
Setelah hari-hari besar berlalu, hari yang direncanakan dan sudah seperti tradisi di tengah masyarakat adalah hari pernikahan. Banyak pasangan yang melepas masa perkenalan mereka menuju jenjang yang paling serius dalam sebuah hubungan itu setelah perayaan hari besar agama atau perayaan lainnya. Di saat seperti itu toko kue Kenya akan mendapat banyak pesanan kue wajik merah. Kue tradisional yang memiliki cita rasa manis. Kue yang menjadi primadona tokonya. Kue yang menjadi keahlian sang pemilik dalam membuatnya. Kue andalan Kenya untuk bertahan dengan para pesaingnya yang mana lebih menawarkan kue modern penuh kreasi tapi Kenya bertahan dengan membuat wajik merah untuk ia tawarkan pada para pelanggan. Meski banyak kue tradisional lainnya yang ia produksi, tapi wajik merahlah yang menjadi andalan, ikon toko itu sendiri.
Pada acara pernikahan, hampir di semua daerah, jajanan yang terbuat dari ketan adalah menu wajib yang dihidangkan. Ada filosofi tersendiri dari tradisi itu. Kenapa makanan dari olahan beras ketan menjadi penting di acara pernikahan.
Sifat beras ketan yang lengket diharapkan bisa menjadi pelajaran bagi setiap pasangan pengantin agar keduanya senantiasa lengket atau memiliki hubungan erat dan sulit untuk dipisahkan. Begitupun proses pembuatan makanan itu yang lama dan butuh kesabaran ekstra, juga kerjasama beberapa orang jika di buat dalam jumlah yang banyak. Proses itu menjadi pelajaran pada pasangan pengantin agar dalam pernikahannya nanti tidak mudah putus asa, membangun dan mengarungi rumah tangga, selalu bekerja sama dan saling mendukung satu sama lain.
Kenya sangan paham dengan filosofi itu karena Kinan selalu menjejalkannya saat mereka masih membuat kue pesanan tetangga mereka di rumah. Belum memiliki toko seperti sekarang. Maka dari itu pada hari pernikahannya nanti, Kenya sudah pasti akan menghidangkan makanan dari olahan beras ketan. Mungkin tidak hanya wajik merah, dia akan meminta olahan beras ketan lainnya untuk di buatkan. Tujuannya ya itu tadi, agar ia dan Arman selalu lengket.
Tapi semua khayalannya hancur luluh berantakan begitu mendengar Garut memberitahunya dimana Arman berada sekarang.
"Berapa lama?" Dua kali pertanyaan yang sama Kenya lontarkan, Garut sudah menjawabnya, tapi Key masih membutuhkan penguatan.
"Satu tahun, mungkin lebih." Itu juga bunyi jawaban Garut tadi, jawaban yang belum bisa di cerna oleh Kenya.
"Kenapa...?" Pertanyaan Key tidak hanya satu kata itu, ada banyak sambungan dari kata itu di kepalanya, kenapa Arman tidak menemuinya kemarin padahal ia ada di sana, kenapa Arman tidak memberitahunya kalau pria itu akan pergi dalam waktu yang lama, dan kenapa Arman membatalkan pernikahan mereka begitu saja. Tidak tahukah dia bahwa Kenya sedang mengandung benihnya. Ah, benar, Arman belum tahu karena Kenya belum memberitahunya. Mungkin saja jika Key memberitahunya Arman akan berubah pikiran. Jadi dia butuh bicara dengan pria itu.
Dan Garut bukan cenayang yang bisa membaca semua pertanyaan itu di kepala Kenya.
"Perusahaan kami sedang membuat sebuah proyek di sana, jadi Pak Arman memutuskan untuk memimpin proyek itu hingga selesai."
"Tapi kenapa?"
Entah kenapa apa lagi maksud dari pertanyaan Kenya sekarang, dan Garut sendiri bingung harus menjawab apa. Asisten Arman itu kini mulai gelisah di tempatnya.
"Apa aku bisa bicara dengannya sekarang? Apa kamu bisa menghubunginya? Aku sudah mencoba menelponnya kemarin dan sampai tadi pagi Arman masih belum bisa di hubungi, aku harus memberitahukannya sesuatu, ini masalah penting, tolong, bantu aku, hubungi Arman." Cecar Kenya akhirnya. Segenap rasa sakit berkumpul di dadanya saat mengucapkan kalimat-kalimat itu kata demi kata. Ini pertama kalinya Kenya harus memohon pada seseorang. Hanya Kenya yang bisa merasakan seluruh badannya gemetaran, keringat dingin membasahi punggung yang di serap oleh pakaiannya, tangannya sudah dingin sejak dia hanya melihat Garut yang turun menemuinya.
"Pak Arman baru berangkat tadi pagi, jadinkemungkinan besar sekarang masih di tengah perjalanan, mungkin beliau akan tiba nanti malam."
"Aku akan menunggu," pandangan Garut tertuju begitu saja saat Kenya bersuara, "maksudnya aku akan menunggumu di sini, menunggumu sampai bisa menghungi Arman."
"Tapi..."
"Aku mohon, ini penting." Wajah Kenya memelas putus asa.
Wanita mana yang tidak putus ada jika di posisi Kenya?
"Saya harus kembali bekerja Nyonya."
"Bekerjalah, saya akan menunggu di sini, saya tidak akan merepotkan, jadi silakan bekerja."
Garut tidak tau harus membalas dengan ucapan apa, andai dia punya keberanian untuk menyampaikan pesan terakhir Arman pada Kenya.
__ADS_1
"Baiklah, terserah anda, nanti begitu pesawat pak Arman mendarat saya akan turun menemui anda." Entah Garut serius atau sekedar basa-basi demi menenangkan Kenya. Jelas-jelas Arman berpesan padanya tidak mau tahu lagi tentang Kenya. Entahlah. Yang nanti akan dia pikirkan nanti, sekarang dia harus bekerja kembali untuk menenangkan para pimpinan direksi atas keputusan mendadak yang di ambil Arman.
***
Duduk sendirian di pojok kopi itu sama sekali tidak membuat Kenya lebih tenang. Kenya berharap Arman hanya mencandainya dan tiba-tiba muncul dengan satu kotak besar bunga mawar merah. Melamun sendiri membuat kenangannya bersama Arman datang silih berganti.
"Mau makan dimana?" tanya Arman begitu Kenya duduk di sampingnya.
"Pecel Kemuning."
"Kita sudah ke sana kemarin."
"Aku sedang diet."
"Tapi tidak harus makan pecel lagi kan."
"Tadi kamu sendiri yang tanya aku mau makan dimana."
"Tapi..."
"Ya sudah terserah kamu kalau begitu," kata Kenya santai, tapi disalah artikan oleh Arman, dia pikir Kenya marah karena tidak dituruti maunya.
"Baiklah, Kemuning lagi."
"Jadi kita kemana?"
"Aku kan sudah bilang terserah."
Para wanita tidak tahu kata 'terserah' yang keluar dari mulut mereka adalah momok yang mengerikan bagi kaum pria.
"Key!" panggil Arman putus asa, takut, dan frustasi.
"Astaga Arman aku tidak marah dan aku akan ikut pilihanmu, terserah mau makan di mana, jadi sekarang jalankan mobilnya!"
"Nyonya! Nyonya, apa anda baik-baik saja? Wajah anda pucat."
Kenya ditarik kembali dari lamunannya, matanya mengerjap bingung. Wanita resepsionis tadi sudah ada di depannya.
"Maaf, kenapa? Anda bilang apa tadi?" tanya Key.
"Apa anda sakit? Wajah anda pucat." Key meraba-raba wajahnya sendiri, memang benar dia merasa sedikit mual, tapi Key tidak menyadari mual itu berimbas pada wajahnya.
__ADS_1
"Tidak, saya baik-baik saja?"
"Iya, saya baik. Maaf, sudah merepotkan."
"Tidak apa-apa, apa anda menunggu seseorang?"
"Iya Pak, para pimpinan sudah setuju,tidak ada yang keberatan, sesuai permintaan anda, iya, tidak ada masalah, semua sesuai rencana anda, Pak...sebentar," Garut menyerahkan ponselnya pada Kenya dan menyuruh resepsionis itu meninggalkan mereka dengan gerakan tangan.
Key menerima ponsel itu dengan wajah penuh binar.
"Hallo, Arman, ini aku, bisa kita bica___, hallo, hallo, Arman, aku mohon dengarkan aku dulu."
***
"*Katakan saja apa yang Arman katakan tentang aku, apa pesannya yang terakhir kali untukku, katakan, aku akan mendengarkan."
Garut tidak berani menatap mata Kenya yang telah berembun. Menurutnya Kenya sangat kuat hingga tidak menangis sejadi-jadinya begitu Arman menutup sambungan sepihak melalui ponselnya tadi. Ia tidak takut jika nanti Arman memarahinya karena membiarkan Key menerima telponnya, Garut lebih mengkhawatirkan Kenya yang sudah pucat dan berkeringat saat ini.
"Tenang saja, aku tidak akan mempermalukan diri sendiri, jadi bicaralah," sambung Key dengan nada tenang, jauh di lubuk hatinya ia telah menyimpan luka yang berdarah-darah atas apa yang terjadi padanya sekarang, biarlah ia simpan luka itu sendiri.
Garut memiliki keraguan yang besar untuk berkata jujur, ia takut jika mengatakan yang sebenarnya akan berdampak buruk untuk wanita yang duduk di depannya itu.
"Bicaralah Tuan, apa yang Arman katakan akan menentukan saya harus berhenti atau tidak."
Baru kali ini Garut merasa seperti pengecut, padahal bukan dia pelaku utama dari masalah ini.
"Pak Arman mengatakan bahwa anda jangan mencarinya lagi dan beliau tidak mau tau lagi segala sesuatu tentang anda, itu saja."
"Dan membatalkan pernikahan kami."
Garut tersentak saat Kenya menyambung lagi kalimatnya, bodohnya ia menjawab "iya*."
"Mba! Mba ga apa-apa? Waduh jangan muntah di mobil saya dong, susah bersihinnya."
Key langsung meninggalkan kantor Arman begitu ia selesai bicara dengan Garut. Tapi dalam taksi tempatnya berada sekarang, potongan-potongan ingatannya terus mengingat pembicaraannya dengan asisten Arman itu, terutama pesan terakhir Arman, dengan setia berputar di kepalanya. Akibat dari pesan itu, tubuh Kenya bergetar hebat, ia hampir terkulai jatuh jika taksi yang ia pesan tidak segera datang. Dan karena pesan itu terngiang di telinganya membuat perut Kenya mendapat gelombang mual yang hebat.
Supir taksi yang membawanya sudah ketakutan jika Kenya mengotori mobilnya karena suara mual yang Kenya keluarkan terdengar mengerikan. Key sudah berusaha menahan, tapi dorongan dari dalam tubuhnya lebih besar.
Konsentrasi supir itu terbagi antara jalan yangbsedang di lalui dan Kenya yang siap mengotori jok belakang mobilnya. Berkali-kali supir itu membolak balik kepalanya dan tiba-tiba suara benturan yang sangat keras mengagetkan pengguna jalan lain tempat taksi yang di tumpangi Kenya saat ini.
Orang-orang mulai berkerumun. Yang berjalan di trotoar mendekat, yang berada di dalam mobil menghentikan mobilnya karena badan jalan yang akan mereka lewati terhadang bus besar yang menghantam mobil lain.
__ADS_1
Riuh rendah suara orang di sekitar mobil yang tertabrak itu tidak jelas terdengar. Ada yang menghalang orang-orang mendekat karena takut mobil akan meledar, ada juga yang meminta seseorang menelpon polisi. Saat mereka yakin tidak akan terjadi ledakan, beberapa pria memberanikan diri untuk menengok kaca jendela monil yang gelap.
"Ada dua penumpang," teriak pria yang berhasil menangkap gambaran di dalam mobil, "satu perempuan di belakang, satu lagi supir."