seperti dulu, wajahnya selalu bersih, tanpa bulu halus. Tubuhnya tetap tegap dan atletis. Kenya menertawakan dirinya, ya, hanya dirinya yang terpuruk dengan perpisahan mereka.
Arman tidak langsung mengantarnya pulang. Pria itu mengajaknya berkeliling tanpa tujuan. Kenya tidak mengeluarkan protes, membiarkan saja apa yang ingin Arman lakukan untuk terakhir kali. Untuk pertemuan mereka yang pertama-setelah setahun berpisah-sekaligus menjadi pertemuan mereka yang terakhir. Mereka tiba di rumah Kenya pukul tiga pagi. Baik Arman atau Kenya sukses tidak mengeluarkan satu patah kata pun selama perjalanan random mereka.
"Mba ga lapar." Akhirnya Kenya merespon Cacung setelah beberapa menit hanya bengong memandang jendela.
"Mba hantu?" Cacung mencoba melawak. Celetukannya membuat Kenya memandang padanya.
"Jangan gini Mba, ingat Yogi." Kali ini Cacung serius dengan ucapannya. Cacung tahu, wanita di depannya ini masih memikirkan pria yang selama ini membuatnya menangis. Meski saat itu mereka di tempat yang berbeda. Cacung tahu Kenya bertemu dengan Arman walaupun Tika atau Kenya tidak bicara sedikit pun tentang hal itu.
Tidak menemukan Kenya di meja tempat mereka berkumpul untuk memikmati makan malam dengan wanita yang sangat ramah bernama Pici, sangat cukup bagi Cacung untuk membuat kesimpulan sendiri bahwa Arman yang mengatur pertemuan itu dan membuat Kenya terpisah dengan mereka.
Beruntung waktu itu perasaan Yogi sedang dalam keadaan sangat baik. Dia tidak mengeluarkan protes kalau mereka harus makan di tempat lain selain di rumah. Tidak mencari Kenya. Dia juga kadang bisa menjawab saat Pici bertanya beberapa hal tentang keahliannya. Ah, ngomong-ngomong tentang Pici, wanita itu tadinya tampak sedikit kaget mengetahui keadaan Yogi. Tapi setelahnya, kekagumannya malah semakin bertambah. Ia duduk memisahkan diri dari kekasihnya dan memilih duduk di samping Yogi agar lebih mudah mengobrol. Berkali-kali kalimat yang sama ia ucapkan kamu-pelukis-yang-jenius-Yogi-aku-menunggu-karyamu-selanjutnya.
Sangat sulit untuk seorang Kenya menceritakan masalahnya pada orang lain. Sekalipun Cacung tinggal bersamanya, Kenya akan tetap segan mengumbar kisah. Masalah itu hanya akan Kenya simpan untuk dirinya.
"Sedikit aja Mba, demi Yogi."
***
Melewati hari ke tujuh pasca makan malam luar biasa itu, Kenya sudah bisa mengendalikan diri. Dia tidak lagi banyak melamun atau mengurung diri. Sudah kembali tersenyum, membantu Cacung di dapur, menulis resep lagi, dan merawat tanaman yang di tanam di beberapa pot kecil di teras.
__ADS_1
Seperti hari ini, setelah makan siang Kenya memilih menulis resep kue di atas tempat tidur. Cacung sedang ke rumah tetangga untuk berbagi beberapa masakan lebih yang mereka buat. Yah, penjualan lukisan Yogi membuat mereka sesekali memasak dalam porsi besar dan bisa berbagi dengan tetangga sekitar.
Suara pintu yang di buka membuat Kenya tersenyum dan menduga, Cacung sudah kembali dari misinya.
"Sudah balik, Cung?" suara Kenya sedikit keras. Tangannya masih asyik menulis di atas kertas saat pintu kamarnya terbuka dan menampakkan sosok yang membuat jantungnya berdebar hebat dalam sekejap mata. Arman muncul di sana dengan baju kerja yang masih menempel sempurna.
Tapi tunggu dulu, apa yang di lakukan pria itu?
Arman melonggarkan dasi dan membuka jas yang melapisi tubuh atletisnya. Ia bergerak ke atas tempat tidur, menuju Kenya yang masih kaget dengan mulut terbuka. Kenya bersumpah akan memukul kepala Arman dengan gelas jika pria itu nekat melakukan aksinya seperti setahun lalu hingga ia mengandung benih pria itu.
Tapi tidak. Jauh dari dugaan Kenya, Arman kini tidur meringkuk seperti anak kecil beralaskan pahanya sebagai bantalan.
"Arman!" seru Kenya dengan suara geram menahan marah.
"Sebentar saja Key, aku ga tahan," lirihnya dengan suara pelan. Sangat pelan seperti berbisik. Lemah.
Ada yang salah dengan pria itu.
Arman hanya melepas jasnya, sedang kemeja dan dasi masih melekat di tubuh. Kini pria itu dengan nyamannya tidur di atas pangkuannya, di atas tempat tidurnya yang sempit untuk ukuran dua orang dewasa.
Apa yang bisa Kenya lakukan sekarang? Menggerakkan sedikit kakinya saja dia tidak mampu. Ingin sekali dia berteriak mengusir pria itu.
Astaga, Kenya akan meledak melihat betapa nyamannya Arman di posisinya sekarang.
Kenapa pria ini masih seenaknya seperti dulu? Tidakkah Arman mengerti kalimatnya seminggu lalu. Bahwa hubungan mereka berakhir dan sama sekali tidak bisa dilanjutkan. Kenapa sekarang tiba-tiba Arman datang dan tidur meringkuk di kamarnya? Tangan Kenya terkepal kuat menahan emosi yang meluap, sampai matanya menangkap apa yang salah dengan pria itu.
Tatatapan Kenya melembut tangannya juga membuaka kepalan. Kini penasaran dengan apa yang menimpa Arman. Gelombang panas mulai terasa di perut Kenya yang berasal dari.... Kenya meraba pelipis Arman dan benar, pria itu sakit. Entah berapa derajat, yang pasti Arman mengalami demam tinggi.
"Arman, kamu panas."
"Hm."
"Sudah minum obat?"
"Enggak." Arman menjawab lirih, membuat Kenya meringis pelan.
Kenya makin frustasi karena Arman tidak menjawab dengan mata terbuka. Arman tidur meringkuk, menenggelamkan kepala di perutnya.
***
Mata Cacung terbuka sempurna begitu mengingat pemilik mobil mewah yang terparkir di depan pagar. Ia kemudian berjalan tergesa-gesa memasuki rumah sambil mengutuk pemilik mobil itu.
Pikirannya sudah semrawut. Negative thingking mendominasi. Cacung yakin kejadian tidak baik sedang terjadi di dalam.
"Mba!" teriaknya begitu tangannya berhasil meraih gagang pintu. Cacung bergerak secepat kilat menuju kamar Kenya, bersiap memukul apapun yang terjadi di sana. Cacung yakin, Kenya sedang kesusahan mengusir pemilik mobil.
"MBA KEY!" seru Cacung dengan tangan terangkat ke atas mengenggam kuat sebuah kemoceng bulu ayam.
__ADS_1
Begitu melihat pemandangan di depannya, tangan Cacung bergerak turun perlahan, bibirnya refleks meringis.
"Mba!" kali ini Cacung memanggil berbisik. Kenya memang menampakkan wajah putus asa, tapi sepertinya dia juga tidak bisa begitu saja mengusir paksa pria yang meringkuk itu.
"Bisa minta tolong, Cung?"
"Ya, Mba."
"Tolong ambilkan nasi dan obat demam."
Cacung tidak menjawab, ia berlalu pergi dari kamar itu. Tidak lama, karena beberapa menit kemudian Cacung sudah kembali dengan sepiring nasi dan lauk pauk, air, serta obat. Tanpa instruksi, Cacung meletakkan apa yang ia bawa di atas nakas kecil samping tempat tidur Kenya.
"Aku tinggal atau tungguin Mba?" tanya Cacung ragu.
"Tinggal aja, Cung, tapi pintu jangan di tutup." Cacung mengangguk dan segera keluar.
Kenya meraba halus pipi Arman. Masih terasa sengatan panas dari tubuh ptia itu. Kenya menarik napas dalam untuk menguatkan diri.
"Man, Arman bangun!" seru Kenya sambil menepuk sebelah pipi Arman. Namun pria itu tidak memberikan respon.
"Arman!" Kali ini Kenya mengeraskan suaranya sambil menggerakkan bahu Arman dan berharap usahanya berhasil. Kenya tahu Arman belum terlelap sepenuhnya. Badan pria itu menggigil dan giginya bergemeletuk kecil.
"Ayo makan dan minum obatnya."
"Hm."
"Arman ayo!" Seru Kenya lagi, karena Arman hanya bergumam tanpa bergerak, "kalo kamu ga mau mending pulang sekarang."
Gertakan Kenya berhasil membuat Arman mengeluarkan wajahnya. Arman berusaha mengangkat tubuh, menghadap Kenya dengan tatapan sayu. Kenya segera mengambil nasi, menyendokkan sedikit dan menyuapi si mantan calon suami.
"Lagi?" tanya Kenya halus.
"Enggak, Key." Arman sudah hampir mau merebahkan diri lagi, tapi Kenya mencegahnya.
"Minum obat dulu!"
Buru-buru Kenya meletakkan piring, menggantinya dengan obat dan air. Arman membuka mulut begitu kulit Kenya menyentuh sedikit kulit bibirnya. Ia menelan obat itu dan mendorongnya dengan air yang Kenya berikan. Setelahnya, tentu saja tanpa ragu Arman berbaring lagi di pangkuan Kenya. Seperti anak kecil yang berbaring di pangkuan ibuny. Arman bahkan kini membuka tangannya agar bisa tidur sambil memeluk pinggang mantan calon istri yang masih ia anggap wanitanya.
Mungkin Arman belum mengungkapkannya, tapi dia sudah berjanji akan mengambil kembali hati yang sempat ia buang.
Kenya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menatap iba pria itu yang kini lemah kesakitan. Pria ini dan otoritasnya tidak bisa di lawan dengan mudah. Apapun nanti yang Arman rencanakan, Kenya juga telah berjanji tidak akan kembali meski Arman memintanya lagi, lagi dan lagi.
Kenya masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi. Pria ini datang tiba-tiba dalam keadaan sakit. Kenapa jauh-jauh ke rumahnya yang sempit sedang rumah Arman berkali-kali lipat luasnya dari rumah Kenya. Pria itu bisa ke dokter atau rumah sakit untuk mendapat perawatan.
Barangkali hati Kenya masih tertutup api amarah yang menyaru dengan pemberian maafnya. Kenya belum menyadari, setahun ini Arman juga menderita.
"Key, please stay, don't go."
__ADS_1