
Arman menunjukkan satu per satu alat lukis yang ia bawa pada Yogi kemudian memberitahu satu per satu nama alat-alat itu beserta fungsinya. Dari jauh Kenya memperhatikan mereka. Bahkan Arman sudah menyiapkan baju ganti demi menginap di rumahnya. Pria itu sangat sungguh-sungguh dengan rencananya. Kenya berbalik menuju dapur. Ia membereskan lebih dulu pekerjaan yang belum selesai.
Setelah semua alat makan di cuci dan di letakkan pada tempatnya, Kenya kembali ke kamar merebahkan diri di atas tempat tidur. Rumahnya tidak seluas rumah Arman, jadi pergerakannya terbatas hanya kamar, ruang tamu kecil dan dapur. Dari pada bergabung dengan Arman dan Yogi yang bisa menimbulkan efek wajahnya memerah, lebih baik dirinya menyimpan diri ke kamar.
Pandangannya mengarah pada langit-langit. Rekam-rekam kejadian semalam kembali berputar. Astaga apa yang sudah mereka perbuat? Bahkan mereka tidak memakai pengaman semalam. Dan tadi pagi, bahkan sebelum menyentuh sarapan Arman ingin mengulangnya lagi kalau Key tidak menolak. Lagi?
Bahkan lututnya masih lemas, yang benar saja.
Ditasbihkan sebagai wanita Arman Permana membuat Kenya merasa tidak tenang. Arman terlalu luar biasa untuk dirinya yang super biasa. Dia tidak bisa meramalkan apa yang akan pria itu lakukan berikutnya. Iming-iming pernikahan bahkan tidak bisa membuat Key berhenti khawatir. Belum genap setahun dirinya di tinggalkan Parhan dan sekarang Arman datang dengan segala kejutannya.
Bagaimana cara menghindari pria itu?
Apa kata orang kalau hubungan mereka diketahui secara luas?
Lelah berpikir dengan tubuh yang juga lelah membuat kelopak Key dengan mudah menerima aliran kantuk yang datang. Hari menjelang siang di luar sana. Ya. Lebih baik dia tidur agar pria itu tidak mengendap di kepalanya. Lebih baik dia tidur agar tidak perlu bertemu Arman sekarang. Lebih baik dia tidur karena dirinya benar-benar lelah. Dia akan tidur selama sisa hari Minggu ini agar terhindar dari Arman.
***
"Kalau mau mengganti warna, Yogi harus celupkan kuasnya ke air dulu, agar warna yang lama tidak merusak warna yang akan Yogi pakai, seperti ini. Kemudian keringkaan dengan kain. Kalau sudah kering, baru Yogi pilih warna yang Yogi mau."
Arman dengan sabar mengajari Yogi melukis di atas kanvas berukuran sedang. Dia hanya mengarahkan bagaimana menggunakan alat-alat itu. Selebihnya Yogi bekerja sendiri membuat pola di atas kanvas. Arman memperhatikan pola abstrak yang di buat Yogi. Masih belum beraturan, tapi dengan sentuhan berikutnya gambar itu akan menjadi pola yang indah. Arman yakin.
__ADS_1
"Kalau Yogi mau membuat detail warna yang lebih kecil, Yogi bisa memakai kuas yang ini, yang ini ujung kuasnya lebih runcing," kata Arman ketika Yogi terlihat kebingungan mengaplikasikan warna di salah satu pola yang ia buat. Anak itu tersenyum lega.
"Hm." Hanya gumaman, pertanda Yogi mengerti.
Arman kembali memperhatikan gerakan tangan Yogi, yang meski kaku tapi bisa membentuk pola abstrak yang... Bahkan Arman tidak punya istilah untuk mengungkapkan lukisan yang di buat Yogi.
Anak itu kembali terlihat kebingungan. Arman menganalisa penyebab Yogi tiba-tiba tidak tenang. Yogi mengambil satu per satu tabung warna dan kembali menarunya karena belum menemukan warna yang ia inginkan.
"Kalau di sana tidak ada warna yang cocok, ayo kita campur warna-warna ini, sampai Yogi bisa menemukan warna yang pas."
***
"Yogi mau melanjutkan melukis atau istirahat sama Om?"
"Yogi mau melukis."
Nah lho, Arman berhasil membuatkan Yogi memiliki hobi baru yang pastinya akan membuat anak itu terus-menerus melakukannya tanpa rasa bosan, seperti mewarnai. Jika sudah merasa tertarik dengan sesiatu, Yogi akan melakukannya terus-menerus dan meminta lagi. Arman sudah mengantisipasi hal itu dengan membelikan beberapa kanvas.
"Om mau istirahat sebentar, mau buat minum, Yogi mau susu?"
"Yogi mau susu."
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Om ambilkan."
Sangat paham dengan kondisi Yogi, Arman tidak akan mengharapkan obrolan lebih atau jawaban lain dari pertanyaan yang ia ajukan. Meski dirinya masih berstatus orang asing bagi keluarga Kenya, Arman sedikit mencari tahu tentang penyakit melalui browsing di internet. Mendidik Yogi ibarat mengajarkan bayi meski umur anak itu menginjak enam tahun. Segala sesuatu hal yang baru harus di jelaskan sedetail mungkin, dengan terperinci dan jelas. Yogi tidak bisa mencerna sesuatu yang abstrak atau hanya di jelaskan dengan kata, dia juga harus dijelaskan secara visual.
***
Arman menuangkan susu coklat ke dalam gelas berwarna merah yang memang di khususkan untuk Yogi. Satu cangkir kopi juga ia seduh untuk dirinya. Arman memperhatikan sekeliling dan menyadari suasana tenang di dalam rumah.
"Key!"
Tidak mendapati Kenya di bagian luar, Arman menuju kamar Kenya. Satu ketukan ia coba untuk memastikan keberadaan Kenya.
"Key! Kamu di dalam?" Arman mengetuk lagi.
"Kenya aku buka pintunya kalau kamu tudak menjawab."
Arman dengan gerakan cepat membuka pintu kamar itu dan mendapati Kenya tertidur lelap.
"Dia tidur." Arman mendekat memilih duduk di tepian tempat tidur, memandangi wajah Kenya yang tertutup rambutnya. Dengan gerakan pelan Arman menyingkap sedikit gerai rambut yang menutupi wajah wanitanya.
"Ternyata kamu lebih kejam dari yang ku duga, kenapa meninggalkan kami sampai kehausan. Harusnya kamu mengantarkan kami minuman dan kudapan. Tapi sepertinya kamu lelah, istirahat saja Nyonya Permana!"
__ADS_1