
Pernikahan? Besok?
Rasanya Kenya ingin membenturkan saja kepalanya di tembok rapuh rumah. Meski rapuh, mungkin saja tembok itu bisa mengembalikan akal sehatnya yang sejak kemarin bergeser entah kemana.
Tika baru saja datang dan membawa pesanannya, membuat Kenya mengingat rencana gilanya dan Arman besok pagi. Astaga, mengingat pernikahan itu lagi perut Kenya rasanya melilit dan mual.
"Tumben Mba nitip bedak, biasanya kalau aku nawarin malah di tolak," tanya Tika sedikit curiga. Tangannya mengambil tas bermerek nama kosmetik terkenal yang sering muncul di tivi.
"Aku ga beliin lipstik sama bedak aja Mba, nih," Tika mulai mengeluarkan barangbyang ia bawa dengan wajah berseri, Tika salah satu wanita peminat riasan garis keras. Sebelas dua belas lah sama Cacung, "ada pelembab, susu pembersih, sabun muka, toner, alas bibir, BB cream, conseler, pallete eye shadow dan blush on."
Kenya menatap rangkaian kosmetik itu tanpa minat. Bukannya tidak tahu cara memakainya, tapi cuti satu tahun tanpa riasan wajah rasanya membuat Kenya enggan mengaplikasikan semua yang Tika bawa. Dulu iya, dia suka memakai riasan walau tidak sampai semenor Princess Seruni. Sebagai wanita, nalurinya untuk merias diri juga ada. Pasca kecelakaan, Kenya tidak lagi merasa memerlukan riasan wajah, apapun itu.
"Mba ada acara? Ada undangan?" Masih Tika yang bicara.
Kenya sendiri bingung mau menjawab apa. Dari mana memulainya.
"Enggak."
"Terus?"
"Besok, Mba nikah."
Mendadak Tika berhenti membaca komposisi bahan salah satu kosmetik yang ia pegang. Matanya mengerjap beberapa kali pada Kenya.
"Kamu ga sendiri, Tik. Mba lebih kaget dari kamu sebenarnya."
"Mba yakin ga becanda?"
"Mba malah berharap apa yang mba omongin cuma pepesan kosong, bualan atau halusinasi Mba semata."
"Sama Pak Arman?"
"Laki-laki gila mana lagi yang mau sama Mba? Mungkin memang kami ditakdirkan berjodoh, lelaki gila dan perempuan cacat, lengkap sudah."
"Mba mau aku cariin make up artis?"
Seketika Kenya menatap tak percaya pada Tika. Semakin komplit tekanan yang ia rasakan karena pertanyaan salah satu orang kepercayaannya.
***
Rencana pernikahan itu masih terus berputar dalam pikiran Kenya. Tidak sekali dirinya tiba-tiba merasakan gugup. Kenya masih merasa kalau rencana Arman ini tidak benar.
"Mba, ada telpon."
Suara Cacung membuyarkan pikirannya. Kenya melihat pada ponsel yang Cacung sodorkan dengan dahi mengkerut.
__ADS_1
"Siapa?"
Tanpa menjawab Cacung hanya menyodorkan lagi ponsel itu, Key menerimanya.
Dari kata pertama yang diucapkan si penelpon, Kenya tahu itu suara Elia. Tantenya Arman itu sempat marah karena Arman memberitahu rencana mereka secara mendadak, Elia juga kecewa bahwa Arman katanya hanya akan mengadakan pesta sederhana di rumahnya yang sama sekali tidak Kenya ketahui. Elia membocorkan pada Key bahwa semua sepupu Arman yang berada di luar negri buru-buru pulang demi menghadiri acara sakral sekali seumur hidup Arman. Entah apa lagi yang Elia bicarakan, mendadak Key kehilangan fokus dan kepalanya pening. Kenya bahkan tidak menjawab saat Elia menanyakan keinginannya, apa yang Kenya butuhkan, mau hadiah apa darinya. Kenya hanya mengingat di akhir kalimatnya Elia berterima kasih dia mau menerima Arman kembali dan merasa bahagia dengan pernikahan mereka.
"Iya, tante. Sampai ketemu besok." Key menutup sambungan dan menyerahkan ponselnya pada Cacung. Sambil menjambak sendiri rambutnya, Key bergumam frustasi, "tempat kami menikah juga aku ga tau, Cung. Pernikahan macam apa ini?"
Kenya rasanya ingin menangis atau dia telpon saja Arman sekarang dan menarik ucapannya.
Ngomong-ngomong tentang Arman.
Sudah pukul tujuh malam dan calon suaminya itu belum menghubunginya sama sekali seharian ini. Kenya sedikit kesal pada Arman yang main hilang seenaknya. Paling tidak dia menelpon memberitahunya apa ayang harus Kenya lakukan untuk menyiapkan diri. Ah, semoga saja pria itu bertingkah seperti setahun lalu, pergi seminggu sebelum hari pernikahan mereka. Key masih mengharap keajaiban bahwa Arman lupa pada obsesinya.
Tapi deru mesin mobil yang sangat Kenya kenal memudarkan harapannya. Suara mesin mobil Arman yang memasuki halaman rumahnya yang kecil membuat dada Kenya berdesir. Kenapa pria itu malah pulang ke sini, bukankah pamali kalau calon pengantin bertemu sebelum akad di langsungkan? Karena tidak ada orang tua yang mendampingi mereka, tradisi itu kini seenaknya mereka langgar. Rasanya jadi pernikahan main-main saja.
Kenya dan Cacung menoleh pada handle pintu yang di putar. Wajah kaget dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya di perlihatkan keduanya, terutama Key. Selain kaget, tubuhnya juga tiba-tiba bergetar. Dadanya di penuhi rasa takut yang bergemuruh, menjalar ke semua bagian tubuhnya.
Sorot tajam Kinan seperti menembus tubuh Kenya. Dibelakangnya, Arman menyusul sambil membawa koper kecil milik sang ibu.
Tunggu, ada apa dengan wajah Arman? Ada bekas telapak tangan terlukis jelas di pipi pria itu. Sebelum fokusnya tertuju penuh pada Arman, Key buru-buru mengalihkan pandangan pada wanita yang melahirkannya.
"Ma."
"Ma!" Andai Kenya berkuasa pada kakinya, dia akan mengangkat tubuh mamanya sekarang juga.
"Kamu mau buang Mama? Tidak menganggap Mama ibu kamu lagi? Mau mengabari Mama setelah di peristri pria itu?" Kinan menyerbunya dengan pertanyaan mematikan tanpa pemanasan apapun. Mereka sudah lama tidak bertemu, paling tidak saling menanyakan kabar dulu.
Di sisi lain, Arman sedikit jengkel sang calon mertua masih belum mau menyebut namanya, padahal dia sudah rela di omeli berjam-jam, di bonusi tamparan pula.
"Kamu ga mau melibatkan Mama dalam mengambil keputusan sebesar ini?"
"Bukan gitu, Ma."
"Lantas?"
"Key...," Kenya masih menunduk, tidak berani menatap wajah Kinan. Kalimatnya pun tidak bisa ia lanjutkan. Mau membela diri seperti apapun, posisinya tetap salah.
"Takut?" tangan yang sudah tidak sesegar dulu itu membelai kepalanya, lembut.
Kenya tidak merespon baik anggukan atau kata-kata.
"Mama tau kamu takut, takut Mama ga setuju, takut Mama menentang, tapi Mama lebih takut calon suamimu lari seperti dulu," Kinan tanpa ragu melirik Arman sinis. Arman yang dilirik seperti itu hanya tersenyum kaku, masih dendam saja calon mertuanya, "asal kamu bahagia Mama akan memberi restu."
***
__ADS_1
"Berapa kali?"
"Ga tau Key, aku ga itung."
Kenya membantu Arman mengompres bekas tamparan Kinan dengan es batu yang di lapisi kain. Kenya ngeri membayangkan betapa kerasnya tangan sang Mama menampar Arman. Berapa kali calon suaminya mendapat hajaran Kinan sampai pipinya semerah itu?
"Biar, aku aja deh, tangan kamu masih sakit."
Arman mengambil alih kompresan dari tangan Kenya dan mengobati sendiri lukanya.
"Kamu ga bilang mau ketemu Mama."
"Kita sama, Key. Kamu takut Mama ga ngerestu kita, aku takut kamu cegah aku nemuin Mama. Aku udah janji akan memulai hubungan ini dengan cara yang benar, ya salah satunya dengan cara ini. Aku masih percaya restu orang tua itu penting dalam pernikahan."
Kalau Arman tidak mendengar percakapan Kenya dan Cacung di kamar mandi, mungkin dia juga akan melewati restu Kinan. Entah bagaimana nasibnya kalau mereka mengabari Kinan setelah pernikahan berlangsung. Mungkin Kinan akan menggorok lehernya.
"Kamu mau kita nikah dengan wajah kayak gitu?"
"Ya ga apa-apa, aku emang pantas di hukum kayak gini sama Mama, yang penting kan akadnya sakralnya, ngesahin kamunya."
Kenya bingung sendiri merespon jawaban Arman bagaimana. Dia tertawa kecil di sertai lelehan air mata di kedua sudut. Bahkan seharian ini dia berdoa agar Arman lari dari rencananya, dan sekarang pria itu datang dengan sejuta kesungguhan.
"Gimana tangan kamu?" tanya Arman sembari melihat jari Kenya, "maaf ya aku ga ngabarin seharian, kamu ga bilang Mama pindah, jadi aku muter-muter dulu nyari alamat barunya, kenapa rumah yang lama di jual?"
Kenya menatap Arman setelah beberapa detik memalingkan wajah, "ga usah di bahas."
Kalau Kenya mengatakan rumah orang tuanya juga di jual untuk menutupi biaya pengobatannya dulu, tak ayal Arman akan merasa makin bersalah.
Arman sendiri bisa memprediksi alasannya. Dia hanya ingin mendengar langsung dari Kenya, tapi dia juga mengerti akan tidak nyaman jika mereka membahasnya sekarang.
"Kamu ga pulang?"
"Aku nginep deh, Key. Ga efisien juga besok harus bolak-balik, lagian udah capek banget ini."
"Kamu mau tidur dimana? Mau alas tikar lagi? Yang ada badan kamu tambah sakit."
"Ck, aku udah bilang, aku ngerasa tempat itu rumah kalo kamu ada di sana. Mau alas tikar atau anyaman bambu aku fine fine aja asal ada kamu."
Kenya menggeleng tak percaya.
"Terus, setahun kemarin kamu gimana tidurnya?" tanya Kenya bermaksud menyindir.
"Obat, Key. Aku harus minum obat tidur."
May I see you on Instagram Guys, @amin.lia
__ADS_1