
"Apa desainer itu bisa menyusul kita ke sini secepatnya, aku tidak punya banyak waktu Arman." kata Kenya setelah mereka selesai memesan makanan di sebuah rumah makan.
"Dia sudah menyanggupi, kita tunggu saja. Kalau dia datang terlambat kamu bisa kembali ke toko, bawa mobilku. Asalkan kamu bersedia menerima konsep yang aku usulkan padanya nanti."
Kenya memutar bola mata mendengar sikap bossy Arman seperti biasa.
"Ya ya ya, kalau itu yang terjadi silahkan lakukan, aku harap semuanya bisa berjalan sesuai rencana."
Arman tersenyum penuh kemenangan sedang Kenya melihat-lihat sekeliling rumah makan itu seperti mencari ide yang bisa ia curi untuk di terapkan di counter barunya nanti.
"Jangan mencuri ide orang lain, aku tahu sekarang kamu memikirkan hal itu," sambar Arman tepat sasaran. Kenya mendengkus.
"Apa aku seperti buku, langsung terbaca saat kau membukanya," balas Kenya sesikit kesal. Mungkin benar pria di depannya ini mempunyai ilmu telepati. Arman tertawa geli melihat reaksi Key.
"Tentu saja tidak, tadi aku hanya menebak, tapi ternyata benar. Luar biasa." Arman menyombongkan diri, "Jadi, apa sudah ada konsep yang kamu inginkan?" tanya Arman.
"Karena Wajik Merah lebih banyak memiliki menu kue tradisional, aku ingin counternya memiliki sedikit nuansa pedesaan di salah satu sudut, ambil saja wallpaper dengan nuansa kayu, dan aku suka warna kuning, jadi beberapa pajangan agar di terapkan warna itu, selebihnya ambil dari tempat induk, Wajik Merah sendiri, kamu yang lebih tahu sepertinya," jelas Kenya.
"Bisa di atur, aku senang kamu terdengar bersemangat."
"Masa? Sepertinya biasa saja."
"Apa karena aku, karena kita akan berada di satu gedung?"
"Arman."
"Ya ya ya, aku tahu aku belum berhasil, membuka hatimu."
Kenya tertawa lepas melihat wajah kekanakan Arman jika sedang kesal.
"Tidak lucu, Key."
"Jangan buat wajah seperti itu, kamu terlihat seperti Yogi." Kenya mengubah tawanya menjadi senyuman.
Hingga pesanan mereka datang, orang yang mereka tunggu belum juga muncul. Arman dan Kenya memulai makan siang mereka dengan tenang. Beberapa suapan lolos ke mulut mereka dan tanpa mereka sadari, seorang pria berdiri dekat meja mereka menghadap Arman, di belakang Kenya.
"Tuan Arman Permana?"
Arman menoleh, Kenya menghentikan aktivitasnya, suara itu tidak asing di telinganya, Kenya membeku dan tidak berani menoleh atau berbalik.
"Iya, saya Arman."
Pria itu mendekat, mengambil posisi ke samping Arman, Kenya memalingkan wajah ke sisi yang lain, ingatannya berputar, suara itu sangat di kenalnya. Sangat.
Pria itu mengulurkan tangan, Arman berdiri dari duduknya menjabat tangan pria itu.
"Akhirul Husyabani, panggil saja Bani."
"Senang bertemu anda pak Bani, saya Arman Permana."
Kenya sedikit gelisah, sebentar lagi Arman pasti akan mengenalkannya.
"Silahkan duduk."
__ADS_1
Kenya di landa panik, tenggorokannya terasa menelan batu besar dan...
"Kenalkan, Kenya Panaringan, pemilik Wajik Merah, pemilik proyek counter yang akan anda tangani," suara Arman terdengar seperti bom di telinga Kenya.
"Key, kenalkan ini Pak Bani, julukannya Wong Cosmic si tangan emas, dia desainer yang aku maksud, maaf sepertinya aku lupa memberitahumu sebelumnya." timpal Arman lagi.
Kenya berusaha tenang sekuat tenaga, menekan rasa panik yang tiba-tiba datang bersama dengan kedatangan seorang Bani. Semoga Arman tidak menyadari wajah piasnya yang ia paksakan tersenyum.
Kenya menjabat tangan Bani tanpa suara. Pura-pura tidak mengenalnya saja di depan Arman mungkin akan lebih baik. Entah berapa besar rasa malu yang terbentuk di sekujur badannya saat ini. Mendadak, sekeliling Kenya terasa sepi.
Arman dan Bani memulai perbincangan tapi telinga Kenya tidak bisa menangkap pembicaraan mereka. Kenya juga tidak menyadari Bani yang sesekali menatapnya intens. Sekelebat bayangan masa lalu berputar kembali dalam ingatannya. Bagaimana ia dulu hampir menjadi wanita brengsek yang mengejar seorang Wong Cosmic. Damn.
Setelah sekian lama, kenapa orang ini datang lagi dalam hidupnya. Selebar daun kelorkah dunia ini?
Tangan Kenya bergemetar kecil saat mencoba mengambil gelasnya yang berisi minuman. Dengan susah payah ia menelan cairan dari gelas itu yang rasanya berubah hambar. Ekor matanya menyambar sekilas pria yang duduk di sampingnya. Sialnya, pesona Wong tidak berubah seperti enam atau tujuh tahun yang lalu. Kenya meringis dalam hati, perutnya mual, tenggorokannya terasa sempit. Kenya ingin bicara, iya, harus, dia harus keluar dari tempat itu sekarang juga.
"A-Arman!"
Meski suara Kenya hampir tidak terdengar Arman menoleh, melihatnya dengan raut khawatir. "Iya?"
"Bisa kita bicara sebentar."
Wong tersenyum samar, mudah baginya menebak perubahan yang terjadi pada Kenya.
"Tentu saja, ada apa?"
"Tidak di sini," Kenya mengambil tasnya yang tergantung di sandaran kursi, "Kita bicara di luar."
Meski sedikit heran, Arman mengikuti keinginan Kenya, Arman meminta persetujuan Bani dan meminta maaf karena harus meninggalkannya di tengah pembicaraan serius mereka yang sebenarnya harus melibatkan Kenya.
"Dia masih seperti yang dulu." Wong bergumam.
***
"Bu Manajer, kita kekurangan nagasari dan wajik satu loyang lagi. Bagaimana ini?" Erwan memberikan laporan pada manajernya, mereka kini berkutat di dapur mengemasi pesanan kue yang harus di antar sore itu.
"Bagaimana bisa, bukannya mba Key sudah membuatkan tiga loyang, harusnya malah lebih."
"Customer minta tambahan mendadak bu, tadi dia konfirmasi setelah mba Key pergi makan siang, potongan yang lebih sudah di kemas tapi belum mencukupi untuk jumlah pesanan."
"Coba lihat ke ruang display," perintah manajer itu sedikit panik. Masalahnya dari informasi yang ia terima dari Erwan, customer mereka ini adalah istri seorang pejabat. Pesanan ini akan memberikan apresiasi besar bagi kelangsungan Wajik Merah. Jika mereka gagal memuaskan selera si ibu pejabat, bisa jadi pamor WM sebagai salah satu toko kue tradisional terkemuka akan jatuh.
"Tersisa lima belas potong wajik dan sepuluh nagasari," lapor Erwan.
"Tutup toko!"
"Hah?" Erwan dan Gocen tersentak bersamaan. Mungkin saja mereka salah dengar.
"Tutup pintu toko!" ulang sang manajer.
Erwan segera keluar menuju ruang display memberi tahu Cacung perintah sang manajer. Cacung segera beringsut dari belakang meja kasir, memutar tulisan Open menjadi Close, dan mengunci pintu.
"Bawa semua kue yang tersisa di ruang display ke dapur!"
__ADS_1
Erwan dan gocen segera bergerak melaksanakan perintah. Mereka mengambil nampan-nampan berisi kue yang tersisa di sana.
"Berapa tambahan kotak yang di minta?"
"Enam puluh."
"Wah, luar biasa, tambahan mendadak sebanyak itu," reaksi sang manajer. Semua karyawan terlihat tegang, tapi manajer itu berusaha tenang setengah mati.
"Apa saja kue yang tersisa?"
"Lemper, klappetart, bingka, centil manis, ada karamel cake yang belum di potong, dan risoles." suara Cacung melapor lantang.
"Apa ada permintaan khusus untuk kotak tambahan, Erwan?"
"Tidak ada."
"Bagus, jangan konfirmasi lagi, langsung saja nanti bawakan dengan kotak pesanan awal. Sekarang bagi semua kue yang tersisa menjadi empat jenis per kelompok, lalu kemas, Gocen siapkan dan hitung tambahan kotak sebanyak enam puluh. Jika masih kurang, ambil kue yang belum di potong di ruang display. Kerjakan sekarang!"
Para karyawan itu segera bergerak melakukan tugas masing-masing. Semua bekerja, melakukan yang terbaik secepat yang mereka bisa. Masih ada sisa waktu satu jam sebelum pesanan itu di antar. Manajer itu berusaha menghubungi Kenya, ingin menanyakan apakah tindakannya sudah benar? Tapi jika di lihat dari situasi yang ada, rasanya dia tidak akan di salahkan nanti akan apa yang terjadi. Bagaimanapun nama besar Wajik Merah sedang di pertaruhkan saat ini.
Dua kali mencoba, manajer itu belum bisa menghubungi Kenya. Tak mengapa, asal keadaan sudah bisa ia kendalikan, bosnya tak akan marah. Pasti.
***
"Ada apa Key? Apa terjadi sesuatu? Kamu sakit?"
Arman meraba kening Kenya, tidak mendapati suhu panas di dahi wanita itu.
"Arman, aku mau minta tolong!"
"Minta tolong?"
"Maaf ini mungkin tidak akan terdengar profesional. Aku akan membayarmu sesuai dengan pekerjaan, sesuai dengan apa yang kau kerjakan, seperti di WM dulu, ketika menjadi manajerku, aku akan membayarmu..." Kenya merancau, terlihat jelas dia dalam kebingungan dan bimbang yang besar.
"Key!" "Arman, aku akan menyerahkan," "Key!" mereka bicara bersamaan, Kenya tidak berhenti merancau mengungkit bayaran membuat Arman harus mengeraskan suara.
"KENYA!"
Kenya terkesiap, suara Arman membungkamnya.
"Tenang Key! Aku mendengarmu, aku paham semua ucapanmu, tenanglah!"
Beberapa saat mereka diam membuat keheningan, Kenya mengumpulkan ketenangan, Arman menganalisa apa yang sebenarnya terjadi pada Kenya.
"Aku serahkan proyek counter ini padamu, apa bisa?" ucap Kenya saat mendapatkan lagi ketenangannya.
"Tentu saja, tapi kenapa? Di awal kemarin kamu bersikeras ingin menangani ini sendiri."
"Itu...alasannya...karena.... Kita bahas lain kali. Aku harus kembali, manajer terus menelponku dari tadi, pasti terjadi sesuatu di WM. Aku akan terima konsep yang kau usulkan, ya. Aku kembali, maaf."
"Key!"
Kenya hendak berbalik tapi Arman menahan tangannya.
__ADS_1
"Bawa mobilku!"
"Tidak, aku pakai taksi saja. Aku sedang dalam kondisi tidak bisa menyetir, tapi aku baik-baik saja, ya! Aku balik dulu, lanjutkan meetingnya."