
"Mba ga bisa kayaknya, kalian aja deh yang pergi bertiga, biar Mba yang jaga rumah."
Tika sontak saja memasang wajah horor mendengar ungkapan Kenya. Inti dari makan malam ini adalah Kenya. Bagaimana reaksi Arman kalau Kenya tidak mau mengikuti rencananya?
"Ya ga bisa gitu dong Mba, masa kita enak-enak makan di restoran Mba bengong sendiri di rumah," sanggah Tika, "kalo Mba ga ikut mending ga usah aja sekalian." Kata Tika lagi, sebenarnya dia sangat takut saat mengeluarkan kalimat itu, bagaimana kalau Kenya mengiyakan? Benar-benar tidak mau ikut. Tapi Tika kembali bertaruh strateginya berhasil, melihat wajah Cacung yang kecewa, Kenya tidak akan tega.
Dalam hati dia tak lupa mengutuk Arman yang sudah membuatnya melakukan hal ini pada Kenya. Dia memegang janji Arman tidak akan membuat hubungan mereka kacau, tapi tetap saja keadaan pastinya akan berubah setelah ini.
"Aku pengen banget lho Mba sebenarnya, ini pertama kalinya buat aku makan di restoran," kata Cacung memelas dan Cacung mendukungnya secara tidak langsung.
"Ya udah, sabar ya Cung, belum rejeki kamu, mungkin lain kali," kata Tika yang sebenarnya ragu antara memanasi agar mereka tidak jadi pergi atau melanjutkan rencana.
Kenya tampak bingung, beberapa kali mengeluarkan desahan.
"Ga perlu maksa diri Mba, kalau memang Mba ga bisa, biar nanti saya yang ngomong ke Mba Pici."
"Dia suka banget ya sama lukisannya Yogi?"
"Total dia beli sembilan lukisan. Bisa di artikan dia suka banget sih."
"Lukisan sebanyak itu mau di apain?" tanya Kenya bingung sendiri.
"Di mana-mana lukisan itu ya di pajang Mba, jadi bisnis juga bisa, tinggal ngadain pameran koleksi bisa di sini bisa di luar negri atau buka galeri sendiri. Kalau punya banyak koleksi ya memang kolektor kelas kakap."
"Kamu pernah ketemu dia?"
"Belum," Tika meringis saat harus merangkai kebohongan untuk jawaban berikutnya, "selama ini kita komunikasi lewat pesan dan telpon aja sih." Kenyataannya Arman adalah dalang di balik rencana ini, sedang dia dan Pici hanya berurusan untuk transaksi jual beli.
"Jadi gimana Mba?" masih menaruh harapan, Cacung akhirnya bertanya setelah bosan menyimak.
"Ya udah deh."
"Hah? Iya apa nih Mba?" tanya Tika tidak yakin.
"Ya jadi pergi makannya."
"Serius?" Cacung menegaskan dengan wajah berseri.
"Iya, demi kamu yang pengen makan di restoran."
***
"Mba lagi apa?" suara Cacung yang tiba-tiba membuat Tika terjingkat, hampir menjatuhkan ponsel yang ada di tangannya.
"Kaget aku Cung," Tika segera menyelesaikan pesan yang akan ia kirim pada Arman dan menyimpan kembali ponselnya begitu selesai melapor.
Cacung merapikan piring yang sudah di cuci dan menyimpannya di rak. Sesekali melihat Tika ragu.
"Aku sama lho kagetnya kayak Mba tadi."
"Kok kamu yang kaget, wong kamu yang kagetin Mba tiba-tiba muncul di sini."
"Bukannya tadi, tapi kemarin?"
"Kemarin? Mba ga pernah ngagetin kamu kemarin, perasaan juga Mba dateng makan soto, kita tenang-tenang aja deh kemarin, ga ada sesi ledakin petasan." Tika berseloroh.
"Memang bukan Mba," Cacung menghembuskan napas gusar, " tapi orang lain yang bikin aku kaget."
Tika geleng-geleng kepala, belum menemui arah pembicaraan Cacung, "terus apa hubungannya sama Mba? Kamu ceritanya hari ini, kagetnya kemarin."
"Aku memang butuh cerita, tapi Mba janji dulu, jangan cerita sama Mba Key."
Tika mulai menaruh perhatiannya, Cacung sepertinya akan menceritakan hal yang tidak biasa.
"Biar Mba tebak, kamu punya pacar, iya?"
"Mba, aku lagi ga mood becanda, ini tentang Mba Key."
"Mba Key kenapa?"
"Pak Arman kemarin kesini."
"HAH?"
"Sssst." Cepat-cepat Cacung membekap mulut Tika.
"Ih, Mba, jangan keras-keras, gimana sih?"
Dengan satu gerakan cepat Tika memukul tangan Cacung, minta di lepaskan.
"Maksud kamu apa?" tanya Tika dengan suara berbisik dan mata melotot.
"Tenang dulu!"
"Mba udah tenang, kalau ga tenang Mba mungkin udah teriak."
"Pak Arman ke sini...."
"Ketemu Mba Key?"
"Jangan motong dong, mau di ceritain ga?"
"Iya sori, lanjut."
"Ga sampai masuk rumah, beliaunya diam di mobil, Mba mungkin ga perhatiin mobilnya parkir di seberang, mungkin udah nongkrong di sana waktu kita lagi makan soto. Mba Key minta saya samperin karena curiga kok tu mobil lama banget parkir di sana, Mba Key takut ada apa-apa tapi juga ga tau kalau itu Pak Arman. Saya di suruh samperin, waktu itu udah malam banget sih soalnya."
Tika menghembuskan napas yang tadinya tertahan karena tegang. Arman sudah sejauh ini rupanya.
"Menurut Mba gimana?"
Tika menggeleng lagi sebagai jawaban tidak tahu.
"Aku juga bingung Cung, gimana nanti, kita lihat saja perkembangannya, kamu udah benar jangan kasih tau Mba Key dulu, biar itu menjadi tugasnya Arman."
***
Arman melakukan pekerjaannya dengan sedikit bertenaga. Tidak selesu kemarin. Berkat laporan dari Tika semangatnya mendadak berkumpul. Besok dia akan bertemu dengan Kenya dan dia berencana menghabiskan semua pekerjaannya hari ini agar bisa mempersiapkan segalanya dengan baik.
Suara pintu yang di buka tanpa di ketuk lebih dulu membuat Arman menoleh, Hiban muncul dari sana.
__ADS_1
"Lo belum jalan?"
"Lo kayaknya pengen banget liat gue cepat-cepat pergi."
"Bukan gitu," kilah Arman dan kembali fokus membaca.
"Lo kayaknya on fire banget kerjanya?" Hiban memdudukkan diri di kursi depan meja Arman. "Ada hubungannya sama kabar yang gue dengar dari Pici?"
"Yup, lo boleh ikut biar bisa ketemu Yogi."
"Bisa jelasin lebih rinci lagi? Gue belum nyambung dan masih penasaran tentang teriakan bahagia lo di basement."
Arman melirik Hiban dari balik kertas yang ia baca. Berhubung Hiban tidak sedang menjengkelkan ia akan menceritakan sedikit.
"Yogi, pelukis yang di gemari sama Pici adalah anak Kenya, calon istri gue."
Mendengar Arman mengeluarkan kata istri membuat Hiban merinding, entah kenapa.
Hiban hanya mengangguk-anggukan kepala, tidak terlihat kaget. Sudah biasa para pria di gen Permana menyukai wanita yang lebih tua atau berpengalaman. Untuk kasus Hiban dan Pici, Pici lebih tua satu tahun tapi belum menikah, dan Ejet sendiri mungkin terbilang biasa, Stella tiga tahun lebih muda darinya.
"Jadi lo udah baikan?"
"Belum, besok pertama kalinya kami bakal ketemu."
"Lo yakin bakal di terima lagi?"
"I wish."
"Feeling gue lo bakal di tolak," kata Hiban mulai dengan penyakit menjengkelkannya. Arman melihatnya geram.
"Bagus banget doa lo," balas Arman ketus.
"Ya maksud gue biar lo siap-siap aja, siapin mental buat yang terburuk. Asal lo tau, memperbaiki sesuatu yang sudah pecah belah ga akan pernah bisa, karena bekas retakannya akan tetap terlihat." Untuk pertama kali Hiban berbicara benar. Bijaksana lagi, mengenai tepat hati Arman.
Kelihatan sekali bukan, Hiban lebih berpengalaman masalah hubungan di banding dirinya. Arman tergolong introver, dia tidak pandai dalam hal menjalin hubungan dengan lawan jenis.
"Oke," kata Hiban sambil beranjak berdiri, "gue penasaran juga, pengen ketemu Yogi, gue memutuskan ikut, sekalian makan malam terakhir sama Pici."
Arman tadinya ingin menahan Hiban untuk meminta nasehat, namun ia urungkan daripada nantinya ia mendengar saran menyesatkan sepupunya itu.
***
Hari yang di tunggu itu akhirnya datang. Di sini Pici adalah orang yang paling antusias. Begitu mendengar kabar bahwa Yogi menerima undangan makan malam Arman, dia bergegas pergi ke butik langganannya dan membeli sebuah gaun. Meski tidak ada dress code khusus yang harus di gunakan, Pici tetap ingin tampil maksimal.
Hiban sudah menungguinya selama dua jam dan Pici belum selesai berdandan.
"Sayang, udah belom?" teriak Hiban dari luar.
"Bentar," balas Pici dari kamarnya.
"Masa belum sih, udah lama banget."
"Bentar sayang, lagi touch up nih, udah selesai kok."
"Selesai tapi belum."
"Ih, kalo kamu ga mau nungguin ya udah jalan aja duluan."
Suasana hening sejenak, Hiban melihat pada jam tangannya.
"Kamu ga full make up juga can..." Hiban memoleh begitu mendengar Pici membuka pintu, "tik."
"Gimana?" tanya Pici sambil memutar tubuhnya ala model profesional.
"Cantik, aduh kita langsung cari penghulu deh kalo gitu," kata Hiban tanpa nada becanda, "biar besok kamu langsung ikut aku dinas."
"Enak aja, ga bisa dong, masa aku nikahnya biasa-biasa, ya udah yuk jalan."
"Aduh, untuk makan malam sama anak-anak, aku ga cemburu kamu di lihat cantik gini."
***
"Kenapa mesti pakai dua mobil sih, Tik?" tanya Kenya begitu melihat dua mobil sedan terparkir di depan pagar rumah.
Tika memutar otak mencari alasan paling masuk akal.
"Ini memang fasilitas yang di janjikan sama Mba Pici Mba, mungkin beliau punyanya mobil yang begini, ga lucu dong kita desak-desakan di satu mobil, kapasitas mobil cuma buat empat orang."
"Tau gini mending kita pesan taksi online biar bisa berempat di satu mobil."
Entah kebohongan apalagi yang akan ia buat nanti untuk memuluskan acara ini, yang jelas sekarang dia bersyukur Kenya tidak memprotes lagi masalah kendaraan mereka yang harus terpisah. Dirinya berjanji akan bersujud nanti agar Kenya memaafkannya.
"Cacung sama Yogi di satu mobil ya, Mba sama Mba Key, oke."
"Siap, Mba," jawab Cacung bersemangat.
Sementara di lain tempat, Arman yang di supiri Garut berharap-harap cemas. Dia sesekali menggigit jari karena gugup.
"Apa sudah ada yang melapor?"
"Mereka sudah dalam perjalanan."
"Lebih cepat Rut, aku harus tiba lebih dulu."
Garut tidak menjawab dengan ucapan karena dalam hati ia sibuk mendoakan Arman agar berhasil malam ini. Bagaimanapun Arman atasannya dan setitik hatinya ingin Arman berhasil dalam hal percintaan meski kemungkinan untuk berhasil sangat tipis. Garut lebih memilih menambah kecepatan sesuai permintaan Arman.
***
"Kok sepi sih Tik? Mobil yang bawa Yogi sama Cacung kok ga kelihatan? Ini sudah benar ga sih tempat makannya?" Kenya memberondong Tika dengan pertanyaan yang sekarang membuat Tika panas dingin.
Arman tidak mem-briefing-nya bahwa rencana pria itu berubah. Waktu itu Arman hanya mengatakan mereka akan makan di tempat yang sama tapi di ruangan yang berbeda. Tapi sekarang, Tika tidak mendapatkan satu pun orang di restoran itu kecuali mereka berdua. Tika ingin bertanya pada supir yang membawa mereka, tapi supir itu sedang memarkirkan mobil setelah meninggalkan mereka di lobi.
"Selamat malam, dengan Ibu Kenya?"
Kenya dan Tika menoleh, seorang pegawai wanita berpakaian rapi menghampiri mereka.
"Iya, saya sendiri."
"Mari Bu, ruangan anda sudah siap."
__ADS_1
Kenya menoleh pada Tika yang berdiri di belakang, siap mendorong kursi rodanya.
"Tik!" panggil Kenya menuntut penjelasan.
"Kita ikuti saja dulu ya Mba, ini Mba Pici yang atur." Bohong Tika lagi.
Kenya dan Tika di tuntun ke sebuah ruangan. Sepanjang perjalanan mereka Kenya sangat ingin bersuara. Tempat itu memang terlihat seperti restoran mewah. Meja berlapis kain putih polos tertata rapi, di lengkapi kursi yang mengelilingi setiap meja itu. Kenya yakin suasana akan sangat ramai jika kursi-kursi itu diisi oleh pengunjung.
Anehnya Kenya tidak menemukan satu orang pengunjung di tempat itu. Tadinya Kenya berpikir akan menemukan satu dua orang di dalam. Tapi restoran itu benar-benar sepi tanpa aktivitas makan yang seharusnya.
"Ini ruangannya," kata pegawai itu memecah monolog Kenya dalam hati, "silakan." Kata pegawai itu lagi dengan suara yang sangat lembut.
Tika mendorong Kenya memasuki sebuah ruangan yang sudah di tata dengan sangat apik. Sangat terkesan romantis karena meja itu sepertinya harus diisi dua orang karena ukurannya yang kecil. Jauh dari bayangan Kenya kalau harusnya mereka duduk mengelilingi meja yang besar.
"Tik, ini kok mejanya kecil? Kursinya cuma satu, siapa yang mau makan di sini, Yogi sama Cacung mana? Mungkin kita salah tempat Tik, nyasar nih, coba telpon Mba Pici!" Kenya mengoceh.
Mendengarnya lidah Tika terasa kelu, dia tidak sanggup lagi menjawab dengan kebohongan lain. Tika memilih memutari Kenya dan berlutut di depan wanita yang sangat ia kagumi itu.
"Mba!"
"Kamu kenapa? Bangun dong, matanya kenapa merah gitu, kayak mau nangis."
Memang benar adanya, Tika merasa cukup bersalah pada Kenya untuk membawa Kenya ke tempat itu.
"Enggak, aku cuma mau minta maaf, aku harap Mba mau maafin aku, dan malam ini semoga menjadi malam yang baik buat Mba."
Tika bisa melihat sekilas dari matanya, Arman sudah berdiri di belakang mereka.
"Kamu kenapa sih, minta maaf buat apa? Ngaco ya kamu, kita cari Yogi deh, ayo!"
Tika tidak memberi balasan untuk permintaan Kenya, dia memilih berdiri dengan cepat dan meninggalkan ruangan itu.
"Tik, lho kok?"
Kenya sempat menoleh, mengikuti langkah Tika dan seketika itu juga ia kembali berbalik. Kepalanya tertunduk dalam, napasnya tiba-tiba pendek dan memburu. Jantungnya bekerja melebihi detakan keseharian jantung Kenya biasanya. Sesaat Kenya meremas sisi dada kiri bajunya. Ia kemudian mengambil napas dalam, lagi dan lagi. Sialnya wajahnya kini terasa panas. Kilatan masa lalu tiba-tiba berputar lagi. Kenya refleks memegang perutnya sekejap, tapi segera ia lepas, tangannya beralih meraba pipinya yang terasa basah.
Arman masih setia berdiri di belakang. Membiarkan Kenya melewati masa terkejut atas kedatangannya. Arman tidak kalah gugup. Hujanan rasa bersalah juga menderanya. Jangan di tanya bagaimana jantungnya bekerja, Arman hampir kewalahan. Detakan itu masih sama untuk Kenya. Detakan yang hanya terjadi saat dia bersama wanita itu yang dengan bodohnya ia tinggalkan tanpa mau menoleh lagi.
Keheningan itu terjadi beberapa menit hingga keduanya bisa menguasai diri. Arman lebih dulu berinisiatif bertindak. Dia memperbaiki letak kursi roda Kenya agar sejajar dengan tatanan peralatan makan di atas meja.
Kenya masih belum mengangkat kepala meski Arman telah duduk di depannya.
"Key!"
"Hai," sambar Kenya cepat, senyum menghias di bibirnya dan bekas air mata Kenya menyaru oleh senyum itu, "udah lama ya kayaknya, kamu apa kabar?" sambungnya dengan nada riang yang di paksakan.
"Ga kayak gitu Key."
Seorang pramusaji masuk, mengantarkan hidangan pada mereka, memutus sejenak obrolan yang baru di mulai. Tatapan Arman tetap tajam tak lepas dari Kenya, sedang Kenya mengikuti gerakan pramusaji itu yang meletakkan hidangan satu per satu dengan wajah berbinar. Tepatnya menghindari tatapan Arman.
"Terima kasih." Kata Kenya begitu pramusaji itu selesai dengan tugasnya.
"Selamat menikmati, Tuan, Nyonya Permana, silakan!"
"Maaf," sela Kenya secepat mungkin, pramusaji itu tersentak.
"Kami bukan pasangan,"
"Key!"
"Tolong di koreksi," pinta Kenya.
"Kenya!" Arman menatap nyalang pada Kenya, cepat Arman menguasai diri melihat Kenya yang kembali tertunduk, "terima kasih, pergilah!" kata Arman pada pramusaji itu.
"Kayaknya enak, aku udah lapar, ga papa kan aku makan dulu?" Kenya berkata tanpa melihat pada Arman. Arman membiarkannya. Ia tahu ini adalah bentuk rasa tidak suka Kenya. Saat masih bersama dulu, Kenya tidak akan memulai acara makan jika Arman belum siap, akan menunggu jika Arman menerima telpon atau sedang pergi ke toilet. Mereka akan mulai makan bersamaan.
Melihat sikap Kenya tentu saja Arman merasa terpukul. Tapi dia merasa pantas menerimanya. Meski berada di satu meja, hubungan mereka belumlah membaik.
Kenya, tidaklah sebaik yang ia perlihatkan. Sakit yang menghujam sekuat tenaga ia tahan. Rasa di lidanya terasa getir, saat menelan makanan itu, rasanya seperti menelan daging berduri.
"Aku udah selesai." Daging di piring Kenya bahkan baru ia iris potongan kecil, "tadi di rumah sudah makan dulu makanya masih kenyang," kilah Kenya, berharap pertemuan mereka segera berakhir, "kamu kenapa ga makan? Kalau memang enggak, aku mau panggil Tika, kami bisa pulang sekarang," ucap Kenya memulai siksaan untuk Arman.
Sekali lagi, Arman merasa pantas Kenya memperlakukannya seperti itu, seperti orang biasa dan tidak di anggap. Tadinya ia berharap Kenya berkata aku akan nungguin kamu makan sampai selesai tapi itu sangat mustahil terjadi. Arman bahkan sudah tidak berselera menyentuh makanan mahal di depannya.
Arman masih tak melepas pandangannya pada Kenya. Ia secepat kilat berdiri begitu Kenya menyentuh roda kursinya.
Arman berlutut menghentikan gerakan Kenya. Dia tidak membuang waktu lagi menyambar bibir wanita yang ia rindukan setahun belakangan. Kenya menolak dan mendorong Arman dengan tangan yang lemas dan begitu mudah Arman mengunci pergerakannya. Tangan pria itu bahkan sangat cepat menahan tengkuk Kenya untuk memperdalam ciuman mereka.
Arman ingin bicara tapi semua kosakata dalam kepalanya tiba-tiba terhapus. Arman ingin menyampaikan permintaan maafnya tapi melihat Kenya membuat dirinya seperti orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Bodoh.
Satu-satunya cara yang terlintas adalah menyatukan indra perasa mereka. Di sana Arman ingin menyampaikan permintaan maaf, penyesalan, cinta yang masih terjaga, keinginan untuk kembali, dan merasakan kembali kehangatan Kenya.
Arman sangat berharap Kenya bisa menangkap semua rasa yang ia sampaikan.
Beberapa menit berlalu, begitu Arman merasakan air yang mengaliri pipi Kenya membuat Arman menurunkan tempo dan melembutkan diri. Ia melepas pagutan dengan cara yang sangat lembut.
"Aku mau pulang," kalimat pertama yang Kenya ucapkan saat pagutan mereka terlepas.
"Maaf."
"Buat apa? Kita ga ada hubungan."
"Key,"
"Aku cuma ikutin mau kamu, itu kan yang kamu mau setahun lalu?"
"Kalo gitu ayo kita buat yang baru."
"Enggak Arman," Arman tertawa bahagia dalam hati mendengar Kenya untuk pertama kali menyebut namanya.
"Kenapa?"
"Aku mau pulang."
"Kenya plis, aku minta maaf, aku salah."
"Aku mau pulang."
Untuk ke sekian kalinya Kenya mengutuk dirinya yang lemah dan tidak berdaya, mengutuk kakinya yang tidak mampu lagi menopang tubunya.
__ADS_1
"Kasih aku kesempatan," kini Arman sudah membaringkan kepala di pangkuannya, "aku mau memperbaiki semuanya. Hubungan kita, aku, kamu dan Yogi."
"Kamu tau, dalam pembuatan kue wajik, kadang kita menambahkan daun pandan, tapi meski daun pandan tidak tersedia, kue itu akan tetap jadi dan bisa di nikmati." Arman menegakkan badan, tatapannya nanar tepat pada mata Kenya, ia memohon dalam hati Kenya tidak melanjutkan kalimatnya, "begitupun kamu dalam kehidupan aku, ga ada kamu aku baik-baik saja, apalagi aku dalam hidup kamu, kamu terlihat sangat baik tanpa aku. Jadi, mari lakukan seperti setahun lalu."