Insane

Insane
23


__ADS_3

Arman membawa Wong dan keluarganya ke dalam sebuah tempat makan yang dekat dengan tempat mereka bertemu tadi. Arsa menyuapi anak-anaknya di meja lain tempat makan itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Arman membuka percakapan mereka.


"Tuan Ar..."


"Panggil Arman saja, kita sebaya."


"Tapi..."


"Wong! Ceritakan apa yang terjadi setahun lalu!" Wong pernah berbicara dengan Arman sebelumnya, tapi tidak pernah mendengar nada memelas Arman seperti yang Arman lakukan sekarang.


Wong menarik napas dalam sebelum membuka suaranya.


"Saya mendengar kecelakaan yang menimpa Kenya dua hari setelah kecelakaan itu terjadi dari seorang teman. Saya juga tidak percaya karena malam sebelumnya saya datang ke rumahnya untuk minta maaf karena dulu pernah mengerjainya. Saya, Key, dan Arsa berteman saat kuliah. Ah, saya lewati saja bagian itu, masa lalu kami sangat menggelikan."


Wong kebingungan melihat wajah Arman yang pucat pasi, jauh berubah saat mereka baru bertemu tadi.


"Arman, anda baik-baik saja?"


Arman tersentak, kembali setelah pikirannya menerawang sesaat, "I-iya lanjutkan ceritamu."


"Saya tidak tahu tentang detail kecelakaan, saat itu saya sudah menemukan Kenya di rawat di sebuah rumah sakit, dari orang yang menjaganya mereka mengatakan Key kehilangan banyak darah karena pendarahan. Keadaannya cukup memprihatinkan. Saya melihat pegawainya kalang kabut mencari darah yang sesuai dengan golongan darah Kenya, saya juga berusaha membantu saat itu, tapi saya tidak bisa menemukan orang yang memiliki golongan darah yang sama. Satu-satunya harapan Kenya waktu itu adalah anaknya, tapi..." entah Arman salah lihat atau matanya yang rusak, dia melihat Wong menangis sekarang.


"Tapi?"


"Anda saya rasa cukup tau kondisi Yogi, anak itu tertekan melihat keadaan ibunya dan dokter tidak bisa mengambil darah Yogi. Entah bagaimana ceritanya pada malam harinya Key harus ditindak saat saya menjenguknya, saya dan manajer tokonya waktu itu menungguinya, kami tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya saya harus pulang, jadi tidak bisa menunggu Key hingga selesai operasi. Keesokan harinya, saya datang lagi dan mendapati Key dalam keadaan koma. Hingga dua minggu setelahnya keadaannya masih sama, dan saya harus pergi ke luar daerah menangani sebuak proyek selama lima bulan. Begitu saya kembali, Kenya menghilang, saya datang ke rumahnya, tapi rumah itu telah di tempati orang lain. Katanya Kenya sendiri yang menjualnya. Sampai sekarang saya tidak tau dia tinggal di mana."


Arman merasa kakinya melayang, tidak menapaki daratan. Apa yang baru saja ia dengar bagaikan sebuah bom yang meledakkan tubuhnya. Dan setelah bom itu meledak berbagai perasaan muncul. Rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Takut, khawatir, cemas, sesal, sakit, semua rasa itu menghantamnya tanpa ampun.


"Arman! Wajah anda kenapa?"


"Ah, tidak, saya tidak apa-apa. Boleh saya bertanya satu lagi?"


"Silakan!"


"Malam itu, saat anda bertamu ke rumah Kenya, apa kalian berjanji untuk menikah?"


"Menikah? Saya dan Key? Tidak tidak tidak, anda salah paham. Seperti yang saya katakan, masa lalu kami menggelikan. Kami terlibat cinta segi empat. Key jatuh cinta pada saya, tapi Parhan mencintai Key, Parhan meminta saya agar tidak menerima Key, jadi saya berbohong padanya bahwa saya telah menikah dengan istri saya yang sekarang agar dia membenci saya. Anda tidak akan mengerti, tapi begitulah, saya sangat malu menceritakannya. Malam itu saya hanya datang untuk minta maaf, kami tidak punya hubungan apa pun, sekarang kami hanya berteman."


Arman terpukul, sangat terpukul mendengar kenyataan yang harusnya ia dengar satu tahun lalu. Sekujur tubuhnya terasa seperti di tusuk-tusuk belati. Kaki dan tangannya bergetar kecil, wajahnya pias bercampur panas karena emosinya sendiri.


"Maaf, saya harus pergi, selamat memikmati liburan Anda, Wong, dan terima kasih."


Arman berlalu begitu saja meninggalkan tempat makan itu tanpa melihat lagi pada Wong. Tatapannya penuh amarah. Amarah yang ia tujukan pada dirinya. Arman baru menyadari dia mewarisi sifat dangkal ayahnya. Orang mengenalnya sebagai pebisnis berinsting tajam. Tapi keahliannya itu tidak berlaku setahun lalu. Langkahnya semakin cepat menuju apartemannya. Arman sudah lupa kalau dia tadinya ingin mencari sarapan.


Sampai di pintu apartemen Arman meringsek masuk. Di lihatnya Ejet sedang merapikan tumpukan kertas dan koran yang tadinya berantakan. Begitu melihat koran yang ada di tangan Ejet, Arman kembali teringat sesuatu. Ia merampas kasar koran-koran itu, membolak-baliknya dengan rusuh. Ejet tentu kesal.


"Hei, aku sedang baik hati mau membereskan kekacauan yang aku buat, kenapa kau malah merusaknya lagi?"


"Mana? Mana berita itu? Di mana kamu membacanya? Cepat carikan aku berita yang tadi kamu baca Ejet!" teriak Arman dengan wajah merah.


"Kau kenapa? Apa kamu mendapat makanan basi?"


"Ejet, aku mohon carikan aku berita itu!" Arman menyadari kesalahannya dan merendahkan suara. Ejet terperanjat, sejak kapan Arman mengenal kata mohon?


"Berita yang mana? Aku membaca puluhan berita? Asal kau tau Sepupu, aku sudah selesai." Ejet menolak halus.

__ADS_1


"Berita kecelakaan itu, kecelakaan yang tadi kamu baca sebelum aku pergi, di mana kau membacanya?"


"Kecelakaan? Oh, yang itu? Tidak ada di koran, aku membacanya di situs koran online." Ejet berusaha tidak murka karena koran yang tadinya sudah ia rapikan kini berantakan lagi.


"Kau masih menyimpannya?"


"Tentu, Stella bilang akan membuatnya menjadi referensi tugas."


"Berikan padaku!"


"Maksudnya apa Sepupu, kenapa lo jadi aneh begini sih?" menguap sudah kesopanan Ejet.


"Mana ipadmu, cepat berikan, aku mau membacanya."


"Dengan syarat aku tidak perlu membersihkan apartemenmu ini."


"Tidak usah, aku akan membersihkannya nanti."


Karena Ejet paling tidak suka membersihkan, apapun itu bentukanya.


"Tentu Sepupu, ini, bacalah, lagipula aku sudah mengirim linknya pada Stella."


Arman merima ipad itu dan segera membuka platform sebuah koran online, dia menekan tombol dokumen dan mendapati berita kecelakaan yang ia cari.


"Kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan berita kecelakaan itu Sepupu?"


"Diamlah Ejet!"


"Baik, aku diam." Ejet kemudian melangkah ke dapur mencari sesuatu untuk di konsumsi.


"Apartemenmu butuh sentuhan seorang wanita sepupu, kau bertahan di Ausie dengan sangat baik, kenapa setelah di sini kau bahkan malas mengisi kulkas?" Ejet sepertinya lupa janjinya untuk diam. Di tutupnya kembali pintu lemari es di dapur Arman, "katanya kau bisa memasak, tapi disini kemampuanmu sepertinya mati, kau sudah terkena sihir kehidupan praktis negara ini, Sepupu."


"Kenapa Sepupu?"


"Bisakah kau pergi sekarang?!"


***


"Mba! Mba Key! Ada Mba Tika nih di luar."


"Iya, sebentar."


Kenya menyudahi kegiatannya menyisir rambut. Ia kemudian memutar arah kursi roda menuju pintu.


"Hai, Mba, gimana? Sehat?" Sapa Tika begitu melihay Kenya muncul di ruang tamu."


"Biasa aja, Tik."


"Kalau kabar dari saya mah pasti luar biasa dong." Balas Tika sombong.


"Memang laku berapa? Paling satu."


"Salah dong, coba tebak."


"Mba males."


"Iiih Mba Key mah ga seru. Cung!" Tika memanggil Cacung yang sedang memasak di dapur.

__ADS_1


"Kenapa Mba?!" teriaknya tanpa mau mendatangi Tika dan Key.


"Coba tebak, lukisan Yogi laku berapa?"


"SATU."


Tika geleng-geleng kecewa, sedangkan Key cekikikan di atas kursi rodanya.


"Lagian siapa juga yang mau beli lukisan abstrak kayak gitu, aku aja ga ngerti maksud lukisan anak itu."


"Mba mana ngerti kalau passion Mba bukan di seni lukis, orang yang beli kemarin mah langsung borong tiga, dia malah takjub sama lukisan Yogi."


Setelah kecelakaan itu, kehidupan Kenya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Key harus menerima kenyataan pahit bahwa kakinya mengalami kelumpuhan dan dengan berat hati menutup Wajik Merah dan menjual toko yang menjadi kebanggaannya untuk biaya pengobatan. Enam bulan pasca kecelakaan hidupnya terkatung-katung. Tapi Tuhan begitu baik mengelilingi Key dengan orang yang mencintainya. Cacung memilih mengabdi pada Key. Ikut kemana saja Key pergi. Gocen, Erwan dan Cogy, melanjutkan hidup mereka sendiri. Dan Tika, meski Wajik Merah telah resmi di tutup, dia menjadi pekerja lepas untuk Kenya. Tika dengan senang hati membantu menjual lukisan yang Yogi buat setelah melihat hasil karya Yogi saat membantu Key pindah rumah lima bulan yang lalu.


"Jadi laku tiga."


"Iya, Mba. Keren kan.Tiga udah di bayar kes, dan ada dua masih dalam pantauan seorang kolektor."


"Kok bisa sih ada yang mau beli?" tanya Key tak percaya.


"Aduh, males deh ngomong sama Mba."


***


Tidak ada penyesalan yang terjadi di belakang sebuah peristiwa. Semua orang pastinya pernah mengalami kejadian yang harus di sesali di masa depan. Dan kali ini, giliran Arman yang merasakan perasaan terkutuk itu. Rasa sesal yang mendalam sedang menghujamnya habis-habisan. Tidak hanya perasaannya yang remuk. Seluruh tubuhnya terasa mengalami luka berdarah tak kasat mata. Arman meremas rambutnya untuk mengurangi sakit kepala yang tiba-tiba datang. Hari ini terasa berbeda. Dunianya yang baik-baik saja luluh lantak dalam hitungan menit. Dia tidak menyangka, tindakan cerobohnya setahun lalu akan ia rasakan akibatnya sekarang.


Selama membaca berita online yang menulis kecelakaan yang di alami Kenya, Arman merasakan sesak yang luar biasa. Meski di tulisan itu hanya menyebutkan inisial, Arman sangat yakin, inisial KP maksudnya adalah Kenya Panaringan. Mantan calon istrinya.


Arman mendadak bodoh. Merasa lebih bodoh daripada setahun yang lalu.


Garut.


Ia teringat asistennya di Indonesia. Terakhir mereka berkomunikasi dua hari yang lalu. Arman mengambil ponselnya yang terselip di saku. Ia segera mendial kontak asistennya.


"Garut! Lakukan sesuatu, ini tugasmu, bukan tugas kantor, cari tahu tentang Kenya."


"Maaf, Tuan. Maksudnya Nyonya Kenya pemilik WM?"


"Iya, cari tau apa yang terjadi setahun lalu!"


"Tapi Tuan___?"


"Kau tau aku tidak suka mengulang perintah." Arman berusaha tenang, menahan golak besar dalam dirinya.


"Maaf, Tuan tapi..."


"LAKUKAN PERINTAHKU, APA SUSAHNYA, KENAPA KAU TERUS MEMBANTAH DENGAN KATA TAPI?" Arman tidak bisa lagi menahan amarahnya. Kenya datang dan menetap tiba-tiba di kepalanya. Mengobrak-abrik pikirannya. Ia butuh tahu bagaimana keadaan wanita itu sekarang.


"Apa kau," bicara Arman dengan napas tersengal, dadanya masih saja sesak meski sudah berteriak, "kau tau sesuatu, kau tau apa yang terjadi setahun lalu, katakan, katakan Garut!" cecar Arman.


"Tuan!"


"Ceritakan, serinci mungkin, ceritakan apa yang terjadi setelah Kenya menelponku waktu itu, BERITAU AKU SIALAN!" Arman gagal mengontrol diri.


"Tuan, tenanglah, akan saya ceritakan," Garut mulai paham bahwa Arman beru mengetahui apa yang menimpa Kenya, "Nyonya Key mengalami kecelakaan sepulangnya dari sini, taksi yang ia tumpangi di tabrak sebuah bus, hanya itu yang saya ketahui tentang kecelakaan, tapi beberapa bulan berikutnya, Tika datang membayar ganti rugi atas pembatalan sewa counter, saya dengar Wajik Merah dan rumahnya juga di jual oleh Nyonya Key. Hanya itu yang saya keta___."


"Kau, kau menerima uang ganti rugi, kantorku, perusahaanku menerima uang ganti rugi dari Kenya? KENAPA KAU MENERIMANYA KEPARAT SIALAN *******, KENAPA KAU HARUS MENERIMA UANG SEKECIL ITU KURANG AJAR, ****."

__ADS_1


Garut harus menjauhkan telinganya dari ponsel karena suara keras Arman yang memekakkan gendang telinga, baru kali ini ia mendengar kemarahan Arman, untung saja mereka tidak berhadapan secara langsung.


"Siapkan," suara Arman masih tersengal, "siapkan tiket, aku akan kembali, hari ini juga."


__ADS_2