Insane

Insane
Sembilan


__ADS_3

Kenya membuat sarapan sederhana di dapur dengan terburu-buru. Akibat pembicaraannya semalam dengan Arman, membuat tidurnya tidak nyenyak dan berujung bangun terlambat. Terlambat untuk orang lain dengan kondisi normal mungkin bukanlah perkara sulit. Tapi bagi Yogi, terlambat beberapa menit saja dari jadwal yang seharusnya maka itu akan membuat Yogi terganggu yang bisa berujung tantrum. Untuk saat ini Kenya bisa sedikit bernapas lega. Yogi tidak lagi perlu ia bantu untuk mandi, berpakaian dan mengenakan sepatu. Yogi sudah bisa melakukannya sendiri.


Yang jadi masalah sekarang, sarapan yang belum siap dan kendaraan untuk mengantar anaknya ke tempat terapi. Kemarin, Kenya berjalan kaki pulang dari toko kuenya karena Erwan yang membawa mobil toko untuk mengantar pesanan kue pagi ini. Jarak dari rumah sampai ke toko hanya 50 meter, tapi kadang Kenya memang harus membawa pulang mobil tokonya agar lebih aman.


"Mama, sarapan Yogi. Ini waktunya Yogi sarapan." Yogi datang tepat saat kenya mengangkat telur dari atas penggorengan. Ia lalu menaruhnya di atas piring dan menghidangkannya dengan sepiring nasi goreng.


"Sudah siap sayang, hati-hati masih panas. Jangan lupa di tiup dulu ya sebentar. Seperti ini."


Kenya mencontohkan Yogi bagaimana memotong telur dan cara meniup agar tidak terasa panas saat anak itu memakannya. Hal sepele, tapi Yogi harus di beritahu langkah-langkah kegiatan baru yang akan dia lakukan karena dia tidak seperti anak normal lainnya.


"Yogi bisa kan?"


"Yogi bisa," jawabnya tanpa memandang pada Kenya.


"Anak pintar." Kenya mencium puncak kepala anaknya, "Mama siap-siap dulu ya, Yogi sarapan sendiri." Yogi memberi anggukan lalu Kenya meninggalkannya di meja makan.


Kenya baru akan menekan aplikasi ojek online namun sebuah panggilan masuk menghalanginya.


Sempat ragu karena masih merasa malu, tapi Kenya akhirnya menerima panggilan itu.


"Iya, belum, dia sedang sarapan, memang bisa? Tapi aku sepertinya tidak bisa dan mama yang akan menunggu Yogi nanti di tempat terapi," menunggu jawaban dari Arman, Kenya membuka lemari dan memilih pakaian.


"Kalau tidak masalah ya silahkan saja, APA? sudah di depan? Sebentar, aku pakai baju dulu Yogi memang akan terlambat kalau harus nunggu taksi."


Kenya dengan langkah seribu mengganti pakaiannya, menyisir rambut, mengoles lipstik tipis dan menabur bedak di wajah.


"Maa, jadi ma...mama udah siap ternyata."


Kenya keluar dari kamar dan mendapati ibunya sudah siap dengan Yogi yang juga sudah selesai sarapan.


"Ma, mama ga keberatan Arman yang nganter ke tempat terapi? Kita ga keburu kalau harus nunggu taksi."


"Arman? Arman manajer toko kamu itu?"


"Iya, dia kebetulan tadi dia lewat sini. Jadi sekalian nganter Yogi, aku harus ke toko, hari ini banyak orderan."


"Ya sudah tidak apa-apa, ayo, nanti Yogi beneran telat, bisa gawat."


Meski sang mama sedikit ragu dengan alasan yang di berikan Kenya, tapi Kinan menyetujui ucapan anaknya. Hampir terpekik dengan kendaraan mewah yang di bawa Arman pagi itu, keraguan Kinan bertambah besar. Mustahil jika Arman hanya kebetulan lewat kemudian bersedia mengantar Yogi tanpa ada maksud lain.


"Mama sama Yogi jalan dulu, nanti kita bicara," pamit Kinan pada Kenya yang melepas mereka dari pintu gerbang. Tanpa Kinan mengatakan secara langsung pun Kenya tahu maksud sang ibu.


"Mama hati-hati!"


Tidak ada kata yang terlontar dari Arman atau Kenya untuk satu sama lain, tapi bahasa tubuh mereka cukup jelas menyatakan bahwa ada yang terjadi antara bos dan mantan karyawannya itu. Arman hanya melambaikan tangan pada Kenya di barengi dengan senyum mengembang sebelum memasuki kendaraan.


Setelah mobil Arman menghilang berbelok dari kompleks perumahan Kenya, Kenya segera kembali ke dalam rumah dan mengambil tas beserta keperluan lain.


***


"Gimana hari ini? Ada pesanan lagi?" tanya Kenya saat melihat manajernya mengecek persediaan bahan baku kue.

__ADS_1


"Iya mba, nanti siang 35 kotak ke SMP Bina Bangsa, sorenya 60 kotak ke hajatan salah satu pelanggan, alamatnya sudah di tangan Erwan."


"Bahan-bahan aman?"


"Aman mba."


"Erwan sudah kembali?"


"Sedang dalam perjalanan kembali. Wajik merah kita butuh tiga loyang lagi, mba Key bisa bikin sekarang."


"Gampang, makasih ya, saya cek anak-anak di dapur sebentar."


"Sip mba."


Setelah melihat pekerjaan para karyawan, Kenya bergegas menuju dapur khususnya. Menyiapkan semua bahan yang ia perlukan untuk membuat kue wajik merah. Santan, ketan putih, dan gula merah adalah bahan baku untuk membuat kue tradisional itu. Sedangkan bahan pelengkap lainnya hanya garam dan daun pandan. Bahan sesederhana itu, pun karyawannya belum ada yang bisa membuat wajik merah dengan rasa dan tekstur seperti buatan Kenya. Kadang para karyawannya merasa bodoh sendiri dan tak habis pikir kenapa tangan mereka tidak bisa menyamakan hasil wajik merah seperti buatan tangan sang bos meski bahan sudah di takar sesuai petunjuk Kenya.


Saat Kenya mengaduk campuran santan dan gula merah, suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Dengan segera ia mengambil benda pipih itu yang tergeletak di salah satu sudut meja.


"Maaf, tadi malam karena pembicaraan serius kita aku lupa memberitahu, aku sudah mendapatkan seorang desainer interior handal yang akan membantumu untuk proyek WM, apa nanti malam kita bisa mengadakan pertemuan?" suara Arman di seberang.


"Nanti malam? Tentu, katakan saja di mana tempatnya," jawab Kenya sambil terus mengaduk adonan santan di atas kompor, "Auch, ssshh," Kenya segera meletakkan ponselnya dan menuju keran air.


"Key, ada apa? Key, jawab! Hallo, Key! Kenya Panaringan! Katakan ada apa? Apa yang terjadi?" suara Arman terdengar panik di seberang. Tentu tanpa jawaban dari Kenya membuatnya panik sendiri di sana.


Kenya mengaliri pergelangan tangannya yang terkena pinggiran wajan panas. Luka bakar kecil tapi akan mengganggunya jika tidak segera ia tangani. Setelah di rasa sudah membaik, Kenya kembali mengambil ponsel dan mengaduk adonan wajik di atas kompor.


"Hallo, Arman? Hallo?" Kenya menyalakan layar ponsel, "Kenapa di matikan, mungkin dia sibuk" Kenya mengendikkan bahu dan meletakkan ponselnya kembali.


***


"Garut, apa jadwalku siang ini?" tanyanya pada sang sekretaris yang sedang sibuk dengan layar laptopnya. Mendengar suara atasannya yang tiba-tiba dia segera bangkit.


"Pertemuan dengan City corp siang ini jam satu, Pak."


"Tolong, undur ke jam dua, aku keluar sebentar."


"Tapi Pak,..." belum sempat Garut melanjutkan ucapannya Arman lebih dulu pergi dengan raut wajah yang masih terlihat cemas. Meninggalkan Garut yang bertanya sendiri dalam hati, ada apa dengan atasannya itu.


Tentu saja Garut sedikit curiga. Arman sang atasan yang ia kenal disiplin, teratur dan patuh dalam setiap pekerjaan dan kegiatannya tidak akan merubah jadwal jika tidak ada sesuatu yang sangat penting. Hal yang sangat penting untuk ranah lingkup seorang Arman adalah keluarga. Tapi yang Garut tahu ke dua orang tua bosnya itu sudah tiada. Mungkin ada urusan mendadak dengan anggota keluarganya yang lain, bisa saja. Garut membuka buku agenda tebal yang berisi segala jadwal keseharian Arman, memindai sebuah nama dan menekan nomor yang bersanding dengan nama itu.


Arman kini tengah melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Jika mengikuti keinginannya sendiri, mungkin Arman akan melaju dengan kecepatan penuh agar segera tiba di Wajik Merah. Sayangnya, keadaan lalu lintas yang cukup ramai membuatnya harus menekan keinginannya itu.


Dua puluh lima menit perjalanan di tempuh Arman dan barulah ia bisa tiba di WM. Karena terlanjur di liputi kecemasan, ia sampai lupa menelpon Kenya lagi dan menanyakan wanita yang sedang ia kejar itu.


Dari kaca jendela besar yang mengelilingi Wajik Merah, Arman nisa melihat dari luar bahwa tempat itu sedang di kunjungi oleh para langganannya yang kebanyakan ibu-ibu pecinta kue tradisional.


Arman segera masuk, melewati ruang display dan kehadirannya membuat Cacung, yang saat itu berada di belakang meja kasir, tersentak kaget.


"Eh, lho, pak Arman?"


"Ibu Kenya mana?"

__ADS_1


"Ada di belakang."


Arman segera melangkahkan kaki melewati pintu menuju dapur. Cacung menganga hebat melihat tampilan Arman yang jauh berbeda dari penampakan terakhir Arman saat masih bekerja di sana.


Rambut gondrongnya sudah di pangkas rapi, batin Cacung saat itu.


Di dapur, Erwan dan Gocen melihat kedatangan Arman dan juga terlihat kaget karena pertama kalinya Arman berkunjung setelah mengundurkan diri beberapa bulan lalu.


Para karyawan laki-laki itu hanya memberi anggukan kepala karena tangan terampil mereka sibuk mengolah bahan kue.


Melewati Gocen dan Erwan, Arman langsung menuju dapur khusus Kenya. Aroma khas kue wajik langsung merangsek masuk ke dalam indra penciuman Arman. Aroma yang kadang ia rindukan, yang hanya di hasilkan oleh tangan Kenya.


Di lihatnya Kenya sedang membagi adonan ke dalam loyang, tidak menyadari kedatangan Arman. Saat itu juga Arman dibanjiri perasaan lega yang luar biasa. Arman segera menghampiri wanita pecinta kue tradisional itu. Mengamati dengan seksama bagian tubuh Kenya yang kemungkinan terluka saat mereka bertukar suara.


"Sudah selesai?"


Kenya menoleh, melihat Arman yang berdiri di depannya dan hanya di pisahkan meja dapur panjang.


"Lho, kamu di sini?"


"Apa kamu terluka?"


"Oh, tadi hanya tersambar pinggiran wajan," Kenya mengangkat lengannya yang terluka dan Kenya terpaku tiba-tiba.


Sejak kapan Arman ada di depannya dan mereka sudah tidak di pisahkan oleh meja?


Dua kali ini dan dalam hitungan setengah hari Arman bersikap manis padanya. Kenya sedikit bingung, gugup dan takut. Matanya awas pada pintu, waspada jika karyawannya melihat perilaku Arman saat ini.


"Arman!" Kenya ingin melepaskan pelukan, menarik pelan tubuhnya yang di dekap Arman.


"Arman, ada yang lain di luar, kamu..."


Arman menarik napas dalam lalu melepaskan pelukannya.


"Terima kasih karena hanya terluka kecil."


"Hah, maksudnya?"


"Tidak ada, tadi aku hanya khawatir, apa sudah di obati?"


Arman melepas pelukan menarik tangan Kenya yang terluka. Guratan merah bekas luka bakar terlihat jelas di lengan putih Kenya.


"Hanya luka kecil, tidak perlu di obati, nanti juga hilang." Kenya sedikt waswas karena Arman masih memandang tangannya dan takut jika ada karyawan yang masuk tiba-tiba.


"Sudah lihat kan? Hanya luka kecil. Tapi kenapa kamu jauh-jauh datang ke sini, kamu seharusnya sedang sibuk-sibuknya juga sekarang."


"Aku hanya khawatir, wanita yang sedang aku kejar hatinya tadi sedang merasakan sakit. Sebagian besar dari diriku memerintah agar segera menemui wanita itu," kata Arman dengan nada santai sambil bersedekap.


Semburat merah menjalari wajah Kenya. Astaga, apa yang terjadi dengan jantung Kenya saat ini? Kenapa getarannya tidak seperti biasa?


"Arman, jangan berlebihan, kembali saja ke kantor!" ujar Kenya gugup, terbata, dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang berubah merah muda.

__ADS_1


"Sebentar lagi jam makan siang, kita makan di luar saja, lagi pula aku sudah memundurkan jadwal hari ini, jadi kita bisa makan siang bersama."


__ADS_2