Insane

Insane
18


__ADS_3

Key mengistirahatkan sejenak tubuhnya di atas tempat tidur begitu tiba di rumah. Rasanya kenyataan yang ia dengar, bahwa dirinya sedang mengandung, seperti iklan di tivi yang di putar berulang, muncul dan pergi. Key masih tidak percaya. Karena mendapati dirinya berbadan dua sebelum menikah masih menjadi hal tabu untuk lingkungan sosialnya, membuatnya meringis takut. Apa kata orang nanti jika kabar ini merebak. Harus, Key harus menyimpannya, hanya dirinya dan Arman yang akan tahu. Dokter Dian, sudah pasti akan bungkam tentang data pasiennya.


Menyingkirkan rasa yang membuatnya tertekan, Key menelisik lebih dalam perasaannya. Perasaan yang membuat darahnya berdesir hangat, jantungnya berdetak seirama bersama dengan perut yang rasanya bergolak. Meraba perut datar dan meresapi sensasi kenikmatan yang akan dia jalani di hari berikutnya. Keluarga baru, Arman, Yogi, dirinya dan calon bayi mereka. Hati Key rasanya mengembang membayangkan episode-episode menyenangkan dalam hidupnya yang sebentar lagi akan ia lakoni. Satu lagi, dia hampir tertawa cekikikan membayangkan reaksi Arman jika ia beri tahu bahwa dirinya mengandung benih pria itu. Hati Key rasanya tidak hanya mengembang, saat ini mungkin sudah meledak.


Arman membuat alasan kehamilan menjadi alasan terkuatnya untuk mengikat Key. Apa jadinya kalau sekarang Arman tahu dirinya benar-benar hamil?


Key menutup mata, menikmati rasa yang datang, dan suara pintu yang di buka membuat tubuhnya di paksa menegak.


"Yogi sudah pulang?" Key segera turun dari tempat tidur.


"Sama Om Ojek."


"Mau makan?"


Anak itu sudah rapi dengan baju rumahnya. Tercium bau wangi sabun kesehatan yang biasa Key belikan, pertanda Yogi sudah mandi dulu sebelum mencarinya ke kamar.


"Mau melukis." Balasnya tanpa melihat wajah Kenya.


"Tidak mau makan dulu?"


"Mau melukis." Jika di paksa, Yogi akan menangis, lebih aman untuk mengikuti keinginan anak itu.

__ADS_1


"Mama siapkan alat lukisnya, Yogi tunggu sebentar."


Ada puluhan kanvas dan bertabung-tabung cat lukis yang Arman siapkan untuk Yogi. Arman meminta pada Key agar menyimpan sebagian alat itu di tempat berbeda supaya Yogi tidak sembarangan memakainya dan terbuang sia-sia. Sepertinya kanvas yang ada di kamar Yogi sudah habis di coret anak itu dan memutuskan mencari Key untuk meminta yang baru.


"Setelah melukis, Yogi nanti makan ya!"


Hari sudah menjelang petang, sebentar lagi memang jadwal Yogi makan malam, tapi melukis hampir membuat jadwal Yogi bergeser. Pengaruh Arman. Anak itu menunjukkan rasa antusias berlebih pada hobi barunya. Yogi sedang mencampur warna sekarang. Di latih Arman selama sehari penuh, membuat anak itu kini cekatan meracik warna sendiri. Key meninggalkan Yogi untuk membersihkan diri. Hidupnya terasa mudah, saat Yogi sudah terbiasa melakukan kegiatan sendiri tanpa harus ia bimbing lagi.


***


"Untuk apa dia ke rumah Dian? Bukannya Dian seorang dokter?" Arman bicara pada ponsel yang ia pegang yang dihadapkan dengan wajahnya sekarang. Benda itu tidak juga berkedip sejak terakhir ia mengirim pesan pada Kenya.


Arman berperang melawan keinginannya. Bertahan pada janji tidak mengunjungi Key atau datang sekarang juga ke rumah wanita itu dan menanyakan sendiri kenapa Key mengunjungi Dokter Dian, sekaligus, mengobati rasa rindu yang tertahan. Dian termasuk list tamu yang mereka undang dan undangan juga sudah di kirim, untuk apa Key mengunjunginya lagi?


Arman makin gelisah karena Key tidak juga membalas pesannya. Dia hampir gila menahan diri. Masa bodoh dengan janji. Arman mengambil kunci dan berangkat detik itu juga ke rumah Key.


***


Key langsung menyiapkan makan malam begitu selesai membersihkan diri. Mendapat serangan mual tiba-tiba, Key hanya membuat satu menu untuk makan malam. Masakan favorit semua ibu rumah tangga, nasi goreng. Bahan dan proses yang mudah dan juga cepat menjadikan pilihan itu sangat bijak saat kondisi Key menurun seperti sekarang.


Satu mangkuk besar nasi goreng siap di atas meja makan. Key baru tersadar, nasi yang ia buat terlihat lebih banyak setelah dia olah menjadi nasi goreng, padahal tadi ia merasa membuat hanya sedikit. Seperti mual yang ia rasa, Key juga tiba-tiba saja merindukan pria itu. Kenya belum menyentuh ponsel sejak kembali dari rumah Dian. Dalam benaknya ia bisa menebak Arman sudah pasti mengiriminya pesan. Tidak usah di balas, teguhnya dalam hati, biar saja Arman mengunjunginya ke rumah karena penasaran.

__ADS_1


Key mendekati Yogi untuk mengingatkan makan malamnya. Sekarang hampir setiap hari, setelah mendapat hobi melukis, Yogi harus diingatkan untuk makan. Jika sudah memegang kuas, anak itu akan lupa. Tangannya akan terus menari tanpa ingin berhenti jika Key tidak mengingatkan Yogi.


"Ayo, istirahat makan, nanti Yogi lanjutkan lagi, sekarang malam Minggu, Yogi boleh melukis sepuasnya." Key berusaha bicara di depan wajah anaknya agar Yogi melakukan kontak mata, tapi masih belum berhasil. Tak apa, masih ada kesempatan lain esok hari.


"Yogi melukis sepuasnya."


"Iya, setelah makan, oke!"


Yogi menurut dan bergerak menuju meja makan. Dia bisa mengambil sendiri menu yang tersedia di meja. Key berterima kasih pada Yuni dan Parhan untuk hal ini. Membuat Yogi bisa melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa bimbingan lagi. Dulu, sebelum Yogi mengikuti terapi, Key kadang berteriak jika kesabarannya habis dan Yogi tidak juga bisa melakukan segala sesuatu dengan benar, mengguncang tubuh Yogi dengan mata lebar menyalang. Ah, Key menyesal jika mengingat masa-masa itu.


Saat Key melakukan suapan pertama, suara ketukan pintu dengan tega menginterupsinya. Key berdecak sebal. Baru saja ia ingin menikmati makanan setelah mualnya hilang beberapa saat lalu. Dengan berat hati ia bangun, tapi secercah harap Arman yang datang mengusiknya, semoga. Kalaupun Arman, pria itu akan masuk begitu saja jika berkunjung. Lau siapa?


Begitu pintu di buka, kontan Key merasa mual dengan ritme yang lebih dahsyat.


***


"Seriously? Haruskah terjadi sekarang? Sial." Arman harus meng,umpat kasar saat kendaraan yang ia gunakan mengalami pecah ban dua meter sebelum memasuki gapura perumahan tempat tinggal calon istrinya. Dua...dua meter lagi dan Arman harus menepi di pinggiran jalan yang tidak ada bengkel di sana. Doble sial karena dia tidak menyiapkan ban cadangan.


"Astaga," Arman mendesah pasrah, "aku menyesal melanggar janji sendiri."


Dia memilih turun dan melanjutkan pejalanan dengan berjalan kaki. Sebelumnya, tentu saja bantingan pintu mobil untuk luapan kekesalannya sudah lebih dulu ia lakukan. Dari jauh Arman bisa melihat satpam komplek tersenyum mengejek padanya. Triple sial.

__ADS_1


__ADS_2