
Meski semangat hidupnya banyak berkurang, Arman tetap berusaha profesional untuk urusan pekerjaan. Dengan tubuh yang lesu, pada siang menjelang sore itu, ia memaksakan diri mengunjungi tempat induk dari segala usahanya. Kantor pusat Permana Jaya, kantor yang didirikan dengan pengorbanan tidak sedikit oleh almarhum ayahnya. Jika ia mengikuti perasaannya untuk mengacuhkan pekerjaan karena masalah hati yang ia hadapi sekarang, maka tak ayal dia akan mendapat murka sang ayah di alam baka kelak. Karenanya, Arman memutuskan untuk tetap datang, meski hampir mendekati jam pulang kantor, guna menemui pengganti yang akan ia kirim ke kantor mereka di negeri Paman Sam.
Hari ini Arman belum aktif bekerja. Ia mengenakan pakaian semi formal yang terkesan santai. Kaos polo berkerah dan celana jeans abu. Sneaker semi formal menjadi pilihan untuk alas kakinya. Penampilan yang sangat santai, mengingat yang akan dia temui adalah salah satu petinggi perusahaan yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya. Tapi menghadapi orang yang akan dia temui ini tidak akan sesantai penampilannya. Arman yakin, membujuk sepupunya ini untuk menggantikannya ke benua baru itu akan sulit, dan Arman punya seribu acara untuk memenangkan pertarungan.
Berpenampilan sangat kontras dengan sang asisten tercinta, Garut Siagian, yang berjalan di belakangnya, Arman mendapat pelototan penuh nafsu dari para pegawai wanita di sepanjang langkahnya menuju ruangan. Ada yang terang-terangan menggodanya dengan kerlingan mata, ada yang melambai kegenitan, ada yang terpesona hingga menabrak pejalan lain di depannya. Menggelikan. Arman sendiri tidak yakin penampilannya baik, mengingat frekuensi tidurnya yang jauh dari kata cukup.
Dan pada akhirnya di sinilah dia sekarang. Menunda untuk singgah di ruangannya lebih dulu, Arman memilih menuju ruangan Hiban Permana, sepupu tercinta.
"Please Ben," panggilan akrab Hiban, "tolongin gue kali ini, gue harus menemukan Kenya sebelum gue mati."
Hiban mendadak tuli sejak awal Arman bicara, apalagi mengetahui tujuan Arman mendatanginya, ia melengkapi ketuliannya dengan aksi bisu.
"Hiban, cuma lo satu-satunya harapan gue, lo tega liat gue menderita?"
"Tega lah." Jawaban singkat Hiban yang menyakitkan. Arman harus menelannya lapang dada.
"Hibaaaaan, come on, diantara kita bertiga cuma gue yang belum punya pasangan, Ejet punya Stella, lo punya Pici, gue?" Arman mencoba dramatis, "I have somebody to love and I want to find her as fast as possible."
"Memang dia kemana?" Hiban masih biasa saja, tidak terpengaruh dramatisasi Arman. Lebih tepatnya, pria perlente itu masa bodoh dengan sepupunya yang satu ini.
"Kalau gue tau, gue ga bakal cari."
"Gue ragu orang yang lo cari itu eksis atau enggak."
"Ben, yang gue cari orang yang sama yang dulu mau gue nikahi, Kenya."
"Lho, bukannya kalian udah bubar?"
"Enggak bubar."
"Terus apa namanya batalain pernikahan seminggu sebelum hari H kalau bukan bubar? Jeda? Spasi? Broken? Break up? Shut down?" Serang Hiban tanpa ampun, Arman harus ekstra sabar menghadapi sepupunya yang satu ini. Ejet mungkin menyebalkan, tapi Hiban tak kalah menjengkelkan.
Sepupu Arman itu masih setia dengan kesibukannya meski mengajak Arman bicara. Mulutnya saja yang bergerak, tangan dan mata manusia itu tetap bekerja di atas keyboard dan layar komputer.
"Lo ga bosen ya bikin geger keluarga, ga malu sama umur?" Hiban tak segan meng-sarkasme Arman meski usia Arman lebih tua.
"Ben, gue belum bisa cerita, terus terang cerita gue jadi rumit begini karena ulah gue sendiri, gue ga akan membela diri, dalam masalah ini gue yang salah, totally Ben, gue salah sama Kenya."
"Nah itu sadar. Lo berulah apa lagi?"
"Gue ga bisa cerita sampai semuanya jelas, plis kali ini lo bantu gue handle dulu yang di Amrik, gue nanti yang seleksi pengganti lo dari sini, paling cepat empat bulan."
"Gila ya lo, gue mau nikah lima bulan lagi bangkai." Keluar sudah kekesalan Hiban. Jika calon istrinya mendengar dia akan pergi ke negri Adidaya itu menjelang pernikahan mereka, sudah pasti dia akan di cekik.
"Oke, tiga bulan, gue cari pengganti lo tiga bulan." Arman merubah tawarannya.
"No way," jawab Hiban cepat.
"Fine, dua bulan, plus tiket bulan madu."
"Mmm, never." Kecepatan Hiban menjawab berkurang, tapi tetap saja membuat Arman putus asa. Never, ga akan.
"Mau lo apaaaaaa? Bener-bener ya lo." Arman gregetan.
"Yakin lo bisa memenuhi syarat gue?"
"Asal ga minta tiket ke surga." Asal jawab saja si Arman.
"Sialan, kalo gitu batal, becanda lo kelucuan." Hiban tak kalah licik, dia menggertak.
"Seriusan, cepet deh, gue tau lo pasti mau, cuma lo yang setara sama gue buat mimpin perusahaan ini." Demi Tuhan, Arman menahan jijik mendengar dirinya memuji sepupunya itu. Tapi demi Kenya, wanita itu membuatnya hampir gila.
"Ini lebih karena Pici ya, Bro. Gue yakin dia keberatan kalau gue pergi, kalau lo mau dia luluh, lo cari deh pelukis yang jadi favorit dia sekarang, dia pengen banget ketemu. Tadinya gue yang mau cari, tapi belum ada waktu, lo tau kan kerjaan kantor kalau akhir bulan gini."
"Kalo cuma pelukis, gampang lah."
"Kampret, kalo segampang itu nyarinya kayak yang lo bilang, Pici ga bakal uring-uringan kayak sekarang, dia bisa aja minta nomor telpon terus ketemu, beres, tapi ini beda, nih pelukis misterius."
__ADS_1
"Yang misterius itu cuma rahasia Tuhan, apa sih yang misterius di dunia ini," aku Arman penuh percaya diri.
"Yakin lo bisa?"
"Sebutin aja namanya! Gue cari sampai ke lubang buaya."
"Dia ga punya nama."
"What?" mata cekung Arman di paksa melotot mendengar jawaban Hiban.
"Kita cuma punya petunjuk inisial di pojok lukisannya." Jelas Hiban lagi.
"Inisial huruf, tapi kayak bukan huruf, di buatnya kayak ukiran, tapi Pici yakin itu huruf Y, ga ngerti juga gue, kenapa cewek gue ga ngoleksi tas kayak cewek lain, dia malah hobi ngumpulin lukisan." Hiban menarik napas dalam, "lukisannya emang beda dari lukisan lain yg di koleksi Pici, ini kayak lukisan abstrak gitu, antara berbentuk atau enggak, kalo ga passion sumpah lo bakal puyeng lihat lukisannya." Jelas Arman panjang lebar. "Cewek gue bisa melototin tu lukisan puluhan jam sehari, tiap harinya katanya dia nemuin makna berbeda, nah aneh ga tu?" jelas Hiban lagi, tanpa di tanya pula.
Tanpa Arman sadari Hiban membuka sesi curhat. Arman hanya menyimak saja dengan seksama, berdo'a dalam hati semoga bisa menemukan pelukis misterius idola Pici. Demi memuluskan rencananya mencari wanitanya.
"Lo punya contoh lukisannya?" tanya Arman dengan nada serius.
"Gue punya gambarnya satu, gue ambil waktu Pici minta di fotoin sama lukisan yang baru dia beli beberapa hari kemarin. Agak gila sih, dia beli tiga sekaligus. Gue ambil gambarnya satu, tapi ga di bolehin di pajang di sosmed sama doi. Takut kalo ada yang jiplak lukisan idolanya." Terang Hiban sambil mengambil ponselnya, ia kemudian memperlihatkan sebuah foto pada Arman.
Arman mengamati gambar itu dengan seksama, cermat, teliti, teliti-setelitinya, berharap menemukan petunjuk untuk membongkar identitas sang pelukis misterius. Tapi apa kata Hiban sangat benar adanya, tidak ada petunjuk lain selain sebuah inisial huruf yang di ukir dengan sangat apik di pojok kanan kanvas. Rapi tapi sulit di terjemahkan. Hampir seperti huruf Y, namun ada pemisah antara sambungan untuk membentuk huruf itu.
Arman kembali mengamati, menggali ingatannya yang mungkin pernah bersua dan disinggahi tanda itu. Semakin lama melihatnya, semakin Arman merasa familiar, tapi sayangnya memorinya sedang lemah hingga lupa dimana dia pernah mengenal inisial itu.
"******." Ujar Arman frustasi.
"Apa gue bilang."
"Proses belinya gimana?"
"Online, lewat perantara bukan pelukisnya langsung, kata perantara itu si pelukis ga bisa dan ga mau go publik, tadinya gue bilang sok banget, tapi yah balik lagi, mungkin dia introver."
"Lo ga ada syarat lain?"
"Kenapa? Nyerah lo?"
"Susah lah Bro."
"Klo ga bisa ya batal, Pici bakal kempesin ban pesawat biar gue ga pergi," seloroh Hiban asal. Bikin emosi Arman saja.
"Gue usahain." Kata Arman dengan nada tidak yakin.
"Hm, gue tunggu."
Cukup sampai di sana, Arman tidak lagi mau bicara dengan Hiban. Persis seperti dugaannya, menghadapi Hiban tidak akan mudah seperti menyiram bunga. Bukannya mendapat kemudahan, ia malah makin tersesat.
Arman berjalan gontai ke ruangannya. Ah apa kabar ruangan itu, setahun tak ia tempati semoga tidak menjadi sarang setan.
Tak ingin singgah terlalu lama, begitu mendapat dokumen yang ia cari, Arman segera keluar, ingin pulang saja, beristirahat, mengumpulkan tenaga mencari Kenya besok. Kantor sudah lengang, hari juga tampak sudah di jemput senja.
Arman berjalan terseok menuju kendaraannya. Kakinya sibuk melangkah, kepalanya lebih sibuk bekerja. Dia harus pulang sendiri, Garut sudah pergi lebih dulu setelah membawakannya mobil. Garut harus menyelesaikan proses pembelian rumah Kenya.
Arman menutup pintu mobil dengan malas. Tubuh lelahnya membuat otaknya bekerja lambat. Dimana dia pernah melihat inisial itu? Ia yakin pernah melihatnya. Tapi bayangan itu sangat samar, meski sudah ia paksa mengingat.
"Aaaaaaargh."
Arman memukul setir, kepalanya terangkat tanda pening, "dimana?"
Ia menarik napas, tenang, mencoba mengingat lagi. Hingga beberapa saat.
"Astaga, iya...di sana." Ingin sekali Arman berteriak kala itu, tapi ada yang menahannya, ia teringat sesuatu, dan mengingat itu membuat dadanya membuncah bahagia.
Dengan langkah seribu Arman kembali ke dalam gedung. Tujuannya kembali pada Hiban. Mereka harus bicara. Harus.
***
"Mba, aku ada ubi ungu, boleh bikinin klepon ga?" Cacung memperlihatkan satu plastik kecil ubi ungu pada Kenya.
__ADS_1
Kenya tersentak kaget, sudah cukup lama ia tidak menjumpai bahan itu. Ada rasa aneh saat melihat ubi itu lagi. Rasa yang belum Kenya kenali.
"Boleh, yuk bikin."
***
"Ben!" Arman memanggil si empunya ruangan yang sayangnya sudah tidak ada, "sial."
"HIBAN!" teriak Arman tanpa sadar, berlarian mencari bayangan Hiban di sekitaran lantai itu.
Arman menuju lift, instingnya mengatakan Hiban pasti sudah turun. Merasa angka tempat lift berada cukup jauh dengan lantai gedung tempatnya berpijak, Arman memilih tangga sebagai alternatif. Dia tidak segan melompati tiga anak tangga sekaligus agar bisa menyusul Hiban.
Sampai di lobi, Arman tak melihat bayangan sepupunya itu.
"Basement," cetus Arman.
Tak peduli tubuhnya yang letih, tak peduli matanya yang cekung, tak peduli jantungnya yang kini berdebar kencang, Arman makin menambah kecepatan.
"HIBAAAAAAAAN!!!" teriaknya sekuat tenaga begitu kaki Arman menginjak lantai basement.
"Hib!"
"Woy, apaan, gue di sini!"
Detik itu juga dada Arman di penuhi kelegaan, ia berlari kecil menuju mobil Ben.
"Apa sih lo teriak-teriak, dasar gila."
"Iya gue gila, saking gilanya gue ngelewatin sesuatu." jawab Arman ngos-ngosan.
"Apa lagi sih, pokoknya kalo ga kete____"
"Siapa nama perantara itu?" potong Arman.
"Hah?"
"Perantara Pici membeli lukisan itu."
"Oh, ga tau gue, kenapa?"
"Telpon!"
"Siapa?"
"Pici, tanyain- nama perantaranya."
"Ck, ngeselin lo emang," terpaksa Hiban menunda kepulangannya meladeni Arman.
"Halo Sayang, lagi ngapain? Kamu udah makan?"
Ingin rasanya Arman merampas ponsel Hiban, menghentikan sesi basa-basi itu.
"Aku baru mau pulang, kamu pengen di beliin apa?"
"BEN!" geram Arman.
"Apa sih? Sabar dong, makanya jangan durhaka sama calon istri," cela Hiban, "kualat kan lo, sori sayang, si Arman tu, eh, sayang, kamu inget ga nama perantara buat beli lukisan kemarin? Iya, lukisan yang bagus banget itu, beres nanti ulang tahun kamu aku beliin lima lukisan,"
Hiban dan Pici, pasangan itu benar-benar menguji kesabaran Arman.
"Iya sayang, kamu ingat nama perantaranya? Siapa? Ti...ka, he-eh, Tika Ambarsari."
Arman yang mendengar nama itu sontak saja meloncat kesenangan, "YESSSSS," teriaknya bahagia.
Arman meraih pundak Hiban dan mengguncangnya keras, Hiban kembali kesal, "Gue pastiin," kata Arman, "GUE PASTIIN PICI MAKAN MALAM SAMA YOGI DAN LO, LO PERGI KE AMRIK." Arman tidak segan-segan menghabiskan oktaf suaranya meneriakkan kalimat itu, membuat Hiban melongo sempurna dengan ponsel yang masih menempel. Setelahnya Arman pergi begitu saja.
"Apa? Enggak sayang, aku ga akan ninggalin kamu, denger dulu, aku ke sana buat kerjaan, cuma dua bulan, sialan Arman, sayang, aku beliin kamu lukisannya plus makan malam sama pelukisnya, oke..."
__ADS_1
Ig:@amin.lia