
Siapalah Cacung dalam hidup Kenya. Gadis itu telah menjadi karyawan Kenya sejak tamat sekolah menengah atas. Saat itu Cacung berkeliling sambil membawa map berisi biodata, ijazah dan surat lamaran bekerja. Kenya sempat mengira Cacung tukang minta-minta yang mengatasnamakan panti asuhan dan sejenisnya. Terang saja, karena Cacung berpakaian lusuh dan wajahnya memang wajah gadis kampung. Jika di lihat lebih lama, Cacung memilikinwajah yang manis. Hanya saja semenjak menjadi karyawan Kenya, Cacung kerap merias diri dengan full make up setelah mendapat gaji. Wal hasil wajah manisnya tertutup oleh riasan.
Cacung menatap penuh minat pada jendela kaca toko Wajik Merah yang memperlihatkan jejeran kue yang baru matang. Saat itu Kenyalah yang memajang kue itu. Ia melihat Cacung dan mengerti kalau Cacung ingin menikmati kuenya.
Kenyan kemuadian keluar dari toko dan mengundang Cacung ke dalam tokonya. Dia mendudukkan Cacung di kursi dan mengambilkan satu satu kue yang ia buat.
Sejak saat itu Cacung menjadi karyawannya. Setelah perutnya kenyang barulah Cacung mengatakan dirinya sedang mencari pekerjaan, bukannya mengemis seperti yang Kenya kira. Kenya memberinya pekerjaan itu dan menerima Cacung dengan tangan terbuka.
Kenya sudah dianggap kakak oleh Cacung. Satu tahun ini Cacung melihat Kenya bersedih. Meski mereka tertawa bersama, bercerita, Cacung tahu Kenya memendam sebagian masalahnya.
Cacung mendengar pembicaraan Kenya dan Elia. Bukan bermaksud menguping, tapi di rumah sekecil itu akan sulit untuk tidak mendengar pembicaraan yang di lakukan di ruang terbuka seperti di ruang tamu. Cacung yang berada di dapur sangat bisa mendengar dengan jelas.
Berkat menguping yang tidak diniatkan itu, Cacung yang tadinya tidak berada di pihak Arman berbalik mendukung lelaki itu. Meski setahun lalu Arman bersikap brengsek, paling tidak sekarang Arman tampak bersungguh-sungguh ingin memperbaiki kesalahannya. Karena itu, Cacung memberi pandangan pada Kenya untuk memaafkan.
Sekarang Cacung juga bisa mendengar percakapan Kenya dan Arman dari luar kamar. Semoga Kenya mengambil kepustusan yang tepat.
***
Peluang Kenya untuk bisa berjalan lagi asal melakukan pengobatan di Jerman, sudah berada di ujung lidah Arman untuk diucapkan saat Kenya mengatakan dirinya cacat permanen. Bukan, bukan itu yang saat itu menjadi fokus utamanya.
Membuat Kenya kembali dalam pelukannya adalah langkah paling awal dan paling penting untuk Arman lakukan. Jika dia mengatakannya sekarang, sudah pasti Kenya akan terus mengira dirinya kembali hanya karena kasihan. Wanita itu keras kepala, dia harus di yakinkan dalam waktu lama. Tidak cukup sekali.
"Sekali ini saja Key. Aku tau perbuatanku tidak termaafkan, tapi bukankan setiap orang yang sungguh-sungguh boleh mendapat kesempatan kedua?"
Dalam posisi yang masih memeluk Kenya, Arman masih berusaha memenangkan pertarungan meski peluangnya sangat tipis. Kehilangan calon bayi mereka adalah hal yang paling tidak bisa membuat Kenya menerimanya kembali dan Arman tahu itu. Sejak awal sikap Kenya menandakan penolakan yang kental.
"Kalau aku memberikannya, apa kamu akan menggunakannya dengan baik?" Kalimat yang Kenya ucapkan sangat bertolak belakang dengan keingin sebenarnya. Tapi lagi-lagi ucapan Elia mengusiknya.
"Pasti, pasti Key," jawab Arman sungguh-sungguh. Dia belum melepaskan pelukan karena Arman merasa jawaban Kenya belum....
"Baiklah, lakukan usahamu yang terbaik, kesempatan ke dua, kamu mau itu? Aku memberikannya, sekarang pergi bekerja, cari uang sebanyak yang kamu bisa karena sekarang aku pengangguran, tidak suka kelaparan, dan tidak suka mengurus orang sakit."
__ADS_1
Arman tidak hanya melonggarkan, dia melepas tubuh Kenya begitu saja. Tidak sepenuhnya, karena tangan lelaki itu memegang bahu Key dengan tatapan tidak percaya.
"Apa?" tantang Kenya.
Arman meneliti, mencari jejak candaan, main-main, atau mungkin Kenya sedang melawaknya. Nihil. Wajah Kenya tidak menyiratkan candaan setitik pun. Mata Arman seperti akan menangis, beruntung dia ingat dirinya seorang laki-laki.
"Serius?" tanya Arman tak percaya.
"Kamu mau aku tarik la___"
Arman tidak membiarkan Kenya menyelesaikan kalimatnya. Dia memilih jalan pintas dengan membukam saja bibir merah Kenya dengan miliknya. Tentu saja Arman tidak akan membiarkan Key menarik lagi ucapannya.
Arman tersenyum saat Kenya membalas ciumannya. Tidak seperti ciuman mereka di awal pertemuan dulu. Saat itu dirinyalah yang agresif dan Kenya bertindak pasif.
Dan sekarang, usahanya mulai menemukan hasil.
***
Arman sama sekali tidak memperlihatkan wajah risih saat harus memakai peralatan mandi yang di pakai Kenya, juga memakai handuk Kenya. Sebaliknya, Kenya lah merasa tidak nyaman dengan apa yang Arman lakukan. Dia bekali-kali menggeram marah saat Arman bersikeras menumpang mandi di sana dan memakai handuk Kenya seenaknya.
Dan, Arman begitu niatnya menginap di sana yang tanpa Kenya duga. Arman sudah menyiapkan baju ganti lengkap, untuk ke kantor dan baju rumahan. Pria itu sepertinya sudah di beri petunjuk usahanya akan berhasil hari ini.
Seperti saat ini, Arman dengan wajah cerahnya menata sendiri bajunya di lemari Kenya, membuat Key semakin di landa frustasi. Kenya jadi ragu, menimbang kalau Arman cenderung gila daripada terobsesi sebenarnya.
"Bajumu sedikit Key, mau beli baju lagi?"
"Enggak."
Arman menutup lemari begitu menyelesaikan kegiatannya. Dia hafal nada itu. Artinya Kenya sedang sebal. Sudah pasti karena ulahnya. Mau bagaimana lagi, Arman terlalu lemah untuk tidak mengikuti nalurinya.
"Mau makan siang di luar?" tanya Arman tak tupus asa. Tubuhnya yang sudah tertutup setelan jas kembali bersimpuh, menyesuaikan tingginya dengan Kenya.
__ADS_1
Kenya menggerakkan tangannya, merapikan dasi di leher Arman, "aku ga suka melakukan kegiatan yang harus merepotkan orang lain, tidak suka melakukan kegiatan seperti saat aku tidak menggunakan kursi roda," jemari Kenya menggenggam kerah jas Arman.
"Jangan terlalu keras berusaha membuatku senang, aku cukup nyaman dengan keadaanku yang sekarang, dan untuk melakukan kegiatan seperti ajakanmu, itu bukan zona nyamanku lagi."
***
Tidak seperti bayangannya, hari ini Garut cukup sibuk melewati harinya. Di balik sikap manis, ternyata Arman sudah menyiapkan sederet pekerjaan yang harus Garut lakukan untuk kepentingan pribadi Dewa Bos.
Ya, lembar kertas HVS itu berisi daftar pekerjaan yang harus Garut lakukan untuk Arman, demi Kenya pastinya. Dari menghubungi tukang untuk merenovasi rumah Kenya dan toko Wajik Merah, mencari disainer eksterior-interiornya, dan yang paling membuat Garut jengkel adalah dia harus menghubungi Kantor Urusan Agama untuk mengurus daftar pernikahan Arman.
Garut baru menutup telpon ketika Arman muncul dari pintu lift. Begitu menyadari kedatangan Dewa Bos, dia langsung melihat pada jam di tangannya yang tepat menunjukkan pukul satu siang. Luar biasa.
"Siang, Pak."
"Siang Garut, bagaimana pekerjaanmu?"
"Saya baru menghubungi pihak proyek untuk rumah dan toko Nyonya," Arman membuka pintu ruangannya, diikuti Garut di belakang.
"Lanjutkan!" kata Arman begitu duduk di kursi.
"Setelah ini saya akan ke Kantor Urusan Agama."
"Bagus, ada lagi?"
"Tuan Ejet menelpon, beliau meminta anda menghubunginya, dan ada email dari Tuan Hiban, beliau ingin anda mempercepat pencarian penggantinya. Tuan Hiban juga memberitahukan masalah penentuan kenaikan harga produk yang akan di sesuiakan dengan harga pasar, di sana terjadi perbedaan pendapat, beliau meminta analisa anda."
Garut mengira Arman akan kehilangan senyumnya begitu mendengar berita dari Hiban. Nyatanya senyum Dewa Bos tidak juga pudar sedari awal kedatangannya. Ada apa gerangan?
"Baik, kerjakan tugasmu, dan aku akan menyelesaikan bagianku."
"Apa anda ingin saya pesankan makan siang?"
__ADS_1
"Tidak perlu, aku membawa bekal, ini masakan Kenya, tolong sediakan air putih saja."
Mendengar Arman membawa bekal untuk pertama kali, Garut mendadak vertigo.