Insane

Insane
31


__ADS_3

Ini tidak mudah. Arman harus memutar otak agar dokter yang merawat Kenya dulu mau berbicara terbuka padanya. Status Kenya dulu saat dia di rawat adalah tidak memiliki keluarga, cerai meninggal, hingga sang manajerlah saat itu yang menjadi walinya, Tika. Kinan datang seminggu kemudian, setelah kondisi Kenya lebih baik, barulah Tika memberi tahu Ibunda Kenya tentang apa yang terjadi. Jangan di tanya betapa syoknya Kinan saat itu. Ia sempat tak sadarkan diri melihat keadaan Kenya.


"Saya memang calon suaminya dok, kami berencana melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat." Arman mengutuk dokter itu dalam hati, ini kedua kalinya ia mengucapkan kalimat itu, kenapa dokter itu masih saja ragu.


"Saya mengenal anda sebagai seorang pengusaha, Pak Arman, wajah anda beberapa kali saya lihat di koran, saya sedikit tahu latar belakang anda, dan kedatangan tiba-tiba anda ke sini ingin mengetahui apa yang terjadi dengan pasien saya satu tahun lalu, dimana pasien saya ini adalah orang biasa, dengan latar yang jauh berbeda dengan anda, saya belum melihat korelasinya, tentu saja saya tidak bisa percaya begitu saja." Dokter itu memberi jeda sejenak, "lagi pula membocorkan catatan kesehatan pasien pada orang asing melanggar kode etik profesi saya." Tambah si dokter.


"Saya bukan orang asing."


"Bisa anda buktikan keabsahan hubungan anda dengan pasien? Anda punya bukti authentic?


"Baiklah, berapa nominal yang anda mau."


"Maaf?"


Diskusi itu sesikit sengit dan menguras emosi Arman, sedang dia baru saja mereda setelah memimpin rapat yang juga memojokkannya.


"Saya akan memberi anda imbalan kalau anda mau memberi tahu saya keadaan calon istri saya, katakanlah berapa yang anda inginkan!" Arman mengeluarkan senjata andalannya.


Dokter itu mengalihkan pandangan dan merasa tidak enak. Ia menjadi salah tinggkah atas ucapan Arman.


"Apa mengetahui tentang kesehatan calon istri saya sendiri sebuah kejahatan?" tanya Arman sedikit sinis, ia salah mengira kalau tadinya berurusan dengan dokter ini akan mudah. Nyatanya profesi dan jabatannya tidak berpengaruh di sini.


"Apa anda yakin tidak memiliki maksud jahat dengan mencari tahu catatan kesehatan Nyonya Kenya?"


"Maaf, saya harus mengoreksi, Nyonya Permana, panggil dia Nyonya Permana," tegas Arman, "dan saya sama sekali tidak memiliki tujuan menyimpang akan apa yang saya lakukan sekarang, saya berani menjamin dengan nyawa saya sebagai taruhannya."


"Baiklah, tapi saya hanya akan memberi informasi secara garis besar." Arman terlihat meyakinkan dan dokter itu akhirnya luluh.


"Saya akan berterima kasih atas kemurahan hati dokter." Cara bicara Arman masih lugas.


"Nyonya Key datang ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri," awal cerita dokter pria itu, "kami melakukan pertolongan awal, beberapa jam masih tidak sadarkan diri, kami belum bisa memastikan bagian mana yang terluka parah, lalu kami memutuskan melakukan x-ray, tapi belum sempat terjadi tiba-tiba ada pendarahan dari bagian alat reproduksi, barulah di ketahui Nyonya Permana dalam keadaan hamil," jantung Arman kembali berdenyut sakit, "kami meminta persetujuan wali untuk melakukan tindakan curret, Nyonya Kenya, maaf, Nyonya Permana masih tidak sadarkan diri, dan setelah rotgen dilakukan, barulah di ketahui ada pergeseran tulang," telinga Arman mendadak berdegung mendengar cerita dokter itu, ia mungkin melewati beberapa kalimat penjelasan dokter tersebut, Arman berusaha mengontrol emosinya, sementara dokter itu masih menceritakan apa yang terjadi berikutnya, koma yang dialami Kenya, depresi pasca sadar, hingga hilangnya kemampuan berjalan Kenya.


"A-apa ada kemungkinan dia bisa berjalan lagi?" tanya Arman menahan getir.


"Dulu, andai beliau punya semangat lebih untuk menjalani terapi, kemungkinan untuk berjalan lagi sangat besar, tapi beliau waktu itu sangat terpuruk, dan sekarang sudah memasuki satu tahun, kemungkinan itu sangat kecil bahkan tidak ada."


Tidak hanya Arman, dokter itu juga menampakkan wajah putus asa.


"Sedikit saja aku butuh satu persen, aku akan memanfaatkannya, katakan sesuatu, katakan kemungkinan itu, aku akan mewujudkannya," mungkin Arman terdengar memaksa, tidak ada salahnya mencoba.


Dokter itu mengambil napas dalam kemudian menghembuskannya, bertingkah seperti ada beban yang ia pikul, "satu persen itu mungkin bisa anda dapatkan, tapi tidak disini, kami tidak memiliki peralatan lengkap dan canggih seperti rumah sakit di Jerman, anda mengerti maksud saya?"


Mendengarnya Arman tersenyum. Pasti, satu persen itu akan ia dapatkan.


***


Arman keluar dari ruangan dokter itu dengan perasaan lega. Satu persen, ia akan mengambil kesempatan itu meski harus mencarinya ke benua lain di muka bumi ini.


Sedikit tergesa-gesa, Arman berjalan melewati lorong rumah sakit. Tidak sedikit orang menoleh padanya. Baik karena penampilan, atau karena familiar dengan wajah pria itu. Sambil berjalan, tangannya merogoh saku setelan jas mahalnya. Sudah lewat dua puluh menit dari jam istirahat kantor. Gatut menjadi tujuan telfonnya.


"Ya, Tuan?"


"Aku sedikit terlambat, apa ada masalah?"


"Tidak ada, semua terkendali, hanya Tuan Hiban yang mencari anda, dia ingin menanyakan hal kemarin katanya."


"Nanti aku akan menemui anak itu, aku kemnali sekarang."


"Tuan!"


"Ya, ada apa lagi?"


"Ada kabar dari orang yang mengawasi Nyonya Tika."


"Katakan ke poinnya," Arman menutup pintu mobil, "jangan bertele-tele!"

__ADS_1


Garut menarik napas lebih dulu untuk menstabilkan detak jantungnya, kabar ini bisa jadi yang di tunggu Dewa Bos. Garut bisa membayangkan betapa senangnya Dewa Bos mengetahui kabar ini.


"Nyonya Tika sedang berada di luar kota, dia bergerak sejak pukul sembilan, tiba di tempat tujuan pukul sepuluh tiga puluh, saat ini dia masih berada di tempat itu."


"Katakan, katakan dengan jelas!"


Jantung Arman bergemuruh dahsyat mendengar setiap kalimat yang dilontarkan Garut. Buku tangannya memutih, pelipisnya lembab meski pendingin kendaraannya telah bekerja dengan baik.


"Kemungkinan besar dia sedang berada di kediaman Nyonya Permana."


Arman merasa matanya memanas. Penantiannya berakhir, tidak menyangka akan secepat ini.


"Kirimkan, kirimkan alamatnya padaku, aku tidak kembali ke kantor."


***


"Sotonya enak Cung," pujian tulus dari Tika.


"Tambah Mba, saya bikin lumayan...lumayan sedikit."


Tika tersedak kuah soto yang membuat hidungnya panas bercampur perih. Becandan Cacung tidak lucu, tapi dia mengucapkannya di kondisi yang tepat hingga membuat Tika salah menelan.


"Cacung!" geram Tika.


"Sori Mba, minum dulu!" Cacung menyodorkan Tika air minum sambil menahan tawa.


"Kualat kamu."


"Iya, maaf. Saya bikin banyak, nanti saya bungkus buat Mba di rumah."


"Tambah ya Tik, Cacung bikinnya seenak hati, di kira tinggal bersepuluh nih," tawar Kenya lagi.


"Udah, Mba, udah kenyang, tadi saya ambil banyak kok, mangkuknya full."


"Beres, tapi ini mimpi apa si Cacung sampai bikin soto segala?"


"Lagi pengen aja, kita berdua bosan makan nasi, pengen yang berkuah, yang pedes, kata Cacung buat perayaan juga lukisan Yogi laku tiga," terang Kenya.


"Nah, sekarang laku dua."


Mendengar ucapan Tika Cacung bertepuk tangan.


"Hassseek, makan enak teroooos," ocehnya.


Ada kegetiran yang melingkupi wajah Kenya. Ia tidak bisa menentukan perasaannya, apakah harus bahagia atau sedih dengan pencapaian anaknya.


"Tik!"


"Kenapa Mba?"


"Kamu yakin, orang-orang yang beli lukisan Yogi itu benar-benar kagum sama lukisan Yogi? Bukan cuma buat iseng, di beli terus di taruh di gudang."


Tika geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan mantan bosnya. Entah sudah berapa kali dirinya memberi penjelasan akan hal ini.


"Saya yakin kok Mba, yang beli lukisan Yogi memang orang yang ngerti seni lukis itu sendiri. Orang seperti itu punya sudut pandang berbeda dari kita saat melihat sebuah lukisan yang menjadi minat mereka. Satu garis saja yang di coret di sebuah kanvas bisa memiliki makna beragam oleh beberapa orang. Garis yang sengaja di lukis bisa bermakna pembatas, bisa juga bermakna penghubung, atau bahkan pengikat. Ada juga yang melihatnya sebagai pemisah. Jadi Mba jangan khawatir. Mungkin kita lihatnya lukisan Yogi hanya sekedar corat coret warna tidak bermakna, tapi orang yang paham melihatnya berbeda, warna-warna itu mungkin membentuk harmonisasi yang memberi mereka sebuah rasa, misal saja ketenangan, bahagia, semangat, itu rahasia karya seni." Tika menyudahi penjelasannya.


"Gitu ya Tik?"


"Iya, lagian segitu ragunya sama karya Yogi."


"Bukan gitu, Mba tadinya ga yakin aja lukisan Yogi ada manfaatnya buat yang beli, harganya lagi kamu patok segitu, apa ga mahal?"


"Nah, kalau harga aku ga sembarangan kok Mba, setiap aku mau display lukisan Yogi, aku minta saran dari temanku yang jadi kurator, berapa harga yang pantas untuk setiap lukisan. Sepadan kok Mba, antara lukisan dan harganya."


Ada hembusan napas lega yang terdengar dari mulut Kenya. Kegundahannya akan hasil yang ia terima dari jerih payah Yogi tidak lagi meragukannya setelah mendengar penjelasan Tika. Jujur saja, menurutnya tidak masuk akal sebuah lukisan warna warni berharga jutaa. Kuenya saja yang di buat sambil panas-panasan tidak sampai segitu.

__ADS_1


"Syukurlah."


"O iya, aku udah beliin Yogi alat lukis baru, komplit, sebentar aku ambil di mobil."


***


Kaki Arman bergetar halus begitu mobilnya terparkir di seberang sebuah rumah mungil bergaya kuno dan berumur tua. Kayu rumah itu terlihat lapuk. Cat dindingnya telah jauh pudar dari warna aslinya.


Dia belum tahu siapa sebenarnya pemilik rumah itu. Masih belum pasti seratus persen Kenya ada di sana. Mereka masih menduga. Ini bagian dari usaha. Tidak ada salahnya menunggu. Nothing to lose. Keberuntungannya masih fifty fifty.


Arman melihat sebuah pergerakan di pintu utama rumah itu. Sosok yang ia kenali sebagai Tika keluar dari sana.


Tika menuju mobilnya, mengambil sesuatu dari sana. Arman menegakkan sedikit badannya agar bisa melihat dengan jelas pergerakan objek yang ia amati. Sangat jelas tertangkap oleh retinanya, Tika memegang beberapa kanvas di tangan, kemudian mengambil kantong plastik dengan tangannya yang bebas.


Dada Arman makin bergemuruh. Gemuruh itu menghasilkan buncah yang hampir tidak tertampung. Dadanya seperti akan meledak.


Sekarang ia makin yakin, Kenya ada di rumah itu. Arman memohon, memohon dalam hati, memohon dengan khusyuk agar bisa melihat pemilik rumah itu. Ia butuh penegasan. Ia butuh kepastian. Tidak hanya itu. Ia butuh obat. Obat untuk rasa rindu yang teramat besar. Obat yang ia cari ada di rumah itu.


Kini tidak hanya kaki, seluruh tubuhnya bergetar. Matanya memanas. Ia kembali harus menunggu sejak Tika kembali masuk ke rumah itu. Arman berusaha menenangkan diri. Menyiapkan hati untuk kejutan tak terduga ini.


Waktu seperti melambat. Muncul rasa tidak sabar mengusiknya. Ingin rasanya Arman berlari menerjang pintu itu dan melihat sendiri siapa yang ada di sana.


***


"Mba, aku pamit sekarang, ya. Takut kesorean."


"Iya deh, hati-hati!"


"Aku udah pamit sama Yogi, lukisannya aku bawa ya."


"Iya, jual yang benar."


"Selalu benar kok, buktinya rasa soto buatan Cacung enak."


"Eh, sotoku kok di bawa-bawa?" sewot Cacung.


"Ya iyalah di bawa, kan enak."


"Sudah-sudah, ayo Mba antar ke depan."


Kenya mengarahkan kursi rodanya menuju pintu. Melihatnya Cacung segera membantu dengan mendorongnya. Tika berjalan lebih dulu dengan tangan memegang beberapa kanvas yang terbungkus koran bekas.


"Aku bantuin Mba," tawar Cacung yang melihat Tika kewalahan.


"Boleh, Mba lupa bawa soto kamu keluar, ambilin gih."


"Oke, siap."


Tika kembali menghampiri Kenya begitu selesai membereskan kanvas di mobilnya.


"Mba jangan terlalu khawatirkan apapun," Tika bersimpuh di lantai teras, mensejajarkan dirinya dengan Kenya, "semua akan berjalan lancar, begitu lukisan Yogi terjual banyak, Mba bisa pindah dari sini, cari tempat yang lebih bagus."


"Mba nyaman kok di sini."


"Aku tau, tapi akan lebih nyaman di tempat yang lebih bagus."


"Makasih, udah bantu Mba sejauh ini."


"Masih ada kita, ingat, Mba ga sendiri!"


Dua wanita itu saling memeluk, bertukar rasa dan asa. Di seberang mereka, Arman tidak bisa mengendalikan emosinya. Air matanya berhamburan begitu bayangan Kenya muncul di sana. Badannya menggigil karena semua perasaan itu menyerangnya dan perasaan bersalah adalah yang paling pekat menyelimuti jiwa seorang Arman Permana. Wanita yang ia cari ada di sana. Duduk tanpa daya di atas kursi roda.


Key, maaf.


ig:@amin.lia

__ADS_1


__ADS_2