Insane

Insane
32


__ADS_3

"Cung, lihat mobil di seberang itu?" Cacung mendekati Kenya dan memandang pada titik yang Kenya maksud, "kok ga pergi-pergi ya, udah malam begini?"


"O iya, dari tadi sore waktu Mba Tika pulang mobil itu udah ada di situ sih," Cacung semakin mendekatkan wajahnya pada kaca jendela yang kusennya telah berlubang di makan rayap, "mogok kali Mba, atau punya tetangga, sengaja di parkir di sana buat pamer," kata Cacung asal.


"Coba kamu lihat, mungkin ada orangnya di dalam, tanya, mungkin butuh bantuan."


"Idiiiiii Mba yang bener aja, gimana kalau yang punya itu penjahat, terus saya di culik, di sekap terus di mutilasi, sekarang kan jamannya begitu, penjualan organ dalam manusia, emmoh aku Mba," tolak Cacung berapi-api.


"Gimana kalau orang yang di dalam itu meninggal tanpa sadar, kan sering di berita di tivi orang meninggal di dalam mobil karena keracunan udara. Kasian, Cung."


"Aih, Mba ga salah kasihan sama orang bawa mobil mahal kayak gitu?"


"Iya kalau orangnya masih hidup, kalau beneran meninggal gimana? Lagian orang kaya juga manusia kali, ada kalanya perlu bantuan," kata Kenya bijak.


"Jangan deh Mba, banyak resikonya, udah malam juga."


"Kamu bawa palu deh, atau bubuk merica, kalau orangnya macam-macam kamu siram pakai bubuk itu," Kenya masih belum menyerah, "perasaan Mba ga enak, Cung."


"Tuh kan, perasaan Mba aja ga enak, saya apa kabar?"


***


Tatapan kosong Arman sejak berjam-jam lalu tak juga lepas dari rumah mungil yang cukup lapuk di matanya. Sejak melihat kemunculan Kenya, semua tenaga Arman seperti tersedot oleh wanita itu. Sampai menginjak pedal gas saja dia tidak mampu. Arman tidak menyadari waktu berlalu. Tidak merasakan kebas di kakinya dengan posisi yang tidak juga berubah.


Penantiannya berakhir, Kenya ada di depan matanya, tapi Arman malah bingung sendiri bagaimana dia harus bersikap di depan Kenya jika Arman nekat menemuinya sekarang. Alasan apa yang harus dia katakan atas perbuatannya dulu. Bagaimana dia harus menyapanya untuk pertama kali. Dan semangat Arman luruh membayangkan jika nantinya Kenya menolak, menolak kehadirannya, menolak alasannya, menolak apa yang akan ia tawarkan lagi. Sungguh, Arman tidak akan sanggup jika itu yang nantinya akan terjadi. Inilah dirinya sekarang, terpaku membisu sambil menatap pada rumah yang saat ini Kenya tempati berjam-jam lamanya.


"Pak, Bu, ada orang? Haloooo!"

__ADS_1


Suara ketukan kaca mobil membuat Arman tersentak kembali ke masa kini setelah pikirannya melayang entah kemana. Refleks dia menarik napas dalam beberapa kali untuk menormalkan sisa kekagetannya. Cacung tiba-tiba sudah ada di salah satu sisi mobil tanpa Arman sadari. Kaca film yang buram tidak memungkinkan Cacung menyadari bahwa dirinyalah orang di dalam kendaraan itu, tapi Arman jelas melihat Cacung sedang berusaha melihat bagian dalam mobilnya. Arman sempat kelabakan, bingung harus bagaimana. Seperti pencuri yang kentara melakukan aksi.


Ok, tenang, tenang, tenang, Arman melafalkan mantra itu dalam hati berulang-ulang. Arman menurunkan sedikit kaca jendela mobilnya. Sedikit, hingga Cacung masih tidak bisa melihat wajah Arman.


"Cung!" sapa Arman dengan nada datar.


"Ya," seperti sebuah kebiasaan, Cacung awalnya menjawab biasa saja ketika namanya di sebut seseorang dari dalam mobil, sepersekian detik dia tergugu, "a-ASTAGA!" Cacung mulai mengenali suara yang memanggilnya, dia mundur satu langkah dari jendela mobil Arman, "p-Pak Ar-man?" ucap Cacung gagu.


"Jangan beritahu Kenya dulu, kalau waktunya tepat, aku yang akan menemuinya."


Arman tidak menunggu Cacung merespon kalimatnya, dia segera menstater kendaraannya dan berlalu dari sana. Cacung bahkan tidak menyadari kepergian Arman. Tangannya yang menggenggam bubuk merica bergetar halus. Kilatan bayangan masa lalu tentang bagaimana Kenya melewati keadaan sulitnya, Cacung yang mendengar Kenya menangis tiap tengah malam kembali terkenang tanpa ia minta. Dan dia baru saja mendengar suara yang menjadi akar derita wanita yang telah ia anggap saudara.


"CUNG! NGAPAIN DI SANA? MASUK GIH!" teriak Kenya dari teras rumahnya. Cacung tersadar dan melihat Kenya dari kejauhan.


Jangan, jangan kembali Pak, saya mohon.


"Kenapa Cung? Kok bengong? Gimana orang yang tadi? Orangnya baik-baik aja?" Kenya memberondong Cacung dengan pertanyaan, Kenya tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


"Gitu ya, syukur deh, Mba kira orangnya kenapa-kenapa soalnya lama banget nongkrong di sana," Kenya melihat pada Cacung yang tampak berbeda, "tapi kayaknya kamu yang kenapa-kenapa deh, Cung, muka kamu kok pucat begitu?"


"Hah?" dalam hati Cacung mengutuk kebodohannya yang tidak bisa menyembunyikan sisa kekagetannya mendengar peringatan Arman, "enggak kok Mba, aku rada ga enak perut, mungkin mau haid."


"Oh, ya udah, kamu istirahat, Mba udah beresin dapur, setelah periksa Yogi Mba juga mau tidur."


"Iya, Mba." Cacung meringis pelan melihat Kenya yang menghilang di balik pintu kamar Yogi. Jujur saha kakinya masih lemas, dan membayangkan apa yang akan terjadi jika Kenya mengetahui Arman telah kembali membuat badannya ikut lemas.


***

__ADS_1


Arman memarkirkan kendaraannya di parkiran luar gedung kantor. Badannya sudah tidak bertenaga untuk mengerjakan sesuatu, tapi kembali ke rumahnya yang sepi tanpa di temani seseorang akan membuatnya terus memikirkan Kenya. Dia butuh pengalihan, hanya sebentar, untuk sementara waktu, hingga pikirannya kembali bekerja dengan benar dan bisa mengambil langkah yang tepat untuk menemui Kenya.


Garut yang baru saja keluar dari lift memandang lemas saat melihat Arman di pintu masuk utama. pikirannya langsung tertuju pada satu kata. Siksaan.


Mendapati Dewa Bos kembali ke kantor di saat malam sudah menguasai alam pertanda tidak baik pada orang yang di percaya Dewa Bos seperti dirinya.


"Tuan, anda kembali?" tanya Garut basa-basi.


"Iya, kau mau pulang? Pulang lah!" perintah Arman dengan suara lemas.


Harusnya Garut senang mendengar perintah itu. Tidak ada lembur, tidak ada siksaan, dia bisa segera berebahkan tubuh di atas kasur empuknya yang seharga lima juta. Namun suara Dewa Bos yang tidak tegas seperti biasanya membuat Garut iba. Tepatnya Garut ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Tadi pagi Arman menggebu-gebu memimpin rapat, menumbangkan semua orang yang menentangnya, membuat semua orang yang ada di ruangan itu tunduk, bertekuk lutut pada kepemimpinannya. Sangat bertolak belakang dengan yang Garut lihat sekarang. Arman tampak lesu, tidak sesemangat tadi pagi. Garut di buat menduga-duga, apa ini akibat kabar yang ia berikan pada Arman tadi siang?"


Sebagai salah satu orang terdekat, Garut merasa terpanggil untuk menemani Arman. Arman tidak memiliki banyak teman. Mungkin di tempatnya dulu ada beberapa, tapi di sini, ruang lingkup sosialnya hanya kantor, Hiban, dan... Kenya. Arman tidak sempat mencari kehidupan sosialnya. Begitu kembali dari luar negri, Arman lebih dulu di terima oleh Kenya untuk bekerja di Wajik Merah. Dia bahkan mengirim aplikasi lamarannya lewat email ketika masih berada di Autralia. Enam bulan setelah bekerja pada Kenya, Arman baru memutuskan kembali ke kandangnya. Kembali pada tempat harusnya berada. Itu pun dengan berat hati. Jika ayahnya tidak meninggal, mungkin Arman tidak akan mau bekerja dan mengambil alih kepemimpinan. Dia lebih senang membangun karirnya sendiri tanpa embel-ember nama besar keluarganya. Hubungannya dengan almarhum sang ayah tidak terlalu baik.


Garut menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia benci pada dirinya yang terlalu bersimpati pada sang atasan. Dengan langkah yang diikhlas-ikhlaskan Garut mengikuti Arman dari belakang. Mereka kini berada di depan lift. Arman melihat pantulan bayangan Garut melalui pintu lift.


"Kau, tidak jadi pulang?"


"Saya lupa harus menyiapkan dokumen untuk Tuan Hiban mengenai kepindahannya besok."


Arman tidak mereposn jawaban Garut. Garut bahkan tidak yakin Arman mendengar ucapannya karena Arman lebih terlihat melamun daripada menyimaknya bicara. Hingga pintu lift terbuka, Garut melangkah masuk lebih dulu. Dugaannya benar, Arman melamun. Apa jadinya sang Dewa Bos jika dia tidak berada di sana?


"Tuan, ayo!" seru Garut dengan suara sedikit di tinggikan, tangannya menahan pintu lift agar tidak tertutup. Arman tersentak, kemudian melangkah masuk.


Garut memandang prihatin pada Dewa Bos. Berkali-kali ia menghembuskan napas samar. Entah berapa lama dia akan bertahan menemani Arman malam ini.

__ADS_1


"Dia ada di sana Garut, Kenya ada di sana, di alamat yang kau berikan."


Ig:@amin.lia.


__ADS_2