Insane

Insane
Delapan


__ADS_3

Kenya bukan anak kemarin sore yang tidak tahu gerak-gerik seorang lelaki yang sedang jatuh cinta, dia juga telah melewati masa menjadi abg labil yang kadang diam saja, pura-pura tidak tahu ada seseorang yang menyukainya. Dia wanita dewasa yang sudah mengalami, melewati masa itu. Bahkan dia sudah menikah, memiliki seorang anak, dan kini menjadi single parent untuk Yogi.


"Aku tahu kamu menyukaiku Arman Permana."


Arman melonggarkan dasi berwarna biru tua yang masih melingkar di kerah kemeja, posisi duduknya menegak, menatap pada Kenya yang juga menatapnya.


"Apa itu akan mejadi masalah?"


Entah karena rasa kaget atau tanpa kesiapan, hanya pertanyaan itu yang terlintas di kepala Arman.


Masalah?


Tentu saja akan menjadi masalah. Mengingat status Kenya yang baru delapan bulan menjanda, dan dirinya yang seorang eksekutif muda yang terlanjur jatuh cinta.


"Untukku, pasti," jawab Kenya tanpa ragu. "Dan kamu, tentu juga akan menjadi masalah."


"Aku? Kenapa harus menjadi masalah untukku?"


"Mari kita pikirkan secara bijak dan dewasa Arman!"


"Tunggu dulu!" sela Arman cepat, "sebelum kita membahasnya lebih jauh, aku mau tahu bagaimana perasaanmu?"


Kenya terkesiap, tapi ia bisa menguasai diri dengan segera.


"Aku tidak punya perasaan apapun saat ini, aku hanya menganggapmu sebagai teman, itu saja."


Armam mengangguk samar, ia tidak akan terkejut dengan jawaban Kenya. Tentu saja jawaban itu masuk akal bagi Arman yang juga sangat tahu keadaan Kenya.


"Setelah kepergian Parhan dan apa yang dia rasakan terhadap Yuni tanpa sepengetahuanku, aku tidak bisa memberi kepercayaan apapun pada orang lain, khususnya laki-laki."


Arman sebenarnya tidak tahu apa yang di perbuat Parhan pada wanita yang bernama Yuni, tapi dari kata-kata Kenya, dirinya sedikit mendapat gambaran ada pengkhianatan yang di lakukan Parhan terhadap Kenya.

__ADS_1


Yang Arman tahu, Parhan meninggal dua bulan sebelum Arman bekerja di Wajik Merah karena serangam jantung. Selain itu tidak ada.


"Apa aku tidak punya kesempatan?"


"Kamu masih tanya kesempatan? Kamu tahu kondisiku, statusku, segala yang menimpaku, utang yang mama angkat demi aku, sampai..."


Lidah Kenya rasanya di lilit tali tak kasat mata sampai ia tak mampu melanjutkan kalimatnya lagi. Arman, lelaki itu terlalu banyak tahu tentang dirinya dan masih bertanya tentang kesempatan? Gila.


"Manusiawi. Semua yang kamu alami dalam hidup itu manusiawi, hanya karena masalah yang tadi kamu sebutkan apa membuatku tidak boleh memiliki perasaan terhadapmu Key?"


Kenya menarik napas dalam, tapi dia belum selesai.


"Kamu lelaki dengan latar belakang tidak biasa, Arman, keluargamu, pekerjaanmu, kekayaan dan statusmu yang masih lajang," lagi-lagi Kenya menarik napas dalam, "mari kita bicara logika. Kamu yang seorang lelaki dewasa yang belum pernah menikah, single, lajang harusnya mencari pasangan yang sama, setara. Logikanya kamu harusnya mendapat seorang gadis. Hal seperti itu apa aku juga harus mengingatkanmu?"


Di luar dugaan Arman tersenyum dengan wajah tenang, berkebalikan dengan Kenya yang sedikit emosi karena sepertinya Arman tidak peduli dengan segala perkataannya.


"Apa kamu sedang dekat dengan pria lain?"


Kenya menatap Arman dengan mata penuh, kemudian menggeleng.


"Apa akan ada orang yang keberatan kalau aku menyukaimu dan, jatuh cinta padamu?"


Kenya menggeleng, tapi sekaligus bingung karena malah Arman seperti mengintrogasinya.


"Kalau begitu bersiaplah!"


"Maksudnya?"


"Untuk urusan perasaanku, saat hanya ada kita berdua dan di luar urusan pekerjaan, jangan hiraukan keluargaku, latar belakang, kekayaan, status atau apapun yang membuatmu menjadikan itu sebuah logika yang akan menghalangimu menerimaku nanti. Tadi kamu juga sudah mengatakan tidak memiliki perasaan padaku dan hanya menganggapku teman, aku bisa terima jawaban itu, tapi... aku ingin kamu memberiku kesempatan!"


"Kesempatan? Untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk membuatmu jatuh cinta padaku, jangan lakukan apapun, biarkan aku melakukannya dengan caraku."


"Arman!"


"Kenya Panaringan, tiga bulan ke depan, saat counter WM di buka, kalau sampai saat itu aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta, aku akan mundur sendiri, bagaimana?"


"Ini gila Arman, kenapa harus aku?"


"Karena aku hanya bisa melihat dirimu menantikanku di ujung pintu. Setiap aku pulang ke rumah, aku hanya bisa melihat bayanganmu menungguku pulang bekerja, menyambutku, melayaniku, mendengar ceritaku."


"Itu alasan yang tidak logis."


"Sejak kapan cinta mengenal logika?"


***


Tidak akan sulit untuk jatuh cinta pada seorang Arman Permana. Wajah yang rupawan yang kental dengan garis ningrat, kulit putih, mata coklat yang bening, rambut hitam, badan tegap dan atletis, tidak akan ada wanita yang menolaknya. Bahkan mungkin sudah banyak wanita yang menawari diri mereka pada lelaki itu. Tapi kenapa Arman malah melabuhkan hatinya pada seorang janda bernama Kenya?


"Bagaimana?" tanya Arman lagi, menuntut kesanggupan Kenya.


"Apa kata orang nanti Arman,"


Di luar dugaannya ternyata menghadapi seorang Kenya Panaringan ternyata cukup sulit, tapi Arman berusaha tenang.


"Apa urusan orang dengan kita? Orang yang mana? Suruh saja menghadapku, biar aku yang selesaikan."


"Baik, kita singkirkan kata orang, lalu keluargamu, apa anggapan mereka nanti kalau kamu menikah dengan seorang janda?"


Arman ingin sekali tertawa kegirangan mendengar Kenya menyebut kata 'menikah, tanpa Kenya sadari dirinya memberi apa yang Arman inginkan, kesempatan itu tidak mustahil.


"Apa anggapan mereka apa kita harus peduli? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kita tidak bisa memengaruhi semua orang untuk berpikiran baik tentang kita." Arman memberi jeda benerapa saat, "Lagi pula aku sudah tidak punya ke dua orang tua yang bisa memengaruhi keputusanku, selain ucapan mereka, tidak ada ucapan anggota keluargaku yang lain yang harus aku dengar."

__ADS_1


Kalimat Arman yang terakhir berhasil membuat Kenya kehilangan kata-kata, ia tidak punya alasan lagi untuk menyanggah Arman.


"Jadi mulai saat ini, jangan lakukan apapun, biarkan aku yang menumbuhkan perasaanmu dengan caraku, aku hanya meminta kamu untuk membuka diri. Dan, mengenai Parhan, kami orang yang berbeda. Aku tidak tahu apa yang ia perbuat sampai menghilangkan kepercayaanmu pada laki-laki, tapi percayalah, aku tidak akan melakukan hal yang akan membuatmu kecewa."


__ADS_2